Minggu, 09 Desember 2012

Adianto Stiabudi Bisnis Orang Tua


Dua dekade lalu, Andianto Setiabudi belum apa-apa. Ia hanya anak seorang pengusaha biscuit yang mencoba meneruskan jejak bisnis orangtuanya. Tapi kegigihan, keuletan, dan naluri bisnisnya yang tajam telah membimbing pria kelahiran Banjarmasin, 5 Desember 1962 ini dari satu bisnis ke bisnis lain, sampai akhirnya ia berhasil mengantarkan Cipaganti sebagai salah satu perusahaan transportasi terpadu paling sukses di Tanah Air.

Tak hanya bisnis transportasi, Andianto Setiabudi juga merambah sejumlah sektor bisnis lainnya, dari mulai properti, penyewaan alat-alat berat, hingga bank perkreditan rakyat (BPR) syariah.

Ternyata Andianto bisa survive berkat kemampuannya memelihara gairah (passion) bisnis. “Yang menyebabkan seorang pengusaha itu besar kan passion-nya,” ujar bungsu dari empat bersaudara itu kepada wartawati Investor Daily Inneke T Lady di Bandung, baru-baru ini. 

Pada usia delapan tahun, saya mengikuti orangtua, pindah dari Banjarmasin ke Surabaya. Kemudian orangtua saya pindah lagi ke Banjarmasin karena usaha di Surabaya kurang berhasil. Pada 1974, orangtua saya pindah ke Bandung, melanjutkan usaha biskuit saat di Banjarmasin, dengan merek baru Panda. Tetapi usaha ini hanya bertahan setahun, pada 1975 ditutup.

Selanjutnya saya membuat kue tambang yang berhasil menembus Cirebon, Sukabumi, hingga Jakarta. Selepas SMA pada 1981, saya tidak melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, karena saya memiliki keinginan memperbaiki pendapatan keluarga dan memperbesar bisnis makanan ringan. Bahkan saya sempat berpikir untuk bisa memiliki pabrik biskuit sekelas pabrik biskuit Marie milik Om saya.

Saya kemudian membeli rumah dan pabrik biskuit di Kiaracondong, Bandung. Setelah usaha kue tambang, kacang sukro, dan kacang bandung, saya menambah usaha bisnis kerupuk. Tapi kemudian Gunung Galunggung di Tasikmalaya meletus, sehingga stok aci (bahan baku utama kerupuk) susah didapat. Di samping itu muncul saingan baru. Mulai 1984-1985, usaha makanan ringan benar-benar sepi. Kendaraan operasional menganggur. Akhirnya kendaraan-kendaraan itu saya perbaiki, kemudian dijual.

Pada 1984, saya memutuskan untuk membuka usaha jual beli mobil. Tadinya saya cuma ngompreng di showroom teman saya di Jl Cibadak, Bandung. Saya nungguin di situ. Kalau laku, saya bayar Rp 50 ribu per mobil. 

Pada 1985, saya menyewa tempat di Jl Cipaganti No 84 Bandung. Selama dua tahun, saya meyakinkan diri dulu bahwa bisnis mobil itu bisa dikembangkan dengan baik. Baru kemudian saya menutup bisnis makanan ringan. Modalnya saya pakai sebagian untuk mengembangkan showroom mobil bekas itu, namanya Cipaganti Motor, sesuai nama jalan. 

Selama enam tahun bisa saya kembangkan, sampai punya beberapa showroom di Bandung dan mengelola kurang lebih lima showroom dengan jumlah armada sekitar 150 unit. Mobilnya macam-macam, ada sedan, jeep, minibus, tapi waktu itu saya hanya fokus ke merek-merek mobil yang banyak dipakai mahasiswa. Makanya, “putarannya” cepat sekali. Jadi, kalau stoknya 150 mobil, diputar sebulan bisa dapat 225 mobil.

