Senin, 05 November 2012

Pengrajin Batik Kayu


Masa kecil Anton Wahono (50), owner CV Sanggar Panokawan, Krebet Sendangsari Pajang Bantul, jauh dari bahagia. Dia lahir dari keluarga kurang mampu. Hidupnya penuh keprihatinan.

Di tengah keterbatasan ekonomi keluarga, justru menumbungkan semangat pantang menyerah dari Anton Wahono. Anton kecil sudah harus menjalani kerja demi rpiah. Pekerjaan yang ditekuninya, yakni mencari rumput. Setiap hari blusukan hutan jati di sekitar dusun Krebet, mencari rumput. Rumput tersebut lantas dijualnya ke pasar Bantul. Tak peduli harus berjalan kaki melintasi jalan terjal berbatu kapur yang jika musim hujan, sangat licin. Jalanan becek dan licin tak mematahkan tekadnya untuk mencapai pasar dengan membawa sekeranjang rumput segar.

Belum cukup, masa anak-anak yang seharusnya dinikmati dengan bermain justru dijalaninya dengan kerja keras. Kadang dia harus jalan kaki keliling kampung dengan berjulaan pisau. Bahkan sampai perbatasan kota. Semua dilakukan hanya untuk mencari uang untuk biaya sekolah.

Tamat sekolah dasar, tidak lantas ia melanjutkan sekolah ke SMP. Dia membulatkan tekad untuk belajar menatah wayang kulit. Lantas dia nyantrik selama tiga tahun kepada pengrajin bernama Pak Tumpu di Gendeng Bangunjiwo Kasihan.

Bekerja di sana tanpa dibayar. Namun mengharapkan imbalan berupa ilmu menatah wayang kulit. Kegiatan itu dilakoni dengan penuh kesabaran. Baginya semua pasti aka nada hasil. Itulah keyakinan yang selalu ditanamkan dalam hatinya. “ilmu itu didapat dengan melaku (proses),” tutur Anton.

Pasti tidak akan menyangka bila Anton, pengusaha sukses itu, dulunya adalah tukang rumput. Kini bisnis kerajinan Wayang, batik kayu dan bamboo yang ditekuninya berkembang pesat. Produk kerajinannya melanglang ke seluruh penjuru dunia. Bahkan, Anton pernah menyambangi 8 negara. Kesehariannya, dia dibantu oleh 30 karyawan. 

Sumber: id.shvoong.com

Pengusaha Mebel


Siang begitu terik, namun Sahid (50) tak peduli peluh keringat deras bercucuran. Sembari memegang alat penyemprot berisi pernis, ia terlihat asyik merampungkan pesanan kusen pintu. Kusen itu akan diambil pemesannnya satu hari lagi. Karena beberapa pegawai izin libur, terpaksa ia pun turun tangan. 

Sepintas bila melihat kesibukan pemilik Sahid Furniture ini tidak berbeda jauh dengan pengusaha mebel lainnya. Namun setelah mendengar kisah hidupnya, semua orang bakal terenyak. Sahid memiliki bengkel produksi, yakni di Pondok Raden Patah II Blok U No 20, Sayung, Demak yang sekaligus menjadi tempat tingganya. Bapak tiga anak itu berangkat menjadi wiraswasta dari serba keterbatasan. 

Suami Muntiah ini dulunya adalah tukang kayu. Sahid terlahir dari keluarga miskin di Desa Mantingan Kecamatan Tahunan, Jepara. Ayahnya, Kardi juga seorang tukang kayu. Kondisi itulah yang menguatkan tekad pria tamatan SD ini. Selama delapan tahun, sampai tahun 1987 ia melakoni pekerjaan sebagai tukang kayu. Sedikit demi sedikit tabungan hasil dari kerja kerasnya itu ia gunakan sebagai modal untuk merintis usaha sendiri. 

Sekitar tahun 1988 di Kampung Kebonharjo, ia menghasilkan beragam furniture dari triplek. Ada lemari, bufet, dan meja tulis. Namun usaha itu hanya bertahan satu tahun. 

Pernah Ditipu

Meski gagal, Sahid tidak patah arang. Modal yang masih tersisa saat itu ia belikan kayu jati glondongan. Kayu tersebut diolah menjadi bufet, lemari pakaian, kursi, dipan dan meja rias. Kendati tidak memiliki toko, pesanan terus mengalir. Awalnya, pesanan datang dari tetangga. Setelah itu, ia mulai menawarkan ke toko-toko mebel. Hasil karya Sahid kini telah menghiasi toko-toko mebel besar di Semarang, Salatiga, dan Yogyakarta. 

