Selasa, 05 Februari 2013

Melia Laundry


Gaya hidup masyarakat perkotaan yang memiliki rutinitas harian cukup tinggi membuat kebutuhan akan jasa laundry semakin hari kian diminati. Budaya inilah yang telah dilihat Fen Saparati sejak tahun 1996. Ketika pelaku bisnis lainnya belum melirik jasa laundry sebagai ladang bisnis yang cukup menguntungkan, lelaki asli Yogyakarta ini memutuskan untuk keluar dari zona aman dengan mundur dari pekerjaannya saat itu (staff keuangan di pabrik Semen Gresik) beralih menjadi seorang pengusaha bisnis laundry. Meskipun keputusannya mundur dari pekerjaan tersebut tidak disetujui oleh keluarganya, namun tidak mengurungkan niat Fen untuk terjun di dunia usaha.

Dengan bermodalkan uang hasil penjualan rumahnya yang ada di Jakarta, Fen memulai suksesnya dengan mendirikan Melia Laundry & Dry Cleaning pada tanggal 9 Maret 1996 di kota Yogyakarta. Menempati lokasi usaha yang saat itu sangat sederhana, Fen sengaja memilih “Melia” sebagai brand bisnisnya karena kata tersebut memiliki arti mengalir. Harapan Fen kelak bisnisnya dapat mengalir tanpa hambatan apapun seperti halnya arti dari kata Melia yang dipilihnya.

Perjalanan Bisnis Melia Laundry & Dry Cleaning
Awalnya Fen cukup kesulitan dalam mengembangkan bisnisnya, mengingat pada waktu itu (tahun 1996) jasa laundry masih belum dikenal masyarakat Jogja. Bahkan setelah tiga bulan membuka usaha laundry, Fen belum juga mendapatkan konsumen. Sehingga Fen harus berusaha keras mengenalkan “apa itu jasa laundry” kepada para calon konsumennya. Kondisi ini ternyata tidak membuat Fen Saparati menyerah dalam mewujudkan mimpinya.

Untuk mengenalkan apa itu laundry, Ia sengaja menyewa lokasi usaha di depan supermarket Hero untuk membuka counter jasa laundry. Dari situ masyarakat lambat laun mulai mengerti manfaat jasa laundry yang sebenarnya. Dan perlahan bisnisnya pun mulai didatangi para konsumen yang membutuhkan jasa binatu untuk mencuci baju-baju kotor mereka.

Dengan membidik konsumen kelas atas, Melia Laundry berusaha memberikan pelayanan yang eksklusif bagi setiap konsumennya. Sehingga tidak heran bila persaingan bisnis laundry yang kini semakin padat, tidak begitu berpengaruh bagi bisnis Fen. Ia senantiasa berusaha membangun loyalitas konsumennya dengan memberikan pelayanan terbaik bagi mereka. Bahkan setelah permintaan pasar semakin tinggi, Fen memberanikan diri memperluas pasar dengan membuka kemitraan (franchise laundry) setelah 8 tahun melewati pasang surut perjalanan usaha.

Kini dengan sistem kemitraan yang ditawarkan, Melia Laundry telah berkembang hingga 42 gerai yang tersebar hampir di seluruh Indonesia. Meliputi daerah Yogyakarta, Semarang, Jakarta, Cirebon, Makassar, Bireuen Aceh, Bengkalis Riau, Bali, Jambi, Medan, Padang, Surabaya, Samarinda, Bekasi, Banjarmasin, Kendari, Cepu, Bogor, Pasuruan, Pekanbaru, Balikpapan, Magelang, Palangkaraya, Ambon, dll.

Konsep franchise yang matang dan manajemen modern yang diterapkan Fen menjadi kunci sukses Melia Laundry & Dry Cleaning dalam menguasai pasar di bisnis binatu. Berkat kegigihannya dalam membangun usaha, kini tidak hanya puluhan workshop dan ratusan counter saja yang berhasil dimiliki Fen Saparati. Segudang prestasi dan penghargaan entrepreneur sukses juga pernah diterima lelaki paruh baya ini  dari bisnis franchise laundry yang dikembangkannya.

Sumber : mansaba.sch.id

Toko Online


Siapa bilang berbisnis online belum bisa memberikan hasil melimpah ?

Beberapa wirausaha muda dari Tanah Abang sudah membuktikan!

Walaupun secara umum masyarakat Indonesia belum siap melakukan transaksi online, mereka sukses menjalankan bisnis via Internet . Mereka berdagang barang grosiran lewat Internet. Kiprah mereka, misalnya, bisa kita temukan di situs-situs e-commerce milik wirausaha muda asal Tanah Abang itu, antara lain www.manetvision.com ,www.grosirtanahabang.com, www.tanah-abang.com.

Lihatlah kiprah Badroni Yuzirman, pemilik situs www.manetvision.com dan pengelola situs komunitas TDA (www.tangandiatas.com). Badroni yang menjual baju Muslimah dan perlengkapan interior — seperti taplak meja dan gorden — dulu sempat punya kios di Blok A Tanah Abang dan dipindahkan ke Blok F yang sepi. Omsetnya menurun dan ia berkesimpulan, bisnisnya tak bisa berkembang jika hanya mengandalkan kios. Akhirnya Maret 2004, Roni — panggilan akrabnya — memutuskan hengkang dari Pasar Tanah Abang dan serius di bisnis grosir online yang sebenarnya sempat ia buka setahun sebelumnya.