Sumber : investor.co.id

Bisnis Rumahan Omzet Besar


Jika Anda melihat atau menemukan kayu, apa yang Anda lakukan?. Menyingkirkan atau bahkan membuangnya??. Berbeda dengan pria satu ini, Helmi Suhaemi warga Cipondoh, Tangerang. Ditangannya kayu yang terlihat tidak berguna bisa berubah menjadi luar biasa dan banyak diminati.
Siapa sangka pot-pot bunga dari bahan kayu bekas, hasil kreasi Helmi ini, ternyata sudah banyak menghiasi sudut-sudut ruangan hotel dan perkantoran di DKI Jakarta. Urat-urat kayu yang terlihat di pot-pot buatannya memang menjadikan pot ini bukan hanya indah dan alami saja, tetapi memberi kesan berbeda dengan kebanyak pot-pot bunga yang banyak diproduksi orang lain.
Awalnya pria 57 tahun ini mengawali karirnya dengan produksi pot bunga dari kulit kayu, tetapi karena bahannya sulit dicari dan peminatnya kurang, akhirnya bahannya diganti dengan bahan kayu bekas saja. Setelah dilempar ke pasaran, ternyata peminatnya banyak. Akhirnya 4 tahun sudah usaha ini dia lakoni. Kini produksi pot seperti kerajinan dirinya mulai banyak dibuat orang lain. Mereka pun memasok produksinya ke toko-toko bunga yang ada di Jakarta. Helmi dan istrinya Sri Sunarsih yang kerapkali membantu, tak khawatir. “Saya percaya rezeki itu dari Allah, jadi tinggal berusaha mencari ide baru agar usaha ini bisa tetap jalan” begitu tutur Helmi.
Bahan pot yang Helmi gunakan terbuat dari limbah kayu atau palet, yaitu potongan kayu yang biasa untuk tatakan barang yang banyak di pabrik. Kayu tersebut merupakan kayu jati Belanda dan cocok dibuat pot bunga kayu, karena akan muncul urat-uratnya saat dicat. Namun, pot kayu ini hanya bisa digunakan untuk tanaman plastik saja . Karena bahannya yang terbuat dari kayu jika terkena air maka, lama kelamaan akan rusak.
Ukuran pot yang diproduksipun beragam, yang paling besar berukuran tinggi 50 cm dan lebar 24 cm dan yang terkecil berukuran tinggi 9 cm dan lebar 6 cm. Bentuknya juga bermacam-macam mulai dari kotak, kubus, segi lima, segi enam bahkan bentuk trapesium.
Usaha yang dimiliki Helmi ini telah menjadi salah satu contoh peluang sukses bisnis rumahan. Walaupun hanya dikerjakan di teras rumah yang sempit, namun Helmi mampu mempekerjakan 5 karyawan. Mereka bertugas mencari limbah kayu dan membuat pot bunga hingga pengecatannya. Setiap harinya, rumah kerajinan Helmi mampu membuat 100 pot. Untuk omzet per bulan mencapai Rp 15 jutaan. Pesanan pot terramai saat menghadapi lebaran, natal  dan tahun baru.
Pot bunga buatan Helmi juga tidak hanya laku di Jakarta tetapi banyak juga dipesan pembeli dari Surabaya dan Pontianak, Kalimantan Barat. Untuk di Jakarta dirinya memasarkan pot bunga di sejumlah toko di kawasan Pasar Pagi dan kawasan Mangga Dua. Harga satu pot dijual mulai Rp 3.500 hingga Rp 45.000.
Perjuangan seorang Helmi Suhaemi tidak singkat, bermodal pengalamannya yang pernah bekerja di produksi pot pada tahun 1998, membuatnya memberanikan diri untuk berwirausaha. Tekad dan keyakinannya akhirnya mengantarkan ke gerbang kesuksesan seperti sekarang.

Sumber : bisnisukm.com

Pengusaha Gerabah


Beni Sukarsa (66 tahun) adalah salah satu pengusaha kerajinan gerabah di Bandung. Ia tergolong seorang pengusaha sukses di bidang usaha kreatif. Studio kerja Beni berada di taman belakang rumahnya di Jalan Hegarsari, Bandung. Studio tersebut tidak berpintu. Di bagian depan sebelah kanan terdapat sebuah tungku pembakaran, di sebelah kanan terdapat beberapa contoh keramik berbentuk rumah yang berfungsi sebagai kap lampu taman.

Masuk lebih dalam ke studionya terdapat rak-rak yang menyimpan keramik-keramik yang sudah dibentuk dan siap dikoreksi sebelum dibakar. Rak ditutupi oleh plastik agar keramik tidak mudah kering sehingga mudah diperbaiki jika terjadi kesalahan bentuk.

Di depan rak berisi keramik yang siap dikoreksi terdapat meja. Di meja tersebut banyak burung mendarat. Burung tersebut, lagi-lagi hanya keramik. Selain meja penuh burung, ada juga meja tempat kerja para pegawai Beni. Di sekeliling meja terdapat rak yang dipenuhi pencetak keramik dan tanah-tanah liat sebagai bahan baku.

DI studio tersebut Beni biasa membuat model keramik terbaru. Beni mengkhususkan diri membuat keramik berjenis gerabah yang merupakan jenis keramik dengan suhu pembakaran rendah. Sementara keramik dengan suhu pembakaran tinggi disebut porselen.

