Rabu, 07 November 2012

Sukses PODOMORO GROUP

Trihatma Kusuma Haliman adalah generasi kedua keluarga Haliman, pendiri Podomoro Group. Ayahnya, Anton Haliman, membangun antara lain perumahan Simprug dan Sunter Podomoro. Setelah Trihatma mengendalikan perusahaan ini, di tangan Trihatma lah, Agung Podomoro berkembang menjadi perusahaan pengembang terkemuka di Indonesia.
Saya punya motto, living in harmony and peaceful mind. Orang mau ribut-ribut, saya cuek saja. Mitra usaha saya banyak. Di Senayan City saja, mitra saya ada sebelas orang. So far, kami tidak ribut-ribut. 

Agung Podomoro kini sudah dan sedang membangun 59 proyek properti, mulai dari properti untuk masyarakat menengah bawah, menengah, dan menengah atas. Semua segmen pasar dimasuki Agung Podomoro.

Lahir di Jakarta, 6 Januari 1952, Trihatma Kusuma Haliman sempat mengenyam pendidikan di Jerman 1970-1973. Namun sang ayah memanggilnya pulang ke Indonesia untuk membantu mengelola perusahaan properti. “Jadilah saya lulusan universitas APG,” seloroh Trihatma Kusuma Haliman dalam percakapan dengan Kompas.com di Central Park Jakarta, Selasa (22/3/11) sore.

Berikut ini bagian kedua wawancara eksklusif dengan Trihatma Kusuma Haliman, Presiden Direktur Agung Podomoro Land (APL) oleh Robert Adhi Kusumaputra dari Kompas.com selama 100 menit.
Apakah Agung Podomoro melakukan ekspansi ke luar Jakarta?
Beberapa kota di luar Jakarta yang punya potensi bagus adalah Bandung, Makassar, Balikpapan, Samarinda. Kami akan berekspansi ke sana. Jadi Agung Podomoro Land akan ke kota-kota tersebut.

Agung Podomoro Land juga masuk ke Karawang, Jawa Barat. Mengapa Karawang? Kota ini kota lama, di mana cukup banyak orang berada di sekitar Karawang. Banyak petani kaya, tapi kotanya begitu-begitu saja. Ada staf saya yang menjadi tokoh masyarakat di sana bilang pada saya, ada proyek properti yang macet dan disita bank. Saya cek ke sana, ternyata lokasi proyek dekat dengan kota. Proyek itu sudah tidak terurus. Dua bulan lalu kami membeli murah proyek seluas 40 hektar itu. Kami langsung tancap bendera Agung Podomoro, tak lama harga tanah di sana sudah naik tiga kali lipat. Kami bangun perumahan (landed houses).

Kami sepertinya tukang reparasi ya… Seperti juga proyek Senayan City dan Plaza Semanggi, sebelumnya proyek macet. Tapi setelah kami masuk dan kami benahi, Senayan City dan Plaza Semanggi sudah bagus. Plaza Semanggi saya jual ke Lippo karena harganya bagus.
Mengapa saya jual? Saya tidak jatuh cinta pada properti saya. Tapi saya lebih cinta pada keluarga saya. Ha-ha-ha.

Saya ambil sisi positifnya saja bahwa banyak mitra artinya sinergi menjadi kuat. Kalau kita hidup dalam harmoni, kita bisa memecahkan persoalan lebih mudah. Peaceful of mind. Ini kunci menjadi besar. Kalau sering berantem, energi malah cepat habis.

Bagaimana Pak Trihatma yakin bisa sukses membangun proyek properti seperti Senayan City di seberang Plaza Senayan yang sudah ada, atau proyek Podomoro City di sebelah Mal 

Taman Anggrek yang sudah lama ada?
Benar, Senayan City ada di seberang Plaza Senayan, Podomoro City ada di sebelah Mal Taman Anggrek. Mengapa bisa yakin sukses? Saya berpikir keduanya bisa saling melengkapi. Plaza Senayan, mal yang sudah lama dibangun, tak bisa sendirian tumbuh. Kehadiran Senayan City malah membawa tambahan magnet bagi orang datang ke satu kawasan di Senayan.

Saya sedang mengusulkan antara Senayan City dan Plaza Senayan bisa terhubung dengan tunnel, terowongan bawah tanah. Bahkan tunnel ini bisa bersambung ke kawasan SCBD, sehingga akan dapat mengurangi lalu lintas kendaraan. Ini akan membuat gaya hidup sehat dengan berjalan kaki makin meluas.

Menurut Pak Trihatma, bagaimana prospek properti di Indonesia saat ini dan tahun mendatang?
Dengan populasi Indonesia 200-an juta, pasar properti di Indonesia sangat besar. The Greater Jakarta , Jakarta plus Jabodetabek sudah 30 juta penduduk. Ini potensi pasar yang luar biasa, tapi suplai masih terbatas.
Middle class (kelas menengah) saat ini tumbuh sangat cepat. Jadi saya sangat optimistis sektor properti juga tumbuh cepat.

Membangun rumah bagi kami adalah ibadah. Kalau bisa menyediakan tempat tinggal dengan harga terjangkau dan bisa dibeli masyarakat luas, kan pahalanya besar. Kami dapat untung, memang iya, tapi bukan berarti mengambil sangat banyak. Margin keuntungan memang sedikit tapi jika volumenya besar, toh jumlahnya besar juga.
Segmen pasar high-rise Agung Podomoro Land beragam, mulai dari middle low, middle, sampai middle up dengan harga maksimal Rp 9 miliar per unit. Masing-masing ada pangsa pasar tersendiri.

Kami harus tahu keinginan konsumen. Seperti halnya fashion yang selalu berganti-ganti, kecenderungan tren properti juga demikian. Sekarang kebutuhan konsumen adalah properti hijau. Jadi di Podomoro City, kami bangun taman seluas 1,5 hektar untuk outdoor sitting. Luas ruang terbuka hijau total 4 hektar. Ini sangat dibutuhkan agar penghuni bisa bersosialisasi, bermain, bersantai sehingga tidak stres.
Di lingkungan GreenBay Pluit, kami menyediakan botanical garden seluas 3 hektar. Respon konsumen sangat bagus, Dari 10.000 unit apartemen GreenBay yang kami pasarkan, sudah terjual 4.000 unit dalam satu tahun. Jadi mereka melihat green property yang ada di sana. Juga ada mal di tepi laut dengan dermaga. Ini punya nilai jual yang tinggi sehingga banyak orang membeli apartemen GreenBay. Ini cash flow buat kami.

Dalam operasional Agung Podomoro Land, apakah Pak Trihatma melibatkan putra putri dalam perusahaan ini?
Ada satu putra yang ikut saya. Namanya Putra Haliman, usianya 24 tahun. Sekarang dia dalam proses belajar. Dan karena dasar pendidikannya sudah baik, dia cepat sekali belajar. Putra belajar finance di University of Southern California (USC), Amerika Serikat. Jadi soal keuangan, dia jadi penasihat saya.

Ayah saya, Pak Anton Haliman selalu bilang pada saya, ibaratnya seperti burung, secara alamiah pasti bisa terbang. Kalau sayap sudah keras, pasti bisa terbang. Anak saya juga demikian. Secara alamiah, dia bisa dan butuh panduan. Tapi kalau tak berani terbang, burung itu akan jatuh.

Sebagai orangtua, saya membimbing dia agar punya keberanian dan pengalaman. Pengalaman itu sangat penting karena tidak diajarkan di sekolah. Saya masukkan anak saya ke Ring 1, bergaul dengan senior-senior. Dia ikut roadshow, IPO.

Dia belajar dari dasar, dan tidak manja. Saya mau kasih mobil baru, dia tidak mau. Biasanya orang Asia terlalu manja pada anak. Tapi saya bersyukur anak saya tidak mau dimanja. Putri saya, Rosa, misalnya mau naik bus waktu kuliah di Amerika. Ini latihan bagi dia agar tahu hidup bermasyarakat. Dia tetap naik VW lama meski saya mau belikan yang baru, dia tidak mau.
Orangtua saya mendidik kami dengan disiplin dan punya dedikasi pada anak-anak. Meski orangtua kami orang kaya dan berada, tapi hidup sangat sederhana. Saya sudah terbiasa hidup seperti itu. Anak-anak saya mengadopsi sikap hidup seperti itu. Dan saya bangga pada mereka berdua.

Bagaimana Anda mempersiapkan perusahaan ini agar tetap hidup 100 tahun, bahkan 1.000 tahun lagi?
Yang terutama adalah sumber daya manusia berkualitas, quality of people. Ini semua diharapkan oleh semua orang, termasuk mitra. Kalau semua pegang komitmen, semua menjalakan perusahaan ini secara profesional.
Kalau anak saya mampu masuk di Ring 1, silakan dia masuk. Tapi para profesional terus bekerja dalam perusahaan ini. Siapapun yang memimpin perusahaan ini, tak masalah, asal bisa berkembang secara profesional. Jadi tak ada sentimen keluarga. Kalau kapabel, silakan. Banyak investor juga mengharapkan anak saya meneruskan usaha ini.
Ketika saya ikut ayah saya mengelola usaha properti ini, saya 13 tahun belajar dahulu. Pada usia 30 tahun, saya merasa siap, saya ambil Indovica dan mengembangkan Agung Podomoro. Jadi pengalaman selama 13 tahun itu cukup lama. Mudah-mudahan anak sekarang bisa lebih cepat belajar.

Saya paham bahwa tidak selalu mudah mengajarkan anak-anak. Ini soal intuisi bisnis. Misalnya saya bawa anak-anak saya ke calon lokasi GreenBay yang awalnya sangat kumuh dan berupa rawa-rawa. Mereka tanya pada saya, ‘papi, kok ambil tanah ini?’. Mata saya dengan mata mereka berbeda. Saya bilang, jangan lihat kondisi sekarang yang kumuh. Tapi bayangkan jika GreenBay sudah jadi.