Ada pula yang dikirim hingga ke Lampung dan Makasar. Tiap bulan, kini produksinya rata-rata mencapai 15-20 unit. Harga yang ditawarkan dari yang terendah Rp 1,1 juta (meja rias) hingga Rp 14 juta (1 set sofa). Dari tahun ke tahun usahanya berkembang terus, bahkan sekitar tahun 1997 ia memutuskan pindah rumah ke Pondok Raden Patah.

Keberhasilan Sahid tidak terlepas dari buah hasil kerja keras dan keuletannya selama ini.  Dalam perjalanan suksesnya ia  pernah mengalami pengalaman pahit yakni ditipu toko mebel di Pekalongan, yang hingga kini masih ada tunggakan sebesar Rp 55 juta. Ataupun harga jual dibanting gara-gara pengiriman barang yang terlalu mepet.

Sumber : suaramerdeka.com

Sukses Susu Sehat


Kebutuhan akan susu bagi masyarakat umum semakin meningkat sejalan tumbuhnya kesadaran pentingnya mengkonsumsi susu. Tawaran produk susu dari berbagai produsen pun kian beragam, mulai dari susu bayi, susu kalsium, susu menambah otot, susu rendah lemak dan lain-lain.
Nah, ada kemitraan usaha toko Susu Oke, yang menawarkan konsep pengelolaan spesialis toko susu. Susu Oke mengusung konsep penjualan susu semua merek dan jenis susu yang ada dipasaran.
Bagi yang berminat, si mitra harus menyiapkan investasi setidaknya Rp200 juta di luar tempat. Investasi tersebut sebanyak Rp 175 juta untuk stok produk awal dan Rp25 juta sebagai joint fee. Si mitra akan mendapatkan sistem komputerisasi, software, printer, barcode scanner, seragam, kartu nama disediakan oleh pihaknya. Sementara perlengkapan toko seperti rak dan etalase ditanggung mitra.
Pemilik kemitraan Susu Oke Ferry A. Soputan mengatakan bahwa konsep bisnisnya ini belum mendapat status sebagai waralaba namun masih sebagai business opportunity (BO) berbasis kemitraan.
Toko Susu Oke menawarkan harga susu lebih miring lebih murah Rp5000-10.000 per produk dari harga pasaran seperti di supermarket. Ferry menjelaskan bagi investor yang sudah memulai usaha namun ada beberapa produk susu yang tak layak, maka investor atau mitra bisa menukarkan produk susunya dengan produk yang lebih laku.
Selain itu, si mitra bisa juga menukarkan produknya yang rusak seperti kemasan rusak dan masa kadaluarsa berakhir. Bahkan lebih jauh lagi pihaknya menjamin akan melakukan buy back atau membeli kembali terhadap produknya dalam jangka 1 tahun. “Hanya kita yang bisa melakukan seperti itu,” kata Ferry saat ditemui detikFinance, akhir pekan lalu.
Ferry menjelaskan sejak memulai usaha ini pada tahun 2007 lalu saat ini setidaknya sudah ada 30 mitra yang tersebar di Jabodetabek. Tahun ini ia menargetkan bisa menambah mitra hingga 50 gerai. “Sasaran pasar kita adalah untuk segmen middle low terutama untuk daerah pada perumahan,” katanya.
Ia menjelaskan margin si mitra rata-rata dari bisnis ini mencapai 5-10% per produk. Ferry mencontohkan beberapa mitra pertama yang berada di wilayah Mampang Jakarta misalnya bisa meraih margin hingga Rp 20 juta per bulan dengan omset hingga Rp400-500 juta per bulan. “Berdasarkan pengalaman balik modal bisa kembali rata rata 1,5 tahun,” imbuhnya.
Ferry menjelaskan sejatinya bisnis toko sangat menggiurkan karena permintaannya dan harganya terus naik. Selain itu konsep toko susu di Indonesia belum terlalu dilirik orang.
Kisah awalnya nyemplung ke bisnis ini sangat unik alias tak sengaja. Awalnya ia seorang pebisnis showroom mobil dan supplier gerai-gerai toko HP. Ia mencoba mencicipi memberikan modal kepada istrinya untuk bisnis toko susu dengan menggandeng semua prinsipal pabrik susu seperti Kalbe, Sari Husada, Abbot, Wyeth, Nestle, Nutricia, Frisian Flag dan lain-lain. 