Gerabah karya Beni punya ciri khas. Sebagian besar merupakan gerabah berbentuk binatang yang disederhanakan. Ada bebek, ayam, kuda, ikan, anjing, burung, dan lainnya. Meskipun bentuknya sangat sederhana, tetapi menarik dan berseni. Untuk memberi sentuhan seni, Beni tidak dapat menyerahkan semua pengerjaan gerabah-gerabahnya pada pegawai. Itu sebabnya Beni masih sering turun untuk mengoreksi pekerjaan pegawainya. Dengan demikian, lekuk-lekuk tubuh dan ornamen gerabahnya tetap terkesan lentur dan menarik.

Sejak kecil Beni sudah terlatih meniru bentuk berbagai benda, terutama meniru bentuk binatang. Saat usianya sekitar 11 tahun, Beni memiliki tugas membantu ibunya membuat kue. Ibu Beni memiliki toko kue di Jalan RE Martadinata Bandung.

Tugas Beni ketika itu membentuk kue petit fleur (bunga kecil-bahasa Perancis) yang terbuat dari campuran gula dan kacang. Kue tersebut biasanya dibentuk mirip buah-buahan. Tetapi Beni lebih suka membentuknya seperti binatang.

Selepas sekolah menengah atas pada tahun 1960, Beni meneruskan pendidikan ke jurusan Seni Keramik, Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD), Institut Teknologi Bandung. Pada tahun 1966 terjadi transisi pemerintahan dari Orde Lama ke Orde Baru. Keadaan perpolitikan di negeri ini memengaruhi dunia pendidikan. Kegiatan belajar di Kampus ITB sempat terhenti selama dua tahun.

Oleh karena itu Beni menyelesaikan pendidikan di FSRD ITB selama delapan tahun. Tahun 1969 ia bekerja sebagai asisten dosen di almamaternya. Saat itulah Beni bertemu Lana Marcella Wuwungan, mahasiswi yang kemudian menjadi istrinya.

Selanjutnya Beni megikuti program kerja sama Indonesia dan Belanda hingga tahun 1972. Di Belanda ia banyak belajar tentang keramik dari beragam praktik kerja yang diikutinya. Sepulang dari Belanda, Beni bekerja di Balai Besar Industri Keramik, Dinas Perindustrian Kota Bandung. Selama bekerja di instansi pemerintah, Beni banyak berkeliling ke sentra-sentra keramik di berbagai pulau di Indonesia, antara lain Sumatera, Jawa, Sulawesi, dan Ambon. Pada tahun 1978 dia juga pernah mempelajari keramik di Jepang.

Beni mempelajari gerabah Haniwa yang memiliki desain sederhana, namun karena nilai seninya tinggi, harganya pun mahal. Saat itu gerabah-gerabah dengan tinggi 10 sentimeter dihargai 15 dollar Amerika Serikat. "Waktu itu saya pikir, kenapa tidak membuat gerabah saja. Selain saya punya kemampuan membuat dan mendesain keramik, gerabah disukai orang di luar negeri. Pasar gerabah di luar negeri sangat terbuka," kata Beni. Negara yang banyak memiliki peminat gerabah di antaranya Australia, Eropa, dan Amerika Serikat.

"Jadi jangan berpikir bahwa gerabah itu hanya gentong, genteng, dan bata. Bentuk gerabah bisa macam-macam dan cara pembuatannya lebih sederhana karena hanya membutuhkan tungku sederhana yang suhunya tidak perlu tinggi," kata Beni.

Berbeda dengan keramik bersuhu pembakaran tinggi, biaya produksi gerabah pun jauh lebih murah. "Untuk membuat porselen dibutuhkan glasir untuk mengkilatkan dan memberi efek kaca pada keramik. Tetapi glasir yang bagus harganya mahal karena masih produk impor. Sementara glasir lokal memberi hasil yang kurang baik," tutur Beni.

"Daripada membuat porselen yang kualitasnya tidak terlalu baik dan biayanya tinggi, lebih baik membuat gerabah sederhana tetapi menarik," ujarnya.

Beni yang sejak kuliah sudah hobi membuat keramik dan ikut pameran, membuka bisnis gerabah di rumahnya. Namun, ia tetap bekerja sebagai pegawai negeri. Untuk mempromosikan gerabah-gerabahnya, Beni rajin mengikuti pameran di berbagai kota dan negara.

