Selasa, 05 Februari 2013

Belajar 3 Jam Sukses Luar Biasa

Sudah tak bisa dipungkiri lagi, industri kerajinan adalah sebuah usaha yang mempunyai marjin keuntungan yang cukup tinggi, yakni hingga 70 persen.
Lihat saja pengusaha glass painting Dyah Rachmanita, hobi melukisnya bisa berbuah pundi-pundi uang. Padahal, dirinya hanya belajar tiga jam saja untuk bisa melukis di atas gelas.
Kepada okezone, dia menceritakan sejak dulu, dirinya memang sudah hobi melukis. Suatu saat, Mei 2007, dia kedatangan pelukis dari Rumania yang mengajarkannya kerajinan melukis gelas. “Hanya tiga jam saya diajari dan selanjutnya saya kembangkan sendiri,” ujarnya kepada okezone.
Lebih dari empat tahun setelah dia belajar, Dyah kini telah memiliki sebuah showroom untuk memajang kerajinannya di Plaza Araya, Malang. Perempuan yang mengaku sampai saat ini masih mendesain dan mengerjakan hasil akhir karya-karyanya sendiri ini, sudah bisa mempekerjakan lima perajin.
Menariknya, dari usahanya ini, ia dapat memperoleh omzet usaha sekira Rp10 juta sebulan dengan margin keuntungan mencapai 70 persen. “Ya, untungnya sebesar itu karena ini kan barang seni ya. Mereka yang beli menghargai karya kita,” ucapnya.
Meskipun semua bahan baku gelasnya didapatkan dengan mudah di pasaran, tetapi khusus untuk catnya, dia langsung mengimpor dari Italia dan Prancis.
Dalam sehari, dia bisa menggarap berbagai kerajinan dari gelas seperti toples, botol, lampu petromak, dsb. “Lama pengerjaannya tergantung ukuran dan rumitnya desain,” tambahnya.
Meskipun terlihat sangat menarik dan diminati pengunjung, tapi ia mengaku belum memikirkan untuk mengekspor kerajinannya. “Belum lah, kita belum mampu ngekspor, harus skala besar banget dan kita belum sanggup,” lanjutnya lagi.
Ia juga menganggap bahwa acara-acara seperti pameran Inacraft ini sangat baik untuk mendukung usahanya. “Yang sering-sering saja kayak gini,” tutupnya.
Sumber : wirasmada.wordpress.com

Senin, 04 Februari 2013

Pengusaha Sukses Pembuat Mie Semarang


Siapa yang tidak mengenal mie ayam? makanan yang identik dengan masakan oriental ini banyak kita jumpai di setiap wilayah. Mie sendiri dapat diolah dengan beragam variasi. Ada yang menggunakan ayam, pangsit dan jamur, bahkan ada juga yang menggabungkan semua itu. Pak Toman (47 th) adalah salah satu pengusaha sukses pembuat mie di Semarang. 

Berawal dari kesukaannya terhadap mie ayam, Pak Toman mencoba berwiraswasta dengan menjual mie ayam keliling pada saat itu. Hari ke hari dia lewati dengan berjalan melewati komplek perumahan dengan sebuah gerobak. Berkat usaha yang tidak kenal menyerah saat itu, Pak Toman mampu mengembangkan sayap. Tak tanggung- tanggung Pak Toman juga menjadi produsen bahan baku mie yang dipergunakan untuk mie ayam. Karena kualitas produk mie buatan Pak Toman yang sangat bagus, tak butuh waktu lama untuk Pak Toman menjadi produsen mie yang cukup terkenal di wilayah Semarang dan sekitarnya. 

Dengan Bendera perusahaan Mie “Resmi” Pak Toman melayani para pelanggannya yang merupakan para pedagang mie ayam wilayah Semarang dan sekitarnya. Pak Toman sendiri biasanya menghabiskan banyak tepung per harinya. Dengan jumlah pegawai pembuat mie sebanyak 9 orang, Pak Toman mampu menghasilkan lebih dari 300 kantung plastik mie per harinya. Rahasia dari kesuksesan produksi mie Pak Toman sendiri adalah tepung terigu produksi PT. SRIBOGA RATURAYA. 

