Rabu, 01 Mei 2013

Membudidayakan Ikan Mas


Adalah Anggono seorang yang telah sukses membudidayakan ikan mas di daerah Sukabumi Jawa Barat. Berawal membantu saudaranya mengelola 18 kolam selama 6 tahun membuatnya paham dan mengerti teknik budidaya ikan mas. Kemudian pada tahun 1994 kepemilikan kolam beralih kepadanya setelah tukar guling kepemilikan tempat dengan rumahnya di Surabaya dan mendapat tambahan modal dalam bentuk uang Rp. 12 juta yang kemudian sebagian besar uang tersebut di  belikan bibit ikan konsumsi seperti mas, nila, gurame dan bawal. Meski berbagai jenis ikan telah di pelihara namun Anggono memilih membudidayakan ikan jenis mas karena permintaannya lebih tinggi dan harganya lebih terjangkau selain itu rasanya lebih cocok dengan lidah konsumen mana pun.

Budidaya ikan di Kolam air deras Pada waktu itu ia lebih cenderung memelihara ikan dalam kolam air deras sementara sebagian orang memakai fasilitas kolam jaring apung (KJA) dan kolam tanah. Belasan kolam yang ia kelola berdekatan dengan sungai Cipelang. Arus aliran dari sungai mengalir cukup deras dari satu kolam ke kolam lainnya, sudah pasti aliran air saling silih berganti setiap detik sehingga kebutuhan oksigen akan selalu tercukupi.

Menurutnya dengan sistem pemeliharaan di kolam air deras pertumbuhan ikan mas lebih bagus karena pergerakan ikan lebih aktif sehingga pakannya pun lebih banyak tentunya pertumbuhan lebih cepat. Budidaya ikan mas bukan hanya bisa dilakukan di daerah dingin dengan suhu rata-rata 22-25 derajat celcius, namun ikan mas pun cocok di daerah daratan rendah hingga suhu 30 derajat celcius.

Jumlah Populasi ikan per kolam Agar pertumbuhan ikan dalam kolam lebih optimal ia memasukan ikan 1000 ekor dengan kolam berukuran 12 x 3 meter dengan kedalaman 1,25 meter, ia mengisi bibit terbaik umur 40 hari atau seukuran dua jari orang dewasa. Bibit ikan di beli dari para petani sekitar kampung Bantar Panjang di Sukabumi dengan satuan kilo yang berisi 80 sampai 150 ekor.

Pakan dan peralatan  Ia memerlukan waktuk sekitar 4 sampai 5 bulan dalam pembesaran ikan mas hingga siap panen dengan ukuran 200/ 300 gram per ekor atau 3-5 ekor/ kg. Selama pembesaran ia memberikan pakan berupa pelet buatan pabrik, bahkan gonta-ganti pakan buatan pabrik pernah ia lakukan pasalnya tingginya harga pakan kerap tak sebanding dengan daging yang dihasilkan. Namun guna mencari pakan yang efisien Anggono mengakui pakan yang agak mahal memang bagus karena rasio konversi pakan (FCR) bisa mencapai 1,2-1,5 artinya dengan 1,2-1,5 kg pakan bisa menghasilkan bobot badan seberat 1 kg.

Ada hal yang unik dan menarik dalam pemberikan pakan, Anggono tak menentukan pemberian pakan seperti memberikan pakan dari persentase bobot ikan. " Saya berikan empan semaunya ikan makan," ujarnya sambil memberikan makan pada ember yang di gantung. Meskipun demikian setidaknya dalam sehari, ia memberikan pakan 2-3 kali manakala isi pakan di ember habis, selain ember pakan ala Anggono yang unik ini peralatan lain yang digunakan diantaranya saringan, drum-drum penampungan, timbangan, plastik, oksigen, tali dan karet gelang.

Harga ikan mas Kad Anggono lebih tinggi Memang harga jual ikan mas kolam air deras milik Anggono lebih mahal dari ikan mas pembudidaya lain pada umumnya. Di karenakan pola budidaya yang berbeda dan pemberian pakan yang berbeda pula." pemberian pakan di kolam air deras kudu kenceng, karena ikan perlu empan lebih banyak sehingga pertumbuhan cepat, " tegasnya.

Mahalnya harga sekilo ikan mas yang di jual Anggono tetap saja diminati rumah makan seperti Lembur kuring, Saung Kuring dan rumah makan Sunda yang tersebar di sekitar Sukabumi, Cianjur, Bogor, Jakarta dan Tanggerang. Menurutnya tak ada trik marketing khusus yang dilakukan untuk memasarkan hasil panen ikan mas tersebut.

