Senin, 04 Februari 2013

Bisnis Tempat Karaoke Rossa


Sukses menjadi salah satu diva Indonesia, dan punya segudang kesibukan tak lantas membuat Rossa berpuas diri. Sadar tak bisa seterusnya eksis di dunia hiburan, Rossa mencoba menjadi seorang pengusaha. Usaha yang dipilihnya pun tak jauh-jauh dari karier yang digelutinya sekarang ini, yaitu bisnis karaoke yang diberinya nama "Diva".

"Siapa pun bisa menjadi seorang wirausahawan, termasuk perempuan. Menjadi wirausahawan juga membantu perempuan, dan khususnya saya, untuk memiliki kemandirian finansial dalam keluarga," ungkap Rossa, di Puro Blowfish Restaurant, Jakarta Selatan, Rabu (30/1/2013) lalu.

Usaha yang dirintis Rossa kini sudah berkembang cukup pesat. Bahkan, tahun ini Rossa menargetkan penambahan rumah karaokenya mencapai 50 outlet. Apa kiat sukses Rossa dalam menjalankan usahanya?

1. Konsisten
Ini syarat yang paling banyak dilupakan para pengusaha. Seringkali mereka tidak konsisten dengan niat awal untuk berbisnis. Menurut Rossa, konsistensi sangat dibutuhkan pengusaha agar bisa menciptakan image yang kuat pada konsumennya. Misalnya, ketika berbisnis kuliner pastikan Anda selalu menjaga rasa dan mutu makanan (konsistensi rasa) sehingga tidak ada pelanggan yang protes karena merasa kualitas makanannya menurun.

Konsistensi dan ketekunan dalam berbisnis akan menjadi bekal yang baik untuk menghadapi semua kendala yang mungkin muncul saat berbisnis. "Dalam hal apa pun, konsisten dan ketekunan sangatlah dibutuhkan. Ini jadi modal utama untuk mendapat kesuksesan," jelasnya.

2. Keyakinan
Keyakinan untuk sukses adalah modal yang baik untuk memotivasi Anda dalam berbisnis. Akan tetapi, penyanyi berusia 34 tahun ini merasa, modal yakin akan sukses saja belumlah cukup. Anda juga harus punya keyakinan bahwa produk Anda akan "menjual". Oleh karena itu, Anda perlu mengenali manfaat, harga, kelebihan, kekurangan, sampai keamanan produk Anda.

Ketika Anda punya keyakinan pada produk yang dijual, secara tak langsung Anda bisa meyakinkan orang lain untuk membeli produk tersebut. "Ketika Anda tak yakin pada produk yang dijual, orang pasti enggan juga untuk membelinya," tambahnya.

3. Total dan fokus
Saat berbisnis Anda tak bisa setengah-setengah. Pastikan Anda serius dan fokus untuk membangun bisnis ini. Dalam berbisnis Anda harus benar-benar sepenuh hati terjun ke dalamnya. Ketika setengah-setengah, usaha yang Anda curahkan pun tak akan maksimal dalam mengembangkan usaha. Hasilnya, ketika menemui kegagalan Anda akan mudah menyerah dan putus asa.