PT. Sriboga memproduksi tepung yang beraneka ragam jenisnya. Untuk tiap tepung terigu Produksi Sriboga mempunyai beberapa keistimewaan. Seperti yang digunakan Pak Toman adalah produk dari PT. Sriboga yang bermerk “Tali Emas”. Keunggulan dari produk ini adalah tepungnya menyerap air lebih banyak, dibandingkan dengan tepung terigu lainnya. Mie dari hasil produk ini juga tidak lengket, sehingga mudah diolah. Dan kualitas dari produk Tali Emas itu tak perlu diragukan lagi, Pak Toman sudah membuktikannya dengan mie buatannya. 

Selain menjadi produsen mie, kini Pak Toman juga mempunyai beberapa agen penjual mie ayam gerobak berjumlah 700 pedagang. Pak Toman juga membuat gerobak beserta kompor untuk para pelanggannya, sehingga sangat membantu para pelanggannya agar usahanya bisa lebih maju. Dengan cara ini para pelanggannya merasa diperhatikan oleh Pak Toman.Pak Toman sendiri juga mengakui hubungannya dengan PT. Sriboga memang terjalin sangat harmonis. Menurutnya, para personel Sales dan Marketingnya ramah dan selalu siap menangani keluhan para konsumennya, juga tak segan – segan membantu memberikan arahan yang positif untuk kemajuan usaha Pak Toman.

Selain mendapat tanggapan yang baik dari masyarakat dan para agen mienya, Pak Toman juga menjadi langganan Gubernur Jawa Tengah, Bapak Bibit Waluyo. Hal itu tidak lepas dari peran PT. Sriboga, di mana pada saat itu Bapak Gubernur meminta PT. Sriboga untuk menampilkan salah satu anggota UKM binaannya pada saat Beliau mengadakan acara. PT. Sriboga lalu memilih Bapak Toman untuk menyediakan mie ayam dan mie ayam jamur di acara Beliau tersebut. Berawal dari situlah, Mie ayam Pak Toman dikenal oleh Bapak Bibit Waluyo. Sudah 3 kali Pak Toman diundang oleh orang nomer satu di Jawa Tengah tersebut untuk menjamu tamu- tamunya. Dan dari setiap kali permintaan selalu ada peningkatan kuantitas ordernya. Bahkan Pak Bibit tak segan-segan mempromosikan mie Pak Toman kepada para staff dan relasi kerjanya. 

Berkat usaha gigih Pak Toman berjualan mie ayam dan pengolahan mie nya yang sangat istimewa, Pak Bibit pun memberikan jempol untuk Pak Toman.Selain mie ayam milik Pak Toman para pedagang mie ayam yang membeli mie mentah dari perusahaan Pak Toman juga mengungkapkan berkat mie buatan Pak Toman mie ayam mereka menjadi laris manis dan juga mempunyai banyak pelanggan tetap. 

Berkat Usaha yang dijalaninya saat ini Pak Toman mampu menyekolahkan anaknya hingga jenjang perguruan tinggi. Tidak hanya itu saja, kini Pak Toman juga sudah mempunyai gudang penyimpanan Tali Emasnya sendiri. Dan saat ini Pak Toman juga sedang berencana membuka pengolahan mie di Salatiga. Dua jempol untuk Pak Toman!

Sumber : sriboga-flourmill.com

Sukses Matt Mickiewicz


Matt Mickiewicz adalah pendiri dari salah satu komunitas online terbesar di dunia untuk berbagi informasi yaitu SitePoint.com,salah satu forum online tertua yang berbasis di Melbourne. Ia juga mendirikan sebuah website yang bertujuan sebagai tempat pelelangan website di seluruh dunia, Flippa.com. 

Tidak hanya sampai disitu, ia juga mendirikan sebuah platform online bernama 99Designs.com khusus untuk para desainer yang bergerak pada ribuan usaha kecil serta nama-nama merek terkenal termasuk Dish Networks, Adidas, TiVo, Wikipedia dan banyak lagi.

Seperti biasa Gelora Sriwijaya akan membagikan cerita kehidupan dan awal perjuangan kesuksesan seorang tokoh yang dianggap berpengaruh saat ini. Berikut adalah kisah sukses luar biasa Matt Mickiwiez seperti dilansri oleh Entrepreneur Success Stories.