Gerabah Beni mulai dikenal masyarakat. Dari pameran tersebut Beni berkenalan dengan komunitas penggemar barang-barang keramik. Beberapa arsitek menggunakan gerabah-gerabah Beni untuk mempercantik bangunan yang dibuatnya. Beni pun ikut Himpunan Keramik Indonesia.

Gerabah Beni dikenal dengan nama Beni’s Ceramic. Keramiknya sering dipesan oleh berbagai keluarga pejabat di Indonesia. Nyonya Adam Malik dan Hartini Soekarno misalnya, merupakan dua kolektor gerabah karya Beni. Beberapa ekspatriat di Bandung pun banyak yang tergiur memiliki dan mempelajari cara membuat gerabah di studio Beni.

Sebelum krisis moneter, studio Beni yang luasnya hanya sekitar 50 meter persegi itu selalu dipenuhi ekspatriat untuk belajar membuat keramik. Setelah peristiwa kerusuhan sosial tahun 1998, ekspatriat yang menjadi murid-murid Beni banyak yang kembali ke negeri asalnya. Akibatnya, kursus membuat keramik Beni pun sepi kembali. Meskipun demikian, masih banyak pelanggan yang sengaja membeli gerabahnya untuk dijual ke luar negeri.

Gerabah buatan Beni juga banyak dipakai di beberapa hotel dan restoran di sekitar Jakarta, Bogor, dan Bandung. Selain itu, banyak juga yang membeli gerabahnya untuk dijual kembali di galeri-galeri seni di Jakarta dan Bandung. Pembeli yang ingin membeli langsung di studionya pun boleh.

DI studionya, Beni memiliki dua pekerja yang bertugas mencetak tanah-tanah merah. Namun di Majalengka, Beni juga mempekerjakan dua keluarga untuk membuat gerabah berupa gentong atau pot bunga. Keluarga tersebut diberi bahan dan tungku. Memilih Majalengka karena alasan bahan tanah liat di daerah tersebut bagus untuk keramik.

Beni melakukan pekerjaannya lebih karena ingin menyalurkan hobi. Karenanya, ia tidak terlalu berorientasi keuntungan dari bisnisnya. Gerabah produksinya ada yang berharga Rp 10.000, ada pula yang sampai jutaan rupiah, tergantung ukuran dan kreasinya.

Hobi Beni dalam membuat keramik juga memantapkan hobi istrinya, Lana. Lana yang senang berkebun dan menata tanaman sering kali dimintai bantuannya untuk menata letak gerabah di rumah pelanggan yang membelinya. Penempatan gerabah yang tepat akan mempercantik sebuah bangunan. Tetapi jika keliru, penempatan gerabah akan merusak pemandangan di sekitarnya.

Sumber : peluangusaha.com

Usaha Perabot Rumah Tangga Dari Akar Kayu Jati


Perabotan rumah lumrahnya menggunakan bahan dari papan kayu. Namun, tidak demikian dengan yang dikembangkan Homaedi. Pria 38 tahun itu mampu menjadikan akar kayu jati menjadi aneka perabotan rumah yang cantik.
Limbah kayu itulah yang disulap menjadi lemari, meja, kursi, vas bunga, rak buah, asbak, dan perabotan lainnya. Hasil kerajinan Homaedi yang dirintis sejak tahun 1998 itu, kini sudah mampu menembus pasaran benua Amerika dan Eropa, seperti Kanada, Prancis, dan Italia.  Selain itu, wisatawan asal Asia, seperti Jepang, juga banyak yang tertarik mengoleksi hasil kerajinan Homaedi.
“Awalnya saya memasarkan sendiri di Bali. Sasaran saya wisatawan mancanegara. Butuh waktu sekitar 2 tahun untuk bisa menembus pasar luar (internasional, red),” kata Homaedi saat ditemui di rumahnya, di Jalan Raya Desa/Kendit, Situbond.
Suami Inani Zakia (34) tidak pernah menyangka usahanya akan berkembang pesat. Sebab, usaha tersebut berawal dari ketidaksengajaan. Homaedi menyayangkan banyaknya limbah kayu jati yang tidak dimanfaatkan para pengusaha meubel di Situbondo. Dari situlah, terbersit dibenak Homaedi untuk mengolah limbah kayu jati tersebut jadi kerajinan cantik.
“Modal awal saya hanya Rp 600 ribu. Itupun hasil pinjam dari teman. Sekarang alhamdulillah, omset usaha ini bisa mencapai Rp 100 juta per bulan. Saya juga sudah menggunakan pekerja sebanyak 21 orang, serta 30 perkeja musiman,” sambung pria berperawakan kurus itu.
Selain dari Situbondo, bahan baku akar jati diperoleh dari wilayah Ngawi dan Bojonegoro. Cukup mudah untuk mendapatkan bahan baku tersebut. Karena hingga kini masih sedikit pengrajin akar kayu jati. Limbah kayu itu kemudian diolahnya hingga menjadi aneka perabot rumah tangga.
“Harganya bervariasi dari puluhan ribu sampai jutaan rupiah per unit. Misalnya satu unit bufet. Saya jual seharga Rp 1,5 juta, tetapi rekanan biasanya menjualnya lagi ke turis seharga Rp 4 juta per unit,” tukasnya.
Sumber : jpmi.or.id