Sumber : female.kompas.com

Wirausahawan Lewat Tepung Singkong

Singkong melimpah ruah di tanah Wonogiri. Namun, sejauh ini lebih sering dijual mentah sehingga nilai ekonomisnya sangat rendah. Saat harga cukup baik, harga singkong bisa mencapai Rp 1.500-Rp 3.000 per kilogram. Namun, saat panen, harganya jatuh hingga hanya Rp 600 per kilogram. Melihat ini, Jumadiarto (49), warga Desa Wonokarto, Kecamatan Wonogiri, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, tergerak untuk mencari cara meningkatkan nilai ekonomis singkong, tanaman andalan di Wonogiri saat musim kemarau. Kondisi sebagian besar lahan pertanian di Wonogiri hanya dapat ditanami padi sekali setahun, sisanya palawija, terutama singkong. Tidak jarang juga lahan dibiarkan menganggur karena air yang sangat sulit. Produksi singkong dari Kabupaten Wonogiri rata- rata 1,2 juta ton per tahun. Jumadiarto lantas teringat kearifan lokal nenek moyang tentang khasiat berbagai tanaman serta ragi untuk membuat tempe, tahu, atau tape. Ia lantas memanfaatkan empat jenis bunga ditambah daun dan biji tertentu, tepung singkong, tepung beras, tepung ketan, serta sebuah formula yang masih dirahasiakannya. Bahan-bahan ini lantas diolah menjadi ragi atau enzim yang digunakan untuk mengolah singkong. ”Para nenek moyang kita itu sebenarnya jago bikin ragi atau enzim. Ini kekayaan kearifan lokal kita yang selama ini belum dikembangkan,” kata Jumadi, Minggu (25/11). 

Formula enzim yang kemudian diberi nama WRD751WNG ini sekarang tengah dalam proses pengajuan hak atas kekayaan intelektual (HAKI). Nama enzim itu merupakan singkatan dari Wiridan Jumadiarto Wonogiri yang artinya ide putra asli Wonogiri tersebut tidak lain berasal dari Sang Ilahi. Enzim yang ia temukan pada 2009 itu kemudian digunakan untuk mengolah singkong menjadi tepung yang setara dengan tepung terigu. Artinya, dapat digunakan sebagai pengganti terigu 100 persen. Tepung ini dinamakan Wonocaf, singkatan dari Wonogiri Cassava Fermented atau singkong yang difermentasikan. Proses produksi Cara pembuatannya, singkong kupas yang telah dicuci bersih kemudian diparut dan diberi enzim Wonocaf. Setelah didiamkan selama 12 jam, parutan singkong diperas untuk dipisahkan dari airnya. Ampas yang dihasilkan dijemur hingga kering selama dua hari lantas digiling dan disaring sehingga menjadi tepung Wonocaf. Hasil uji laboratorium Kementerian Pertanian di Bogor, Jawa Barat, menyebutkan, tepung Wonocaf mengandung 78,9 persen karbohidrat, sementara singkong mengandung 34 persen karbohidrat. Tepung ini juga tidak mengandung gluten sehingga aman bagi penderita autisme atau alergi. Jumadi pernah mempresentasikan temuannya itu di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dan Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspitek) di Serpong pada Maret 2011. Tidak hanya itu, limbah hasil pengolahan Wonocaf juga dapat dimanfaatkan. Limbah cair hasil perasan parutan singkong, setelah ditambah ragi jenis tertentu, dapat diolah menjadi produk sampingan yang tidak kalah nilai ekonomisnya. 

Limbah cair ini bisa untuk biofuel, cairan pemadam kebakaran, pupuk, minuman kesehatan bagi hewan, dan air pendingin radiator. Limbah hasil pengolahan ini masih dalam taraf pengembangan oleh Jumadiarto. Pria lulusan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ciputat ini kemudian bermitra dengan Riyanto, pemilik Perusahaan Otobus Sedya Mulya untuk memproduksi secara massal tepung Wonocaf di bawah bendera CV Eka Mulya. Karena pengeringan ampas perasan singkong masih dilakukan dengan sinar matahari, produksi masih terbatas sebanyak 3,5 kuintal per hari. Proses produksi menggunakan tiga mesin parut yang untuk sementara ditangani seorang pegawai. Keduanya tengah memesan oven agar pengeringan ampas singkong yang telah difermentasi bisa lebih cepat. Diharapkan, produksi tepung bisa mencapai 3 ton per hari. Selain di Wonogiri, saat ini tepung Wonocaf juga dipasarkan ke Kota Solo, Semarang, dan Jakarta. Selain ke toko-toko roti, dipasarkan pula kepada keluarga yang anggotanya menderita autisme. Hotel Sahid Jaya, Solo, juga secara rutin menggunakan Wonocaf untuk berbagai resep kue buatan mereka. Tepung Wonocaf dipasarkan Rp 5.600 per kilogram. Pemerintah Kabupaten Wonogiri mendorong CV Eka Mulya mengambil pasokan tepung tapioka basah atau kering dari petani. Jumadiarto berani membeli tepung tapioka basah dan kering dari petani dengan harga Rp 4.000-Rp 5.000 per kilogram. 