Karir kewirausahaan Matt dimulai saat usia 15 ketika ia berhasil menyelesaikan kesepakatan periklanan senilai $10.000. Dia membeli BMW pertamanya bahkan sebelum ia berusia 17 dan saat itu ia masih sekolah.

Matt Mickiewicz masih berusia sangat muda. Ia kemudian meluncurkan Webmaster-Resources.com pada tahun 1999 untuk mendidik web developer dan membantu mereka membangun bisnis mereka ketika berusia 14 tahun!

Ia lalu bermitra dengan seorang ahli pemasaran dari Australia, kemudian Matt kembali meluncurkan situs bernama Sitepoint.com pada tahun 2000, yang dengan cepat tumbuh menjadi sebuah perusahaan multi-juta dolar yang menguntungkan tanpa modal dana dari luar. Situs itu saat ini berada di peringkat # 1000-an di dunia dalam hal kunjungan web secara keseluruhan menurut Alexa peringkat web, tapi itu hanya sebagian kecil dari apa yang dia kerjakan hari ini.

Mickiewicz hampir selesai sekolah tinggi saat dia sudah menghasilkan uang lebih banyak dari gurunya. Tidak puas dengan Sitepoint, dia lalu mendirikan dua situs yang sangat menguntungkan lewat 99designs.com dan Flippa.com. Tiga situs itu bila dikombinasikan memiliki pendapatan sekitar $20 juta. Dengan bunga yang dimiliki oleh tiap bisnis dalam satu tahun terakhir, perkiraan konservatif dikombinasikan untuk nilai ketiga perusahaan ini adalah sekitar $ 100 juta.

Pada kuartal pertama tahun 2011, Matt kembali meluncurkan situs baru yang diberi nama Learnable.com. Di situs ini Mickiewicz berbagi wawasan yang unik saat ia menjadi seorang pengusaha muda, mengapa sekolah bisnis bukan untuk semua orang dan kegembiraannya mengenai masalah perusahaan start-up saat ini.

DI Tahun 2008, kala ia telah memainkan peran aktif dalam mempromosikan 99designs, dan telah berhasil membangun pasar menjadi #1 online untuk desain grafis crowdsourced. Dalam waktu kurang dari 4 tahun, 99designs telah membayar lebih dari $ 30 juta untuk desainernya. Pada tahun 2010, perusahaan ini dianugerahi Webby People’s Voice Award sebagai ' Best Web Service & Application' tahun ini.

Pada Juni 2009, Matt Mickiewicz dan mitra usahanya Mark Harbottle mendirikan Flippa.com yang menjual lebih dari $ 3 juta nilai dari situs dan domain setiap bulannya. Saat ini, Flippa berada di peringkat # 1 sebagai pasar untuk membeli dan menjual website.

Mickiewicz sekarang menjadi inspirasi untuk webmaster di seluruh dunia. Websitenya, Sitepoint.com telah membantu webmaster untuk belajar tentang web, cara menjual, membeli buku atau belajar coding dan membuat latar belakang twitter.

Sarannya kepada pengusaha muda, "Orang yang mengatakan bahwa modal besar diperlukan untuk mencetak banyak uang adalah orang bodoh yang mencari-cari alasan. Buatlah sesuatu yang bernilai, suatu solusi yang belum pernah ada sebelumnya.

Sumber : bersodagembira.blogspot.com

Melestarikan Jajanan Pasar


Terkadang untuk merintis sebuah usaha, kita bisa memulainya dari hal-hal kecil yang ada di sekitar kita. Ide inilah yang kemudian diangkat oleh Glenn Ardiansyah (39) untuk menciptakan produk unik dan lucu dari tokoh kartun jajanan pasar.

Seperti kita ketahui bersama, Indonesia memiliki beragam jenis kuliner jajanan pasar yang tampilannya cukup unik dan menarik. Potensi inilah yang kemudian sengaja diangkat oleh Glenn agar keberadaan kue-kue tradisional Indonesia terus dikenal seluruh lapisan masyarakat di negara kita.