Kondisinya sama dengan Podomoro City yang awalnya tanah kosong dan rawa. Tapi setelah Anda lihat, Podomoro City sekarang pasti sangat berbeda dengan tahun-tahun lalu.
Sekarang saya bangun Podomoro City segede gajah. Bangunannya seluas 600.000 meter persegi sampai 1 juta meter persegi. Untuk membangun superblok seluas itu, dibutuhkan panduan. Kalau nanggung, bisa gagal. Jadi saya bilang sama semua staf saya bahwa kita harus total football dan all out. Kita harus fokus, konsentrasi menyelesaikan proyek ini, dan punya manajemen yang solid. Kita harus bisa mewujudkan mimpi menjadi kenyataan. Dan nyatanya mimpi itu pelan-pelan terwujud.

Dari mana duit untuk membangun proyek-proyek ini, Pak Tri?
Duit dari mana? Kalau memang sudah punya niat untuk berhasil, saya yakin bisa. Jadi kuncinya, trust, kepercayaan. Dalam kondisi krisis global, Agung Podomoro Land tetap menyelesaikan proyek dan tidak menghentikannya.

Jadi aset-aset kami yang bisa dilepas, kami lepas. Janganlah ingin semua dipegang. Jadi kami lepas dua-tiga proyek, tapi dua proyek lain berjalan cepat. Jadi dalam kondisi sulit, krisis global, kami melepas tiga proyek lain, tapi mampu menyelesaikan dua proyek lain.
Ini komitmen kami pada tenant, pada konsumen. Nama harus terjaga baik. Toh kalau punya uang, kami bisa beli lagi proyek-proyek yang dilepas itu. Namun cash tetap menjadi raja, bukan landbank yang luas. Jadi dari hasil penjualan proyek yang dilepas, kami dapat Rp 3,2 triliun. Kami bisa menyelesaikan proyek Podomoro City dan Kuningan City tepat waktu.

Kami beruntung memiliki sumber daya manusia berkualitas, quality of people yang bagus. Kami juga memiliki landbank yang bagus untuk proyek-proyek masa depan Agung Podomoro.

Saya masih punya mimpi besar, yang kalau diwujudkan, akan membuat Agung Podomoro Land makin menjadi raksasa properti di Indonesia.

Kalau Anda tanya, di mana landbank Agung Podomoro? Saya tak perlu khawatir soal landbank. Jakarta masih luas. Apalagi Bodetabek. Masih banyak kantong yang bisa dibangun untuk proyek properti selanjutnya di The Greater Jakarta dan pantua Jawa. Setiap hari, banyak mitra yang menawarkan lahannya untuk dibangun oleh APL.
Berapa proyek properti yang ditangani Agung Podomoro Land sampai saat ini?
Pertama, Podomoro City, superblok seluas 21 hektar di Jakarta Barat dengan 11 menara apartemen, 85 ruko, 216 ruang perkantoran, sebuah mal eksklusif, hotel bintang lima Pullman yang dikelola Accor dengan 370 kamar. Podomoro City mendapat penghargaan sebagai The Best Superblock and High Rise Residence dari Majalah Property and Bank tahun 2009 dan The Best Superblock Concept and Well Integrated Mixed Use Development dari media yang sama tahun 2010.

Kedua, GreenBay Pluit, superblok di lahan seluas 12 hektar di tepi pantai utara Jakarta. Superblok ini meliputi 12 menara apartemen, satu shopping arcade, dan satu pusat perbelanjaan, dengan 3,5 hektar botanical garden.Pusat makanan akan buka selama 24 jam.

Ketiga, Senayan City, salah satu mal yang sering dikunjungi dan populer saat musim midnight sale. Superblok Senayan City selain mal, juga dua menara perkantoran modern dan satu menara apartemen mewah.

 Keempat, Lindeteves Trade Center di Glodok, Jakarta Barat, yang memiliki dua penyewa utama, yaitu Giant dan Sun City.
Kelima, rusunami Gading Nias Residences di Jakarta Utara.

Keenam, Kuningan City di Jakarta Selatan. 

Ketujuh, The Lavande di lahan seluas 1,1 hektar dengan 746 unit apartemen.

Kedelapan, superblok Festival Citilink Bandung di lahan seluas 3 hektar, meliputi mal, hotel bintang tiga, satu kondotel dan satu ruang konvensi. Tiga proyek terbaru pasca-IPO adalah Green Lake Sunter, Green Permata Pos Pengumben dan Green Taruma.

China, termasuk Hong Kong, saat ini mengalami “bubble” dalam industri properti. Harga apartemen selangit sehingga rakyat di sana tak mampu membelinya. Menurut Pak trihatma, langkah apa yang harus dilakukan pemerintah agar “bubble” tidak terjadi di Indonesia?

Yang saya tahu, Pemerintah China terus berusaha untuk mendinginkan pasar properti agar tidak terjadi “bubble”. Di Indonesia, memang sempat dikhawatirkan jika orang asing diizinkan membeli properti di sini, harga rumah akan melambung tinggi.

Tapi sebagai pengembang, kami harus bisa mengukur daya beli masyarakat Indonesia. Membangun apartemen jangan hanya untuk kelas atas, tapi juga untuk masyarakat menengah dan menengah bawah. Buktinya kami bisa menjual 60.000-an unit apartemen, sold out, habis, tak pernah ada stok tersisa.

Jadi kalau pengembang membangun hunian dengan harga terjangkau, pasti laris. Sasaran kami bukan investor atau spekulan, tapi end-user. Nah, bubble terjadi karena banyak spekulan yang membeli lalu menggorengnya dengan harga lebih mahal.
Jadi pemerintah harus melanjutkan kebijakan rusunami karena pembelinya sebagian besar end-user. Lihat saja contoh Kalibata City dengan 12.000 unit rusunami. Laris manis.
Jadi kita tidak perlu takut terjadi bubble. Saya kira pengembang Indonesia masih punya moral. Pengembang membangun hunian yang bisa dijangkau dan dibeli sebagian besar masyarakat, selain hunian high-end. Dan Agung Podomoro Land membangun dan memasarkan hunian segala lapisan, tetap laris, laku keras. Kewajiban pengembang, membantu masyarakat menengah bawah.

Apa filosofi hidup Pak Trihatma?
Filosofi hidup saya very simple. Yang penting how to make everybody happy. Membuat mitra saya senang. Jadi living on harmony and peaceful. Kalau itu dilakukan, pasti hidup kita sukses. Karena dalam jiwa yang sehat, terdapat tubuh yang sehat, dan jika tubuh kita sehat, ide-ide cemerlang akan muncul. Harmonisasi ini sangat penting karena jika kita hidup harmonis, akan bisa melahirkan konsep yang besar.
Kita makan cukup dengan satu piring nasi, tapi kita bisa memberikan banyak lapangan kerja. Di Senayan City misalnya, ada 250 karyawan tetap, namun jumlah orang yang hidup dari sana bisa mencapai 5.000 orang. Saya puas bisa menciptakan banyak lapangan kerja yang banyak. Ini menimbulkan rasa percaya diri dan keyakinan untuk meneruskan proyek lainnya.

Agung Podomoro Land berencana membangun universitas. Apa pertimbangannya?
Ini baru exercise. Universitas dibutuhkan karena kami berpikir jauh ke depan. Kami ingin anak-anak kita mendapatkan pendidikan di dalam negeri yang berkualitas. Kita mampu membuat universitas yang baik di dalam negeri. Kita belajar sistem dari luar negeri dan kita mengelola sistem itu. Saya berpikir ke arah sana. Karena apa? Karena anak-anak Indonesia yang belajar di luar negeri, setelah pulang ke Indonesia, kulturnya sudah beda. Ketemu keluarga seperti orang asing. Padahal nilai-nilai Asia harus tetap dijaga dan dipelihara. Jika sistem di luar negeri maju dan bagus, mengapa tidak dibawa ke dalam negeri saja, ke Indonesia, agar nilai-nilai Indonesia tetap ada.

Selain itu, kami membutuhkan sumber daya manusia Indonesia yang berkualitas. Masak mencari manajer mal harus orang Malaysia, orang Australia? Masak mencari ahli kelistrikan harus orang Filipina? Mengapa tak ada orang Indonesia sendiri yang mengelola mal kita? Jadi menciptakan SDM berkualitas itu sangat penting.


Sumber : Kompas.com

Sukses LIPPO GROUP

Orang banyak mengenal Mochtar Riady sebagai seorang praktisi perbankan jempolan dan seorang konglomerat yang visioner, pandangannya yang jauh ke depan dan sarat dengan filosofi menjadi panutan banyak para pengusaha dan para pelaku pasar. Kali ini kita akan menyoroti jalannya meniti sukses,yang tentu saja tidak semudah dibayangkan oleh banyak orang.

Mochtar Riady sudah bercita-cita menjadi seorang bankir di usia 10 tahun. Ketertarikan Riady yang dilahirkan di Malang pada tanggal 12 mei 1929 ini disebabkan karena setiap hari ketika berangkat sekolah, dia selalu melewati sebuah gedung megah yang merupakan kantor dari Nederlandsche Handels Bank (NHB) dan melihat para pegawai bank yang berpakaian parlente dan kelihatan sibuk.

Riady adalah anak seorang pedagang batik. Pada tahun 1947, Riady ditangkap oleh pemerintah Belanda dan di buang ke Nanking, Cina, di sana ia kemudian mengambil kuliah filosofi di University of Nanking .Namun, karena ada perang, Riady pergi ke Hongkong hingga tahun 1950 dan kemudian kembali ke Indonesia.

Riady masih sangat ingin menjadi seorang bankir, namun ayahnya tidak mendukung karena profesi bankir menurut ayahnya hanya untuk orang kaya, sedangkan kondisi keluarga mereka saat itu sangat miskin.

Pada tahun 1951 ia menikahi seorang wanita asal jember, oleh mertuanya, Riady diserahi tanggungjawab untuk mengurus sebuah toko kecil. Dalam tempo tiga tahun Riady telah dapat memajukan toko mertuanya tersebut menjadi yang terbesar di kota Jember. Cita-citanya yang sangat ingin menjadi seorang bankir membuatnya untuk memutuskan pergi ke Jakarta pada tahun 1954, walaupun saat itu dia tidak memiliki seorang kenalan pun di sana dan ditentang oleh keluarganya.

Riady berprinsip bahwa jika sebuah pohon ditanam di dalam pot atau di dalam rumah tidak akan pernah tinggi, namun akan terjadi sebaliknya bila ditanam di sebuah lahan yang luas.