Awalnya hanya dari relasi yang memiliki rumah makan, namun karena rasa ikan mas kolam air deras asal Sukabumi itu lebih legit dan tak berbau lumpur bisa matang hingga daging garing baik di goreng atau di bakar membuat pamor usaha budidayanya di kenal banyak pengusaha restoran rumah makan. Selain menjual ke restoran dan rumah makan Anggono mengaku juga memasom ikan mas ukuran 2-5 kilo untuk kolam pemancingan Galatama di kawasan Taman Mini Jakarta Timur. 

Sumber : Tabloid Peluang

Petani & Agen Singkong Omzet Milyar


Kalau anda mendengar kata singkong, maka yang terbayang adalah jenis komoditas murah, pedesaan, katro (kata thukul arwana) dan pasti tidak jauh-jauh dari kemiskinan. Namun tahukah anda bahwa penghasilan petani dan agen-agen singkong saat ini bisa mengalahkan pedagang mobil, elektronik, gadgets ataupun garmen seperti yang banyak temen-temen TDA jalankan atau Manager senior di bank-bank mapan dan perusahaan besar.

Saat ini, singkong, seperti juga produk agro lainnya; sawit, karet dan tebu, sedang booming dan mendatangkan rejeki berlimpah ke petani dan agen. Naiknya harga minyak membuat produk substitusi di cari banyak kalangan, singkong sebagai salah satu bahan baku bio fuel juga menjadi primadona dan intensif di budidayakan. Apalagi teknik budidaya singkong relative mudah, murah, tahan penyakit dan bisa tumbuh di lahan yang kritis sekalipun….!

Serial tulisan ini sharing kecil saya untuk temen-temen TDA berdasarkan pengamatan sehari-hari di daerah Lampung sebagi sentra penghasil singkong terbesar di Indonesia. Semoga bisa memberi inspirasi, memberdayakan lahan-lahan kosong dan menaikkan pendapatan petani kita.

Nyoman Petani sederhana ini juga ber profesi sebagai guru SMA, beliau merupakan transmigran dari Bali sejak tahun 60-an. Saat ini mengelola ratusan hektar tanaman singkong dan ber mitra dengan petani-petani lain dalam kelompoknya. Sebagai seorang pemimpin kelompok tani, Pak Nyoman juga menjadi agen yang menjembatani penjualan panen singkong dari petani-petani ke pabrik di sekitar wilayah lahan, baik untuk bahan baku industri tepung tapioca maupun untuk ethanol. Pengalaman puluhan tahun sebagai petani singkong membuat beliau punya jaringan yang sangat luas dikalangan petani, apalagi sesama komunitas transmigran bali yang masih sangat erat kekerabatannya. Sebagai agen sebuah pabrik besar P Nyoman di berikan target harian untuk bisa memenuhi kebutuhan pabrik, angka 100 – 150 Ton singkong segar per hari bukanlah target sulit untuk dicapai. Sekarang, mari kita coba hitung berapa omzet harian dan bulanan beliau sebagai agen dan kita estimasi pendapatan bulanannya. Juga penghasilan sebagai coordinator kelompok tani.

Dengan makin banyaknya pabrik berdiri, baik pabrik tepung tapioca maupun bio fuel, kebutuhan akan supply singkong meningkat, sedangkan perkembangan luas lahan relative lambat dan masih harus ber kompetisi dengan jenis tanaman lain; karet, tebu dan sawit yang juga sedang booming dan menguntungkan. Kondisi ini menyebabkan harga singkong naik tajam dari rentang Rp. 200 – 300 /kg di tahun 2006 menjadi Rp 400 – 500/kg an di sepanjang 2007 dan trend di tahun 2008 di prediksikan akan semakin naik. 

Dengan asumsi harga rata-rata Rp. 425/kg maka omset harian beliau adalah Rp. 425 x 100,000 kg = Rp. 42,500,000 dan dengan asumsi pabrik ber operasi 25 hari kerja per bulan maka omset P Nyoman mencapai Rp. 1,062,500,000 / bulan…Fantastis bukan..???

Pakem yang berlaku dalam proses jual beli singkong dari petani – agen – pabrikan, biasanya agen akan mendapat keuntungan/fee sebesar Rp. 10 – 15 dari pabrik. Dengan target 100 Ton/hari, 25 hari kerja dan asumsi fee Rp. 10/kg maka keuntungan/fee dari keagenan sebesar Rp. 25 juta/bulan…sebuah angka yang sangat besar…barangkali setara dengan manager senior di bank-bank yang sudah mapan…!! Tentunya untuk mensupply 100 Ton/hari, P Nyoman dibantu oleh pekerja atau saudara-saudara nya yang lain, tapi tetap saja penghasilan yang diterima sangat wah…!!

Dari aktifitas bertanam singkong dan mengkoordinir kelompok tani, beliau juga masih memperoleh keuntungan lagi yang jumlahnya juga cukup besar. Sebagai gambaran biaya budidaya tanaman singkong per hektar rata-rata adalah Rp. 4.5 juta/Ha dengan rincian sebagai berikut :Sewa tanah Rp. 1,000,000/Ha Pengolahan Lahan Rp. 1,000,000 Pemupukan Rp. 1.600,000 Tenaga Kerja Rp. 900,000.