Melihat bentuk jajanan pasar di Indonesia cukup beragam, Glenn memiliki ide segar untuk memperkenalkan aneka macam karakter atau tokoh kartun Japarr yang diangkat dari kuliner jajajan pasar yang ada di sekitarnya. Sebut saja seperti karakter gethuk, cenil, onde-onde, lemper, moci, kue kukus, nagasari, klepon, clorot, apem, dadar gulung, serta kue jajanan pasar lainnya yang digambarkan Glenn dengan karakter lucu dan juga unik.

Mengawali bisnisnya pada tahun 2011 di Pamulang, Tangerang Selatan, suami Edya Asmara ini kemudian mengaplikasikan tokoh kartun Japarr (jajanan pasar) yang Ia ciptakan menjadi beragam jenis pilihan produk. Misalnya saja seperti boneka jajanan pasar dan kaos japarr yang pemasarannya kini telah menjangkau berbagai daerah di Indonesia.

Dibawah bendera Rumah Jajanan Pasar, siapa sangka bila ide bisnis yang berawal dari keprihatinan Glenn melihat popularitas kue tradisional yang belakangan ini kalah bersaing dengan beragam jenis menu kuliner modern ini, ternyata berhasil mendatangkan omzet ratusan juta rupiah bagi sang pemilik usaha setiap bulannya.

Pengalamannya selama kurang lebih 10 tahun bekerja di jasa penyedia desain grafis, menjadi bekal utama Glenn Ardiansyah sebelum akhirnya sukses terjun menekuni bisnis kreatif ini. Meskipun latar belakang pendidikan yang Ia miliki tidak sejalan dengan bidang usaha yang Ia jalani, namun Glenn memiliki pengalaman yang cukup matang sehingga mengantarkan dirinya menuju pintu gerbang kesuksesan.

Saat ini sudah ada belasan reseller di sekitar Jabodetabek yang membantu memasarkan produk-produk Japarr. Kedepannya, Glenn berencana akan mengembangkan bisnisnya dengan sistem waralaba agar bisa berekspansi ke pasar nasional maupun internasional.

Kesuksesan Glenn Ardiansyah yang diawali dari sebuah ide kecil di sekitarnya, tentu bisa menjadi inspirasi bagi kita semua untuk segera terjun di dunia usaha. Semoga kisah sukses Glenn yang mendapatkann untung besar dengan melestarikan jajanan pasar ini bisa memotivasi para pembaca untuk segera terjun di dunia usaha dan menginspirasi para pemula untuk lebih kreatif dalam menciptakan hasil karya.

Sumber : bisnisukm.com

Meraih Sukses Dari Warteg


Pemilik warung tegal (warteg) meraih sukses selama merantau di Jakarta memang bukan hal yang baru. Pasalnya, hampir tiap lebaran mereka pulang kampung sembari membawa simbol-simbol kemewahan untuk ukuran desa atau kelurahan seperti mobil mewah dan segepok uang.

Namun, siapa sangka bahwa kesuksesan itu mereka raih dengan keringat dan perjuangan yang panjang.
”Ya biasa, orang melihat kami ini berhasil dari sisi usaha, tapi lihat saja 20 tahun lalu, kami hidup untuk makan saja sulitnya minta ampun,” tutur H Karjo (53), warga Kelurahan Kalinyamat Kulon, Margadana, Kota Tegal.

Ya, boleh jadi pandangan sebagian kalangan bahwa pemilik warteg itu dibilang sukses memang tidak semua keliru. Suara Merdeka ketika bertandang ke rumah H Karjo sempat melihat, kendati dari bagian depan tampak sederhana, di garasi rumah terdapat mobil jenis Kijang berjejer. Apalagi, dia kini sedang membangun rumah senilai hampir Rp 1 miliar.

Konon, menurut keterangan saudaranya, H Asmawi Azis yang merupakan tokoh masyarakat setempat, dia kini sedang membangun rumah untuk enam anaknya. Tentu saja rumah yang dibangun mencapai miliaran rupiah. Hal itu juga dikuatkan oleh rencana dia seusai Lebaran ini memenuhi nazarnya menanggap wayang golek dengan dalang terkenal Ki Enthus Susmono.