Walhasil bisnis istrinya berjalan mulus, omset miliaran rupiah per bulan berhasil ia raup. “Iseng-iseng, ternyata omset tokonya bisa sampai Rp 500 juta per bulan, sampai 
1,3 miliar,” katanya.


Sumber : wordpress.com

Sukses Bisnis Boneka


Tak disangka, tahun 2001 merupakan awal kesuksesan berbisnis buat Sonya Chaterina(31). Dalam waktu dua jam, dagangan 100 boneka Teletubbies miliknya ludes terjual. Dan, dalam waktu supersingkat itu pula ia berhasil meraup keuntungan sebesar Rp 2 juta. Padahal boneka tersebut dibelinya di Mangga Dua, Jakarta, dan dijualnya di lapangan Gasibu, Bandung.
 
Tahu akan mudahnya berbisnis sampingan ini, Sonya yang saat itu masih kuliah tingkat akhir di Institut Teknologi Bandung jurusan Biologi, melakukan hal yang sama setiap akhir pekan. Selama empat bulan lamanya, ia memborong boneka dari Jakarta dan menjualnya di Kota Kembang.
 
Namun, karena kesibukan membuat skripsi, menikah, dan mengurus anak, bakat bisnisnya terpaksa harus disimpan untuk sementara waktu. Tahun 2005, angin segar mengenalkannya kepada seorang pemilik pabrik boneka. Pertemuan ini berhasil menginsipirasi dan membangkitkan bakat bisnisnya yang sempat mati suri. Dengan modal 100 boneka sisa yang tak terjual dari pabrik rekannya, Sonya berhasil mendapat keuntungan Rp 10.000-30.000 untuk setiap boneka yang berhasil dijualnya.
 
Setelah melihat-lihat, Sonya merasa yakin bahwa ia sebenarnya bisa membuat boneka yang lebih lucu. Dengan niat ini ia mulai mendesain boneka sendiri dan memajangnya di halaman blog pribadinya, bonekaku.blogspot.com. Idenya didapat dari surfing di internet, jalan-jalan di mal, menonton acara TV, serta hadiah boneka luar negeri dari teman. Karena memang desainnya lucu, menarik dan menggemaskan, jumlah permintaannya pun akhirnya meledak.
 
Ia yang awalnya hanya menjual ‘muntahan’ pabrik, akhirnya mencari material yang diperlukan untuk membuat pesanan, lalu menumpang pembuatan di pabrik temannya. “Modal saya Rp 20 juta untuk belanja bahan baku, aksesori boneka dan membayar ongkos kerja mereka. Harga bahan memang mahal, jika mau kualitasnya baik,” jelas Sonya yang kerap hunting bahan di Pasar Pagi Asemka, Glodok, Jakarta.
 
Kesuksesan bisnis Sonya diakui juga berkat strategi jemput bola yang dijalankan. “Saya rajin presentasi produk ke perusahaan, hotel, bank, universitas, biro iklan, yang menginginkan boneka maskot. Saya juga melayani permintaan pribadi untuk suvenir ulang tahun dan pernikahan,” tuturnya. Pernah terjadi sebuah perusahaan memesan hingga 15.000 buah. Saking kewalahan, Sonya menyebar order tersebut ke beberapa home industry boneka. “Saya tinggal kirim potongan bahan dan aksesori. Mereka yang membuat. Dengan cara itu target waktu 5 minggu bisa ditepati,” ungkapnya.
 
Karena setiap tahun kenaikan order mencapai 10 kali lipat, akhirnya daripada numpang produksi terus di tempat teman, Sonya membuka home industry sendiri. Modal yang ditanam sebesar 30 juta untuk membeli 5 mesin jahit, kontrak rumah, 1 alat potong bahan, membayar 3 karyawan serta membeli perlengkapan konveksi. Dengan punya produksi sendiri, ada beberapa keuntungan yang didapat, seperti quality control yang lebih bagus, serta manajemen waktu produksi yang lebih baik. “Sebelumnya saya harus antre agar pesanan saya bisa dikerjakan. Namanya juga numpang,” ulasnya.
 
Kini, per bulan ia bisa mempunyai omset Rp 30-100 juta, tergantung dari tinggi rendahnya permintaan. “Namanya bisnis, pasti ada pasang surutnya. Biasanya kalau pas ikut pameran di PRJ, atau perusahaan minta dibuatkan suvenir, atau pas hari Valentine, permintaan bisa melambung,” tuturnya bersemangat. Tahun ini ia punya 7 karyawan tetap.
 