Di sinilah petani yang mengolah singkongnya menjadi tepung tapioka akan mendapat nilai tambah dibandingkan sekadar menjual singkong mentah. ”Kami membentuk inti-plasma. Kami sebagai inti dan plasmanya tersebar di 25 kecamatan se-Kabupaten Wonogiri. Nantinya petani- petani yang tergabung di plasma ini yang akan memasok kebutuhan tepung tapioka. Kami juga membentuk Koperasi Tepung Wonocaf Indonesia,” kata Jumadiarto yang sebelumnya aktif sebagai konsultan di berbagai lembaga nonpemerintah.

Sumber : wirasmada.wordpress.com 

Peluang Bisnis Teh Buah


Teh sudah menjadi minuman favorit bagi sebagian besar orang Indonesia. Hampir setiap hari, minuman ini menemani waktu sibuk maupun santai. Inovasi produk serta cita rasa teh yang terus berkembang membuat sektor usaha ini terus bergairah.

Selain teh dengan cita rasa original, kini telah hadir teh dengan pilihan aneka rasa buah. Salah satu pemain teh buah ini adalah Fantastic Fruit Tea. Usaha ini pertama kali berdiri pada November 2012 lalu dan segera menawarkan kemitraan.

Hingga kini, telah ada 20 gerai Fantastic Fruit Tea yang tersebar di kawasan Jabodetabek, Surabaya, Papua, juga Kalimantan. “Kami menawarkan sembilan jenis rasa buah dalam produk teh kami,” tutur Marianus Nuban, pemilik Fantastic Fruit Tea.

Pilihan rasa buahnya antara lain stroberi, jambu, melon, mangga, anggur, jeruk, dan sirsak. Untuk menjadi mitra Fantastic Fruit Tea, cukup menyediakan biaya investasi sebesar Rp 4 juta.

Dengan membayar sebesar itu, mitra akan memperoleh fasilitas berupa booth, perlengkapan, bahan baku awal untuk sebanyak 300 cup serta pelatihan.

Mitra diharapkan bisa menjual minimal 50 cup teh dalam sehari dengan harga Rp 4.000 per cup. Dengan begitu mitra bisa memperoleh omzet sebesar Rp 5 juta per bulan.

Laba bersih usaha ini sekitar 30% dari omzet. Mitra diperkirakan kembali modal sekitar tiga bulan sejak beroperasi. Dalam kemitraan ini, tidak ada biaya royalty fee yang dibebankan kepada mitra. Namun, setiap mitra wajib membeli bahan baku dari kantor pusat.

Marianus mengklaim, kelebihan teh racikannya ada pada aneka rasa buah yang mereka sajikan. Menurutnya, teh buah merupakan alternatif minuman di luar rasa teh original yang selama ini sudah banyak diusung kemitraan lainnya.

Ke depan, ia juga berencana untuk menggunakan tambahan buah asli dalam racikan tehnya. “Sekarang, sari buahnya masih pakai bubuk, tapi rencananya ke depan, kami akan pakai buah yang asli,” ujar Marianus. Terkait inovasi menu, Marianus juga berencana menambahkan minuman lidah buaya dalam gerainya.

Sumber : jpmi.or.id

Sukanto Tanoto


Motto hidup orang sukses ini adalah do the right thing, do the thing right. Do the on right thing maksudnya adalah sebagai suatu pedoman pada pola manajemen, sedangkan Do the thing right memiliki arti sebagai penekanan terhadap pentingnya suatu action (tindakan). Siapa yang menyangka anak seorang pedagang ini mampu berkiprah di jagat bisnis Indonesia. Berkat kerja keras dan ketekunan dalam membangun kerajaan bisnisnya, Raja Garuda Mas International dan PT Inti Indorayon a Utama, beliau berhasil membawa namanya bertengger diurutan pertama orang terkaya di Indonesia versi Forbes Juli 2006.