”Sudah, baru saja, dan itu untuk memenuhi nazarnya karena sudah selesai membangunkan rumah untuk enam anaknya. Jadi, dia merasa tidak memiliki beban lagi,” kata Asmawi. Benarkan demikian? H Karjo yang didampingi istrinya, Hj Siti Fatimah (44), kelihatan tidak ingin melebih-lebihkan. Kendati demikian, dia mengakui kehidupannya sekarang lebih ringan, tidak punya beban yang terlalu berat.

Dengan balutan sarung dan kaus oblong, dia lebih suka berbicara tentang kisah masa lalunya. Seingat dia, kali pertama menapakkan kaki di Jakarta pada tahun 1972 dalam rangka merintis usaha warteg harus dia awali dengan menjadi pedagang asongan.

”Kalau boleh dibilang, banyak dukanya pada saat itu. Apalagi setelah menjadi pedagang asongan, saya ngenger (ikut) di tempat usaha warteg orang lain. Ketika itu, saya hanya dibayar Rp 60.000/ bulan. Bahkan, kadang hanya dibayar jam tangan dan topi laken. Itu saja senangnya minta ampun,” kenang dia.

Hidup merantau itu dia jalani hingga tahun 1985. Dia kemudian banting setir, bersama istrinya mendirikan warteg kecil-kecilan di wilayah Glodok, Jakarta Barat.

”Ya, kami waktu itu biasa tidur menyatu dengan dapur. Bahkan, kalau mau tidur harus mematikan kompor dulu karena lantainya panas. Itu pun warungnya kontrak Rp 60.000 /tahun. Sekarang sampai Rp 9 juta,” ujarnya.

Kondisi tersebut dia jalani dari waktu ke waktu. Suka duka menjadi pengusaha warteg telah cukup untuk menjadi bekal mengembangkan usahanya hingga sekarang. Dengan modal ketekunan, H Karjo kini memiliki tiga warung yang cukup besar, satu di daerah Kemurnian, Jakarta Barat, dua warung di Glodok.

”Ya, alhamdulillah. Berkat karunia Allah, usaha saya sekarang cukup baik. Kadang-kadang artis juga sempat mampir ke warung saya. Misalnya Taufik Savalas, Mpok Atik, dan Gogon. Yang penting, prinsip kerja yang baik dan halal,” tutur bapak dari enam putra itu. Musim Lebaran bagi H Karjo sekeluarga merupakan waktu yang tepat untuk berkumpul bersama keluarga di kampung.

”Ya, beginilah kondisinya. Namanya saja orang merantau, bisa ngumpul keluarga hanya saat Lebaran seperti sekarang ini,” ungkapnya. Cerita sukses H Karjo juga dialami oleh beberapa pemilik warteg lain. Seperti tetangganya, H Casmadi, yang kini akan membantu membiayai pendirian masjid dan memberi bantuan kepada 500 santri dari keluarga tidak mampu.

Sumber : warisancoetomocoid.wordpress.com

Bisnis Kebaya


Ketika banyak orang memodifikasi kebaya menjadi sangat modern, Henny Hasyim justru berjibaku mencari peninggalan leluhur itu ke segala pelosok negeri. Dia pun membuat duplikatnya dengan kualitas kain dan bordiran yang nyaris sama dengan aslinya.

Mesin bordir yang digunakan pun masih model lama, yakni mesin pancal yang dioperasikan dengan kaki, tanpa dinamo. Bordir kerancang dengan jarum halus yang menyatu dengan kain. Jadi, bukan guntingan apalagi tempelan.

Hasilnya, bordiran halus menggurat kain dan membentuk lubang motif yang rapi dan sangat memesona. Selain itu, ada pula bordiran bunga dan motif klasik lain tanpa kerancang. Semuanya membentuk kebaya encim motif kuno yang klasik dan digarap oleh sekitar 40 perajin yang seluruhnya tinggal di Sidoarjo, Jawa Timur.

Desain warna dan motif kebaya encim kuno Indonesia indah sekali. Menurut pengusaha perempuan ini, warna dan motif kebaya encim kuno lokal sangat beda dengan kebaya encim Malaysia ataupun Singapura karena kuno lokal ada ciri khasnya, lebih simpel dan kecil-kecil, tetapi justru memancarkan keagungan ketika dipakai.