Dengan perawatan yang baik dan pemupukan yang tepat, bisa menghasilkan singkong sebesar 30 Ton/Ha dengan rendemen 24% untuk waktu penanaman 10 – 12 bulan. Harga di pabrik-pabrik di Lampung saat ini berkisar di angka Rp. 450/kg….maka untuk hasil panen 30 Ton/Ha akan menghasilkan 30,000 kg x 450 = Rp. 13,500,000, masih dipotong ongkos transport dan cabut Rp. 100 x 30,000 = Rp 3,000,000……..hasil bersih Rp. 10,5 juta dengan modal awal Rp. 4,5 juta ( itupun dengan asumsi lahan sewaan, kalau lahan sendiri hasil akan lebih besar lagi…!). Sebuah investasi yang sangat menarik bukan………..?

Keluarga P Nyoman memiliki lahan 15 Ha, maka dari hasil bertanam singkong, keluarga petani ini memperoleh penghasilan Rp. (10,5 jt – 4,5 jt ) x 15 Ha = Rp. 90 juta/panen atau setahun. Jumlah yang cukup lumayan…belum lagi dari kegiatan coordinator kelompok tani yang jumlah nya ratusan hektar, beliau masih memperoleh fee tambahan Rp. 10 untuk setiap kilo hasil panen singkong…….Perbincangan terakhir saya dengan Pak Nyoman minggu lalu, beliau sudah ber ancang-ancang menggati mobil Suzuki Katana tuanya dengan Nissan Terano terbaru, agar lebih mudah masuk lahan katanya……sebuah aktifitas off road yang menguntungkan tentunya….he…he..he.

Anda tentu mengira cerita diatas hanyalah segelintir dari ribuan petani lain yang susah hidupnya….Namun jangan salah…! Di Lampung, cukup banyak petani / agen singkong yang bahkan ber omzet dan penghasilan lebih besar dari P Nyoman........satu demi satu, Insya Allah akan saya ceritakan siapa saja petani-petani itu dan bagaimana mereka memperoleh penghasilan sebanyak itu di edisi berikutnya…………….!!

Jika anda tertarik menginvestasikan uang nganggur anda, mainlah ke Lampung, masih sangat banyak lahan terbengkalai eks HGU perkebunan-perkebunan besar yang ditelantarkan dan kemudian dikuasai kembali oleh masyarakat (mungkin dulu juga mengambil paksa dari masyarakat……..!!). Anda bisa menyewa tanah dari masyrakat adat dan mencari petani mitra yang bisa di percaya…mari galakkan agro industri kita sehingga semua petani bisa kaya, berpenghasilan cukup dan melampaui petani-petani di Thailand.

Sumber : visimandiri.blogspot.com

Nursalim, Meraih Sukses dengan Bertani Semangka


WAJAH Nursalim (41) tidak seperti 10 tahun lalu. Kini, petani semangka ini menjadi anggota DPRD Lampung. Omzetnya dari budi daya semangka bisa mencapai Rp5 miliar per tahun. Profil petani yang identik dengan lumpur dan kumal tidak lagi terlihat pada pria kelahiran Astomulyo, Punggur, Lampung Tengah, 27 Juli 1970 ini. Padahal, sebelum terpilih menjadi anggota DPRD Lampung pada Pemilu 2009, ia adalah petani sepenuh hati. Turun ke lahan merawat tanaman semangka adalah kesehariannya. Tentu, dengan pakaian dan irama kerja sebagaimana petani umumnya."Kalau sekarang, ya bukannya melupakan penampilan lama. Kita harus menyesuaikan karena saya diberi amanat rakyat untuk menyampaikan aspirasi kepada pemerintah. Sementara, orang-orang pemerintahan kan identik dengan rapi dan bersih. Jadi, harus menghormati," kata suami Wasri Hastuti ini.

Menggulung kembali kisah hidup masa lalunya, Nursalim mengaku tidak membayangkan bisa sampai seperti ini. "Saya ini gagal kuliah dulu karena orang tua saya miskin. Karena saya tahu orang tua saya tidak akan mampu membiayai kuliah, saya justru nekat menyelewengkan uang kuliah dan uang indekos yang diberikan ibu saya," kata dia.Bapak tiga anak ini menceritakan saat kuliah di FMIPA Unila tahun 1989, ia sedih jika pulang kampung. Sebab, pasti akan menyusahkan orang tuanya, yakni ibunya mencari utangan uang panas untuk membayar kuliah."Begitu dapat uang kuliah dan uang indekos dari ibu yang hasil pinjaman, saya dapat ide nekat. Akhirnya, saya cuti kuliah dan uang itu saya pakai untuk modal menanam semangka di kampung. Alhamdulillah, ternyata semangkanya jadi dan dapat untung cukup besar. Itulah yang membuat saya cuti kuliahnya kebablasan, hahaha...,"