Awalnya, Badroni sempat ragu, bisa sukseskah bisnis e-commerce-nya ini mengingat yang dijualnya adalah baju Muslimah. Maklum, kebanyakan pengakses Internet di Indonesia adalah laki-laki. Ternyata, respons pasar cukup lumayan. Walau benar kebanyakan netter adalah lelaki, tetapi ada kecenderungan mereka memesankan baju buat istri atau kerabat. Ia mencatat, kota-kota di pedalaman yang punya akses Internet, seperti Bontang, Sangatta, Muara Enim dan Tembaga Pura (kawasan Freeport), merupakan asal pembeli barang dagangannya.

Kemudian, setelah awalnya situs online-nya hanya dianggap sebagai penunjang kios, lama-kelamaan omset toko online ini malah menyaingi omset kios. Tak mengherankan, ia pun makin menekuni dunia online-nya. “Dari satu kali transaksi saja sudah ketutup biaya hosting dan domain yang Rp 500 ribuan itu,” ujar Badroni. Menurutnya, ini berbeda jauh dari kiosnya yang harus sewa dua tahun ke depan dengan harga Rp 200 juta/tahun/kios – dan angka sebesar ini belum termasuk modal kerja, iuran dan stok barang.

Kini, situs e-commerce-nya, ManetVision.com, tetap fokus menjual busana Muslimah dan interior rumah. Busana Muslimah yang dijual antara lain gamis, setelan, blus, blus rajut dan jilbab, sementara bahan interior rumah yang dijual adalah sarung bantal kursi dan taplak meja. Saat awal diluncurkan Manetvision hanya berkapasitas konten 25 MB, sekarang diperbesar menjadi 100 MB. Cara order di ManetVision cukup mudah, yakni bisa lewat telepon, faksimile, SMS atau e-mail. Syarat minimum order pertama Rp 500 ribu — sesudah diskon — atau Rp 250 ribu untuk paket promo, dan ongkos kirim 100% ditanggung pembeli. “Saya cukup terbantu, hanya dengan melihat katalog di situs tersebut, saya bisa pesan sesuai dengan keinginan,” ujar Susi Neliyanti, Agen ManetVision di Palembang yang biasa mengorder barang secara online.

Tiap bulan, situs ManetVision.com dikunjungi 500-1.000 pengakses, dan rata-rata 20%-nya mengorder. Konsumen ManetVision kebanyakan justru bukan dari Pulau Jawa, melainkan dari Papua, Sumatera (Lampung), Kalimantan (Banjarmasin), dan lainnya. Perbandingan pembeli dari Jawa dan luar Jawa adalah 20:80. Pembeli dari luar negeri juga ada meski tak banyak, khususnya dari Singapura, Malaysia dan Brunei. Yang menarik, meski kini bisnisnya murni online, penjualannya bisa mengimbangi waktu masih punya kios. Sebulan terjual 5-10 ribu potong busana Muslimah dengan rentang harga Rp 40-500 ribu – barang yang terjual kebanyakan berharga Rp 100-200 ribu. Dan, yang pasti, kini biaya operasional Badroni jauh lebih murah karena ia tak harus sewa kios yang besarnya ratusan juta.

Tak hanya Badroni yang sukses di bisnis grosir online. Contoh lainnya, Hasan Basri (36 tahun), pemilik situs GrosirTanahAbang.com. Hasan sehari-hari sebenarnya bekerja sebagai Manajer Proyek Siemens, tetapi ia tertarik berwirausaha. Maka, ia berpikiran memiliki bisnis sendiri yang tak mengganggu pekerjaan tetapnya. Februari 2006, Hasan dan rekan-rekannya mendirikan GrosirTanahAbang.com. Sebelumnya, ia telah memiliki kios di Metro Tanah Abang (Lantai 4 Blok A/128). Kini tokonya dikelola salah seorang rekan bisnisnya, sedangkan ia dan seorang kawannya yang lain mengelola bisnis online-nya.

Tokonya, baik yang offline maupun online, membidik segmen pedagang grosir daerah. Barang yang dijual adalah jaket (75%), kaus dan kemeja. Semua untuk pria. Harganya bervariasi, dari Rp 24 hingga 85 ribu per potong. Untuk situs e-commerce-nya, ia memilih nama GrosirTanahAbang.com karena ingin mendompleng ketenaran Tanah Abang sebagai pusat grosir murah. Ternyata, bisnis Hasan dkk. berjalan baik dan kini ibarat tinggal memetik buah. Waktu awal berdiri situsnya hanya dikunjungi 20-40 orang per hari, kini minimal 50 orang per hari. “Dari jumlah itu, 15%-nya order. Mereka yang order adalah kalangan agen, jadi belinya partai besar,” kata Hasan. Per bulan, omset Hasan dkk. bisa mencapai 60 lusin. Berapa rupiah yang diperolehnya? Pokoknya, menurut Hasan, tiap bulan jatah bagi hasil bersih untuk masing-masing pengelola bisa di atas belasan juta rupiah.

Hasil itu tentu amat menarik karena modal awal untuk membuka toko online diakui Hasan hanya kecil. Untuk menyewa nama domain situs, cukup Rp 150 ribu/tahun. Adapun hosting-nya Rp 50 ribu/bulan untuk kapasitas 100 MB. Jauh selisihnya dari modal yang ditanam di toko offline-nya. Meski tidak membayar pegawai toko, rata-rata biaya operasional kios (listrik dan abonemen) per bulan Rp 550 ribu. Hanya saja, Hasan mengakui toko offline-nya tidak ia tutup untuk mengantisipasi pengunjung toko online yang tidak percaya pada kualitas barang.