Namun demikian, banjir order itu tidak lantas membuatnya menerima semua permintaan yang masuk. “Dulu, awal-awal usaha saya mengalami euforia. Demi mendapat keuntungan besar, inginnya semua order diambil. Namun sekarang, saya berani menolak order. Yang penting pelanggan puas,” imbuhnya.


Sumber : wanitawirausaha.femina.co.id

Pengusaha Coklat Lokal

Banyak orang harus bingung memulai usaha apa yang cocok buat dirinya. Padahal seringkali orang tak sadar, justru usaha orang tua semasa kecil bisa menjadi inspirasi bisnis saat ini dan layak diteruskan.

Hal ini lah yang dialami oleh Farida Ariyani. Sang pemilik Vanssa Chocolate (Vanssa) ini memulai bisnis produk olahan coklat karena sudah kenyang menimba pengalaman dari nenek dan ibunya dalam hal membuat produk olahan coklat.

Nama Vanssa kini kian mantap menjadi salah satu produk kemasan coklat lokal yang diperhitungkan di pasar dalam negeri. Padahal awalnya Vanssa harus bersusah payah menembus pasar karena bersaing ketat dengan produk-produk coklat impor.

"Faktor lingkungan dari orang tua, sejak kecil saya sudah tahu soal coklat dan permen. Saya menguasai betul, dari nenek, saya belajar coklat," kata Farida kepada detikFinance, Selasa (22/3/2011).

Farida mengaku meski mendapat warisan pengetahuan membuat coklat dari orang tuanya, ia tak puas begitu saja. Ia memutuskan menggali ilmu cara membuat coklat secara moderen di pusat penelitian kakao dan coklat di Jember, Jawa Timur.

"Saya terus melakukan inovasi produk, sampai tahun 2001 lalu saya perkenalkan merek Vanssa," katanya.

Produk Vanssa yang ia produksi awalnya tak mudah menembus pasar ritel moderen. Ia coba perkenalkan produknya mulai dari teman-temannya hingga ke toko-toko kecil di sekitar rumahnya.

Sebagai generasi terdidik, Farida juga sadar bahwa produk coklatnya memiliki karakter khas, sehingga ia harus bersusah-susah mengurus hak paten, sertfikasi halal dan lain-lain demi kelangsungan bisnis coklatnya.

"Saya punya prinsip terus berjuang mencari dan mencari , tak lelah-lelahnya belajar, bagaimana produk kita percaya diri, bukan saya tapi produknya yang percaya diri," katanya.

Kini Vanssa sudah tersebar ke beberapa pasar lokal seperti Surabaya, Sidoardjo, Gresik, Jakarta, Jogjakarta, Kendari, Batam, Bali, Balikpapan. Bahkan produk Vanssa sudah menembus pasar ekspor di Jeddah sebagai oleh-oleh biro perjalanan haji.

Farida menambahkan membuat produk coklat memerlukan edukasi ke pasar. Selama ini coklat dituding sebagai biangkeladi untuk urusan menambah berat badan dan pembuat lubang di gigi.

"Kalau orang habis makan coklat, tak gosok gigi, yah bisa bikin lubang gigi," katanya.

Untuk urusan ini, Farida sangat konsen dalam menentukan komposisi bahan baku seperti penggunaan lemak sehat yang tidak menimbulkan kolesterol. Selain itu, ia menggunakan gula khusus sehingga aman bagi penderita diabetes dan siapa saja.

Vanssa sendiri, lanjut Farida dikemas dengan satuan kemasan kecil-kecil sehingga produk coklat aman dari kontaminasi udara atau unsur lainnya yang bisa membuat coklat rusak. Ia optimis, mengembangkan bisnis coklat sangat lah menjanjikan, apalagi dengan pendekatan inovasi.

"Coklat itu kompetitornya nggak banyak, saya sudah bergelut coklat sejak dari kebon hingga proses produksi," katanya.

Sebagai produk coklat asli lokal, Farida mengatakan Vanssa sempat dipandang sebelah mata. Banyak masyarakat memandang produk coklat impor lebih bagus dari produk coklat lokal, padahal yang terpenting adalah kualitas dan rasa.

"Orang Indonesia melihat sebelah mata coklat lokal, mereka lebih bangga dengan coklat impor," katanya.