Untuk mencari relasi, Riady bekerja di sebuah CV di jalan hayam wuruk selama enam bulan, kemudian ia bekerja pada seorang importer, di waktu bersamaan ia pun bekerjasama dengan temannya untuk berbisnis kapal kecil.

Sampai saat itu,Riady masih sangat ingin menjadi seorang bankir, di setiap kali bertemu relasinya, ia selalu mengutarakan keinginannya itu. Suatu saat temannya mengabari dia jika ada sebuah bank yang lagi terkena masalah dan menawarinya untuk memperbaikinya, Riady tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut walau saat itu dia tidak punya pengalaman sekalipun.

Riady berhasil meyakinkan Andi Gappa, pemilik Bank Kemakmuran yang bermasalah tersebut sehingga ia pun ditunjuk menjadi direktur di bank tersebut. Di hari pertama sebagai direktur, Riady sangat pusing melihat balance sheet, dia tidak bisa bagaimana cara membaca dan memahaminya, namun Riady pura-pura mengerti di depan pegawai akunting. Sepanjang malam dia mencoba belajar dan memahami balance sheet tersebut,namun sia sia, lalu dia meminta tolong temannya yang bekerja di Standar Chartered Bank untuk mengajarinya, tetapi masih saja tidak mengerti.

Akhirnya dia berterus terang terhadap para pegawainya dan Pak Andi Gappa, tentu saja mereka cukup terkejut mendengarnya. Permintaan Riady pun untuk mulai bekerja dari awal disetujuinya, mulai dari bagian kliring, cash, dan checking account. Selama sebulan penuh Riady belajar dan akhirnya ia pun mengerti tentang proses pembukuan, dan setelah membayar seorang guru privat ia akhirnya mengerti apakah itu akuntansi.

Maka mulailah dia menjual kepercayaan, hanya dalam setahun Bank Kemakmuran mengalami banyak perbaikan dan tumbuh pesat. Setelah cukup besar, pada tahun 1964, Riady pindah ke Bank Buana, kemudian di tahun 1971, dia pindah lagi ke Bank Panin yang merupakan gabungan dari Bank Kemakmuran, Bank Industri Jaya, dan Bank Industri Dagang Indonesia.

Mochtar Riady hampir selalu sukses dalam mengembangkan sebuah bank, dia memiliki filosofi tersendiri yang ia sebut sebagai Lie Yi Lian Dje. Lie berarti ramah, Yi memiliki karakter yang baik, Lian adalah kejujuran sedangkan Dje adalah memiliki rasa malu. Visi dan pandangan Riady yang jauh ke depan seringkali membuat orang kagum, dia dapat dengan cepat membaca situasi pasar dan dengan segera pula menyikapinya.

Salah satu contohnya ketika dia berhasil menyelamatkan Bank Buana tahun 1966. Saat itu Indonesia sedang mengalami masa krisis karena Indonesia berada pada masa perubahan ekonomi secara makro, ketika itu Riady sedang berkuliah malam di UI, disitu dia dikenalkan dengan beberapa pakar ekonomi seperti Emil Salim, Ali Wardhana,dkk. Riady segera sadar dan segera mengubah arah kebijakan Bank Buana.

Pertama, dia menurunkan suku bunga dari 20 % menjadi 12 %, padahal pada waktu itu semua bank beramai-ramai menaikkan suku bunganya. Karena suku bunga yang rendah tersebut maka para nasabah yang memiliki kredit yang belum lunas segera membayar kewajibannya. Sedangkan para usahawan yang akan meminjam diberi syarat ketat khususnya dalam hal jaminan, namun karena bunga yang ditawarkan Bank Buana sangat rendah dibanding yang lain maka banyak debitur yang masuk dan tak ragu untuk memberikan jaminan. Dengan cara itu Bank Buana menjadi sehat padahal pada waktu itu banyak klien dan bank yang bangkrut. Dengan otomatis orang mengenal siapa Mochtar Riady.

Mochtar Riady yang lahir di Malang, Jawa Timur 12 Mei 1929 adalah pendiri Grup Lippo, sebuah grup yang memiliki lebih dari 50 anak perusahaan. Jumlah seluruh karyawannya diperkirakan lebih dari 50 ribu orang. Aktivitas perusahaannya tidak hanya di Indonesia, tetapi juga hadir di kawasan Asia Pasifik, terutama di Hong Kong, Guang Zhou, Fujian, dan Shanghai.

Sejarah Grup Lippo bermula ketika Mochtar Riady yang memiliki nama Tionghoa, Lie Mo Tie membeli sebagian saham di Bank Perniagaan Indonesia milik Haji Hasyim Ning pada 1981. Waktu dibeli, aset bank milik keluarga Hasyim telah merosot menjadi hanya sekitar Rp 16,3 miliar.

Mochtar sendiri pada waktu itu tengah menduduki posisi penting di Bank Central Asia, bank yang didirikan oleh keluarga Liem Sioe Liong. Ia bergabung dengan BCA pada 1975 dengan meninggalkan Bank Panin. Di BCA Mochtar mendapatkan share sebesar 17,5 persen saham dan menjadi orang kepercayaan Liem Sioe Liong. Aset BCA ketika Mochtar bergabung hanya Rp 12,8 miliar. Mochtar baru keluar dari BCA pada akhir 1990 dan ketika itu aset bank tersebut sudah di atas Rp 5 triliun.

Bergabung dengan Hasyim Ning membuat ia bersemangat. Pada 1987, setelah ia bergabung, aset Bank Perniagaan Indonesia melonjak naik lebih dari 1.500 persen menjadi Rp 257,73 miliar. Hal ini membuat kagum kalangan perbankan nasional. Ia pun dijuluki sebagai The Magic Man of Bank Marketing. Dua tahun kemudian, pada 1989, bank ini melakukan merger dengan Bank Umum Asia dan semenjak saat itu lahirlah Lippobank. 
 
 Inilah cikal bakal Grup Lippo. Saat ini Group Lippo memiliki lima cabang bisnis yakni :
  1. Jasa keuangan : perbankan, reksadana, asuransi, manajemen asset,sekuritas
  2. Properti dan urban development : kota satelit terpadu, perumahan, kondominium, pusat hiburan dan perbelanjaan, perkantoran dan kawasan industri.
  3. Pembangunan infrastruktur seperti pembangkit tenaga listrik, produksi gas, distribusi, pembangunan jalan raya, pembangunan sarana air bersih, dan prasarana komunikasi.
  4. Bidang industri yang meliputi industri komponen elektronik, komponen otomotif, industri semen, porselen, batu bara dan gas bumi. Melalui Lippo Industries, grup ini juga aktif memproduksi komponen elektonik seperti kulkas dan AC merk Mitsubishi. Sedangkan komponen otomotif perusahaan yang dipimpin Mochtar ini sukses memproduksi kabel persneling.                 
 
 
Sumber : peluangusaha.web.id                                                          

Selasa, 06 November 2012

Sukses Muda Anindya Novyan Bakrie

Tubuh atletis, wajah tampan, berjiwa muda dan berwawasan luas.  Itulah gambaran sekilas tentang sosok usahawan muda Indonesia yang satu ini, pria kelahiran Jakarta 10 November 1974.  Dengan semangat jiwa muda dan wawasan luas yang ia miliki, ditunjang oleh pengalaman menempuh pendidikan tinggi di luar negeri, dia mampu menjalankan beberapa perusahaan besar sekaligus di bawah satu kontrol kepemimpinannya.  Bahkan, pebisnis muda lulusan M.B.A dari Stanford Graduate School of Business, California, Amerika Serikat, juga telah menunjukkan kepiawaiannya memecahkan berbagai persoalan dan kemelut yang beberapa kali hadir melanda perusahaan di tengah persaingan bisnis yang sangat ketat.

Anindya Novyan Bakrie, itulah nama lengkap putra pertama dari Menteri Koordinator Bidang Kesra di Kabinet Indonesia Bersatu, Aburizal Bakrie. Pengusaha yang lebih akrab disapa Pak Anin oleh para kolega bisnis dan stafnya ini, adalah Presiden Direktur PT Bakrie Telecom Tbk, perusahaan yang dikenal luas dengan produk telepon seluler tarif murah “Esia”.  Suami dari Firdiani Saugi dan ayah dari 3 anak – Alisha Anastasia Bakrie (P), Azra Fadilla Bakrie (P) dan Akila Abunindya Bakrie (L) – ini pernah “magang” di perusahaan PT Bakrie & Brothers Tbk. sebagai Deputi Kepala Operasi dan Direktur Pelaksana pada periode 1997-1999.  Ia selanjutnya mendapat amanat penuh dari orang tuanya untuk memimpin beberapa perusahaan milik keluarga, salah satunya PT Bakrie Telecom Tbk.

Sebagai seorang presiden direktur di perusahaan besar pertelekomunikasian Indonesia, khususnya yang berbasis teknologi CDMA, Anindya selalu mendapatan pelajaran baru dari setiap langkah bisnis yang ia lakukan dalam memajukan pertelekomunikasian di tanah air. Sebagai anak muda, ia tidak pernah berhenti belajar, menimba ilmu dan pengalaman dari para senior.  Hal ini tercermin dari jawaban pendeknya atas pertanyaan apa kiat dan rahasia keberhasilannya dalam mengelola usaha selama ini.  Saya belum pas untuk pertanyaan itu, karena saya sendiri masih belajar, belum punya kiat dan rahasia sukses.  Namun demikian, Anindya senantiasa terbuka kepada setiap orang yang ingin mencoba untuk mencontoh atau berbagi pengalaman sukses dalam mengelola bisnis di bidang telekomunikasi seperti yang digelutinya saat ini.