”Pengerjaan kebaya dengan mesin saat ini jarang bisa menyamai kebaya zaman dulu. Jadi, saya tertantang untuk membuat yang sama sekaligus melestarikan budaya,” kata Henny yang mulai mengumpulkan kebaya lawas sejak lima tahun terakhir ini.

Kebaya-kebaya antik ini diperoleh dari mana-mana. Hasil berburu ke pasar loak atau pemberian konsumen yang puas dengan karya Henny. Bahkan, ada generasi kedua atau ketiga dari pemilik kebaya encim membawa peninggalan itu kepada Henny untuk diduplikasi. ”Ada saja yang datang membawa kebaya encim dalam kondisi sudah robek dan meminta dibuat duplikasi sebagai kenang-kenangan. Saya anggap tantangan apalagi kalau hasilnya bisa mirip dan konsumen senang,” ujarnya.

Jadi, karena kebaya encim yang diberikan sudah tua, kondisinya pun kerap kali sudah rapuh dan mulai sobek, sehingga membutuhkan ketelatenan untuk mengembalikan ke bentuk asli agar mudah diduplikasi pada kain baru.

Henny yang pumya nama asli Zakiyah Handayani (47) dan pernah menjadi presenter di TVRI Surabaya ini sempat menunjukkan sekitar 100 koleksi kebaya lawasnya. Sebagian berupa kebaya renda yang diyakini hasil akulturasi dengan budaya Eropa.

Biasanya kata ibu dari Nafis Arrozani (25), Nabilah Arrozini (21) dan Raisa Chilmina Arrosyada (13) ini, kebaya yang baru diperoleh segera dicuci dan dikanji. Dengan demikian, kebaya lebih awet kendati tampak kaku. Setelah dikanji, proses duplikasi yang rumit dimulai.

Kain yang cocok harus dicari dulu sebelum pembordiran dikerjakan. Lama pengerjaan untuk selembar kebaya encim minimal satu minggu hingga berbulan-bulan, bergantung pada kerumitan dari bordir. Waktu penggarapan yang begitu lama, menjadi salah satu faktor Henny tidak bisa memasang target produksi. Maksimal ia hanya bisa menghasilkan 40 lembar kebaya per bulan.

”Menggarap bordir tidak mudah, butuh kesabaran dan ketelatenan, apalagi masih menggunakan mesin tempo dulu. Hasilnya harus benar-benar nyaris seperti aslinya. Kendala utama tidak banyak perajin yang bisa mengoperasikan mesin bordir peninggalan tempo dulu,” kata Henny yang membuka ruang pamer dan bengkel kerja di rumahnya di kawasan Serujo, Sidoarjo, Jatim.

Kebaya bordir yang umumnya menggunakan kain voile, paris, katun, dan sutra itu dipasarkan dengan merek Nabilah Bordir ke Bali, Jakarta, dan Surabaya. Sebagian karyanya bahkan sudah menjajal pasar untuk konsumen di Jerman, Belanda, Jepang, dan Amerika. Harga hasil karya Henny bersama perajin bervariasi mulai Rp 500.000 sampai Rp 3 juta.

Promosi kain bordir tidak dilakukan khusus, tetapi sering ditampilkan pada acara-acara budaya baik di Surabaya, dan beberapa kota lain. Upaya lain memperkenalkan karyanya melalui situs web Nabilahbordir.com.

Di Surabaya, misalnya, karya Henny sempat dipamerkan pada Pasar Malam Tjap Toendjoengan tahun 2009 dan 2010, oleh para model dengan memperagakan kebaya encim kepada pengunjung yang menikmati makanan tradisional dan suasana Surabaya dulu.

Selain hadir dalam pameran komunitas pencinta batik dan kain Nusantara, Henny pernah berpameran tunggal di Hotel Majapahit, Surabaya. Berbagai kebaya encim, sebutan untuk perempuan peranakan Tionghoa setelah menikah, yang dahulu identik dengan baju kaum ibu, ditampilkan dengan gaya lebih muda. Motif dan warna dibuat kian beragam meski tetap menggunakan bordir sulam ataupun bordir kerancang.