Menurutnya, coklat buatannya mampu bersaing dengan coklat impor yang sudah banyak beredar di pasar. Dalam urusan harga, ia berani jamin produk coklat olahan lokal bisa bersaing, misalnya Vanssa dijual mulai dari Rp 6.500 sampai Rp 40.000.

"Saya patut akui segmen produk coklat memang segmen market moderen, menengah keatas, kalau pasar tradisional nggak laku, dari sisi harga," katanya.

Farida mengatakan, ia membuka kesempatan bermitra dengan siapapun yang ingin sukses menggeluti bisnis coklat, termasuk dalam hal pemasaran dan suplai bahan baku. Kini bisnis coklatnya terus tumbuh hingga 10-20% setiap bulannya.

Produk coklat Vanssa rata-rata terjual 100 kg per hari, atau 2-3 ton per bulan. Bahan baku yang ia pakai semuanya dari lokal, yaitu 40% dari Jawa dan 60% luar Jawa. "Omset rata-rata Rp 100-150 juta per bulan," katanya.

Sumber : didiksugiarto.com

Sukses Elektronik Glodok

Jika Anda berjalan-jalan ke kawasan Kelapa Gading untuk mencari gerai Glodok Elektronik (GE) bisa dipastikan Anda tak menemukan kesulitan. Sebab, tampilan gerainya di Jalan Kelapa Gading Boulevard amat ngejreng. Tembok tokonya berwarna kuning cerah dengan motif meteor berwarna-warni berikut lambang GE. Bukan hanya tampilan fisiknya, website GE pun sangat atraktif. Dengan warna kuning dan merah yang dominan, situs yang menjadi wahana penjualan semua produk GE ini terlihat menarik. Tampak sekali situs ini pun dikelola serius.


Meskipun namanya memakai embel-embel ”elektronik”, nyatanya GE tak hanya menjual alat-alat elektronik, tapi juga berbagai perabot rumah tangga (peralatan dapur dan rumah tangga lainnya), perkakas teknik (suku cadang otomotif, electrical & power tool, dan berbagai perangkat keras lainnya). Lihat saja, lantai satu toko GE di Kelapa Gading itu banyak diperuntukkan bagi perkakas teknik, sedangkan lantai dua diisi peralatan kantor, komputer, plus aneka jenis mainan anak-anak. Toko ini menjual aneka produk dari berbagai merek, mulai dari Sony, Sanyo, Panasonic, Sharp, LG, Toshiba, Maspion, Philips, Samsung, Electrolux, Pioneer, hingga Changhong.

Di Jabodetabek, kini ada lima gerai GE. Selain hadir di Kelapa Gading, gerai GE juga berlokasi di Gedung Sarinah (Jakarta Pusat), Pondok Indah, Bumi Serpong Damai (Tangerang), dan Cikarang.

Perkembangan GE tak lepas dari tangan dingin Budy Zakaria, pendiri dan pemilik jaringan gerai GE. Pria kelahiran 10 Februari 1953 ini mengungkapkan, ia mengawali bisnis penjualan barang-barang elektronik sebagai montir elektronik, karena iseng mengikuti jejak kakaknya yang lebih dulu menjalani profesi ini di Glodok. Budy remaja pun secara otodidak mempelajari keahlian yang ditekuni kakaknya itu. Tak berselang lama, Budy mulai melayani panggilan untuk memperbaiki perkakas elektronik yang rusak. “Awalnya saya diremehkan sama orang-orang. Kata mereka, 'Bisa memperbaiki beneran atau tidak, Dik?'” ujar Budy menirukan beberapa orang yang menggunakan jasanya pertama kali. Mendengar itu, mental Budy sempat menciut. Toh, dasar jiwa entrepreneurship-nya cukup kuat, ia tak cepat-cepat mundur. ”Meski keder juga karena diremehkan, tapi tetap saya selesaikan pekerjaan itu,” kata Budy.

Kala itu, Budy memperbaiki pesawat televisi. Sebagai pemain pemula, Budy hanya melayani perbaikan di lingkungan Glodok, atau barang-barang milik klien kakaknya saja. Lambat laun pasar Budy semakin meluas. Apalagi, dia kemudian memperkaya ilmunya – terutama mengenai televisi transistor – dengan belajar di ONG Elektronik, Pasar Baru, Jakarta.