Nama lain yang juga sukses berdagang grosir via ranah Internet adalah Viriya Jo, pemilik situs Tanah-Abang.com. Situs ini menjual pakaian wanita dari jenis kaus, jaket, manset, rajut, jins, busana Muslim dan baju tidur.

Bila diamati, mereka yang sukses memang menjaga kualitas produk dan delivery-nya, sehingga order via online benar-benar dipenuhi dengan spesifikasi yang diminta. Termasuk, memberikan garansi bila barang kiriman cacat. Selain itu, mereka cukup rajin mempromosikan produk dan situsnya.

Baik Badroni maupun Hasan sering mempromosikan situsnya di milis-milis dan di iklan online gratis, seperti situs Google dan beberapa situs lokal. Pokoknya, setiap ada kesempatan di media online gratis yang menarik untuk beriklan, mereka akan memanfaatkannya. Hasan bahkan juga mempromosikan situsnya di situs berbayar. Dalam berpromosi, ia berprinsip: harus legal, gencar dan konsisten. Maksudnya, legal karena bukan berupa spam, gencar berpromosi di banyak tempat, dan dilakukan konsisten setiap hari. “Rata-rata toko online itu baru dikenal orang setelah kami dua bulan berpromosi. Itu pun belum tentu terjadi pemesanan,” kata Hasan yang kini juga mengembangkan situs Asmat.biz (menjual barang kerajinan suku Asmat) dan Seminar-support.com (jasa pendidikan dan seminar). Ke depan, Hasan berniat menambah lini bisnis online-nya dan akan mengambil grosir komoditas tertentu, seperti sepatu dan aksesori. “Saya sedang berencana membeli domainnya,” ujarnya lagi.

Sumber : amqanet.com

Sukses Andre Valentino


Produk sepatu asli Indonesia “Andre Valentino”, yang mampu memberikan kesan buatan Italia, kewalahan memenuhi permintaan pasar regional Asia dan dalam negeri.

“Perkembangan positif itu bukan hanya oleh faktor nama merek yang mampu memberikan kesan keitali-italian, tetapi lebih karena adanya jaminan kualitas dan model yang mampu memenuhi kebutuhan pasar,” kata General Manager PT Cipta Sumber Sejahtera Marga Singgih.

Produsen sepatu kasual dan resmi buatan tangan asal Tangerang dan kantor di Jakarta itu dihadapkan keterbatasan tenaga perajin yang memerlukan pelatihan bertahun-tahun sehingga tak bisa menaikkan produksi sesuai permintaan pasar.

Marga menjelaskan, usaha tersebut dirintis sejak 1993 dengan langsung mencoba pasar di Singapura. Kemudian merambah Malaysia pada 1995 dan baru dipasarkan untuk segmen kelas atas Indonesia pada 1996. “Awalnya kami hanya membuka toko di Sogo, Jakarta. Kini merambah berbagai kota di Jawa dan Bali hingga Banjarmasin, Balikpapan, Medan, Palembang, dan Bandar Lampung,” ujarnya.

Dia menyebutkan, banyak perusahaan di Indonesia mencoba strategi membangun pasar seperti yang diterapkan Andre Valentino, tetapi gagal karena persaingan pasar di Singapura sangat ketat.

Dengan jaminan kualitas dan model produk terkini, Andre Valentino dikenal dan diminati konsumen Singapura, kemudian Malaysia, dan kini merambahVietnam, Jepang, Kepulauan Mauritius, Korea, Filipina, hingga Hongkong.

Menurut Marga Singgih, perusahaannya mempekerjakan 300 perajin sepatu dengan produksi rata-rata satu pasang per orang atau 300 pasang per hari. Proporsi produknya 65 persen untuk wanita, 25 persen pria, dan hanya 10 persen segmen anak-anak.

Produksi yang dipasarkan di dalam negeri terus meningkat, kini mencapai 8.000 pasang per bulan, dengan harga sekitar Rp 900.000 hingga Rp 1,7 juta per pasang.

Sepatu “Andre Valentino” Rayakan Keberhasilan Di Bali

Keluarga besar perusahaan sepatu Andre Valentino di Jakarta, merayakan keberhasilan merambah pasar berbagai negara atau “go global” dengan mengadakan pertemuan para staf di Bali.

“Staff gathering kami jadwalkan berlangsung tiga hari mulai Jumat (30/7), diikuti oleh sedikitnya 35 karyawan inti dengan mengusung tema We Can Do The Best. Kami ingin menyemangati sekaligus memanjakan mereka,” kata Marga Singgih, General Manager Andre Valentino, Selasa.

Dalam penjelasan yang disampaikan kepada ANTARA di Denpasar, disebutkan bahwa Andre Valentino dengan tagline “Chic & Comfortable” merupakan produk alas kaki Indonesia yang tumbuh dan berkembang pesat di ranah fashion Singapura sejak 1996.

Berkat kerja keras semua jajaran, yang dimotori oleh perintis sekaligus pemilik usaha tersebut, Aulia Singgih, perusahaan itu bisa terus menggurita hingga kini merambah negara-negara di kawasan Asia.

Sepatu dengan target market kelas sosial A itu bisa ditemukan pada lebih dari 60 outlets –butik & counter- yang ada di 13 kota besar di Indonesia. “Produk kami selalu menjadi ‘leader’ dalam disain maupun mutu material kulit nomor satu,” ucap Marga Singgih.

Bahan dasar 100 persen kulit sapi, kambing, biawak dan ular yang terkenal awet dan nyaman dipakai, dipadu dengan desain yang memperhatikan struktur kaki orang Asia. “Itu merupakan salah satu nilai yang tidak bisa ditolak oleh para penggemar Andre Valentino di Asia,” ujarnya.