Pentingnya mempunyai motto hidup orang sukses ini menguatkan dirinya dalam menghadapi tantangan hidup sejak beliau masih kecil. Tokoh pengusaha sukses ini adalah anak dari Amin Tanoto. Ia adalah sulung dari tujuh beraudara. Kehidupannya cukup sederhana. Sepulang sekolah, harus membantu sang ayah menjual minyak, peralatan mobil, dan bensin. Di sela-sela kesibukannya membantu sang ayah berdagang, beliau masih menyempatkan untuk membaca buku kegemarannya yaitu buku tentang revolusi Amerika dan Perang Dunia. Disini semangat bisnis sang pengusaha sukses ini semakin tercermin. Tak berpanjang lebar, mari kita simak pemaparan kisah perjalanan beliau sang pengusaha sukses Indonesia ini.

Sukanto Tanoto (lahir dengan nama Tan Kang Hoo di Belawan, Medan, 25 Desember 1949; umur 62 tahun) adalah seorang pengusaha asal Indonesia. Ia adalah CEO Raja Garuda Mas, sebuah perusahaan yang berkantor pusat di Singapura dengan usaha di berbagai bidang, terutamanya kertas dan kelapa sawit. Tanoto dinyatakan sebagai orang terkaya di Indonesia oleh majalah Forbes pada September 2006, namun pada tahun 2011, Forbes kembali merilis daftar orang terkaya di Indonesia. Ia menduduki peringkat ke-6 dengan total kekayaan US$ 2,8 miliar

Forbes memiliki daftar orang terkaya di seluruh dunia. Dan beberapa orang dari Indonesia mampu masuk ke dalam daftar tersebut termasuk seorang pengusaha yang bernama Sukanto Tanoto. Kesuksesan beliau pun dinilai dari jumlah Dollar Amerika yang sudah beliau hasilkan. Sangat menakjubkan sekali bahwa ada orang Indonesia yang bisa menghasilkan pendapatan yang sangat besar. Hal ini pasti didukung oleh sumber daya manusia yang sangat baik dari pribadi orang tersebut. Beliau memasuki urutan ke 284 pada tahun 2008 karena memiliki kekayaan sebesar US$ 3.8 trilyun. Hal ini sungguh pencapaian yang sangat bagus sekali. Usaha yang telah dan masih akan dijalankan oleh Tanoto sanggup membawanya ke kesuksesan yang lebih tinggi lagi.

Sukanto Tanoto adalah orang yang telah menghasilkan trilyunan rupiah dalam menjalankan bisnisnya. Pada awalnya, bisnis yang dilakukan oleh beliau adalah menjadi pemasok dari alat-alat dan barang-barang untuk perusahaan negara Pertamina. Pada awalnya mungkin pekerjaan ini bisa dianggap pekerjaan yang kecil. Namun karena kerja kerasnya telah membuat pekerjaan ini dapat diselesaikannya dengan baik.

Sukanto dilahirkan di kota Medan pada tanggal 25 Desember 1949 dan sudah memiliki banyak sekali pengalaman dalam bidang bisnis. Setelah menjadi pemasok untuk perusahaan sebesar Pertamina, beliau merambah ke industry perusahaan. Beliau berhasil membawa perusahaannya menjadi salah satu perusahaan pulp dan kertas di Asia yang masuk ke dalam Bursa Efek New York. Hal tersebut adalah satu pencapaian yang sangat luar biasa sekali. Tidak banyak pengusaha yang mampu menembuskan bisnis mereka ke bursa saham di Amerika Serikat tersebut. Perusahaannya menjadi sangat besar dan mulai merentangkan sayapnya untuk merengkuh bisnis-bisnis lainnya yang masih berhubungan dengan bisnis perusahaannya yang sekrang. Kertas, minyak sawit, konstruksi dan energi adalah beberapa hal yang menjadi bisnis dari beliau pada saat sekarang ini.