Modal pengalaman menanam semangka pertama yang sukses itu mendorong ia tak melirik bidang lain. Bangku kuliah ia “selesaikan” hanya dengan dua tahun. Sejak itu, ia seperti bersumpah untuk memusuhi kemiskinan dan ingin membalas budi orang tuanya yang telah ia “tipu”. "Saya merasa berutang kepada orang tua. Untungnya, orang tua saya bangga ketika saya berhasil mandiri dengan bertani semangka ini. Dan, walaupun terlambat, akhirnya saya jadi sarjana juga," kata lulusan Stisipol Darma Wacana Metro itu.

Meskipun demikian, perjalanan bertani dan berdagang komoditas hortikulturanya tidak semulus seperti yang dibayangkan. Ia sempat bangkrut hingga menyisakan satu unit sepeda ontel sebagai harta terakhirnya. Itu terjadi saat ia sudah menikahi Wasri dan diamanahi satu anak dan tinggal bersama mertua. Namun, tampaknya jiwa berani Nursalim memang teruji. Sepeda satu-satunya itu ia jual untuk modal menanam jagung. Modal terakhir itu pun jeblok sehingga “lunas”-lah semua yang pernah ia miliki.Kebangkitan kembali Nursalim adalah ketika ada teman kuliah yang memberi kepercayaan berbisnis semangka lagi. Dengan ketekunan dan ketelatenan, usaha anak ketiga dari empat bersaudara pasangan Muchlasin dan Waginem itu mulai tumbuh. Selain menanam semangka dengan cara menyewa lahan sela musim tanaman padi, ia berhasil memupuk keuntungan.

Nursalim selalu ingin memperbaiki kualitas semangka yang ia tanam. Berbagai teknologi terbaru ia buru sampai ke sumber-sumber yang semula tidak pernah ia bayangkan. "Saya belajar teknologi tanam semangka nonbiji dengan sistem pengairan menggunakan selang ini dari Malaysia. Juga mengamati perkembangan dan pertumbuhan tanaman secara saksama dipadu dengan tata cara yang standar. Artinya, saya belajar dari buku, guru ilmiah, dan juga dari pengalaman di lapangan dan terjun langsung," kata dia.

Soal pasar, politisi PKS ini sudah mengenali sejak mulai berbisnis semangka. Sambil menjual hasil panen dari lahan yang ia kelola, ia juga membeli semangka petani lain, menimbang sendiri, memuatnya ke truk, mengawal ke Jakarta, lalu menggelar lapak untuk dijual eceran. Jika sedang jeblok, kata dia, jualan di Jakarta bisa sampai satu bulan. Itu pun rugi. "Pesan ibu saya, jadi orang itu harus prigel. Prigel itu artinya bekerja rajin, tidak kenal lelah, dan kreatif. Katanya, orang prigel itu bisa mengalahkan orang pinter, haha..."Kini, ia sudah melewati periode-periode berat dalam berbisnis di bidang agro. Usaha hortikultura, terutama semangka, cukup untuk membiayai hidup keluarga dan kegiatan lainnya di luar.

Setidaknya, setiap bulan ia panen atau tidak panen semangka seluas 30 hektare. "Saya katakan panen atau tidak panen, karena tidak setiap menanam pasti sukses. Ya, namanya usaha, kadang berhasil kadang gagal. Tetapi catatan saya, menanam semangka ini, misalnya tiga kali gagal, satu kali panen dengan harga bagus, masih dapat untung," kata dia.Untuk mendukung usaha yang sarat modal dan sarana, Nursalim mendirikan UD Salim Mandiri. Perusahaan dagang ini bergerak dalam penyediaan alat dan sarana pertanian, terutama yang berkaitan dengan kebutuhan tanaman semangka. Omzetnya? "Ya, adalah Rp5 M setahun.” Kalau aset? "Kalau yang itu, rahasia, hehehe..," kata dia.