Dari sini jaringannya mulai terbangun. “Semakin lama, banyak orang yang saya kenal. Lalu pelan-pelan saya juga disuruh menjualkan barang-barang mereka,” ujar Budy. Mayoritas pemilik toko elektronik yang menjadi klien Budy tidak bisa membenahi televisi yang rusak. Karenanya, Budy diminta bantuannya untuk memperbaiki sekaligus menjual barang reject itu.

Dalam hal penjualan, mulanya Budy hanya melempar barang dari satu toko ke lain toko. Ia belum berani melayani pembeli individual. Akibatnya, margin keuntungan yang diperoleh tidak maksimal. “Mulailah saya berjualan televisi sambil menjadi montir. Saat itu masih jualan di rumah,” kata Budy. Untuk mempromosikan dagangannya, ia memasang iklan di radio dan koran pada masa itu. “Tidak tahu nama korannya apa. Yang pasti banyak orang yang tahu keberadaan saya, sehingga permintaan semakin banyak,” ujar bapak lima anak ini. Alhasil, Budy mampu menjual 10 unit televisi per bulan.

Merasa pasarnya semakin berkembang, Budy memutuskan untuk keluar kandang. “Sebab, kalau hanya jualan di rumah, ya hanya orang-orang tertentu yang tahu saya. Akhirnya saya masuk ke Glodok tahun 1978,” cerita Budy. Di Glodok, Budy yang ketika itu berusia 23 tahun berkongsi dengan lima saudaranya membuka sebuah toko. “Karena lima orang bersaudara, toko kami itu diberi nama Pandawa Lima,” ujar Budy tentang toko yang hanya berukuran 4 x 6 meter itu. Ia mengakui, mulanya displai barang sama sekali tidak menarik. “Hanya ditumpuk begitu saja.”

Tak dinyana, bisnis mereka berkembang bagus, hingga menjadi 9 cabang. Masing-masing toko memiliki nama dari tokoh Pandawa Lima. “Ada Bima 1, Bima II dan lainnya sampai 9 toko,” ujarnya. Karena demikian majunya, mereka sempat ekspansi dengan membuka gerai di Plaza Indonesia. Namun karena tidak menuai sukses akibat pasar yang lesu, toko ini ditutup. “Di situ tidak pernah berhasil. Mungkin karena harga jual di mal yang tinggi, dan selain itu, orang masih rajin ke Glodok,” kata Budy menganalisis.

Pada 1983, musibah datang: Pasar Glodok terbakar. “Akhirnya, saudara-saudara saya berpencar ke berbagai tempat, sedangkan saya buka toko di Kelapa Gading (tahun 1984),” ujarnya. Budy mengisahkan, ketika itu kawasan Kelapa Gading masih sepi karena masih diisi hamparan sawah yang luas. “Saya sempat ditertawakan, kok buka toko di situ.” Akan tetapi, Budy punya alasan sendiri. “Di sini kan jauh dari Glodok. Jadi pasarnya potensial,” katanya sambil mengungkapkan pada saat itu untuk membuka toko (ukuran 15 x 4 meter) hingga ready for selling membutuhkan dana Rp 250 jutaan. Di sisi lain, untuk suplai barang, dia mengaku tidak kerepotan. Pasalnya, Budy memiliki banyak jaringan. “Barang tidak ada masalah, teman-teman di Glodok, Kramat Jati, dan tempat lain mengisi toko saya. Sistemnya konsinyasi,” katanya sambil menjelaskan meski berlokasi di Kelapa Gading, ia tetap mengaplikasikan dua konsep Glodok, yakni selain displai barang apa adanya (ditumpuk saja), juga memberlakukan pola tawar-menawar.

Untuk menarik perhatian pembeli, ia membuat terobosan dengan cara memasang harga banderol pada fast moving item. Dia mengklaim dirinyalah yang pertama kali mengaplikasi metode ini. “Tapi biar sudah dipasang tarif, barang masih bisa ditawar,” ucapnya seraya terkekeh. Ide ini muncul saat Budy kerepotan menghadapi konsumen yang memberondongnya dengan pertanyaan. Tidak jarang dia harus kehilangan calon pembeli lantaran tidak terlayani. “Kalau yang nanya satu-dua masih bisa, tapi pas ramai tentu tidak bisa, akhirnya mereka (konsumen) tidak jadi beli,” kata Budy, yang belakangan juga memasang point of purchasing. “Sehingga konsumen tinggal memikirkan harga saja. Biasanya kalau mereka bertanya hanya membandingkan dengan merek lain,” lanjutnya bangga lantaran konsep ini cukup mujarab menggaet pembeli. Dengan taktik seperti itu, tak sampai dua tahun, item produk yang dijualnya pun bertambah. Ia menjalin hubungan dengan beberapa pemasok, dan sekarang ia sudah menjaring sekitar 500 pemasok.