Pengalaman masa kecil Sukanto Tanoto yang sangat keras ternyata telah memberikan pelajaran yang sungguh luar biasa dan berpengaruh sangat serius kepada keberhasilannya memimpin beberapa perusahaan miliknya. Kehidupan masa kecil yang diskriminatif terhadap ras yang mengalir ditubuhnya membuatnya bertahan untuk mendapatkan haknya. Perjalanannya sebagai seorang pebisnis pun tidak langsung berada di garis yang paling atas. Beliau memulai semuanya dari karir yang rendah. Namun secara dramatis, beliau mampu bertahan dan bahkan mengambil keuntungan dari krisis yang terjadi di Indonesia. Profil Sukanto Tanoto sangat baik sekali untuk di baca karena akan memberikan inspirasi yang sangat baik untuk perkembangan diri pribadi. Kerja keras yang dilakukan oleh beliau pun mampu membuatnya menjadi salah seorang yang terkaya di dunia. Semua keringat yang dikeluarkan pasti mampu membuat kerja keras beliau menjadi keuntungan yang sangat besar yang terlihat disekitar beliau. (sumber:orangterkayaindonesia.com)

Pria yang hobi mendengarkan musik klasik ini terus berekspansi ke dunia bisnis. Tidak hanya dalam negeri, di luar negeri Sukanto ikut memiliki perkebunan kelapa sawit Nasional Development Corporation Guthrie di Mindanao, Filiphina. Keinginan untuk memajukan bisnis nasional semakin menjadi. Obsesi yang ingin menjadi salah satu pengusaha Indonesia agar mampu bersaing di arena global tampak jelas dari pandangan bsinis Indonesia. Buktinya Juli 2006, Sukanto menduduki orang terkaya nomor wahid di Indonesia. Jauh dibanding tahun sebelumnya. Demikianlah kisah perjalanan pengusaha sukses Indonesia yang dapat saya bagikan kepada para pembaca sekalian, semoga bermanfaat dan menambah semangat kita dalam menjalankan bisnis kita, jaga terus semangat kewirausahaan, salam sukses selalu!

Sumber : profilpengusahasuksesindonesia.blogspot.com

Pemilik Paotere


Tawakal Sirat (47), pemilik Rumah Makan (RM) Paotere, lahir dari keluarga sederhana. Ayahnya, Sirat Daeng Pasolong, hanya penjual tas di Pasar Butung, Makassar. 

Ketika menginjak usia lima tahun, 1971, Tawakkal sudah ditinggal ayahnya untuk selama-lamanya. Peninggalan dari sang ayah yang hanya pedagang kecil itu tak bisa menjadi tumpuan Tawakkal.

Sejak kepergian sang ayah, ibu Tawakkal, Ugi Daeng Jenne, menambah kesibukannya dari sekadar ibu rumah tangga menjadi juragan becak. Usaha becak dijalankan guna mencari biaya hidup keluarga setelah suaminya meninggal. Ibunda Tawakkal kala itu, memiliki 40 becak dan disewakan kepada prang lain.

Sepuluh tahun setelah Sirat meninggal, Ugi menyusul. Tawakkal menjadi yatim-piatu. Tak ada lagi tulang punggung keluarga. Dirinya pun harus banting tulang membiayai hidupnya dan adiknya Hasnah Sirat. Tiga saudara lainnya meninggal saat masih anak-anak.

Pamannya, Haji Daeng Gassing (85), rupanya iba terdahap Tawakkal. Rumah Tawakkal dengan rumah pamannya, tak jauh, di wilayah Ujungtanah, kawasan pesisir.

Daeng Gassing pun mengajak pria kelahiran Ujungpandang, 17 Maret 1965, itu tinggal di rumahnya seraya meminta bantuan mengelola usaha. Usaha dijalankan, yakni warung makan kaki lima di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Paotere, Makassar.

Mulai saat itu, sekitar tahun 1980, Tawakkal pun mulai belajar mengelola warung makan, meracik bumbu, memasak, dan menghidangkan makanan kepada pelanggan.