Kreatifitas Berbuah Manis Dalam Bisnis


Coba-coba berhadiah”. ungkapan ini yang menggambarkan awal mula keberhasilan seorang wanita bernama Antin, dalam memulai usahanya. Setelah kantor tempat Ia bekerja bangkrut, terkena dampak krisis ekonomi. Antin tidak lantas menyerah dengan keadaan saat itu, ketika Ia tidak lagi menjadi pegawai kantor, Antin memutuskan untuk banting stir coba-coba mengikuti kursus membuat kerajinan keramik. Ternyata dari coba-coba tersebut, cerita kesuksesan wanita ini dimulai.
Bermula dari hobinya dengan barang-barang keramik, Antin mulai mengikuti kursus membuat kerajinan keramik dengan seniman Liem Keng Sien selama kurang lebih satu tahun. Setelah selesai mengikuti kursus, Antin bersama temannya mempraktekan ketrampilan yang diperolehnya dengan membuat keramik dan mulai menjualnya.
Uji coba Antin dan rekan-rekannya untuk memasarkan hasil kerajinan keramiknya pun berlanjut. Hingga akhirnya dengan modal usaha sebesar sepuluh juta rupiah, pada tahun 2000 Antin berhasil membuka bisnis kerajinan keramik dengan merek “jinjit pottery”. Nama “jinjit”  diambil dari Bahasa Jawa yang artinya berusaha mencapai sesuatu yang lebih tinggi. Peluang bisnis yang dijalankannya berdasarkan hobi ini, ternyata bisa mengantarkan wanita kelahiran Paris 18 Februari 1969 menuju gerbang kesuksesannya.
Dengan menawarkan berbagai kerajinan keramik yang lucu, unik dan penuh inovasi ini, Antin sudah berhasil menggandeng 22 outlet sebagai sarana untuk memasarkan produk-produknya. Beberapa produk yang dibuat wanita 42 tahun ini antara lain mug, pin, kalung, gelang, hiasan magnet, frame foto, tempat kartu nama, tempat sabun, pen holder, serta beberapa produk lainnya. Untuk membedakan produk jinjit dengan produk keramik lainnya, Anti sengaja menciptakan produk dengan warna, motif dan desain yang khas. Misalnya saja warna biru dan cokelat yang selalu mendominasi produk-produk jinjit, serta kata-kata mutiara yang bisa memotivasi para konsumennya. Keahlian Anti dibidang arsitektur, ternyata membantunya dalam mengkomposisikan desain keramik yang diciptakan.
Kesuksesan Antin dalam memulai usaha, tidak terlepas dari kerja keras dan ketertarikannya untuk mengekspresikan diri melalui keramik. Karena kecintaannya terhadap keramik, segala kesulitan dalam menjalankan bisnis bisa dilaluinya. Di tahun-tahun pertama menjalankan usaha, merupakan tahun terberat bagi Antin. Semua strategi pemasaran bisnis, seperti membuka gallery dan mempromosikan produk melalui pameran dicobanya untuk mengenalkan produk Jinjit pottery. Namun cara tersebut belum bisa membuahkan hasil yang optimal, yang ada biaya operasional pemasaran lebih besar daripada income usaha.
Semua kegagalan yang diperoleh Antin diawal langkahnya, tidak menyurutkan niat wanita lulusan  Universitas Tri Sakti ini untuk menyenangkan orang lain dengan produk keramiknya. Dengan meningkatkan kemampuannya dalam membuat desain, Antin selalu bermimpi semakin hari produk Jinjit pottery bisa dicintai oleh masyarakat luas.
Semoga sosok wanita yang kreatif ini bisa memberikan inspirasi baru bagi Anda untuk memulai usaha baru. Selalu ada peluang, jika Anda mau berusaha menciptakannya. Semoga berhasil dan salam sukses.
Sumber : bisnisukm.com

Ipung Tasifun Pengusaha & Motivator


Sukses itu bisa membuat orang lain tersenyum. Sukses itu bisa membuka lapangan kerja untuk orang lain. Sukses itu bisa membagi serta menularkan keberhasilan pada orang lain. Sukses itu tak hanya untuk kita, tapi juga untuk orang lain,” begitulah definisi sukses bagi Ipung Tasifun, seorang guru, pebisnis dan sekaligus motivator yang tinggal di Bandung, Jawa Barat. 