Selain menahkodai PT Bakrie Telecom Tbk, Anindya juga masuk dalam jajaran puncak memimpin beberapa perusahaan besar lainnya, yakni pada PT Lativi Media Karya (Lativi, yang berganti nama menjadi tvOne pada 14 Februari 2008 lalu) sebagai Presiden Komisaris, PT Cakrawala Andalas Televisi (ANTV) sebagai Presiden Direktur, dan di perusahaan Capital Managers Asia Pte., Ltd. (berpusat di Singapura) sebagai Chief Operating Officer.  Dengan jabatan pimpinan di berbagai lembaga bisnis tersebut, dapat dibayangkan betapa sibuknya seorang Anindya bekerja dan berkarya mencapai tujuan usaha yang sedang ditekuni.  Oleh karena itu, kesediaan tokoh pengusaha muda belia yang juga aktif di organisasi Kadin Indonesia sebagai Ketua Komite Tetap bidang Komunikasi dan Penyiaran ini menerima tim redaksi Harian Online KabarIndonesia (HOKI) di ruang kerjanya di Wisma Bakrie, Kuningan – Jakarta, untuk sebuah wawancara eksklusif beberapa waktu lalu menjadi sebuah momen langka dan amat istimewa.

Anindya ternyata seorang yang sederhana, bila tidak dapat dikatakan sangat bersahaja.  Seperti layaknya pemuda pribumi Indonesia kebanyakan, ia terlihat biasa saja, ditunjang oleh sifat santun yang amat kentara jauh dari kesan bahwa ia seorang konglomerat kaya-raya; penampilannya saat itu menepis anggapan bahwa anak-anak pejabat menyenangi kehidupan glamour dan angkuh. Senyum yang senantiasa menghiasi wajahnya menambah “tenteram” suasana hati setiap tetamu yang hadir, ditambah percakapan bersahabat disertai tawa lepas ciri khas lelaki muda yang mudah bergaul dengan semua kalangan.

Anindya adalah seorang Muslim yang taat. Hal ini tercermin dari seringnya ungkapan syukur yang terlontar dari mulutnya di sela-sela pembicaraan; menurut rekan-rekannya ia juga rajin beribadah. Lulusan BSc. dari Northwestern University, Illionis, Amerika Serikat, yang pada pertemuan beberapa waktu lalu itu mengenakan kemeja biru terang dan celana jeans, terkesan kuat memiliki aura kepemimpinan yang amat baik. Dalam penampilan yang bersahaja itu ia tetap terlihat sebagai seorang pemimpin profesional, yang tercermin juga dari tutur kata serta gaya berbicara yang terstruktur, analisis, bervisi jauh ke depan, serta memiliki bobot keilmuan yang tinggi.

Sesungguhnya seorang Anindya bukanlah apa-apa walau ia terlahir dari keturunan keluarga mapan dan kaya mulai garis keluarga kakeknya, alm. H. Achmad Bakrie. Usaha yang dirintis dan dijalankannya saat ini, bila boleh dikatakan berhasil, itu tidak lepas dari kemampuan individu-nya sebagai seorang usahawan. “Darah bisnis” bawaan dari orang tuanya mungkin saja menjadi modal besar dalam mengelola suatu usaha. Dan hal tersebut lebih bermakna ketika Anindya telah mempersiapkan dirinya sendiri untuk menjadi pebisnis melalui pendidikan hingga ke tingkat Master ditambah kegigihannya menimba ilmu filosofi bisnis dari alm. kakeknya.

“Dalam hidup ini, terutama ketika menggeluti sebuah usaha, hal yang perlu ditanamkan adalah bahwa apapun yang dilaksanakan harus bermanfaat dan berguna bagi banyak orang,” demikian pesan kakeknya seperti dituturkan Anindya. Sebuah filsafat hidup sarat makna yang amat fundamental sebagai landasan berpijak dalam setiap kegiatan yang kita inginkan berhasil dengan baik. Hampir semua orang pernah mendengar dan tahu dengan pesan “moral” itu, namun tidak banyak yang mampu melakukannya dengan konsisten. Padahal, justru prinsip tersebut merupakan salah satu penentu berhasil-tidaknya seorang pengusaha.

Kalkulasi kemungkinan yang bisa terjadi di masa depan adalah salah satu pesan penting Anindya bagi sesama generasi muda serta penerus bangsa. Menurutnya, saat ini, komposisi penduduk Indonesia menunjukkan bahwa 65% adalah penduduk usia di bawah 35 tahun. Masa depan bangsa dan negara Indonesia pada 15 atau 20 tahun mendatang ditentukan oleh generasi yang 65% itu. Oleh karenanya, keadaan Indonesia pada 15 atau 20 tahun akan datang dapat diprediksi dengan melihat karakter dan keadaan generasi muda saat ini. Artinya, para pemuda dan generasi remaja perlu mempersiapkan diri sebaik-baiknya untuk menyongsong masa 20 tahun nanti itu.

“We are living in an interesting time,” kata Anindya menggambarkan bahwa generasi muda saat ini sedang hidup di zaman yang amat menarik penuh tantangan. Yang oleh sebab itu, mereka perlu memiliki karakter inovator dan kreator handal jika ingin bangsa dan negaranya maju, tidak tertinggal lebih jauh dari bangsa-bangsa lain. Satu kebanggaan bagi Anindya adalah bahwa dari data survey, terdapat 85% pebisnis Indonesia di Usaha Kecil Menengah (UKM) adalah generasi muda. Ini mengindikasikan bahwa semangat membangun dan berkarya kalangan muda cukup baik.



Sumber : wordpress.com

Sukses di Bidang Laundry Kiloan

Peringati Hari Kebangkitan Nasional Fatigon Semangati Masyarakat untuk Produktif Untuk menuju masyarakat Indonesia yang produktif, sembari memanfaatkan momen Hari Kebangkitan Nasional, salah satu produk multivitamin, Fatigon, yang berada di bawah bendera PT Kalbe Farma, mengusung suatu program yang dinamakan “Aksi Semangat Indonesia Menuju Masyarakat Produktif”.  Program ini merupakan sebuah gerakan moral peduli produktivitas bangsa, dengan mengusung aktivitas positif yang sarat inspirasi,edukasi, kesehatan, serta hiburan.

Program ini diawali dengan kickoff pada hari ini, Rabu (19/5), yang bertempat di Marios Place, Jakarta, dengan menghadirkan beberapa orang endorser (bintang pendukung).  Di antaranya yaitu pendiri radio AS, Ahmad Solihun, serta pengusaha laundry kiloan Agung Nugroho Susanto. Acara tersebut sekaligus juga dihadiri oleh Pelaksana Tugas (Plt) Dirjen Pembinaan dan Produktivitas Kemenakertrans, Abdul Wahab Bangkona.

Selanjutnya dalam program ini, akan diadakan kegiatan “Fatigon Aksi Semangat Indonesia” setiap Senin pagi di perkantoran, dengan tujuan mengajak dan membiasakan karyawan di perkantoran tak datang terlambat. Lantas pada tanggal 6 Juni 2010 mendatang, Fatigon juga akan mengadakan serangkaian kegiatan massal di Parkir Timur Senayan, Jakarta, menyusul kemudian di Lapangan Makodam Surabaya dan Lapangan Tagalega, Bandung, serta di tempat-tempat lainnya. Dalam kesempatan itu akan dilakukan kegiatan-kegiatan menarik bermuatan edukasi, seperti jalan bersama, aerobik, penciptaan rekor Muri membunyikan alarm weker dengan peserta terbanyak (dengan target 15 ribu), plus hiburan oleh band-band papan atas.

Menurut Direktur Sales dan Marketing PT Kalbe Farma, Widjanarko Lokadjaja, kegiatan ini disponsori oleh produk mereka Fatigon, yang merupakan multivitamin paling banyak dikonsumsi masyarakat Indonesia. “Besar harapan kami, melalui kampanye ini Fatigon bisa membantu mengingatkan dan mengajak masyarakat Indonesia untuk kembali memiliki semangat kerja, semangat menjadi yang terbaik, sekaligus tentunya Fatigon selalu menjadi pilihan masyarakat dalam menjaga kesehatan dan membantu beraktivitas sehari-hari,”ungkapnya.

Dipaparkan pula, tahun 2010 ini merupakan tahun pertama berlangsungnya program “Aksi Semangat Indonesia Menuju Masyarakat Produktif” dengan memanfaatkan momentum Hari Kebangkitan Nasional.  Kami percaya Hari Kebangkitan Nasional ini dapat menjadi momentum (demi) mencanangkan program yang menjadikan masyarakat lebih produktif.

Saat wartawan Globalnews-indonesia.com mewawancarai salah satu endorser pendukung pengusaha laundry kiloan Agung Nugroho Susanto dari Yogyakarta ia mengatakan bahwa perjalanan hidup seseorang memang tidak pernah ada yang mengira akan jadi apa kita besok bahkan masa depan kita begitu juga Agung Nugroho yang dalam menjalani kehidupannya juga tidak pernah tahu akan jadi apa yang semula hanya melihat dan akhirnya mempunyai ide kreatif untuk mencoba terjun menjadi pengusaha laundry dengan merek dagangnya SimplyFresh.

Sebelumnya Agung juga mempunyai usaha di bidang Distro dan Counter HP tapi menurut Agung kedua bisnis tersebut ternyata gagal dan dalam bisnis Laundry baru sukses.  Hingga saat ini bisnis Laundry kiloannya sudah mencapai 130 outlet yang tersebar di seluruh Indonesia, dengan otlet yang terbanyak ada di Jabodetabek dan hingga saat ini bisnis mencuci ini merupakan salah satu bisnis dengan sistem Franchise yang paling dicari oleh masyarakat yang ingin membuka usahanya.

Agung Nugroho Susanto. Sarjana Hukum, Alumni UGM saat ini omsetnya hingga milyaran rupiah per bulan.  Outlet loundry miliknya hingga kini sudah tersebar di seluruh Indonesia, dari Aceh hingga ke Papua.  Usianya kini baru menginjak 25 tahun.  Usia ini masih relatif muda untuk seorang milyarder.

Pada tahun 2007 ia lulus dari dari Fakultas Hukum UGM, dengan IPK 3,7, kelurganya menyarankan agar dia bekerja di Bank Indonesia. Ternyata beberapa kali tes saya lulus dan terakhir hanya tes Wawancara,” kata Agung mengawali ceritanya.

Tes terakhir itu menurutnya hanya formalitas.  Dia yakin diterima delapan puluh persen.  Tetapi dia berani melawan kehendak orang tua.  Saya tidak ikut tes di BI tersebut.