Produk Indonesia asli itu selain melayani konsumen dalam negeri, di antaranya sudah merambah pasar Singapura, Malaysia, Vietnam, Jepang, Korea, Kepulauan Mauritius, Filipina dan Hongkong.

Menurut Marga Singgih, desain produknya selalu up-to date dengan menggunakan bahan impor berkualitas karena ditujukan untuk pribadi yang dinamis, atraktif, aktif dan berwawasan global.

Ia yang membawahi produk sepatu Andre Valentino, Studio Nine dan beberapa produk lisensi seperti Elle Paris dan Gunze Underwear, meyakinkan bahwa pihaknya tidak hanya memiliki produk yang bermutu dengan model terkini, tetapi juga menyediakan fasilitas layanan purna jual bagi semua “brand” di bawah PT Cipta Sumber Sejahtera.

William Jong, Product Executive Andre Valentino Men shoes, mengutarakan bahwa sepatunya telah menjadi “leader” yang sangat diperhitungkan di dunia alas kaki. “Terutama desain dan bahan sepatu untuk ‘moccasin’ (sepatu sandal) yang selalu menjadi unggulan di antara produk sejenis,” katanya menjelaskan.

Setelah melihat peluang pasar di segmen kelas B, Andre Valentino semakin gencar mengeluarkan desain-desain up-to-date untuk alas kaki wanita, pria dan anak-anak. “Peluangnya sangat positif dan kami antusias mengeluarkan produk Studio Nine untuk memenuhi kebutuhan pasar kelas sosial B sejak tahun 1997,” katanya.

Sementara Aulia Singgih, pemilik brand dan perusahaan yang sudah berkibar di kawasan Asia itu, mengaku sangat bangga karena hingga saat ini tetap mampu menjaga suasana yang menyenangkan di dalam perusahaannya di Jakarta maupun di Singapura.

Wanita yang dikenal gigih dalam berusaha ini melakukan berbagai acara agar tim perusahaannya semakin kompak untuk lebih meningkatkan kebersamaan dan kinerja guna mewujudkan slogan “We Can Do The Best”.

Sumber : wirasmada.wordpress.com

Mochamad Taufiq Wirausahawan Keramik


Wirausahawan yang satu ini merintis usahanya  dengan modal yang sangat kecil, yaitu Rp 20.000. Ia bernama Mochamad Taufiq, memiliki moto hidup yang sederhana yakni pantang menyerah dan kerja keras.Mochamad  taufiq yang kini sukses menjadi pengusaha keramik di plered,Purwakarta yang per bulannya meraup omzet hingga ratusan juta.

Ia hampir tidak memiliki modal untuk memulai usahanya ini yang dirintisnya sejak tahun 1990. Awalnya ia hanya membeli keramik pada para pengrajin , yang ia cat sendiri bersama istrinya.

Dalam permulaan usahanya dia sering bekerja hingga 24 jam untuk memenuhi pesanan pelanggan. Taufiq mengatakan bahwa, dulu persaingan  dalam bidang ini tidaklah seketat  sekarang.

Alasan mengapa usahanya terus berkembang pesat dan berhasil menarik perhatian pembeli, ia memiliki cara tersendiri. Yaitu dalam proses pengecatan ia menggunakan cat kendaraan pada produk keramiknya.

Dalam kurun waktu satu tahun modal yang dimilikinya semakin terkumpul, ia mulai memproduksi dan memasarkan sendiri produk keramikny hingga ke Palembang dan Kalimantan. Saat itu ia memasukkan tiga orang karyawan di usahanya.Desa Citeko merupakan tempat dimana pak taufiq memesan tanah liat untuk bahan baku keramik produksinya.

Setelah bekerjasama dengan 5 toko, pak taufiq tidak lagi memasarkan produk keramiknya ke luar daerah dia hanya menjualnya ke toko tersebut.

Dari usaha keramik ini omset yang diraup pak taufiq per bulannya  sekitar Rp 150 juta , laba bersih antara 25%-30%. Bertambahnya jumlah karyawan yang saat ini mencapai 21 orang, pak taufiq per minggunya menghabiskan 1 sampai 2 ton tanah liat.

Pada awalnya, pak taufiq memiliki 4 industri rumahan khusus pembuatan keramik. Tetapi ketika dua orang anaknya membutuhkan biaya untuk sekolah akhirnya ia pun menjual rumah industrinya tersebut.

Tantangan dan rintangan ia lewati selama menjalani usahanya. Ia juga pernah dituduh menyebabkan polusi dan  pencemaran  lingkungan. Namun setelah bernegosiasi dengan matang akhirnya masalah itu bisa terselesaikan dengan baik. Dan ternyata dalam negosiasi orang-orang tersebut minta uang namun taufiq tak menghiraukannya.

Kisah ini patut kita jadikan sebagai inspirasi berwirausaha. Mochamad Taufiq ini adalah salah satu orang yang mampu menaklukan keadaan demi merintis usahanya. Pantang menyerah dan kerja keras, itulah kunci utamanya.

Sumber : andiazhari.com

Batik di Mancanegara


Sukses pasti menjadi milik mereka yang bekerja keras, pantang menyerah dan selalu berani mencoba hal-hal baru dalam hidupnya. Hal ini jugalah yang terjadi dengan pemilik batik Tobal, Fatchiyah A Kadir.