Ipung telah membangun dua perusahaan yang beromzet miliaran rupiah per tahun. Dalam mengembangkan usahanya, sifatnya sebagai guru tidak luntur. Dia rajin berbagi ilmu dan memotivasi orang lain untuk giat berusaha dan berbagi dengan orang lain. 

Pada 1994, Ipung yang berprofesi sebagai guru SLTA di Bandung dan mempunyai banyak waktu luang untuk mengaktualisasikan dirinya. Rute Yogyakarta-Bandung yang kerap ditempuhnya untuk menemui pujaan hati pun dimanfaatkannya berbisnis kecil-kecilan. Dari Yogyakarta, Ipung selalu membawa hasil kerajinan tangan, misalnya kain tenun dan batik yang kemudian dijual secara kredit ke relasi di Bandung. Usaha ini membuahkan hasil yang lumayan. 

Ipung dan rekan-rekan seprofesinya kemudian berinisiatif untuk berbisnis untuk mengisi waktu luang, diawali dengan produk seragam sekolah. Namun karena seragam sekolah hanya ramai mejelang penerimaan murid baru, mereka kemudian menambah ragam produk, seperti sepatu, jepit rambut dan lainnya. 

Sayangnya, banyak rekannya yang mengundurkan diri karena merasa bisnis ini kurang menguntungkan dan terlalu menghabiskan waktu. Yang tersisa hanya Ipung dan seorang rekan. Mereka tidak putus ada dan terus berbisnis. 

Titik terang datang pada tahun 1996 ketika seorang pembeli memesan pakaian haji dalam jumlah besar. Namun lantaran kurang pengalaman, proyek itu tak berjalan mulus. Hajinya sudah berangkat, namum produk belum selesai semua. 

Untungnya Ipung perusahaan baju muslim yang baru merintis usaha dan menitipkan pakaiannya. Ternyata busana buatan Ipung laris manis, ditambah adanya artis yang memakainya pada saat mengisi acara televisi. 

Sadar keahlian berbisnisnya masih sangat minim, Ipung mengikuti pelatihan berbisnis yang diberikan oleh Departemen Koperasi. Dari sini, ia bertemu dengan PT. Sarana Jabar Ventura dan belajar lebih mendalam lagi. 

“Kita diajarkan bagaimana cara berbisnis, diajarkan bagaimana administrasi, dan sebagainya. Kita pun diajak ikut pameran” kata Ipung.

Usai digembleng di PT. Sarana Jabar Ventura, Ipung kemudian mejadi mitra binaan PT. SUCOFINDO. Disini, ia kembali mendapatkan pendidikan bisnis, misalnya bagaimana mengurus administrasi, cara pemasaran dan bagaimana cara menginvestasikan diri. 

”Bisnis dan diri saya menjadi lebih tertata dan itulah salah satu yang terbaik diberikan PT. SUCOFINDO, yang tidak ternilai. Karena saya jadi mengerti bagaimana menjalankan usaha yang baik,” imbuhnya.

Selama menjadi mitra binaan PT. SUCOFINDO, Ipung juga sering dibawa ke berbagai pameran, skala nasional dan internasional. Selain bisa mempromosikan dan memasarkan produknya, Ipung pun mendapat wawasan berbisnis yang lebih luas.

Dua perusahaan yang dikelola Ipung, PT. Medani Insan Cemerlang dan PT Wira Sukma, juga pernah mendapatkan pinjaman berupa dana talangan dari PT. SUCOFINDO.

Ini merupakan dana yang dibutuhkan anggota binaan yang membutuhkan dana cepat dan bisa mengembalikan dengan cepat pula. Waktu pengembaliannya selama 6 bulan hingga satu tahun.

”Waktu itu PT. Wira Sukma kami dikasih Rp 30 juta, yang kedua Rp 50 juta. Sedangkan PT Medani yang pertama Rp 20 juta, yang kedua dana talangannya Rp 50 juta,” kata Ipung.

Kegigihan Ipung untuk terus belajar dan menangkap peluang telah berhasil membuat perusahaannya meraup omset yang cukup besar. Pada tahun 2007, omset kedua perusahaan itu mencapai Rp 10 miliar. 

