Selasa, 05 Februari 2013

Kuli Bangunan Jadi Bos Pabrik


Dari tak punya apa-apa, Tri Sumono akhirnya menjadi miliarder. Ia hanyalah anak seorang janda miskin di sebuah desa, Gunung Kidul, Yogyakarta yang merantau ke kota Jakarta mengadu nasib. Berkat keuletan dan ketekunannya, ia berhasil merebut kepercayaan orang lain mendirikan pabrik kemasan.

Dibesarkan ibunda tercinta yang merupakan seorang petani miskin di sebuah desa Gunung Kidul, Yogyakarta, Tri Sumono kecil hidup prihatin. Bertumbuh dengan gizi seadanya, ia juga harus membuang energi besar demi mengenyam pendidikan di sekolah menengah atas (SMA) yang jaraknya 40 km dari desanya. Ke sekolah SMA itu, ia bolak-balik menggenjot sepeda setiap harinya. Peringkat yang dianggapnya sempurna layak ditorehnya untuk itu: 39 dari 40 siswa.

Tri tidak sedang bercanda. Ia bersyukur masih bisa lulus SMA. Setelah lulus dari sekolah tersebut tahun 1993 silam, ia pun merantau ke Jakarta. Dalam tas ranselnya hanya ada sebuah celana dan kaos oblong. Ia datang bersama sepupunya. ”Saya sudah melangkah dari rumah, saya tidak akan kembali ke rumah lagi sebelum saya sukses. Itu sudah prinsip,” tekatnya saat melangkah dari desa terpencil itu.

Ijazah nilai di bawah standar ditentengnya ke sana ke mari melamar kerja di Jakarta. Ia pun nyangkut mendapat peluang buruh bangunan di Ciledug. Tak lama berselang, dirinya mendapat tawaran kerja di tempat lain. “Saya diterima sebagai tukang sapu di kantor Kompas Gramedia (grup media massa red.),” lanjut Tri, begitu sapaan akrabnya. Ia bersyukur dengan profesi tersebut dari pada sekadar buruh bangunan.

Sedikit lebih mudah ketimbang buruh. Sebagai tukang sapu ia lebih santai membersihkan kantor berlantai-lantai itu. Tak heran bila tenaganya terlalu besar untuk menyelesaikan pekerjaan seenteng itu. “Akhirnya saya diangkat ke posisi yang lebih keren lagi, yakni office boy,” kenangnya. Di posisi tersebut ia sering berada dalam ruangan ber-ac. Ia mondar-mandir melayani beragam perintah para karyawan kantor di dalamnya.

Ia selesaikan perintah seisi kantor itu jauh lebih cepat dari yang diperkirakan mereka. “Saya pun diangkat menjadi marketing,” katanya sembari melanjutkan, posisi yang didudukinya setelah itu adalah penanggung jawab gudang. Hanya saja, gaji yang dia peroleh cuma cukup buat dua orang putrinya. Untuk itu, bersama istri ia mencari penghasilan tambahan. Bermodalkan Rp100 ribu dari sisa gaji, ia memilih berdagang keliling di sekitar kontrakannya di wilayah Palmerah, Jakarta.

Hari demi hari sepulang kerja, keringatnya bercucuran keluar masuk gang berjualan aneka kebutuhan pokok. Hari Sabtu dan Minggu pagi, ia menggelar dagangan di Gelora, Senayan. Modalnya mulai terkumpul, Tri mengambil space di Mal Graha Cijantung. Usaha itu pun melesat tajam, sebelum akhirnya dijual ke orang lain. “Tetapi hasil dari usaha itu, saya sudah punya tabungan,” lanjutnya. Tabungan tersebut, dipakainya untuk membeli rumah di Pondok Ungu, Bekasi Utara.

Di kediamannya itu, otak dagangnya belum tamat. Ia membuka warung kebutuhan pokok. Sambil menjalani itu, ia melihat peluang sari kelapa, sebuah produk hasil penelitian Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). “Saya datang ke LIPI untuk meminta bakteri dan cara pembuatan sari kelapa,” jelasnya. Ia belajar membuatnya sendiri hingga rela belajar di Institut Pertanian Bogor (IPB) agar sari kelapanya berkualitas. Lima ribu nampan berhasil ia suplai ke sebuah perusahaan tak jauh dari rumahnya.

“Saya bilang kepada penerima sari kelapa itu, kalau sari kelapa saya rusak tolong bilang rusak dan saya ganti. Dan begitu seterusnya,” katanya. Melihat keseriusan, kejujuran, keingintahuan yang besar serta ketelatenannya, pemilik perusahaan penerima sari kelapa itu diam-diam mengaguminya. Ia pun dimata-matai orang lain, yang punya niat baik bekerjasama dengannya.

“Saya bilang kepada penerima sari kelapa itu, kalau sari kelapa saya rusak tolong bilang rusak dan saya ganti. Dan begitu seterusnya,” katanya. Melihat keseriusan, kejujuran, keingintahuan yang besar serta ketelatenannya, pemilik perusahaan penerima sari kelapa itu diam-diam mengaguminya. Ia pun dimata-matai orang lain, yang punya niat baik bekerjasama dengannya.