Dirinya meminta kepada keluarga agar memberi waktu kepadanya untuk meneruskan perjuangan bisnis di bidang lain.  Saya yakin itu (Perjuangan) akan berhasil.

Kini Agung dalam usia yang masih relatif muda ini terus menggeluti bisnisnya di bidang laundry kiloan yang sudah tersebar di seluruh Indonesia, dengan sistem Franchise.

Akhirnya saya hinggap di usaha cucian ini.  Untuk menyikapi persaingan maka saya harus memiliki kelebihan dalam usaha ini, yaitu saya menambahkan aroma pewangi, garansi total jika ada kerusakan, dan yang terakhir adalah deterjen yang ramah lingkungan, bahkan bisa menyuburkan tanaman. Simply Fresh kini menjadi laundry favorit para mahasiswa di Yogyakarta karena harga yang ditawarkan ke konsumen sangat murah.



sumber : wordpress.com

Sukses Kebab Turki

Mungkin nama Hendy Setiono belum familiar di telinga Anda.  Namun tahukah Anda kalau perusahaan yang ia pimpin beromzet lebih dari Rp 1.000.000.000 per bulan.  Ya, anak muda asal Surabaya ini adalah Presiden Direktur Kebab Turki Baba Rafi Surabaya.  Kebab Baba Rafi berdiri sejak September 2003 hingga kini telah memiliki 100 outlet di 16 kota yang tersebar di seluruh Indonesia.  Dengan bisnis kebabnya ini, Hendy Setiono dinobatkan oleh majalah Tempo edisi akhir 2006 sebagai salah seorang di antara sepuluh tokoh pilihan yang dinilai mengubah Indonesia.  Sebuah prestasi yang cukup membanggakan mengingat usianya baru menginjak 25 tahun.  Ide mendirikan bisnis kebab berawal ketika pria kelahiran Surabaya, 30 Maret 1983 ini mengunjungi ayahnya yang bertugas di perusahaan minyak di Qatar. Ia mengamati kedai kebab banyak dikunjungi warga setempat.  Karena penasaran, Hendy yang mengaku hobi makan itu lantas mencoba makanan tersebut.  Ternyata rasanya sangat enak dan terbersit pikiran untuk membuka usaha kebab di Indonesia. Alasannya, selain belum banyak usaha semacam itu, di Indonesia terdapat warga keturunan Timur Tengah yang menyebar di berbagai kota.

Sekembalinya di Surabaya, Hendy langsung menyusun strategi bisnis. Langkah pertama yang dilakukan adalah mencari partner, yaitu Hasan Baraja, Kawan bisnisnya yang kebetulan juga senang kuliner.  Dengan tidak bermaksud asal-asalan, mereka sengaja melakukan trial and error untuk menjajaki peluang bisnis serta pangsa pasarnya.  Pada September 2003, gerobak jualan kebab pertamanya mulai beroperasi. Tepatnya di salah satu pojok Jalan Nginden Semolo, berdekatan dengan area kampus dan tempat tinggalnya.

Mengapa gerobak? Hendy beralasan bahwa memproduksi gerobak lebih mudah daripada harus membuat kedai permanen.  Modalnya sedikit, fleksibel dan bisa berpindah-pindah lokasi.  Tentang nama Baba Rafi sendiri ternyata terinspirasi dari nama anak pertamanya, Rafi Darmawan. Baba Rafi yang berarti bapaknya Rafi. Lebih bagus daripada nama Kebab Pak Hendy yang terdengar kurang komersial.

Keinginan Hendy berwirasusaha ini awalnya tidak mendapatkan restu dari kedua orangtuanya.  Mereka menginginkan Hendy menjadi orang kantoran seperti ayahnya.  Terlebih lagi ternyata Hendy harus memutuskan berhenti dari bangku kuliah di tahun kedua Fakultas Teknik Informatika Institut Teknologi Surabaya.  Restupun semakin sulit didapat.  Namun, dengan semangat baja, Hendy ingin membuktikan bahwa bisnis kebabnya ini akan berhasil dan bukan sekedar proyek iseng.

Semua berbuah hasil ketika hanya dalam 3-4 tahun, sulung dari dua bersaudara pasangan Ir. H. Bambang Sudiono dan Endah Setijowati ini berhasil mengembangkan sayap di mana-mana.  Bahkan, hingga pengujung 2006, telah tercatat 100 outlet Kebab Turki Baba Rafi yang tersebar di 16 kota di Indonesia. Tahun 2008, telah berkembang menjadi 300 outlet dari Aceh sampai Ambon.

Sukses bisnis kebab yang dikonsep dengan sistem waralaba dan manajemen yang solid, membuat Hendy mendapatkan berbagai award, baik dari dalam maupun luar negeri. Di antaranya, ISMBEA (Indonesian Small Medium Business Entrepreneur Award) 2006 oleh menteri Koperasi dan UKM, ASIA’s Best Entrepreneur Under 25 oleh majalah Business Week International 2006, penghargaan Citra Pengusaha Berprestasi Indonesia Abad Ke-21 oleh Profesi Indonesia, Terbaik I Wirausaha Muda Mandiri 2007 dari Bank Mandiri, Best Franchise 2007 Category of Food & Beverages dari Pengusaha Magazine, Best Achievement at Young Entrepreneurs Award 2007 dari Bisnis Indonesia dan berbagai perhargaan lainnya.  Kini mimpinya adalah mengembangkan usahanya ke mancanegara seperti Malaysia dan Thailand.  Tidak hanya itu, sudah ada tawaran untuk membuka outlet di Trinidad & Tobago serta Kamboja.


sumber : wordpress.com

Sukses Peter Kohan


Dia masih muda. Kelahiran 20 September 1988. Namun sudah bisa menghasilkan banyak uang. Dia juga dipercaya sebagai salah satu marketing andal oleh Tung Desem Winangun. Dialah Peter Kohar, yang menjalankan bisnis onlinenya lewat internet.

’’SAYA menjual barang dan obat-obatan lewat internet, modal yang diinvestasikan sedikit tapi hasilnya cukup lumayan,’’ ungkap Kohar. Kohar membangun perusahaan bernama PT. Kohar Online. Selain itu, dirinya juga mengembangkan Tung Desem Waringin (TDM) University, motivator andal yang banyak memberikan inspirasi sukses bagi banyak orang.

Dalam sehari, member yang mendaftar di situs yang dikembangkannya tersebut mencapai 33 ribu orang. Uang yang masuk dalam hari itu saja mencapai Rp 279 juta. ’’Awalnya saya tidak percaya dengan angka itu. Namun, akhirnya saya sadar bahwa itu adalah buah dari kerja keras,’’ sambung Kohar.

Kohar mengaku, salah satu yang menjadi modal utamanya sehingga dapat dipercaya oleh berbabagai kliennya di bisnis ini, karena memegang teguh kejujuran dan menjaga kredibilitasnya. Dirinya juga yakin, bahwa dengan ketekunan yang baik, apa yang diharapkan pasti akan tercapai. ’’Awalnya saya membuat shocking di internet, ini supaya banyak orang yang tertarik dengan apa yang saya buat. Lalu setelah itu, baru saya akan mengajak mereka,’’ ungkapnya.

Dalam situs yang dibangunnya itu, rata-rata diakses oleh 240 ribu orang. Selain barang dan obat-obatan, TDW University juga memberikan konsultasi untuk peningkatan karir dan usaha seseorang. Bagi Kohar, itu merupakan kolaborasi yang sangat luar biasa dengan sosok Tung.
Selain modal yang sedikit, Kohar lebih bisa memanfaatkan waktunya dengan baik dalam menjalankan bisnis ini. Dia hanya harus duduk di depan komputer dan bertemu dengan para stafnya, yang juga duduk online di depan komputernya masing-masing. Sekali waktu, dia dan beberapa stafnya “kopi darat” untuk membahas bisnis mereka.

Ke depan, Kohar berharap agar bisnis onlinenya bisa merambah ke barang-barang yang lebih ekslusif lagi. Dengan jumlah member yang sudah cukup banyak itu, dirinya percaya bahwa apa yang akan ditawarkannya bisa lebih banyak lagi dari hari ini. Untuk merambah bisnisnya bisa kebih besar lagi, pengalaman dan jaringan yang ada akan dimanfaatkanya seefektif mungkin.

’’Beberapa waktu yang lalu, saya bertemu dengan pengusaha dari Papua dan Beliau mengajak saya untuk bekerja sama, dalam memasarkan proyeknya ini,’’ ungkapnya. Kohar berharap, agar konsep viral marketing yang sedang dibangunnya dapat menyebar hingga ke seluruh Indonesia, bahkan mancanegara.

Yang menarik dari Kohar adalah keyakinannya pada ungkapan ’’Show Me the Money”. Ungkapan itulah yang membuat Kohar memutuskan untuk berhenti kuliah jelang setahun kelulusannya, pada 2008. Apa yang dilakukan Kohar, memang cukup dibilang berani, karena menurutnya pelajaran yang didapatkanya di bangku kuliah, dirasakan sangat berbeda dengan kenyataan yang ada di lapangan. ’’Yah, saya berhenti kuliah agar ingin cepat dapat uang,’’ ungkap Kohar.

Keputusan kontroversialnya tersebut mendapatkan dukungan penuh dari kedua orangtuanya, yang mengatakan bahwa Kohar harus dapat membuktikan keputusannya tersebut.Baginya, kecerdasan bisa saja didapatkan dari school smart atau juga yang didapatkan dari street smart. Setahun setelah memutuskan berhenti kuliah, Kohar akhirnya mulai dapat membuktikan bahwa apa yang menjadi keputusannya itu bisa diperlihatkan kepada orangtuanya. Sebelumnya, ketika sudah mulai mencari uang secara mandiri, dukungan untuk berhenti kuliah, juga datang dari sesama temannya yang juga pengusaha. ’’Kalau ada istilah DO, maka saya memilih OD alias out dewe,’’ tegas Kohar.

Tanda-tanda kemandirian, sudah diperlihatkanya sejak lulus dari SMA. Ketika itu, Kohar sudah menjadi guru les yang memiliki penghasilan kurang lebih Rp 8 juta per bulannya. Dengan kondisi itu saja, dirinya sudah merasa bahwa bakat yang dimilikinya dapat mengantarkannya memiliki bisnis sendiri, dan bisa menghasilkan lebih banyak uang lagi.