Dalam berbisnis, keseriusan Ipung juga didorong niat mulia untuk memberikan lapangan pekerjaan bagi siswa-siswanya. Dia pernah melakukan survey di tempatnya mengajar. Ternyata hanya 20-30 persen siswanya yang melanjutkan ke perguruan tinggi, sedangnya sisanya langsung terjun ke masyarakat. Ipung menciptakan lapangan pekerjaan, sekaligus memotivasi mereka untuk berwirausaha. 

Saat ini Ipung telah berhasil menampung sekitar 40 karyawan lepas dan ratusan vendor sulam dan lainnya. Dari total karyawan, sekitar 40 persennya adalah mantan siswanya yang setelah lulus langsung bergabung. Yang bersemangat wirausaha, ada juga yang menjadi rekanan perusahaan Ipung. 

“Jadi di sekolah fungsi saya ganda, mengajar dan memotivator mereka untuk menjadi enterpreneur dan menciptakan lapangan kerja,” imbuhnya.

Sumber : sucofindo.co.id

Guru jadi Milader


Mantan Guru Bahasa Inggris yang Menjadi Miliarder Properti. Pernah menjadi guru les bahasa Inggris, Cipto banting setir terjun ke bisnis kontraktor. Kini, ia menjadi pemilik Grup Nusuno dengan aset Rp 800 miliar.
Dengan penampilannya yang bersahaja, yang sehari-hari hanya menggunakan kemeja lengan pendek, celana panjang Cipto Sulistyo adalah salah satu pengusaha top di negeri ini, dia adalah pengusaha properti yang telah membangun banyak property hunian di banyak kota. Memang namanya tidak setenar Ciputra, Trihatma, atau Rudy Margono, namun nama Cipto dengan bendera grup Nusuno tidak dapat dipandang sebelah mata, banyak proyek kelas menengah yang digarapnya dengan aset rata-rata Rp800 miliar.
Di balik kesederhanaannya itu, ternyata Cipto adalah sosok yang workaholic. Kelahiran Jakarta, 3 April 1967, ini mengungkapkan, seandainya dalam sehari ada 36 jam, ia akan lebih banyak mencurahkan waktu untuk bekerja. Baginya, hidup ini adalah bekerja, bekerja dan bekerja. Dengan kegigihannya itulah, tak mengherankan, ia menjadi orang sukses. Meski tidak dilahirkan dari kalangan keluarga pebisnis, ia mampu membuktikan dirinya bisa menjadi entrepreneur yang cukup diperhitungkan.
Lulusan Sastra Inggris Universitas Nasional, Jakarta, ini sempat mengajar bahasa Inggris di lembaga kursus LIA dan LPIA. Namun, akhirnya ia pindah jalur menjadi entrepreneur. Ketika memulai bisnis, ia menjadi kontraktor, dan kemudian berkembang menjadi developer kini telah membangun tak kurang dari 9 proyek hunian di Jabodetabek. Selain itu, ia memiliki bisnis institusi keuangan (bank perkreditan rakyat/BPR), lembaga pendidikan, minimarket, pabrik cat, toko material bangunan dan percetakan. Cipto menegaskan ”di dunia ini tidak ada orang bodoh atau pintar. Yang ada hanyalah orang malas dan rajin. Dan saya merasa tidak malas, sehingga semua pekerjaan bisa dikerjakan oleh orang yang tidak malas”. Ia menambahkan, kunci suksesnya terletak pada tiga hal: kerja keras, fokus pada pekerjaan, plus hoki.
Perjalanan bisnisnya bermula tahun 1990. ”Nusuno itu diambil dari nama tiga orang pendirinya,”ujarnya. Saat usianya 23 tahun, ia bersama dua temannya, Nuzulul Haque dan Danardono, mendirikan Nusuno yang awalnya membidangi jasa kontraktor dan konsultan perencanaan bangunan. Kebetulan kedua temannya yang dulu sama-sama sekolah di SMP 42, Jakarta Selatan. Dengan bergulirnya waktu Nusuno lambat laun menjadi besar yang rata-rata mengerjakan proyek senilai Rp 4-5 miliar dalam sebulan. Dalam perjalanannya, kedua teman Cipto tersebut tidak aktif dalam pengelolaan perusahaan. Sehingga, dialah yang menjadi nahkoda Nusuno dan selanjutnya menjadi pemilik tunggal.