Setelah pernah sukses menaklukkan pasaran Eropa dan Amerika Serikat (AS) dengan kain batik Pekalongannya, kini dia justru sedang berjuang menaklukkan pasar domestik.

Fat, demikian perempuan matang berkepala enam asal Pekalongan ini biasa disapa kerabatnya, memulai usaha batik pada 1971. Kala itu, jiwa wirausaha telah mengalir dalam keluarganya, Fat nampaknya mewarisi bakat yang diturunkan ayahnya yang kala itu berjualan kain tenun.

“Pada dasarnya kan orang-orang di daerah pesisir itu pintar berdagang, jadi mungkin saya ada bakat juga berdagang,” tutur Fat kepada okezone beberapa waktu lalu.

Sadar akan bakatnya, ibu tiga anak ini mencoba peruntungannya dengan membuat batik bersama suaminya. Saat itu, Fat tidak mempunyai modal yang tidak mempunyai modal sama sekali nekat untuk menjahitkan batiknya. ”Istilahnya, saya dan suami cuma punya dengkul saja,” kenang dia.

Namun, karena hasilnya yang memuaskan, kepercayaan dari beberapa pihak seperti pengrajin batik dan pembeli semakin meningkat.

“Kami malah diberikan uang pangkal (down payment) dulu 50 persen. Dulu, pembayaran di muka itu  sesuatu hal yang sangat langka sekali dulu,” jelas Fat.

Saat itu, kata Fat, di Pekalongan pengembangan batik memang dikerjakan terpisah-pisah antara kain batik dengan penjahit batik. Sukses di daerahnya, Fat menargetkan pasar ekspansi pasar yang lebih tinggi.

Tak tanggung-tanggung, Fat membidik pasar internasional sebagai pangsa pasarnya. “Karena kebetulan saat itu, pasar dalam negeri memang sedang tidak kondusif,” tambahnya.

Alasan dia kala itu cukup logis. “Saat itu, sedang marak-maraknya trend batik printing yang dipelopori batik keris, jadi batik tulis saat itu bahkan terancam punah, jadi 1971 itu saya langsung ekspor saja,” kata Fat.

Dengan pola pengembangan batik jahit borongan atau yang sering disebut maklon, bahkan pada 1993 lalu, dirinya mendapat penghargaan upakarti dari Presiden Soeharto. Sistem maklon sendiri menurutnya adalah sistem pengembangan batik khususnya di daerah Selatan dengan mengubah pengrajin-pengrajin batik dalam kelompok-kelompok.

Fat masih mengingat, pasar Australia adalah pasar yang pertama yang berhasil ia taklukkan. Padahal, dia sama sekali tidak mempunyai akses ke luar negeri, lalu bagaimana caranya? Fat yang memiliki  jiwa wirausaha tak kekurangan asal.

Fat bukan menjajakan lewat promosi di media massa ataupun selebaran. Fat memilih membangun toko batik di kawasan yang sering disambangi oleh wisatawan asing.

Saat itu, Fat memilih pulau dewata, Bali, untuk menjadi mediasi pasar ekspornya. Terbukti, batiknya berhasil menembus Spanyol, Italia dan juga Amerika Serikat. “Mula-mula pesanan batiknya hanya sekira 10 ribu potong per dua bulan, jumlahnya terus naik sampai 400 ribu potong per tahun,” tambah dia.

Fat terus memperluas produksi batiknya, setelah Bali, Fat kembali membuka sebuah showroom di sekitar Pasar kembang, Yogyakarta. Hal ini dilakukannya untuk mempermudah akses terhadap orang-orang dari kawasan eropa dan Amerika yang lebih kerap berkunjung ke Yogyakarta ketimbang Pekalongan.

Pembukaan showroom batik di Yogyakarta pastinya menimbulkan pertanyaan di benak kita, pasalnya, Yogyakarta bukannya sepi akan produk batik ini. Meski begitu, Fat yakin batik buatannya memiliki ciri khas tersendiri yang disukai para turis.

“Batik Pekalongan itu memang berbeda dengan motif batik Yogyakarta dan Solo yang menggunakan pakem warna-warna cokelat dan hitam, kalau batik Pekalongan berani dengan warna-warna cerah,” jelas Fat. Untuk pangsa ekspor, dia menambahkan desain yang sifatnya semi kontemporer.

“Jadi saya masukkan juga motif-motif etnis Indian, Aborigin atau  Hawai. Mereka itu (pasar ekspor) juga lebih suka batik cap dan batik tulis kagok (batik tulis yang tidak terlalu halus),” tambah dia.

Kesuksesan batik Tobal, menurut Fat, juga didukung dengan kreatifitasnya dalam memadukan dan merancang warna dan kain batik rancangannya. Adapun cara yang digunakan untuk memenuhi pesanan batik, adalah dengan jahit borongan (sistem maklon).

Waktu itu, lanjut Fat, sistem maklon biasa dilakukan di desa-desa di daerah Selatan. Untuk sistem maklon ini, satu sistim mempekerjakan minimal 10 pengrajin. ”Waktu itu saya punya sekira 40 maklon,” jelas dia.

Namun, bukan usaha jika belum pernah terhempas badai. Lebih dari 30 tahun sukses mengekspor batik produksinya, badai itu datang pada 2007 lalu. Ditengarai karena krisis moneter yang terjadi di Indonesia, ditambah dengan kondisi keamanan yang tidak kondusif, membuat pelanggan-pelanggannya berhenti mengorder batik Tobal produksinya.