Dari usahanya ini, Nursalim kini bisa mengawasi lahan semangka yang kebanyakan di wilayah Tulangbawang dengan tenang. Saat ke kantor DPRD, ia tampil klimis dengan Honda CRV hitam yang dihela seorang sopir. Saat “ngantor” ke ladang, ia tampil siap turun ke lumpur dengan Daihatsu Feroza-nya. Ia mengaku bisnis agro ini masih berpeluang besar. Ia mengaku sudah menularkan ilmu dan modalnya, juga memberdayakan sembilan kelompok tani semangka di daerahnya. "Terakhir, saya bersama sembilan kelompok tani itu baru menandatangani kontrak ekspor semangka ke Dubai, Uni Emirat Arab, dan ke Singapura. Kontraknya, 25 ton atau satu kontainer setiap pekan. Insya Allah dapat kami penuhi," 

Soal harga, pria murah senyum dengan cukuran cepak ini tak khawatir. Harga pasaran di lahan saat ini, kata dia, sekitar Rp2.200 per kilogram. Produk setiap hektare saat panen bagus mencapai 30 ton. Pedagang akan datang ke lahan untuk dibawa ke pasar-pasar di Pulau Jawa, Palembang, Jambi, dan lokal Lampung. "Kalau sudah ekspor nanti, insya Allah kami dapat harga yang lebih bagus dan tidak fluktuatif karena sudah terikat kontrak," ujar Nursalim.

Sumber : lampungpost.com 

Pengusaha Tas di Indonesia


Bercita-cita menjadi seorang pengusaha sukses dan memiliki banyak harta yang melimpah tentunya menjadi keinginan setiap orang. Tidak mustahil, itu semua tentu saja bisa menjadi kenyataan asalkan dibarengi dengan usaha dan do’a. sebagai contoh kita lihat para pengusaha lokal yang sukses merintis perusahaannya dari 0 (nol), perusahaan yang mereka miliki sekarang ini bukanlah warisan dari dari orangtuanya, tetapi murni hasil dari kerja keras dirinya sendiri. Mungkin sepenggal kisah pengusaha tas asal Bandung yang satu ini bisa menginspirasi Anda untuk menjadi seorang entrepreuneur yang sukses. 

Rony Lukito, pengusaha tas terbesar di Indonesia ini dulunya adalah seorang anak dari keluarga yang memperihatinkan. Orangtuanya bukanlah dari kaum berada. Dimasa remajanya Rony yang tinggal di Bandung adalah sosok pemuda yang rajin dan tekun, dia bukan seorang lulusan perguruan tinggi negeri atau pun perguaruan tinggi swasta terfavorit. Melainkan dia hanyalah seorang lulusan STM (Sekolah Teknologi Menengah), meskipun sebenarnya dia sangat ingin sekali melanjutkan study-nya di salah satu perguruan tingggi swasta terfavorit di Bandung. Namun keinginannya itu tidak menjadi kenyataan karena harus terbentur masalah keuangan. 

Semenjak bersekolah di STM Rony sudah terbiasa berjualan susu yang dibungkus dengan plastik-plastik kecil, diikat dengan karet, kemudian susu tersebut ia jual ke rumah-rumah tetangganya dengan menggunakan sepeda motor miliknya. Masa remaja Rony di Bandung dilewati dengan penuh kesederhanaan yang jauh dari kehidupan serba ada apalagi yang disebut kehidupan glamour. Sesuatu yang tidak berlebihan jika banyak orang yang mengatakan bahwa keberhasilan itu memang akan selalu berpihak kepada orang-orang yang mau bekerja keras dan sungguh-sungguh ingin merubah nasibnya. 

Demikian pula Rony yang sejak remaja biasa bekerja, kini ia berhasil menjadi pengusaha sukses di bisnis tas berkat serangkaian usaha dan kerja kerasnya. Tidak salah memang jika Rony dikatakan sebagai seorang pengusaha tas terbesar di Indonesia. Itu memang bukan kalimat yang berlebihan, lihat saja produk yang di hasilkan dari perusahaan Rony, B&B; Incorporations (B&B; Inc.) merajai pasar tas yang ada di Indonesia. Para pengunjung Kalabang’s Blog tentu kenal dengan merek-merek tas yang sudah populer ini, seperti: Eiger, Export, Neosack, Bodypack, Nordwand, Morphosa, World Series, Extrem, Vertic, Domus Danica, Broklyn dll. Mungkin merek tersebut dikalangan anak sekolah dan kuliahan sudah tidak asing lagi, yang memang produk-produk hasil perusahaan Rony sengaja di targetkan untuk kalangan pelajar. 

Semua merek tas tersebut di distribusikan secara nasional, sehingga wajar bila merek dagangnya sudah sangat terkenal. Produk Rony juga tersedia di berbagai outlet modern seperti Toserba Ramayana, Matahari Departemen Store, Robinson, dan berbagai hypermart seperti Carrefour, hingga jaringan toko-toko buku seperti Gramedia, dan Gunung Agung, belum lagi toko-toko dan grosir tradisional lainnya. hmmm… luar biasa bukan ? 

Bagaimana, apakah Anda sudah tertarik untuk menjadi seorang entrepreuneur?  Perusahaan Rony murni dari hasil kerja kerasnya sendiri, bukanlah warisan dari orangtuanya. 