Setelah sukses menggeluti bisnis kontraktor, Cipto tergiur menjajal bisnis properti. Mula-mula ia melakukan jual-beli tanah dan membangun ruko kecil-kecilan. Tak disangka, setiap transaksi selalu untung. Permodalan diambil dari keuntungan jasa kontraktor sebelumnya. Sayang, masa-masa emas mencetak duit itu tidak berlangsung lama. Tahun 1997, akibat badai krisis moneter, Nusuno limbung dan sempat terlilit utang Rp 15 miliar.
Boleh dibilang, setelah 1997 itu bisnis Nusuno masih kembang-kempis. Sampai akhirnya Dewi Fortuna datang lagi pada tahun 2000-an. Tepatnya, tahun 2004-06, saat booming dunia properti. Momentum itu tidak disia-siakan Cipto dengan memberanikan diri membangun perumahan.
Tahun 2004, Nusuno meluncurkan proyek properti perdana dengan skala medium. Namanya, Perumahan Puri Bintara di Bekasi seluas 6 hektare. Jenis rumah yang dipasarkan mulai dari tipe 64 dengan harga Rp 215 juta/unit. Lagi-lagi Cipto dinaungi hoki: dalam tempo 1,5 tahun, 300 unit rumah ludes diserap pasar. Tak puas cuma menangani Puri Bintara, ia kembali meluncurkan proyek baru bernama Bintara Estate di Bekasi juga. Di atas lahan seluas 1 ha itu, ia membangun town housesebanyak 60 unit dengan harga Rp 250-700 juta tiap unit, yang juga banyak diminati konsumen.
Cipto makin ketagihan membangun beberapa proyek permukiman. Maka, ia pun kemudian membangun Puri Juanda Regency di Bekasi Timur sebagai proyek ketiga. Dengan lahan 6 ha, perumahan itu terdiri atas 266 unit rumah dan banderolnya Rp 130 jutaan per unit. Proyek keempatnya, Puri Pakujaya. Perumahan yang berlokasi di Tangerang itu menempati lahan 2,2 ha dan terdiri atas 97 unit rumah tipe 39 seharga Rp 70 juta/unit. Sementara proyek perumahan kelima adalah Puri Kranji Regency di Bekasi, sebanyak 260 unit dengan luas tanah 4 ha.
Kendati sudah memiliki lima proyek perumahan di Bekasi dan Tangerang dengan skala menengah, Cipto masih haus ekspansi. Sasaran berikutnya adalah membangun perumahan kota mandiri yang menyedot dana lebih gede. Ada dua proyek terbaru: Grand Valley Residence di Depok seluas 33 ha dengan investasi Rp 1,3 triliun, dan kota mandiri Kalimalang Epicentrum seluas 21 ha dengan investasi Rp 800 miliar.
Bisnis apartemen juga dibidik Cipto. Sejauh ini setidaknya dua proyek apartemen telah dikembangkan Nusuno. Pertama, Apartemen Square Garden di Cakung, Jakarta Timur. Apartemen ini memiliki empat tower; satu tower terdiri atas 124 unit dengan harga Rp 109 juta/unit. Yang kedua, Apatermen Eastonia di Jatiwaringin, Pondok Gede, yang berdiri di atas lahan seluas 3 ha.
Mitra bisnis Cipto menilai Nusuno adalah the rising star. Hendra Bujang, misalnya, menganggap Cipto sebagai pengusaha yang punya kemauan keras. “Visi-misi bisnisnya sangat bagus. Saya optimistis Nusuno akan lebih maju dan menjadi the rising star jika tidak ada krisis lagi,” tutur Associate Director Danpac Asset Management itu memuji. Sebelumnya Danpac adalah advisor Nusuno dalam menangani restrukturisasi dan pengembangan bisnis.
Sejauh ini Danpac baru pertama kali melakukan sinergi pembiayaan. Kerja sama yang dilakukan adalah membiayai proyek Apartemen Eastonia senilai Rp 40 miliar. Adapun total nilai proyek Rp 70-90 miliar. ”Kami tertarik bekerja sama dengan Nusuno karena banyak potensi. Nusuno juga telah proven lolos dari krisis global. Pertimbangan lain, sektor bisnisnya terkait dengan kebutuhan riil masyarakat, seperti properti, lembaga pendidikan, minimarket dan kesehatan,” Hendra menguraikan.
Hendra juga mengkritik Nusuno. Sebagai private company, kekuasaan masih berpusat di tangan pemilik. Padahal, di luar banyak peluang bisnis yang harus segera ditangani, sehingga prosesnya agak sulit. Jadi, di level manajemen, ia menyarankan, perlu limit tertentu pada kebijakan Cipto. Dengan demikian, sebagian kewenangan penting didelegasikan ke para profesional. Untuk itu, pola manajemen kekeluargaan mesti dirombak.
Sumber : al-rasyid.blog.undip.ac.id