Tepat pada kuartal III-2007 Fat terpaksa melakukan Pemberhentian Hubungan Kerja (PHK), pada sejumlah karyawannya. “Saya harus PHK banyak karyawan saya, dari 500-an karyawan harus saya pangkas menjadi 120-an karyawan saja. Sedih sekali rasanya saat itu, karena banyak dari mereka yang sudah bekerja ke saya lebih dari 20 tahun,” kenang Fat.

Berhenti mendapat permintaan ekspor batik ke mancanegara, tidak lantas membuatnya berputus asa dan berpangku tangan. Brand Tobal miliknya pun merubah haluan dengan membidik pasaran dalam negeri sejak 2007.

Masuk pasar nasional, batik olahan Fat menjadi pemain baru. Dengan produksi hanya sekira 50-75 ribu potong per tahun, Fat terpaksa menjual batiknya secara retail. “Jadi satu pengusaha bisa lakukan hanya dalam satu showroom,” jelasnya.

Saat ini, Fat telah mempunyai showroom di Jakarta, Semarang dan juga Surabaya. Sukses Fat jadi pengekspor, dilakoninya pula di dalam negeri. Karena dedikasi dan kesetiannya pada pengembangan batik nasional, di perayaan hari batik nasional yang jatuh pada 3 Oktober lalu di Pekalongan, dirinya mendapat undangan resmi dari Ibu Negara Ani Bambang Yudhoyono untuk berdiskusi mengenai pengembangan batik.

Setelah pada 2009 lalu UNESCO meresmikan batik sebagai warisan budaya adalah The Untangible Heritage, Fat berharap perkembangan batik di Indonesia akan terus dapat berkembang dan diterima di masyarakat.

“Karena batik kita berbeda dengan produksi batik di negara manapun, batik kita punya ruh,” kata Fat mengakhiri kisahnya.

Sumber : wirasmada.wordpress.com

Bisnis Aksesoris


Pernah berfikir untuk membuat sesuatu yang berbeda, menjualnya dan bahkan bisa menjadi trendsetter? Hal ini yang dialami oleh Ita Yudi. Seorang Wanita yang pada awalnya merintis menjadi pekerja kantoran alias wanita karir yang kemudian banting setir menjadi wirausaha mandiri yang mempekerjakan banyak orang.

“Awalnya saya kerja di kantor, sebuah perusahaan yang berurusan dengan proyek-proyek. Isinya laki-laki semua, jadi tidak ada yang menggunakan assesoris. Akhirnya kerja seperti itu tidak enak. Nganggur,” ucapnya mengawali cerita ketika ditemui okezone di standnya dalam sebuah pameran yang baru-baru ini diadakan di Smesco center, Jakarta.

“Nah, saya kan pakai jilbab. Dan dari awal sudah hobi membuat asesoris. Mencoba-coba. Awalnya saya ingin punya bros buatan sendiri. Trial and error terus sih, tapi terus di coba,” imbuhnya.

Bahan yang awalnya digunakan adalah untaian kawat-kawat dan manik-manik yang kemudian dirangkainya. Entah itu menjadi bunga, bentuk binatang, atau bentuk abstrak yang menurutnya layak untuk dijadikan hiasan. Selain dari kawat, dirinya juga mengaku membuat dari bahan lain seperti kain yang berasal dari limbah garmen, dan juga lilin atau clay.

“Saya buat dari semua bahan. Seperti yang sering saya buat ini dari metal, kawat. Ada juga yang dari benang wol dirajut, kain bekas limbah garmen, dan clay,” terangnya.

Memang, bahan-bahan tersebut terlihat sangat sederhana dan mudah sekali untuk mencarinya. Seperti kawat misalnya, yang dengan mudah bisa kita temukan di pasar-pasar. Limbah garmen yang juga dengan mudahnya bisa didapatkan dari perusahaan garmen yang membuang sisa kainnya.

Diakuinya, untuk memulai usaha seperti dirinya, memang tidak membutuhkan banyak modal. Dirinya menuturkan, untuk memulai usaha ini dulu hanya cukup bermodalkan selembar uang Rp100 ribu saja.

“Modal untuk ini, sederhana saja. Malahan kalau sudah punya tang yang sebagai alat sudah bisa. Paling dulu modal Rp100 ribu,” ungkapnya.

“Kalau kawat, dulu waktu saya memulai usaha ini kawat seperti ini memang jarang. Tapi sekarang sudah banyak sekali yang jual. Sekarang dimana-mana orang jual. Rp10 ribu juga sudah bisa buat beli kawat,” ungkapnya lagi.

Dirinya menunjukkan kawat kecil sebagai alat yang digunakan untuk membentuk material serta kawat-kawat yang digunakan sebagai dasar pembuatan bros-bros tersebut. Kawat kecil dengan ujung lancip itu digunakan untuk membentuk dan membengkokan kawat sehingga membentuk suatu bentuk yang diinginkan.

Dalam setiap usaha, tentunya semua tidak langsung berjalan dengan lancar. Hal itu pula yang dialami oleh Ita. Awalnya, dalam sehari dirinya hanya mampu menjual satu sampai dua pieces bros. Jadi dalam sebulan, rata-rata dirinya hanya bisa menjual sebanyak 20 pieces bros.

Namun, saat ini hal tersebut sudah tidak berlaku lagi dalam kamus usahanya. Diakuinya, animo masyarakat terhadap kerajinan assesoris ini meningkat. Terbukti dari jumlah yang dihasilkannya laris manis terjual bak kacang goreng.

“Dulu, yang tertarik jarang sekali. Sekarang yang tertarik banyak. Sekarang tidak usah deh keluar negeri, di Indonesia juga sudah banyak kok. Lebih bagus dan juga lebih murah. Tidak usah ke Bangkok dan China. Kita sudah bisa menyaingi kok,” ucap Ita optimis.