“Waktu itu, saya masih SMP, sekolah sambil kerja di warung. Sekarang, tidak ada lagi anak-anak  mau begitu, gengsi-mi,” kenangnya seraya tertawa dalam perbincangan santai dengan Tribun di rumah makan barunya, RM Paotere, Jl Perintis Kemerdekaan, Tamalanrea, Makassar, Senin (17/9).

Dari situlah, alumnus SMP Negeri 7 Makassar ini belajar mengelola warung makan. Bekerja di warung sepulang sekolah tak sulit dijalaninya. Sekolahnya di Jl Cakalang, tak jauh dari tempat tinggalnya sekaligus warung, Jl Sabutung.

Setamat SMP, Tawakkal melanjutkan pendidikannya pada sekolah menengah atas hingga perguruan tinggi. Selain mengandalkan hasil keringat, ia juga mengandalkan hasil panen lima petak sawah di kampungnya, Labakkang, Pangkep, membiayai pendidikannya.

Hingga kuliah pada Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen LPI, Makassar, memilih program studi perbankan dan keuangan, Tawakkal tetap tak gengsi berjualan hidangan laut sambil kuliah hingga tamat.
Sebelum atau sepulang kuliah, pelanggan dilayani.

Warung pamannya tak menyediakan lauk. Hanya menyediakan nasi, lalapan, dan sayur. Pelanggan menyediakan ikan, cumi, atau udang segar. Lalu dibakar dan disantap di warung tersebut.

“Dulu, begitu modelnya (layanannya), karena pembeli adalah orang yang membeli ikan di lelong (TPI Paotere). Mereka (tubuhnya) bau ikan, kakinya berlumpur, tidak pakai sandal. Isitilahnya paku lonting,” kata Tawakkal mengenakan kaos polo hitam ketat di meja makan, usai peresmian rumah makannya, kemarin.

Sekitar 12 tahun ikut mengelola warung pamannya, Tawakkal mendapatkan banyak pengalaman dan pengetahuan berbisnis kuliner laut (seafood). Ia pun mencoba mengambil alih usaha pamannya dan memindahkan di tempat tak jauh dari tempat semula.

Anak ketiga dari lima bersaudara ini meminta pamannya kembali ke kampung di Labakkang, untuk beristirahat. Hingga akhir hayat, dirinya selalu siap membiayai hidup pamannya. Tawakkal tak tega pamannya masih bekerja di warung pada usianya yang sudah lanjut.

Dari kaki lima di kolong rumah menjadi rumah makan di bangunan rumah toko atau ruko. Bagunan ruko itu disewa sebab belum memiliki modal cukup. Tempatnya pun bersih dan tak lagi dipenuhi lalat serta bau menyengat.

Rumah makan diberi nama Paotere, sesuai alamanya. Sebelumnya tanpa nama, mulai beroperasi pada tahun 1992. Segmentasi pelanggan pun berubah. Dari paku lonting menjadi orang bermobil.

Di antara deretan pelanggan, ada keluarga Jusuf Kalla dan Aksa Mahmud. Dari situlah Tawakkal berkenalan dengan kedua pengusaha sekaligus pejabat itu. Kalla kala itu masih memimpin NV Hadji Kalla (sekarang Kalla Group), sedangkan Aksa masih memimpin PT Bosowa Berlian Motor, diler mobil merek Mistubishi.

Kalla dan Aksa tak hanya sekadar makan, namun juga mengajari Tawakkal mengelola usaha sehingga dapat berkembang pesat. Sebelum atau sesudah makan, Kalla dan Aksa selalu memanggilnya berbagi kiat sukses.

“Pak Aksa memaksa saya agar harus membeli ruko itu. Tak boleh disewa. Setiap ketemu, saya dipaksa beli ruko itu. Alhamdulillah, akhirnya saya beli seharga Rp 675 juta pada tahun 1997,” ujarnya menceritakan sosok Aksa dan Kalla yang tak bisa dihapus dalam diari suksesnya.