Ketika masih duduk di bangku SMA, karena kemalasan dan kebanyakan gaul, Kohar sempat menduduki ranking 82 dari 90 siswa. Nilai mata pelajaranya pun otomatis anjlok dan sangat tidak memuaskan. Suatu hari, dirinya mengajak jalan pacarnya dengan mengendarai mobil sang ayah. Ketika di tengah perjalanan, tiba sang pacar mengatakan bahwa apa jadinya ketika seumpama orangtua Kohar bangkrut, dan tidak bisa bikin apa-apa, kira-kira Kohar akan hidup dari mana.

Dengan sangat kaget, saat itu Kohar terdiam seribu bahasa dan tidak mampu mengatakan satu kata pun. Sesampainya di rumah, Kohar kembali merenungi apa yang dikatakan sang pacar. Lalu, dengan kejadian tersebut Kohar akhirnya sadar bahwa dia harus mengubah cara hidupnya, yang selama ini hanya mengandalkan harta milik orangtua. ’’Yah, saya mengakui bahwa pacar saya sewaktu SMA lah yang membuat saya berubah untuk bisa mandiri di atas kaki sendiri,’’ tegasnya. Namun, ketika ditanya wanita itu, Kohar enggan untuk mengutarakanya.

Perubahan drastis itu dibuktikannya pada ujian nasional. Setelah hasil akhirnya diumumkan, Kohar berhasil memeroleh nilai sempurna, yakni 100 untuk pelajaran matematika dan 90 untuk Fisika dan Kimia. ’’Saya mengubah banyak dari diri saya, yang awalnya saya tidak belajar hingga larut malam, saya ubah belajar dengan giat dan mencari banyak bahan pelajaran lainnya,’’ ujar Kohar.

Kohar mengaku, dirinya masih butuh banyak belajar dan menambah lagi wawasannya di dunia bisnis. Dia ingin ikut berbagai pelatihan dan seminar, agar menambah banyak informasi. Namun, dirinya menegaskan untuk tidak lagi kembali menginjakkan kaki di bangku kuliah yang akan memakan waktu yang lama baginya.

Sebagai anak muda, Kohar tidak lupa berpesan agar anak muda zaman sekarang lebih banyak memfokuskan diri kepada hal-hal positif dan menghindari kegiatan dan perilaku yang negatif. Semua itu, menurut Kohar, tidak akan dapat membantu meningkatkan kemampuan, tapi hanya akan membuat masa depan seseorang bertambah suram.

Sumber : bisnis.lintas.me

Miliarder Muda


Keahlian, kerja keras, dan strategi bisnis yang tepat mampu menghantarkan seseorang pada kesuksesan. Itulah yang kini dicapai Yohanes Auri. Ia yang mampu menjadi miliarder muda melalui usaha jasa desain grafis berbendera PT Flux Asia Solusindo.

Usia belia tidak menghambat seseorang untuk mencapai kesuksesan. Dengan kemampuan mengasah keahlian, kerja keras, dan strategi bisnis yang tepat, seorang anak muda bisa saja mereguk sukses dalam bisnis.

Salah satunya adalah Yohanes Auri yang berhasil mengibarkan PT Flux Asia Solusindo. Hanya dalam kurun waktu lima tahun, sang pemuda yang usianya belum genap kepala tiga ini sudah bisa menggemukkan omzet usaha jasa desain grafisnya hingga miliaran rupiah.

PT Flux Asia Solusindo – disingkat Flux Design – merupakan usaha yang bergerak di bidang desain grafis. Jasa yang diberikan antara lain pembuatan annual report, kalender, company profile, multimedia animation, corporate identity, web design, editorial design, dan branding.

Hingga saat ini Auri sudah memiliki dua ratusan klien korporasi. Di antaranya, BII, BNI, Bank of China, Bank of Tokyo, Bank Sumitomo (BSMI), Asuransi Jasindo, Adira Insurance, Avrist Assurance, Erdikha Sekuritas, NISP Sekuritas, Agung Podomoro Group, Adhi Realty Group, Menara MTH, LEADS Property, Procon Indah, BP Migas, Pertamina, Astra Agro, dan Tjokro Group.

Dengan portofolio klien yang banyak dan berkelas itu, Auri optimistis bisa melipatgandakan omzetnya tahun ini.  “Tahun lalu hanya satu digit (miliar), tahun ini harapannya bisa dua digit,” katanya.

Menjelang akhir tahun seperti sekarang, pesanan desain dan cetak kalender korporasi sudah berdatangan. Kesuksesan Auri tidak didapat dengan mudah. Dia merintis usaha ini sejak kuliah Desain Komunikasi Visual di Universitas Bina Nusantara, Jakarta.

“Sejak kuliah saya sudah menjadi freelancer desain, dapat klien pertama tahun 2004. Ada teman yang pesan logo kafe, honornya waktu itu Rp 8 juta,” kata anak pertama dari tiga bersaudara ini.

Sambil kuliah, Auri menggarap pesanan desain di kamarnya yang berukuran 4x4 meter. Komputer yang digunakan pun masih komputer tabung berprosesor Pentium III.

“Saya bukan dari keluarga berada. Tidak mungkin minta orangtua untuk membeli komputer canggih,” kata Auri yang anak pemilik toko suku cadang ini.

Desain gratisan
Tahun 2006, Auri lulus kuliah dan bertekad untuk tetap menjalankan usahanya itu dengan bendera Flux Desain. Ternyata dewi fortuna datang. Ada jemaat gereja yang menyukai desain majalah gratisan yang dibuatnya.

“Dia pengurus Certificate Wealth Manager Association (CWMA). Inilah proyek besar pertama saya,” kenangnya. Asosiasi itu memintanya membuat desain undangan dan buku kelulusan. Nilai proyeknya waktu itu sebesar Rp 20 juta.

Pada saat acara CWMA berlangsung, Auri pun menebarkan kartu nama pada bos-bos bank yang mengikuti acara CWMA tersebut.

“Saya berharap dengan perkenalan personal ini bisa mendapatkan klien besar,” katanya sambil terbahak.

Auri juga memberanikan diri merekrut seorang karyawan meski masih menggunakan kamarnya sebagai ruang kerja. Selama 2006, ia hanya berhasil mendapatkan tiga klien korporasi, sisanya hanya proyek kecil.

Auri lantas menerapkan sistem jemput bola pada calon klien. Dia menawarkan jasa ke lebih dari 40 perusahaan, baik melalui mesin faksimile maupun telepon.

Dia memutuskan untuk mengincar klien korporasi lantaran lebih strategis membesarkan usaha. “Sudah pasti banyak yang menolak. Nama perusahaan kami belum besar,” ujar suami dari Desiana ini.

Sampai tahun 2008, Auri masih merangkap jabatan, baik sebagai kurir, pemasar, bagian keuangan, desainer, sampai tukang tagih. “Ya, mesti nagih karena klien biasanya tidak langsung bayar penuh. Itu terjadi sampai sekarang,” katanya. Proyek makin banyak, omzet sudah mencapai ratusan juta.

Tahun 2009, Auri merenovasi kamarnya untuk diperlebar menjadi kantor lantaran sudah memiliki tujuh karyawan. “Tahun 2010, saya bikin perusahaan untuk mendapatkan proyek secara tender. Klien-klien besar pun kami peroleh,” katanya.

Nilai sekali proyek desain tidak tanggung-tanggung, mulai ratusan juta hingga miliaran. Maka, ia memasang target tinggi untuk omzet Flux Design. “Tahun ini harapannya bisa mencapai lebih dari Rp 20 miliar,” kata pria kelahiran Jakarta, 8 Februari 1985 ini.

Pada tahun lalu, Auri memindahkan kantornya ke sebuah ruko dua lantai.  “Di tahun yang sama, saya mendirikan Maunge-print.com, sebuah usaha digital printing. Ini sebagai sinergi usaha karena biaya percetakan desain lebih murah dan perputaran uang di bisnis ini juga lebih cepat,” katanya.

Auri juga mulai memisahkan usaha percetakan digital dengan usaha jasa desain. Tahun ini, dia memindahkan kantor Flux Design ke Puri Kembangan, Jakarta Barat.

“Puji Tuhan, saya sudah bisa membeli rumah secara tunai dan dijadikan kantor. Target saya, di 2015 sudah bisa pindah di gedung perkantoran,” katanya. 

Sumber : palembang.tribunnews.com

Sukses Es Kepepet


Es Kepepet Wong Kito Palembang, itulah sepenggal nama usaha Hermansyah (24). Nama itu sengaja diambil dari profesi Herman yang serba kepepet. ” Kalau profesi sales itu kan serba kepepet, makanya muncul nama ‘Es Kepepet’. Pemenang Wirausaha Mandiri asal Palembang ini memakainya karena bentuk dari segala usaha yang serba kepepet.

Dua gerobak warna-warni terpampang di depan kantor Manajemen Es Kepepet Jl Jendral Mukmin No 1004, Kecamatan. Ilir Timur (IT). Satu  gerobak bertuliskan Es Kepepet dan satu lagi tulisan Hermansyah seorang Pemenang Wirausaha Mandiri Kategori Boga Klasifikasi  S1 (Mahasiswa).

Saat disambangi ke kantornya, pria berpostur tinggi tegap dan masih muda ini menyambut  dengan ramah dan sumringah.  “Perkenalkan nama saya Herman. Saya dengan senang hati akan menceritakan awal mulanya saya merintis usaha Es Kepepet yang bisa membuat saya jadi usahawan sukses seperti sekarang ini,” ujar Herman mengaku sudah sejak SMP dia ingin berwirausaha.

"Itulah awal saya melangkah di dunia wirausaha. Saat itu saya sudah memberanikan diri menjual mainan di Kawasan Pasar 16 Ilir, tepatnya di Jl Bringin Janggut. Setelah tamat SMA, saya banting setir jual pakaian dan piano. Pokoknya, banyak lagi usaha yang pernah saya lakukan sejak SMP dan SMA di kawasan Beringin Janggut. Tentu saja banyak  orang yang kenal sama saya kerena saya sering jualan disitu,” kata sulung dari dua  saudara ini.