Sumber: kalabang.wordpress.com

Sukses Bakso Bakkar


Selama ini, sajian bakso identik dengan kuali kaldu nan gurih. Namun, kini ada juga bakso yang dibakar, layaknya memanggang sate. Namun, dalam penyajiannya, kuali gurih tetap melengkapi menu bakso bakar itu. Belakangan ini penggemar bakso bakar terus saja bertambah. Tak heran, pengusaha bakso pun mengembangkan menu bakso bakar sebagai variasi menu mereka. Salah satu yang juga menambah menu baru ini adalah Bakso Kaget Indonesia, pemilik usaha Bakso Kaget. Sejak enam bulan lalu, perusahaan berbasis di Bandung ini mulai menawarkan kemitraan Bakso Bakkar. Kini, sudah ada dua mitra yang bergabung, yakni mitra dari Cibubur dan mitra di Tangerang.

Menurut Sari Sumiati, Marketing Bakso Kaget Indonesia, salah satu keunggulan Bakso Bakkar terletak pada saos bakso. "Kami memiliki tiga jenis saos, yakni saos mayonai-se, lada hitam, dan saos kacang," ujar Sari. Bagi Anda yang tertarik menjadi mitra, Bakso Bakkar, mengutip biaya investasi Rp 15 juta. Selanjutnya, perusahaan akan memberi mitra berbagai peralatan pendukung usaha, seperti booth, kompor, alat panggangan, banner logo, serta seragam operasional. Jika kebanyakan pedagang menyajikan menu bakso kedalam sebuah mangkuk, Bakso Bakkar punya kemasan khusus berupa wadah kertas sekali pakai. Dengan mengusung konsep take away, mjt-ra pun tidak perlu menyediakan meja, kursi serta mangkuk.

Agar rasa bakso tetap terjaga kualitas dan rasanya, Sari menganjurkan mitra untuk membeli bakso dari pusat dengan harga Rp 900 per butir. Sedangkan untuk bumbu bakso bakar, biaya yang harus dikeluarkan oleh mitra sebesar Rp 40.000 untuk 150 porsi bakso. Sedangkan harga saos kacang dan lada hitam Rp 57.000, sedangkan mayonaise Rp 94.000.

Jikaingin menambah menumie, Bakso Bakkar juga menyediakan mn dengan harga Rp 6.000 per bungkus untuk 10 porsi. Dalam penyajiannya, bakso bakar ini juga diberi tambahan daun selada serta irisan tomat. Namun mitra sendiri yang ha-rus menyediakan bahan-bahan ini.

Sistem pendukung.
Satu porsi bakso bakar dibanderol dengan harga Rp 8.000. Dengan harga bersaing ini, Sari menargetkan mitra dapat menjual sekitar 80 porsi. Alhasil, mitra pun bisa me-raup omzet sekitar Rp 640.000 tiap harinya Dengan hitungan itu, modal mitra bisa kembali dalam kurun waktu tiga hingga empat bulan. Ia juga menyarankan, mitra menjual varian menu lainnya khususnya minuman, supaya modal mitra cepat kembali. "Kami memberi kebebasan pada mitra, jika mereka ingin menambah menu-menu baru," terang Sari.

Karena konsep usaha bakso bakar ini adalah kemitraan, maka bagi mitra yang bergabung nantinya juga tidak bakal dikenai pungutan berupa biaya royalti atau biaya manajemen. Menurut Konsultan Wirausaha dan Praktik Bisnis, Kho-erussalim Ikhsan, dalam bisnis makanan ini yang paling sering menjadi masalah adalah support system. Makanya, ia menyarakan kepada calon mitra untuk berhati-hati, kare-nansaha Bakso Bakkar sendiri baru berjalan enam bulan. "Karena masih relatif baru, ada kemungkinan support systemnya masih rapuh," ingat Khoerussalim.

Namun, salah satu nilai lebih Bakso Bakkar ini karena mereka mendompleng nama besar perusahaan induk, Bakso Kaget Indonesia yang saat ini sudah mulai dikenal. "Brand perusahaan induk lebih mudah dikenal, sehingga mitra tidak perlu lagi membangun mulai dari nol," ujarnya 

Sumber : blog-wirausaha.blogspot.com

Bisnis Properti di Australia


Tahun1992, Iwan Sunito lulus dan meraih gelar 'Bachelor of Architecture (Hons)'. Setahun kemudian memperoleh gelar 'Master of Management Construction'. Kedua gelar tersebut diperoleh dari University of New South Wales. Tahun 1993, ia juga menjadi arsitek yang terdaftar di New South Wales, dan pada tahun yang sama juga memperoleh penghargaan 'Eric Daniels' untuk desain perumahan terbaik.