Kebaya encim tak lagi hanya cocok untuk kaum ibu yang sudah tua, tetapi bisa dikenakan semua kalangan dan tidak mengenal waktu. ”Saya buat busana model kebaya encim dari kain katun sehingga pantas dipakai sehari-hari dan mulai banyak peminatnya, baik mahasiswi maupun karyawati,” katanya.

Padahal, kata Henny, corak kebaya encim yang ditampilkan biasanya sudah berumur di atas 50 tahun, bahkan ada replika batik encim usia 100 tahun. Kalau ditampilkan yang asli jelas tidak mungkin karena kondisinya sudah sobek di sana-sini sehingga perlu duplikasi.

Dia pun tidak berhenti pada bordir, empat tahun terakhir ini, istri dari Hasyim Rosyidi (54) ini membagikan keterampilannya membuat kain ikat celup kepada masyarakat di seluruh Surabaya dan 16 kota di Jawa Timur.

Terkadang, para perajin yang didukung badan usaha milik negara (BUMN), instansi pemerintah, perusahaan swasta dan lembaga swadaya masyarakat (LSM), ataupun perkumpulan dari sejumlah daerah datang mempelajari beragam teknik ikat celup.

Di tengah kesibukannya menggarap pesanan dari sejumlah penjuru kota dan negara, Henny masih harus berbagi ilmu soal bordir dan teknis pewarnaan pada kain ke beberapa kota di Indonesia. Dia juga tetap membagi waktu untuk menulis buku.

Sumber : female.kompas.com

Inovasi Kain Jumputan


Selama 31 tahun, pasangan Bakarudin (65) dan Siti Supairoh (50) bergelut sebagai perajin kain tradisional jumputan khas Palembang. Jatuh bangun mereka alami berulang-ulang. Kesetiaan mereka untuk berinovasi menjadi modal mereka bertahan dari persaingan yang ketat dengan kain modern. 

Bakarudin dan Siti Supairoh memulai usaha kerajinan kain jumputan saat mereka masih pengantin baru pada 1982. Awalnya, pasangan itu adalah pekerja pengusaha kain jumputan yang telah lama ada di Palembang. ”Setelah mengumpulkan modal dan belajar tekniknya, kami memberanikan diri untuk usaha sendiri,” katanya, di Palembang, Sumatera Selatan, Minggu (20/1/2013).

Dari Lorong Pisang, sebuah gang kecil di pinggiran Palembang, pasangan asal Serang, Jawa Barat, ini memulai usaha rumahannya. Saat itu, bisa dibilang belum ada persaingan untuk kerajinan tradisional kain jumputan Palembang. Di Lorong Pisang, yang menjadi sentra kerajinan kain jumputan di Palembang itu, baru ada sekitar lima perajin yang memproduksi kain itu.

Harganya pun terbilang masih tinggi dengan kualitas tinggi. Kain jumputan pada era sebelum 1990 dibuat dari bahan sutra alami dengan pewarna dari kulit rambutan, tanah, ataupun dedaunan. Kain biasa dijual dalam kemasan satu set yang terdiri atas kain untuk baju dan kain selendang. Pada 1990, harganya sekitar Rp 200.000 untuk 3 meter kain.

Pembuatan kain jumputan seluruhnya dilakukan secara manual, mulai dari melukis motif, menjahit jumputan, hingga mencelup warna. Untuk penyelesaian satu kain dibutuhkan waktu sekitar sepekan. Pembuatan kain jumputan Palembang tidak melewati teknik melapisi lilin, seperti dijumpai pada jumputan batik.

Motif kain jumputan Palembang pun lebih berani dengan dua atau tiga warna kuat yang umumnya dominan merah, hijau, dan kuning. Sejumlah motif tradisional di antaranya titik tujuh, kacang ijo, dan sasirangan.

Bakarudin pun pergi ke Yogyakarta dan Solo sebagai pusat kerajinan kain batik untuk memelajari teknik dan motif baru yang mungkin dikembangkan di kain jumputan. Perjalanan belajar ini di antaranya juga difasilitasi Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi Kota Palembang. ”Beberapa hasil pemelajaran bisa diterapkan untuk mengembangkan kain jumputan,” katanya.