Melihat RM Paotere kian populer dan ramai pengunjung, pada tahun 2011, manajemen Grand Clarion Hotel and Convention Center mengajak Tawakkal membuka rumah makan dengan nama serupa di Jl Andi Pangerang Petta Rani.

Sumber : makassar.tribunnews.com

Rumah Makan Padang Sederhana

Lahir dan dibesarkan di Lubuk Jantan, Lintau Buo, Kabupaten Tanah Datar, Sumatra Barat, Bustaman remaja memutuskan untuk merantau ke Jambi pada 1955. Bagi masyarakat Minang, pergi keluar dari kampung kelahirannya sudah menjadi tradisi. Di Jambi, Bustaman yang hanya lulusan kelas dua sekolah rakyat (setara SD) mengadu nasib dengan bekerja apa saja. Mulai dari bekerja di kebun karet, menjual koran, mencuci piring di sebuah rumah makan hingga menjadi pedagang asongan.

Pada 1970, Bustaman rupanya tertantang mengadu nasib di ibu kota Jakarta. Padahal, ia baru saja dua tahun menikah dengan Fatimah dan dikaruniai seorang anak. "Saya ikut dengan adik ipar di daerah Matraman, Jakarta Pusat," tutur Bustaman. Pilihan saat itu adalah berdagang rokok dengan menggunakan gerobak di pinggir jalan.

Sebuah peristiwa yang melibatkan perseteruan antara etnis Minang dengan preman setempat pada 1975, membuat Bustaman terpaksa menyelamatkan diri dan keluarganya ke wilayah Pejompongan. “Pokoknya akibat peristiwa tersebut, kami suku Minang terancam keselamatannya,” tutur Bustaman. Di Pejompongan, Bustaman tetap membuka warung rokok selama 24 jam dengan penghasilan harian sebesar Rp2.000. “Padahal waktu di Matraman penghasilan saya bisa Rp8.000,” tambahnya.

Kondisi tersebut membuat Bustaman berpikir untuk mencari penghasilan tambahan dengan berjualan makanan. Ia lalu mencari lahan pinggir jalan di daerah Bendungan Hilir. “Saya menyewa lapak seluas satu kali satu meter di pinggir jalan seharga Rp3.000,” kata Bustaman. “Masalahnya, saya tidak bisa memasak, tetapi berbekal pengalaman pernah bekerja di rumah makan, saya belajar.”

Di hari pertama, dagangannya hanya menghasilkan omset Rp425 dari modal awal sebesar Rp13.000. “Saya juga mengutang beras, minyak dan beberapa kebutuhan lain kepada tetangga,” kata Bustaman. “Sialnya, hasil dagangan itu ludes dibawa lari pembantu baru kami.”

Peristiwa itu tidak lekas membuat Bustaman putus asa. Ia tetap menjalankan usaha warung kecilnya. Satu minggu kemudian ia berkenalan dengan pedagang masakan lain asal Solok, Sumatra, yang membuka warung di Bendungan Hilir. “Saya coba masakannya ternyata enak,” tutur Bustaman. “Saya lalu memberanikan diri berkenalan dengan pemasaknya dan meminta resep masakan.”

Dengan menu baru tersebut, warung kecil Bustaman semakin kedatangan banyak pelanggan. “Cobaan datang kembali saat terjadi penertiban pedagang kaki lima oleh Satpol PP,” cerita Bustaman. “Gerobak dagangan saya diangkut.”

Bustaman kemudian membuka kembali warung di lahan yang sudah ditetapkan oleh pemerintah Jakarta. “Harga beli lapaknya sebesar Rp750 per lapak,” kata Bustaman. “Saya beli dua lapak di lahan yang saya inginkan.”

Karena satu orang hanya boleh memiliki satu lapak, maka Bustaman meminjam nama pamannya untuk membeli lapak di sebelahnya. Warung Bustaman terus ramai didatangi pelanggan. Sedang asyik menikmati untung, cobaan datang lagi. “Kali ini masalah datang dari tante saya karena masalah utang piutang,” ujar Bustaman. “Awal membuka lapak baru saya memang meminjam uang sebesar Rp15.000 kepada Tante, tetapi itu sudah saya bayar,” tutur Bustaman. Urusan sengketa ini bahkan melibatkan kepolisian. “Rupanya Tante ingin memiliki lapak saya karena dilihatnya laris,” lanjutnya.