Anak dr Mastarai H Ahmad dan Nyimas Nurul Huda ini usai tamat SMA langsung bekerja di salah satu perusahaan alat kesehatan alkes sebagai sales. “ Sambil kerja sebagai sales, saya juga menyempatkan diri menimba ilmu di Universitas Muhammadiyah Palembang, jurusan Ekonomi Manajemen. Nah, gaji  dari hasil kerja saya pakai untuk biaya kuliah,” ungkap pria kelahiran Palembang, 13 November 1983.

Hanya dua tahun kemudian Herman akhirnya memutuskan berhenti bekerja sebagai sales alkes. Apalagi, Herman tak biasa bekerja seperti itu dan menginginkan berwirausaha saja. “ Sempat juga lho saya nganggur beberapa lama. Saya lama memikirkan jenis usaha apa saja yang baik saya jalankan,” jelas Herman. Namun, bukan Herman namanya kalau pria ini hanya berputus asa dan berdiam diri saja.

Kemudian, setelah melihat kiri-kanan dan melakukan berbagai inovasi pilihan herman ‘jatuh’ pada resep minuman.  Ya, Herman mulai mencoba berkreasi dengan menciptakan minuman segar yang bernama Sop Buah. Herman mencoba peruntungan nasibnya di tahun 2008. “ Modal awal yang saya miliki saat itu hanya uang Rp 150 ribu, itu pun sisa uang saat saya bekerja jadi sales. Mulailah, saya jualan di lokasi yang sempit. Tentu, saja saat itu saya serba kepepet. Modal yang kepepet, lokasi tempat yang sempit jadi semua serba kepepet. Bahkan, gerobaknya pun juga ngutang sampai satu juta.”  

Menurutnya, saat berjualan muniman ini, dia memilih minuman Sop Buah untuk daganganya.  Minuman sop buah ini adalah campuran buah-buahan yang ditambah gula dan santan untuk pemanisnya. Dalam waktu sekejap, pamor Sop Buah ini langsung melejit. Tak butuh waktu lama orang-orang sangat menyukai rasanya yang manis dan segar ini. Apalagi, saat cuaca sangat terik. Sop buah ini paling dicari orang. Hingga popularitasnya pun di Palembang begitu fenomenal.

Namun,” lambat laun ternyata banyak orang yang mengikuti jejak saya jualan Sop Buah ini di Palembang. Saya mulai jadi tahu, ternyata Sop Buah ini gampang dicontoh orang. Ada karakteristik tertentu yang orang bisa selalu menyamai rasa Sop Buah ini. Agar orang tidak mengklaim rasa Sop Buah ini miliknya, makanya kita harus beda karena awalnya memang kitalah pelopornya di Palembang. Jadi, kita harus beda. Apalagi, akhirnya tak masalah semakin banyak ragam khas kuliner di Palembang ini jadinya,” aku Herman bijak.

Saat Herman kuliah semester IV di Muhammadiyah, dia mulai berimprovisasi membuat Sop Buah ini jadi sesuatu yang beda. Dipilihlah, ” namanya Es Kepepet sesuai dengan keadaan saya yang serba kepepet. Cuma, beda Es Kepepet dengan Sop Buah. Pada syrup dan es creamnya. Kalau untuk syrup Es Kepepet saya ciptakan sendiri. Syrup itu dicampurkan dengan buah-buahan seperti buah pada Sop Buah seperti nangka, anggur, nutrijel, agar-agar, selasih, rumput laut dan lain-lain. Jadi, yang membedakan Es Kepepet dan Sop Buah itu pada syrupnya.”

Saat pertama menjual Es Kepepet Herman bisa laku sekitar 50 cangkir dengan hitungan dua ribu rupiah dengan harga Rp 3500/cangkir. Lambat laun kemudian semakin hari jumlahnya mencapai ratusan cangkir. Hanya dalam hitungan tahun, tak berapa lama gerobak hutangan sebesar Rp 1 juta,bisa ‘ditebus’ Herman. “ Saya akhirnya memberanikan diri buka cabang lagi di tiga tempat yakni di 3 Ilir, 11 Ilir dan 14 Ilir.”

Pria beranak satu ini lagi-lagi memberanikan diri membuka usaha di kantin Muhammadiyah, selanjutnya dia buka lagi di 5 ulu, 7 ulu dan Jl Jenderal Mukmin. Bukan hanya berhenti sampai disitu, pihaknya juga melakukan kemitraan dengan beberapa orang yang ada diluar Palembang seperti di Yokyakarta, Bangka Belitung, Jambi dan Bogor. Yang totalnya ada 20 cabang. “ mereka hanya beli resep kita, namun bukan seperti franchise karena syarat untuk itu belum bisa kita penuhi.”  

Kini usaha yang dilakoni Herman sudah memiliki omset 20 juta per bulan. “  Itu keuntungan bersih kalau kotornya mungkin sekitar 50 juta-an per bulan. Untuk pembelian segala kebutuhan usaha dilakukan seminggu sekali.”

Namun, dalam waktu dekat nama Es Kepepet yang digunakan untuk trand mark Es Kepepet ini sehari-hari akan diubah menjadi nama yang lebih baik. “ Hal tersebut merupakan usulan dari salah seorang ustad. Beliau minta agar nama Kepepet itu diubah tanpa menghilangkan arti namanya. Beliau juga mengusulkan nama Es Kepepet jadi Berkah Kepepet.”

Setelah usahanya dirasa berkembang Herman kemudian terpilih jadi salah seorang peminjam modal usaha di Bank Mandiri. ” Saat dapat pinjaman awal Rp 100 juta. Selain mengembangkan usaha Es Kepepet ini. Uang tersebut saya pergunakan juga untuk buka usaha lain yakni usaha Warnet yang saya buat di dua lokasi yakni di 14 Ilir dan di 10 Ilir, masing-masing lokasi itu saya isi 12 komputer. Dua warnet itu seharinya bisa meraup untung Rp 500 ribu.”

Motto yang dijalani Herman sehari-hari yakni ingin berusaha kerja keras dan menjalani sesuai dengan arah. Intinya cepat tapi terarah. Diantaranya, memiliki manajerial bagus, usaha berkembang dan channel distribusi yg baik. “ Pengaruh usaha terhadap lingkungan sekitar dalam hal penyerapan tenaga kerja. Usaha diatas 1 tahun dan cukup berkembang bahkan secara legal kami juga sudah memiliki izin seperti SITU dan SIUP.”

Menurut Herman, cita-citanya ingin Es Kepepet jadi ikon Palembag diharapkan dapat  mengangkat tradisi Palembang dari segi minuman. Karena,” jika  minum Es Kepepet dengan Pempek Palembang itu kolaborasinya tentulah hebat. Makanya, saya selalu jualan berbarengan dengan pempek. Pengembangan ke depan bisa bersama dalam satu cafe atau outlet. Tapi, asal diingat saja, namanya jangan sampai jadi Pempek Kepepet juga, ehehe...., ” ujar suami dari Imas Tuti Alawiyah yang dia tugaskannya dibagian pemasaran.

Dengan  kegigihannya itu Herman pernah mendapat juara I dalam Pemilihan Masyarakat Entreprenuer Indonesia di Yokyakarta tahun 2008, “ saya juga pernah dinobatkan sebagai juara I dalam Pemilihan Wirausaha Muda Mandiri Sumatera tahun 2010 dan  finalis Usaha Wirausaha Mandiri Nasional pada tahun yang sama,” sahut pria ini lancar.


Sumber : m.tabloidnova.com

Senin, 05 November 2012

Kursus Bahasa Inggris Banyak di Gemari


Berkompetisi adalah sesuatu yang telah dipelajari Deirdre Bounds sejak masih kecil. Sebagai bungsu dari lima bersaudara yang terlahir di sebuah keluarga imigran Irlandia yang bermukim di Merseyside, dia menyadari bahwa tidak ada yang akan datang secara cuma-cuma tanpa perjuangan.
Dia mengatakan: 'Kami tidak punya banyak dan untuk mendapatkan sesuatu di dalam rumah, anda harus benar-benar berusaha keras dan mencari cara yang paling tepat, bahkan sekedar untuk mempertahankan porsi makan malam jika anda tidak ingin orang lain mengambilnya saat anda lengah.'