Budy mengaku, dalam menjual barang elektronik, ia tidak suka terikat dengan satu merek. Dengan begitu, dia bisa bebas menjual berbagai produk dari berbagai merek. Meski banyak produsen yang merayu dengan iming-iming menggiurkan, Budy tidak tergoda. Menurutnya, keterikatan pada satu merek bisa menggiring pedagang untuk berbuat tidak jujur, bahkan bisa mendiskreditkan merek lain. “Efeknya nanti saya tidak jujur pada konsumen. Mending beli mahal sedikit dari distributor, asal bebas jual barang,” ujarnya sambil menjelaskan prinsip GE dalam berdagang adalah memberi kebebasan dan arahan kepada konsumen dalam menentukan merek. 

Prestasi dan konsistensi Budy tercium oleh Hari Darmawan, yang kala itu pemilik gerai ritel beken Matahari. Hari merangkulnya untuk mendirikan gerai elektronik di beberapa department store Matahari lantaran perusahaan ritel ini menerapkan konsep one stop shopping. Maka, gerai GE pun hadir di Metropolitan Mall (Bekasi) disusul di Mega Mall Pluit, Pondok Gede Plaza, rumah Matahari Bandung, Cirebon, dan Surabaya. “Melihat keberhasilan ini, Ramayana dan Hero juga merangkul saya,” katanya.

Dengan perkembangan seperti itu, total gerai GE pada 1993 mencapai 25 unit. Omzet tiap gerai mencapai Rp 200–300 juta per bulan. Gerai GE di Sarinah yang berdiri sejak 1994 dikenal sukses. Bahkan, Budy mengklaim, gerai seluas 60 meter persegi ini mampu menyaingi gerainya di Matahari, Ramayana dan Hero yang luasnya sekitar 200 meter persegi. Omsetnya sekitar Rp 100 juta per bulan.

Namun sekarang Budy mengaku enggan membuka kemungkinan bekerja sama dengan pihak lain. Menurutnya, berbisnis dengan uang orang lain risikonya besar sekali. Keyakinannya itu ia buktikan dengan tetap serius mengembangkan GE Kelapa Gading dan GE Sarinah. Pada 2000, ia pun membuka gerai baru di Pondok Indah, dan tahun berikutnya GE dibuka di Bumi Serpong Damai. Cabang GE yang ke lima hadir di Slipi Plaza.

Meski sekarang telah memiliki lima gerai GE yang didukung sekitar 80 karyawan, Budy mengaku masih memantau langsung gerai-gerainya itu. Pasalnya, dia sadar benar akan risiko bisnis elektronik. “Bisnis ini harus dikontrol dengan baik,” katanya. Karena alasan kepercayaan ini pula ia belum berani ekspansi ke luar Jakarta, dan juga belum mau mengembangkan gerai dengan cara waralaba.

Sumber : iputraentrepreneurship.com

Pengusaha Donat Kampung Utami


Rosidah Widya Utami kini sukses menjadi produsen donat ternama di Jombang, Jawa Timur. Dipasarkan dengan brand Donat Kampung Utami (DKU), produk donatnya dikenal luas hingga ke luar negeri. Omzetnya ratusan juta dalam sebulan.

Berawal dari hobi membuat kue, Rosidah Widya Utami kini sukses mengembangkan bisnis pembuatan donat dengan brand Donat Kampung Utami (DKU). Omzetnya dalam sebulan mencapai ratusan juta.

Selepas lulus kuliah Fakultas Administrasi Negara Universitas Brawijaya, Malang, Utami sempat bekerja sebagai tenaga administrasi. Namun, kecintaannya pada dunia masak-memasak mendorong Rosidah untuk membuka usaha sendiri.
Di tahun 2001, Rosidah Widya Utami mulai membuka bisnis aneka masakan, termasuk kue. Modal awalnya hanya Rp 100.000. Setelah beberapa bulan berjalan, Rosidah terpikir untuk memfokuskan usahanya pada satu jenis makanan. Ia pun memilih donat dengan pertimbangan kue ini termasuk jajanan yang disukai semua kalangan. 

Sebagai jajanan kampung, saat itu donatnya dijual dengan harga Rp 500 per biji.  "Saya pilih donat karena banyak yang suka," katanya.