Memang, dari segi harga bros yang dijualnya sangat bervariasi. Untuk yang motif sangat sederhana dibandrol dengan harga Rp2.500 sampai Rp10 ribu. Namun, jika yang bentuknya agak rumit dan menggunakan banyak material serta batu-batuan, bahkan ada yang menggunakan kristal swarovski harga bisa selangit alias bisa mencapai Rp500 ribu.

Bentuk yang dimaksud memang rumit. Dengan detil yang sangat kecil dan sempurna, dibagian tengahnya ditambahkan bebatuan yang senada dengan warna kawat dan manik-manik. “Saya juga mengangkat kekayaan Indonesia. Karena ada batu-batu yang berasal dari Indonesia, yang tidak kalah bagusnya. Tapi ada juga yang menggunakan kristal swarovski. Per pieces harganya Rp2.500 sampai 500 ribu,” jelasnya.

Kesulitan yang dihadapinya tidak sampai disitu, kadang material yang dibutuhkannya tidak terdapat di Indonesia. Sehingga dirinya harus memesan material tersebut dari China. Bersyukurlah kini, pesanan terus berdatangan. Jumlahnya bisa sampai ribuan, sehingga dengan sendirinya para distributor tersebut mendatangkan langsung material-material tersebut tanpa harus melalui pemesanan terlebih dahulu.

“Kendala, material kan 75 persen dari China. Tapi karena sekarang pesanan sudah banyak dan juga banyak yang sudah memulai bisnis serupa, jadi para distributor material ini sudah ada dengan sendirinya,” akunya.

Dengan usahanya tersebut, ibu dari tiga orang anak ini memiliki 40 karyawan binaan yang membantunya dalam merangkai berbagai jenis bahan yang akan dijadikan asesoris terutama bros.

Dirinya tidak membutuhkan sebuah toko besar atau kios dalam menjajakan bros-brosnya. Di rumahnya yang terletak di daerah Kalimalang merupakan “pabrik” sekaligus tempatnya memajang bros-brosnya. Selain itu, dirinya juga rajin melakukan kerja sama dengan butik-butik yang banyak terdapat di ibu kota. “Pekerja rata-rata ibu rumah tangga biasa yang masih radius kecamatan lah,” ucapnya.

Saat okezone berusaha mencari tahu lebih jauh, berapa pendapatan per bulannya saat ini, dirinya enggan berbagi lebih jauh. Karena menurutnya bisnis seperti ini tidak bisa dihitung secara pasti. Namun menurutnya, per bulan dirinya bisa menjual hingga ratusan aneka macam asesoris.

Terakhir, dalam hal pemasaran produk, dirinya mengingatkan untuk bisa menjadi yang berbeda diantara sekian banyak pesainganya. Banyak melihat, membaca dan memperhatikan pasar adalah kunci kesuksesannya.

“Kita harus menjadi yang berbeda. Banyak membaca, entah dari buku atau bisa juga browsing di internet,” tandasnya.

Sumber : wirasmada.wordpress.com

Sukses Berinovasi


Bermodalkan keuletan dan terus melakukan inovasi, itulah salah satu kunci menuju kesuksesan. Hal ini dibuktikan oleh seorang wanita muda, Putri Zanita, 26.

Usaha yang dijalani baru belum genap berusia satu tahun ini telah maju pesat. Ketertarikannya pada dunia fesyen, Putri nekat mendirikan home industry bernama UTEE, yang menghasilkan berbagai macam produk tas kulit maupun dompet yang berkualitas tinggi. Terbukti, hingga saat ini sudah ada sekitar 40 desain yang telah dibuatnya. Bahkan, produknya laku keras di pasar.

Sebelum merintis bisnis UTEE, Putri sempat mengenyam pendidikan di Universitas Bina Nusantara, Jakarta, jurusan desain grafis. Setelah lulus PADA 2008, Putri melanjutkan studi di Northumbria University, Newcastle, jurusan desain manajemen. Ketika kembali ke Indonesia, Putri sempat bekerja sebagai visual merchandiser di salah satu butik ternama di Jakarta.

Namun karena alasan tidak betah, Putri akhirnya mengundurkan diri. Setelah itu, Putri mengambil kursus menjahit di Susan Budiharjo selama enam bulan. “Akhirnya mencoba mendalami dunia fesyen lebih lanjut, karena merasa tidak cocok dengan dunia pekerjaan yang saya jalani,” kata Putri di bilangan Fatmawati, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Berbekal mesin jahit, Putri iseng mencoba membuat tas jenis jelly fish sebanyak enam buah. Tanpa disangka, tas itu malah laku terjual hanya dalam waktu tiga bulan. Sadar bisnisnya menguntungkan, Putri lalu merekrut dua orang karyawan. Rumahnya pun disulap menjadi pabrik kecil sekaligus workshop.

“Jadi lebih seperti home industry. Karena kita tidak pernah melempar ke industri. Semuanya kita kerjakan sendiri, dari mendesain sampai menjahit,” tutur perempuan berambut panjang itu.

Modal awal, Putri mengeluarkan dana sekirA Rp25 juta. Dana yang didapatkan dari ibunya itu, digunakan di antaranya untuk membeli mesin jahit, bahan baku kulit, mesin obras, dan gaji karyawan.

“Awalnya, kulit didapat dengan harga miring dari tante saya sendiri. Waktu itu, gaji karyawan sifatnya borongan jadi tidak seperti sekarang,” ucapnya.