Empat tahun setelah lulus perguruan tinggi, Iawan membangun Crown Group bersama dengan partner bisnisnya. Sejak saat itu Crown Group, telah berkembang menjadi salah satu perusahaan pembangunan properti yang terkemuka di Australia, dan 16 tahun kemudian Crown Group telah memiliki portofolio proyek yang mencapai Rp 25 triliun (2,5 juta dolar Australia). Iwan Sunito adalah Chief Executive Officer (CEO) dari Crown Group yang merupakan perusahaan properti terkemuka di Australia. Perusahaan ini dibangun bersama dengan partner bisnisnya, Paul Sathio. Ia merupakan salah satu ahli properti berpengalaman di Australia. Ia telah bekerja di seluruh area dari pengembangan properti seperti desain, konstruksi dan manajemen. Iwan juga merupakan pimpinan dari Joshua International Architects, perusahaan yang dibangun tahun 1994.

Sebagai CEO dari Crown Group, ia telah menangani beberapa proyek yang progresif di Australia mulai dari perumahan mewah, apartemen butik dan perumahan besar sampai bangunan komersil di daerah Sydney. Di bawah kepemimpinan Iwan Sunito, Crown Group mengalami kesuksesan yang luar biasa di Sydney. Hingga kini, telah meyelesaikan 11 proyek seperti pembangunan perumahan di Bondi, Bondi Junction, Ashfield, Epping, Eastwood, Strathfield, Five Dock, Homebush dan Pennant Hills. Ditambah proyek Sanctum by Crown yang merupakan proyek bernilai Rp 1,15 triliun, terletak di Rhodes, dekat Sydney Olimpic Park dan dibangun di depan danau. Saat ini, Crown Group merupakan salah satu developer properti paling aktif di Sydney dengan 3 proyek yang sedang dalam proses pembangunan termasuk di dalamnya: proyek apartemen V by Crown di Parramatta yang terdiri dari 27 lantai, Viking by Crownbernilai Rp 5 triliun yang terletak 5 kilometer dari pusat kota Sydneydan Top Ryde City Living yang terdiri dari 5 tower.

Crown Group berencana meluncurkan proyek pembangunan terbarunya di North Sydney yang bernama Skye by Crown, tahun 2013 ini. Crown berencana membangun sebuah properti yang terletak di pusat kota Sydney. Bagi Iwan Sunito kesuksesan Crown Group diperoleh melalui dedikasi Crown Group untuk menghasilkan apartemen dengan kualitas tinggi, harga yang terjangkau dan lokasi yang strategis. "Ini merupakan waktu yang sangat menggembirakan bagi kami; Crown Group berkembang dengan kuat dan berkelanjutan dengan berdasar pada kaidah kaidah yang solid. Kami telah berulang kali membuktikan kemampuan kami dalam menawarkan perumahan berkualitas tinggi dengan harga yang terjangkau," kata Iwan, laki-laki kelahiran Surabaya dan besar di Pangkalan Bun, Ibu Kota Kabupaten Kota Waringin Barat, Kalimantan Tengah. "Dalam semua proyek yang digarap Crown, kami selalu berusaha untuk menembus batasan batasan yang ada dan membuat suatu taraf baru dalam desain," kata Iwan.

Ia sering berkunjung ke Indonesia dan secara aktif terlibat dalam beberapa acara amal dan organisasi sosial. Pada peristiwa tsunami di Asia tahun 2006, Iwan Sunito menjabat sebagai pimpinan 'Indonesia's Tsunami Corporate'. Iwan Sunito saat ini menjabat sebagai pimpinan program mentoring B2B (Business to Business) bagi para profesional muda. Ia juga aktif terlibat dalam aktivitas penggalangan dana untuk organisasi seperti Sydney Children Hospital, John Fawcett Eye Foundation di Bali dan juga beberapa panti asuhan di Indonesia. Ia saat ini tinggal di daerah Sydney bagian timur bersama dengan istri dan ketiga anaknya. 

Sumber : tribunnews.com

Sukses Amrie Salon

Nama besar bukanlah jaminan sebuah usaha bisa menjadi besar. Justru dengan nama besar namun tanpa disertai bukti kualitas produk, konsumen akan beralih ke produk lain. Demikianlah keyakinan Amrie Syambachrie, pengusaha salon bridal dan rumah mode di Balikpapan. "Kami tidak pernah gentar dengan kebesaran sebuah produk. Sebab kami yakin, nama besar tanpa bukti nyata produk yang dihasilkan berkualitas, konsumen tidak akan pernah tertarik dan loyal," katanya dalam perbincangan dengan Bisnis di kediamannya di kawasan permukiman Balikpapan Baru.