Ia merintis usaha pembuatan donat dengan modal dan peralatan seadanya. Untuk mengaduk adonan donat, semisal, seharusnya memakai mixer ukuran besar. Namun, Rosidah memakai mixer biasa. "Peralatan saya sangat minim. Di bawah standar pabrik kue. Tapi itu tidak menyurutkan semangat saya," ujar Utami. 

Dibantu seorang pembantu, ia membuat ratusan donat saban hari dan menjajakan ke sekolah-sekolah. Agar produknya makin dikenal, Rosidah juga rajin mengikuti berbagai pameran wirausaha makanan. Setiap ada pameran di sekitar Jawa Timur, ia pasti ikut serta.

Bukan cuma itu saja, Utami juga memasarkan donat buatannya yang diberi merek Donat Kampung Utami (DKU) lewat blog pribadi. 

Sehari-hari, Rosidah tak pernah lupa menuliskan setiap aktivitas seputar usaha donat yang ia geluti, di blog. Bahkan, rezeki mengalir deras berkat blog pribadi tersebut.

Pada tahun 2008, ada investor Malaysia tertarik untuk membeli resep donat milik Utami. Bahkan, ia sampai diundang ke Malaysia. 

Sang investor Malaysia itu kemudian membuka gerai donat di Penang Malaysia dengan nama Nash Donut. Kini Nash Donut telah memiliki empat gerai yang berasal dari resep dasar Rosidah. Tiap bulan Nash masih membayar royalti pada Rosidah.

Hasil dari penjualan resep plus pembayaran royalti itu cukup lumayan. Rosidah memanfaatkannya untuk mengembangkan usaha yang membuka gerai donat di Jombang. Pada 2009, Rosidah mulai membuka gerai donat bernama Roshberry Donuts and Coffee di Jombang.

Selain resep, pengusaha asal Negeri Jiran itu juga membeli tepung donat dari Utami. Selama ini, ia memang memasarkan tepung donat ke kalangan umum tidak hanya ke pengusaha Malaysia itu. Harga jual tepung donat mulai Rp 50.000-Rp 200.000 per 1,5 kilogram (kg).

Belajar dari mitranya di Malaysia itu, Rosidah sadar akan pentingnya peran marketing agar usahanya makin berkembang. Rosidah pun mulai membenahi sistem pemasaran dan operasional usahanya. "Melihat di Malaysia, donat saya bisa dipasarkan dengan baik, saya mulai fokus membenahi manajemen," ujar dia. 

Dengan membuka gerai donat, Rosidah juga ingin agar donat buatannya itu naik kelas sehingga lebih bergengsi. Kualitas donat produknya dinaikkan ke kelas premium dengan harga Rp 4.000 per buah. Logo dan kemasan donatnya pun ia buat dengan standar yang lebih baik. 

Utami juga membuat website sendiri, bahkan mengiklankan produknya secara berbayar via sejumlah media internet, seperti Google dan Facebook. 

Pelanggan donatnya terbesar di berbagai daerah di Pulau Jawa, Sumatra, hingga Kalimantan. "Selama ini, saya banyak kirim ke pelanggan di daerah-daerah," ujarnya.

Sejak tahun 2008, beberapa negara, seperti Hong Kong, Malaysia, dan Singapura juga telah menjadi langganan tetap donat buatan Utami. Selain itu, ia juga memasarkan produk donat itu ke London dan Belanda.

Selama 11 tahun mengendalikan usaha, telah banyak kemajuan yang dicapai. Bahkan, DKU telah menjelma sebuah grup usaha yang membidangi beberapa cabang usaha. 

Selain donat, Utami juga merambah usaha pembuatan aneka kue kering, kue tart, brownies, dan roti manis. Usaha ini dikelolanya di bawah bendera DKU Cookies. Pendapatan dari kue kering ini melonjak tajam saat Lebaran dan akhir tahun. "Lebaran tahun ini, omzet saya dari penjualan kue kering saja mencapai Rp 500 juta," ujar Utami.

Ia juga merambah bisnis restoran dengan mendirikan rumah makan Sari Rasa di Jombang. Tahun ini, Utami juga telah menambah tiga bisnis baru ke dalam grupnya. Di antaranya bisnis toko oleh-oleh khas Jombang. Dua lainnya tidak terkait dengan bisnis makanan, yakni jasa hosting desain web dan marketing, serta bisnis fashion and jewelry. 

Sumber : birotiket.web.id