Sekarang, wanita yang total ingin berbisnis ini mengeluarkan dana sekirA Rp3,5 juta per bulan untuk biaya produksi. “Bahan baku sendiri saya ambil dari sekitar Jawa Barat. Itu saya langsung ambil sendiri ke pabriknya. Karena kan kualitasnya juga lebih premium. Untuk desain saya kembangkan sendiri, karena saya juga ilustrator,” paparnya.

Pada saat ini, home industry UTEE mempekerjakan sekitar lima orang karyawan. Untuk satu orang karyawan, dibayar sekira Rp60 ribu-Rp90 ribu per hari. “Itu pendapatan bersih sih, karena mereka juga tinggal dan makan di rumah saya,” ucapnya.

Putri dan beberapa karyawannya juga menerima pesanan tas di luar proyek UTEE. Biasanya pesanan itu bisa mencapai tiga lusin setiap bulan. “Jatuhnya ya lebih mahal. Ada harga khususnya. Biasanya, tarif minimal untuk ongkos jahit saja Rp250 ribu. Konveksinya kita batasi, supaya fokus ke UTEE,” terangnya.

Untuk memasarkan semua produknya, wanita jebolan universitas luar negeri ini lebih memilih menjualnya melalui empat stockist yang tersebar di Jakarta dan Bali, di antaranya The Goods Dept, Manekineko, dan Voila.

Selain itu, juga menjual produknya di onlinestore yakni UTEE2010.blogspot.com dan Ratimaya.com. Namun, Putri mengaku penjualan melalui UTEE2010.blogspot.com jauh lebih menguntungkan, karena stockist mengenakan pajak yang lebih tinggi. Semua produk UTEE dibanderol dengan harga mulai dari Rp300 ribu hingga Rp2 juta per buah. Omzet awal yang didapat Putri adalah sekira Rp4,5 juta per bulan.

Sementara untuk sekarang, bisa meraup keuntungan hingga Rp14 juta dari hasil penjualannya di stockist dan Ratimaya.com. Total keuntungan itu adalah di luar pendapatan dari acara bazar yakni Brightspot Market. Meski baru pertama kali mengikuti acara itu, omzet yang didapatkan tak tanggung-tanggung, yakni hingga Rp23 juta hanya dalam waktu tiga hari.

“Dari masing-masing stockist pun berbeda omzetnya. Pertama kali menjual melalui The Goods Dept, aku bisa dapat Rp6,5 juta per bulan,” tuturnya.

Walaupun baru saja merintis bisnisnya, ia mengaku sudah pernah melakukan ekspor beberapa produknya ke Singapura, Australia,dan Belanda. Putri mengungkapkan, salah satu kendala ekspor hingga saat ini adalah terkait dengan proses pembayaran.

Sementara itu ketika ditanya kenapa lebih memilih kulit sebagai bahan baku produknya, Putri mengatakan karena dia ingin barang UTEE bisa lebih dikenal orang. “Jadi, orang tidak perlu membeli tas kulit dari merek yang mahal seperti Louis Vuitton. Dan UTEE kan jadi punya ciri khas,apalagi pemain tas kulit juga belum banyak di Jakarta. UTEE juga punya varian yang limited,” ucapnya.

Ke depan, dirinya mengaku bakal membuat beberapa gebrakan. Pertama, dia akan berkolaborasi dengan sebuah clothing brandlokal. “Bisa saja untuk membuat satu koleksi pakaian dan tas. Kira-kira dalam tiga bulan mendatang,” jelasnya.

Kedua, berencana untuk membuka cabang di Bali. Putri mengaku, biaya sewa tempat di Bali jauh lebih murah ketimbang di Jakarta,yakni hanya sekira Rp10 juta. Dengan bermodal sekira Rp30 juta, Putri optimistis target itu akan segera terealisasi.

Sedikit banyak Putri belajar bisnis dari orang tuanya yang juga berprofesi sebagai wirausaha, meski jenis usaha yang dirintisnya tidak sama. “Bisnis ya belajar autodidak saja sih, let it flow. Terjun sendiri, yang penting sabar dan pelan-pelan. Orang tua memang pengusaha. Mereka yang sering menasihati ketika saya baru merintis UTEE,” papar dia.

Lambat laun, manajemen UTEE yang tadinya masih berantakan ,mulai dibenahi sedikit demi sedikit. Tak hanya dunia fesyen, Putri juga menyukai kuliner. Sampai suatu ketika, dia mulai jatuh cinta pada kue jenis cupcake.

“Di London ada toko cupcake yang terkenal banget. Pas sudah di Jakarta sambil menunggu karyawan produksi tas, akhirnya coba bikin cupcake. Awalnya, saya bagikan ke orang-orang secara gratis. Dari situ, pesanan kue mulai banyak,” ujarnya.

Ia juga sempat kursus masak di Bogasari. Dirinya sering bereksperimen membuat resep baru, karena menurutnya cupcake belum banyak dikenal di Indonesia. Bahkan ke depan, Putri berencana untuk mendirikan usaha cupcake yakni Cuprocks. Modal usaha cupcake jauh lebih murah ketimbang tas kulit, yakni hanya sekira Rp3.000 per buah.

“Cupcake di sini kan masih belum terkenal. Jadi biar ada value-nya, saya buat hiasan-hiasan cupcake yang sifatnya personal. Sudah ada namanya, Cuprocks. Rencananya, toko cupcake akan digabungkan dengan tas kulit di Bali,” tutupnya.

Sumber : wirasmada.wordpress.com