Seiring zaman, pasangan perajin itu mengganti bahan dasar dengan kain sutra sintetis dan pewarna kimia. Hal ini karena bahan alami yang semakin mahal dan sulit dicari. Sepanjang waktu itu, jumlah perajin kain jumputan di Lorong Pisang terus bertambah hingga mencapai belasan usaha kerajinan rumahan. Persaingan semakin ketat sehingga harga terpaksa ditekan. Penggantian bahan baku juga dimaksudkan untuk menekan harga sehingga terjangkau masyarakat luas.

Usaha pasangan ini mencatat sukses pada sekitar 1995. Saat itu, mereka sampai mempunyai 15 karyawan untuk memenuhi pesanan. Namun, pada awal 2002, badai menerpa. Harga bahan baku meroket hingga 1,5 kali lipat. Bahan sutra sintetis naik dari Rp 9.000 per meter menjadi Rp 15.000 per meter. ”Kami merugi besar-besaran. Kios terpaksa dilepas, para pekerja dihentikan semua,” ujarnya.

Bakarudin dan Siti banting setir menjadi perajin batik. Namun, usaha ini hanya berjalan setahun. Tingginya persaingan dengan kain batik dari Jawa membuat usaha batik dari Palembang sulit bertahan.

Modal dan inovasi
Setelah mencari modal ke sana ke mari, Bakarudin dan Siti kembali merintis kain jumputan. Tahun 2010, usaha ini mulai bangkit kembali. Kebangkitan kain jumputan tak lepas dari peran para desainer busana yang menggunakan kain jumputan dalam rancangannya dan mempromosikan di tingkat nasional. Salah satunya adalah pengembangan kain jumputan bermotif pelangi yang dikenal dengan nama ”kain pelangi”.

Namun, persaingan pun semakin ketat. Kain-kain tradisional tetapi modern menyerbu pasar. Kain-kain yang bermotif tradisional, tetapi dengan teknik pembuatan modern itu dibuat secara massal dengan harga lebih murah sehingga menjadi saingan berat bagi perajin kain tradisional.

Bakarudin dan Siti pun harus memutar otak agar produknya selamat di pasaran. Selain menjaga kualitas, mereka terus berinovasi sehingga produknya terus diminati masyarakat. Salah satunya adalah menyiasati sehingga harga terjangkau menjadi Rp 50.000 untuk selendang, dan Rp 150.000 untuk kain ukuran 5 meter. ”Keuntungan per set memang jauh lebih rendah dari sebelumnya, tetapi asal sekarang banyak yang terjual, keuntungan total diharap bisa lebih tinggi,” kata Siti.

Di bidang motif, mereka mengembangkan motif gradasi dengan warna-warna yang digemari anak muda. Mereka juga tidak hanya membuat kain jumputan pada sutra pelangi, tetapi juga pada kain katun, kain tenun alat tenun bukan mesin, dan kain gamis.

Ukuran kain pun kini dibuat beragam tak hanya satu set kain yang harganya mahal. Mereka mulai membuat ukuran selendang dan kerudung yang digemari generasi muda. Upaya ini berhasil. Omzet mereka terus meningkat hingga kini sekitar 1.000 lembar kain jumputan sebulan.

Kain jumputan dari Lorong Pisang mampu menembus pusat-pusat perbelanjaan modern hingga ke butik-butik dan toko cendera mata terkemuka di Palembang. Selain menjual ke pasar lokal, Bakarudin dan Siti juga mulai mengirim kain jumputan ke Bali sekitar 200 lembar sebulan. ”Saat ini lumayan maju, pekerja kami sudah 10 orang,” kata Siti.

Awal tahun 2013, pasangan ini juga memperoleh suntikan modal dari pinjaman lunak sebesar Rp 30 juta dari program kemitraan bina lingkungan PT Semen Baturaja. Pinjaman berbunga rendah ini sangat mereka butuhkan untuk pengembangan usaha.

Dalam persaingan yang kian ketat saat ini, usaha kain jumputan Bakarudin dan Siti terlihat menjanjikan. Pengalaman jatuh bangun 31 tahun menggeluti kain jumputan membuat mereka tahan banting.

Sumber : female.kompas.com