Setidaknya, kenyataan hal itu sudah dibuktikannya melalui Salon Amrie yang saat ini terbukti menjadi pilihan utama kalangan kelas menengah atas di Kota Balikpapan dan kota-kota di Kalimantan Timur. Dengan mengandalkan SDM berkualitas dan sarat pengalaman, salon yang dipimpinnya nyaris tidak tersaingi, sekalipun dengan salon yang sudah memiliki reputasi nasional. "Saya bersama suami, bahkan beberapa kali menerima order pengantin dari klien yang sudah bermukim di luar negeri seperti al. Jerman, Belanda. Atau klien-klien kami dari beberapa kota besar di nusantara," ujar ibu tiga anak masing-masing Vicha Mayavirha (18), Illiad Achsyarie (16), Wero Zulfikar Achmad (12), buah perkawinannya dengan Syam Bachrie Achmad, eksekutif di sebuah perusahaan asing di Balikpapan.

Selain mengandalkan SDM berkualitas dan memiliki kompetensi, Amrie tidak pernah lupa mengasah ilmu dengan mengikuti kursus-kursus singkat baik tingkat nasional maupun internasional. Baginya, dinamika di dunia bridal dan rumah mode sangat dinamis sehingga menuntut perlunya upgrading. Untuk kepentingan hal itu, bersama suami ia rela mengeluarkan biaya mahal untuk mendapatkan ilmu di luar negeri. Sejumlah kursus singkat di beberapa negeri seperti Jerman, Belanda, Amerika Serikat, Perancis, telah memberinya pengetahuan dan pengalaman yang sangat berharga. "Saya dan suami seringkali pergi bersamaan mengejar ilmu sampai ke luar negeri sekalipun, biar tidak ketinggalan," kata sarjana D2 ekonomi lulusan IKIP Makassar yang kini jadi Universitas Negeri Makassar

Kepada karyawan yang berprestasi, dia juga selalu memberi kesempatan mengikuti kursus-kursus singkat nasional. Tujuannya, biar ilmu mereka terus terasah dan produktif melakukan inovasi demi kepuasan konsumen. Di bawah Salon Amrie, bernaung 4 bidang usaha meliputi bridal, rumah mode, salon kecantikan dan laundry. Dua diantaranya, bridal dan rumah mode, merupakan unit usaha andalannya. "Dalam sehari, kami setidaknya melayani 15 pasang baju. Kebanyakan diantaranya jenis pengantin Barat dan Cina." Tapi tidak berarti dua unit usaha lain tidak laris. Salon kecantikan misalnya, juga tidak kalah larisnya terutama untuk produk make up, cutting dan pewarnaan rambut.

Dia mengaku tidak membayangkan Salon Amrie yang didirikannya tahun 1989 dengan modal seadanya itu bisa berkembang sebesar saat ini. "Waktu itu, saya dan bapak hanya semata menyalurkan hobi. Saya suka menjahit pakaian, sementara dia hobi fotografi."
Namanya hobi, tuturnya, seringkali masalah untung rugi tidak menjadi masalah. Seringkali orang yang datang ke salonnya terutama kerabat dekat atau kenalan menikmati layanan gratis karena dirinya sungkan menolak permintaan gratis. "Ya, sudahlah. Hitung-hitung hobi tersalur. Waktu itu lumayanlah, cukup menutupi modal usaha. Istilah orang, ...kembali pokok," ungkap dia tersenyum.

Seiring perjalanan waktu, didorong sang suami ia kemudian merintis pendirian rumah mode pada tahun 1994 Di tahap inilah prinsip business oriented sudah mulai diterapkan secara konsisten. "Segmen yang kami sasar pun bukan sembarang orang. Umumnya berasal dari kalangan menengah ke atas, terutama pejabat pemerintahan, pengusaha, ekspatriat, ibu-ibu pejabat pemerintahan."Secara perlahan klien salonnya semakin banyak, hingga jumlah karyawan yang ada saat itu sebanyak 12 tenaga penjahit dirasakan sudah tidak bisa mengimbangi permintaan. Kini, tidak kurang 30 tenaga penjahit profesional dipekerjakan di rumah mode dan Salon Amrie. "Mereka adalah tenaga-tenaga profesional berpengalaman yang berasal dari kota besar-kota besar seperti al. Jakarta."Secara keseluruhan, 60 karyawan bernaung dibawah Salon Amrie yang berlokasi di kawasan jalan Gunung Sari Kota Balikpapan.

Menurut pengakuan Amrie, modal yang digunakan dalam menjalankan usahanya ini sepenuhnya modal sendiri. "Saya akui, usaha ini berkembang pesat berkat dukungan dan dorongan penuh dari suami," katanya mengaku beruntung bisa mendapatkan jodoh seorang suami yang memberinya ruang bergerak untuk menyalurkan kreativitas.
Kini, buah kerja keras sepasang suami istri selama 13 tahun lamanya sudah mulai dinikmati. Dari Salon Amrie Grup yang disebut-sebut memiliki omset Rp 1 miliar setahun itu, dia sudah memiliki rumah dan mobil mewah serta bisa menyekolahkan dua anaknya ke luar negeri. 

Sumber : ciputraentrepreneurship.com