Bustaman akhirnya mengalah melepas lapak tersebut dan membeli lapak baru tepat di seberang lapak lama. Tuhan memang Maha Adil, warung barunya tetap lebih laris dari warung tantenya. “Baru sebentar menikmati rezeki, musibah datang kembali,” kata Bustaman. “Tempat tinggal saya di Pejompongan terbakar.”

Yang bisa diselamatkan Bustaman hanya istri, anak dan gerobak dagangnya. “Saya lalu tinggal di rumah salah satu suplier bahan masakan saya,” tutur Bustaman. Ia mulai menyewa kios ketika Pasar Bendungan Hilir dibangun pada 1974 dengan harga sewa Rp15.000. “Tahun 1975 saya membuka cabang di Roxy mas,” katanya.

Kini Bustaman sudah bisa menikmat hasil jerih payahnya. Rumah Makan Padang Sederhana miliknya sudah tersebar hampir di seluruh wilayah Indonesia hingga Malaysia, baik atas nama sendiri maupun investor melalui sistem franchise.  

Ada cerita unik di balik nama “Rumah Makan Padang Sederhana” yang menjadi merek dagang Bustaman. “Nama itu saya ambil dari restoran di Jambi tempat saya dahulu bekerja sebagai pencuci piring,” cerita Bustaman. “Istri yang menyarankan karena memang namanya mudah diingat.”

Sekarang ini, banyak sekali rumah makan padang yang mengatasnamakan Sederhana. Rumah Makan Padang Sederhana milik Bustaman adalah yang memiliki logo rumah Gadang dengan tulisan SA. Apakah Anda salah satu pelanggannya? 

Sumber : readersdigest.co.id


Sukses Tahu Tahuid

Jelajah kuliner tahu di Bandung Raya memang seru. Selain pilihan yang beragam. Masing-masing produsen tahu memiliki cita rasa dan tekstur yang berbeda.Salah satu yang cukup tersohor adalah Tahu Tauhid. Gerai tahu yang ada di Lembang. Kabupaten Bandung Barat ini sudah lama dikenal memiliki tahu yang istimewa.

Tahun 1985, (Alm) Oteng Junaedi memulai bisnis tahu kecil-kecilan. Semakin lama, usahanya semakin berkembang dan terus bertahan hingga saat ini. “Dulu industri rumahan, awalnya ayah saya hanya berjualan di pasar. Namanya juga masih tahu lembang,” ujar anak Boy, anak alm Oteng.

Semakin berkembang dan menjanjikan, kemudian pada tahun ’90-an, dibuatlah gerai tahu di Jalan Cijeruk, Lembang. Itulah yang menjadi gerai pertama Tahu Tauhid. Sedangkan gerai kedua ada di Jalan Sesko AU, tak jauh dari Jalan Cijeruk. “Dulu juga namanya masih tahu lembang. Tapi di tahun 2000, bapak pengen nama tahu pakai Tauhid. Jadilah Tahu Tauhid hingga saat ini,” katanya.

Gerai Tahu Tauhid pun kini berdiri megah di kawasan Lembang. Hampir setiap hari pengunjung datang untuk sekadar membeli untuk dibawa pulang, atau menyantap langsung tahu tauhid yang dibuat seperti tahu Sumedang. Setelah (alm) Oteng meninggal dunia, kini anaknya yang meneruskan usaha Tahu Tauhid ini. Oh ya, nama Tauhid, tidak ada hubungannya dengan pesantren milik dai kondang di bilangan Gegerkalong Bandung. Nama Tauhid memang keinginan Oteng sendiri. “Bapak yang memang ingin namanya jadi Tahu Tauhid,” pungkas Boy.

Sumber : jpmi.or.id