Masa-masa sekolah harus dilaluinya dengan penuh perjuangan. Dia mengatakan: 'Aku selalu tampak sedikit lusuh dan sedikit eksentrik, jadi sekolah, aku adalah satu-satunya anak yang duduk disudut dan tidak mempunyai teman. Itu adalah saat-saat yang cukup menyedihkan.'
Saat disekolah dasar, Bounds merasa sangat tidak bahagia sehingga saat mulai memasuki sekolah menengah, dia bertekad bahwa semuanya akan jadi berbeda. Dia mengatakan: 'Aku ingat saat aku memutuskan bahwa aku akan sukses dalam setiap hal yang aku lakukan, dan hanya ada satu orang yang bisa mengubah segalanya, yaitu aku sendiri.'
Dia berhasil melewatinya dengan baik sehingga di tahun 1983, dia berhasil masuk ke universitas Leeds untuk mempelajari bisnis dan ilmu sosial. Pada awalnya, dia berencana untuk menjadi pekerja sosial tapi setelah ditempatkan pada sebuah rumah untuk anak-anak nakal, dia mengubah keputusannya. Dan lalu setelah lulus, dia lebih memilih untuk mengambil pekerjaan dibidang periklanan.
Kemudian, dia bekerja untuk sebuah perusahaan yang memproduksi mesin pembuat sepatu, dan ditugaskan mengunjungi berbagai pabrik di seluruh penjuru dunia untuk mendemonstrasikan mesin tersebut. Dan tidak beberapa lama kemudian, dia merasa tidak betah karena harus selalu melakukan perjalanan dan memutuskan untuk berhenti bekerja.
Setelah itu, dia mengambil kursus TEFL (teaching English as a foreign language) dan dikirim ke Jepang untuk bekerja sebagai guru bahasa Inggris di sana. Selama beberapa tahun dia menetap di Jepang, mengunjungi China dan Australia dan akhirnya bekerja sebagai guru bahasa Inggris di Yunani.
Saat kembali ke Inggris, Bound sudah berusia 30 tahun tapi masih belum punya rencana yang jelas mengenai kehidupannya. Lalu dia memutuskan untuk mencoba menjadi seorang komedian dan melakukan pertunjukan ke berbagai club di Northern. Dia mengatakan: 'Aku merasa bisa melakukan apapun yang ingin aku lakukan, dan aku tidak terlalu memperdulikan apa yang dikatakan orang mengenai diri ku.'
Dia juga menjadi pekerja paruh waktu dan akhirnya menyadari bahwa mengajar bahwa Inggris juga bisa menjadi sarana yang berguna untuk orang-orang yang berusia muda sambil mereka mengisi waktu sebelum memasuki universitas. Semenjak itu, dia mulai memasuki sekolah-sekolah di dalam kota untuk mengajar kursus TEFL.
Ide besarnya datang saat orang-orang menanyakan apakah mereka juga bisa mengikuti kursus dikelasnya. Bounds kemudian memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya dan memulai perusahaannya sendiri yang menawarkan kursus TEFL selama akhir pekan. Dia percaya bahwa kursus singkat akan lebih sesuai dibanding kursus selama empat minggu yang lebih mahal.
Jadi, Bounds meminjam £1,000 dari orang tuanya dan membuat iklan di koran lokal di kota Birmingham karena mengira bahwa orang-orang yang hidup disana mungkin akan lebih tertarik untuk mengikuti kursus yang disediakannya. Dia mengatakan: 'Aku menuju Birmingham pada suatu malam dibulan November yang sangat berkabut dan aku merasa bahwa orang-orang disana pasti sangat ingin bisa keluar dan meninggalkan kota tersebut untuk bekerja di tempat lain.' 
Perkiraannya ternyata benar. Dari iklan tersebut, dia mendapat 150 peminat. Kursus pertamanya dihadiri oleh 18 orang sehingga dia bisa menghasilkan uang yang cukup untuk membeli sebuah mobil.
Terinspirasi oleh kesuksesannya, Bounds mulai menawarkan kursus TEFL-nya keseluruh penjuru negeri. Dia begitu sukses sehingga dalam waktu singkat harus mempekerjakan beberapa orang tutor untuk membantunya. Dia mengatakan: 'Tidak ada rencana atau research pasar, semuanya aku lakukan hanya mengandalkan nyali karena aku tidak punya pengalaman bisnis dan tidak punya tempat untuk bertanya.'
Akan tetapi, pendekatannya yang tidak konvensional ini belum tentu akan memberikan hasil yang sama baiknya jika dilakukan oleh orang lain. 'Aku rasa kami telah membuat beberapa pesaing kehilangan pasar. Beberapa orang yang menjalankan kursus TEFL tradisional menggambarkan kami sebagai "sekelompok pemula dari universitas Leeds."'
Tapi itu tidak membuatnya menjadi gentar. Saat orang-orang yang mengambil kursusnya bertanya apakah dia bisa membantu mereka untuk mencarikan pekerjaan, sekali lagi dia memutuskan untuk menerima tantangan tersebut. Dia mengatakan: 'Aku ingin tahu, adakah sekolah-sekolah diluar negeri yang sedang mencari sukarelawan untuk dijadikan sebagai guru bahasa Inggris, sehingga orang-orang yang mengambil kursus ku punya kesempatan untuk mencari pengalaman disana.'
Jadi, dia mulai mengirim faks kebeberapa sekolah diluar negeri, dan dalam hitungan hari, mendapat telephone balasan dari sebuah sekolah di Russia yang setuju untuk menerima beberapa guru darinya. Kemudian diikuti dengan beberapa sekolah yang berada di India dan Sri Lanka, dimana masing-masing tenaga sukarelawan yang dikirim, akan membayar fee kepada Bounds atas jasanya dalam mengatur penempatan mereka.
Dengan bisnis yang berkembang pesat, Bounds memindahkan kantornya dari tempat tinggalnya ke sebuah ruangan yang disediakan oleh sebuah sekolah lokal sebagai imbalan atas jasanya memberikan beberapa kursus disekolah tersebut. Dia mengatakan: 'Aku merasa agak takut untuk menandatangani kontrak apapun karena aku tidak tahu bagaimana bisnis ini akan berjalan.'
Tapi sebuah percakapannya dengan seseorang yang memberikan saran mengenai teknologi perkantoran telah mengubah pandangannya. Dia mengatakan: 'Orang tersebut menganjurkan aku untuk keluar dari rasa takut ku dan bergerak maju.'
Terinspirasi oleh kata-kata tersebut, Bounds memindahkan kantornya ke sebuah gedung perkantoran dan mempekerjakan beberapa staff tambahan. Dia juga mulai mengatur segala sesuatu yang berhubungan dengan perjalanan dan penempatan para relawan, dengan imbalan sejumlah fee tentunya.
Dia mengakui bahwa ini adalah hal yang tidak biasa. Dia mengatakan: 'Banyak yang mencemooh ide ku, dan mengatakan bahwa tidak ada orang yang akan membayar untuk bisa bekerja, tapi aku ingin menjadikan aktivitas pengiriman tenaga relawan keluar negeri menjadi sebuah produk perjalanan yang menyenangkan dan bukan sekedar kegiatan amal yang membosankan.'
Pada tahun 1988, terjadi peningkatan minat dari orang-orang yang berada di Amerika terhadap project pengiriman tenaga guru relawan. Tapi orang-orang menjadi enggan karena mereka diharuskan untuk lebih dulu mengambil kursus TEFL di Inggris. Dan itu membuat Bounds mendapatkan ide untuk membuat konsep mengenai kursus TEFL online yang bisa diakses dari seluruh penjuru dunia. Dia mengatakan: 'Aku aku mengemukakan ide ku tapi orang-orang cuma mengatakan, "Jangan konyol, kau pasti bercanda, tidak orang yang bakal mau membelinya."'
Lagi-lagi, hal ini tidak membuat Bounds menjadi gentar, dia melangkah maju dan meluncurkan kursus bahasa Inggris online-nya di tahun 1999. Sekali lagi, instingnya berkata benar. Saat ini, tidak kurang dari 7.000 orang per tahun yang mengambil kursus bahasa Inggris online miliknya, yang sekarang menjadi sumber keuntungan utama bagi perusahaannya.
Akan tetapi, tidak semua yang disentuhnya menjadi emas. Tiga tahun yang lalu, setelah merasa frustasi atas kekurangannya dalam berbahasa Spanyol saat mengunjungi Honduras, dia memutuskan untuk menawarkan kursus bahasa Amerika-Latin di Leeds dan London. Beberapa orang tertarik untuk mengikuti kursusnya tapi jumlahnya tidak cukup untuk memberikannya keuntungan sehingga ide tersebut ditangguhkannya.
Saat ini, perusahaannya telah mempunyai 300 project di 24 negara, dimana orang-orang akan membayar agar bisa bekerja di luar negeri sebagai guru bahasa Inggris, atau bekerja dalam project konservasi, atau bekerja dipanti-panti asuhan, atau tempat-tempat kontruksi.
Perusahannya juga baru saja meluncurkan tur untuk keliling Asia dan Afrika dimana orang-orang akan dikirim sebagai relawan untuk bekerja disana. Di tahun 2007, Bounds menjual bisnisnya pada TUI Travel dengan harga £12 juta. Setelah itu dia mensetup perusahaan penyelenggara pesta untuk anak-anak, www.partiesaroundtheworld.co.uk.
Menurut Bounds, sebagian besar idenya dia dapatkan saat sedang berbicara dengan orang-orang yang tidak dia kenal ketika berada di kereta maupun pesawat. Dia mengatakan: 'Aku termasuk orang yang suka ingin tahu dan seringkali sebuah ide akan datang dari orang-orang yang aku ajak bicara. Aku terkadang merasa takut saat sedang berada di pesawat, sehingga saat pesawat tinggal landas aku akan mengajak bicara orang yang berada di sebelah ku. Berada selama delapan jam di pesawat, anda akan tahu apakah orang disebelah anda suka diajak berbicara dan anda bisa mendapat beberapa informasi berharga dari orang lain.'
Saat Bounds menemukan sebuah ide yang disukainya, bisanya dia akan bertindak berdasarkan instingnya. Dia mengatakan: 'Dulu, untuk mulai menerapkan suatu ide aku cuma membutuhkan waktu beberapa menit, tapi untuk saat ini mungkin akan membutuhkan beberapa minggu. Tapi begitu aku memutuskan untuk melakukan sesuatu, aku akan melakukannya dengan cepat, karena jika ide tersebut memang benar-benar bagus, maka akan cepat ditiru oleh orang lain.'
Salah satu ide yang belum punya waktu untuk diterapkannya adalah membuat website yang menjual produk-produk untuk menjaga kesehatan dan kebugaraan dimasa-masa liburan. Dia telah mempunyai nama untuk website tersebut, wellbeingbreaks.com, dan bahkan sempat meluncurkan situs tersebut beberapa waktu yang lalu. Tapi tiga hari kemudian, dia menyadari bahwa dia tidak punya waktu untuk berkomitmen pada project tersebut dan memutuskan untuk menundanya.
Dia mengatakan: 'Aku rasa banyak yang membutuhkan situs portal untuk yoga dan spa. Itu masih tetap menjadi sebuah ide yang bagus, tapi aku menundanya karena aku tidak bisa fokus pada terlalu banyak hal dalam waktu yang bersamaan, karena aku tidak ingin semuanya malah jadi berantakan. Aku sedang menunggu waktu yang tepat untuk melakukannya. Aku sekarang sudah tahu bahwa aku tidak bisa melakukan semuanya.'
Dia mengakui bahwa, hasratnyalah yang mengarahkannya untuk mengubah suatu ide menjadi aksi. Dia mengatakan: 'Aku suka memikirkan berbagai hal dan aku suka membuatnya berhasil.'
Saat ini, diusianya yang ke 45, sudah menikah dan punya dua orang anak, Bounds merasa bahwa rahasia kesuksesan-nya adalah selalu meminta bantuan. Dia mengatakan: 'Akan selalu ada orang lain yang lebih tahu mengenai apa yang semestinya aku lakukan.'
Sumber : kisah-pengusahasukses.com