Untuk itu, rumah berlantai dua dibelinya untuk gedung pabrik. Mesin kemasan puluhan juta diborongnya. Masalah karyawan ia selesaikan dengan memanggil kerabatnya dari kampung halaman. “Saya masih ingat, apakah ini mimpi atau tidak ketika pertama kali melihat uang satu miliar rupiah,” tukasnya tertawa lebar. Uang sejumlah itu, ia terima saat proyek sudah mulai berjalan untuk produksi 3 juta kemasan.

Setelah proyek tersebut selesai, ia pun melebar dengan mainan baru. Ia memproduksi kopi jahe yang diberi label Hootrii. Lebih dari 50 ribu saset kopi tersebut telah beredar di seluruh Indonesia. Belum lagi, order kemasan susu yang datangnya dari salah satu departemen pemerintah. Kini sebagai investasi ia memiliki 6 unit rumah, beberapa mobil, beberapa usaha peternakan, pertanian hingga perkebunan.

“Intinya kalau mau jadi pengusaha itu harus jujur, ulet, rajin dan tidak putus asa,” pungkasnya. Kini dari tak memiliki apa-apa, Tri telah menjadi miliarder. Uniknya, hingga kini ia masih bekerja di perusahaan ia bekerja dahulu. Selain itu, ia juga menjadi guru spiritual beberapa pemangku jabatan di beberapa perusahaan besar.

Sumber : jpmi.or.id

Bisnis Martabak Manis


Martabak punya banyak penggemar di Indonesia. Sebagai kudapan favorit, peluang bisnis makanan ini pun terbuka lebar. Tak heran, banyak orang tertarik merambah bisnis martabak. Salah satunya adalah Pandu Budi Permana yang mengusung brand

Martabak Terang Bulan Kadarisman di Surabaya, Jawa Timur. Berdiri tahun 2005, usaha ini mulai menawarkan kemitraan awal 2010. Martabak Terang Bulan Kadarisman kini memiliki 24 mitra.

“Lokasi mitra kami tersebar di Jawa Timur, Jawa Tengah, hingga di Kalimantan,” kata Pandu.

Bisnis martabak ini dikelola denggan menggunakan konsep prasmanan. Jadi, konsumen bebas memilih aneka toping martabak yang diinginkan.

Pilihan toping-nya sendiri ada cokelat, stroberi, blueberry, cocochip, kacang, dan cappuccino. “Martabak ini kami jual dengan harga Rp 15.000 per loyang,” ujar Pandu.

Untuk menjadi mitra, ada dua paket investasi yang ditawarkan. Pertama, paket senilai Rp 2,8 juta. Mitra akan mendapat perlengkapan berjualan, spanduk, dan modul pelatihan, dan kotran kerjasama selama lima tahun.

Namun, paket ini tidak menyediakan fasilitas booth. Soalnya, paket ini disediakan khusus bagi mitra yang telah memiliki tempat usaha.

Kedua, paket senilai Rp 6,9 juta. Paket ini lebih mahal karena sudah termasuk booth. Masing-masing paket juga mendapat bahan baku awal untuk 30 loyang martabak.

Pandu menargetkan, mitra bisa menjual minimal 30 loyang martabak dalam sehari. Dengan begitu, mitra bisa mengantongi omzet minimal Rp 450.000 per hari.

Dengan laba 50%, mitra balik modal dalam waktu dua bulan. Untuk menjaga citarasa, mitra wajib membeli tepung dari pusat.
Agar target omzet tercapai, Pandu mewajibkan mitra untuk mencari tempat berjualan yang strategis.

Beberapa tempat strategis yang direkomendasikannya, seperti di mal, lingkungan pemukiman, lingkungan sekolah atau kampus, hingga di pinggir-pinggir jalan yang ramai dilalui kendaraan.

Sumber : jpmi.or.id

Sukses Bisnis Coffee & Tea


Berawal dari gerobak minuman sederhana, M. Asmui Kammuri kini sukses mengelola bisnis minuman. Melalui bendera Javapuccino, dia melebarkan sayap usahanya ke seluruh Indonesia.

Asmui kini tak lagi menghuni rumahnya di kawasan Pamulang, Tangerang Selatan. Dia memboyong keluarganya ke Bogor. Di rumah itulah dia mengendalikan seluruh kegiatan bisnis, mulai menyimpan bahan-bahan produksi hingga menerima para relasi bisnis.

Di ruang tamu, selain terdapat satu set sofa, ada gerobak Javapuccino, usaha minuman miliknya. "Produk utamanya adalah kopi dan teh yang diolah dari kopi arabika dan robusta Indonesia, serta teh dari Slawi, Jawa Tengah," kata Asmui tentang produk minuman yang dikelolanya.

Saat ini ada sekitar 450 outlet Javapuccino di seluruh Indonesia. Di antara jumlah itu, 49 unit adalah milik Asmui yang tersebar di Jakarta, Tangerang, Bogor, dan Semarang. Sisanya adalah milik para franchiser yang bekerja sama dengan dia.

Asmui memang tinggal menangguk keuntungan dari usahanya. Tapi, hal itu tidak datang dengan sendirinya. Lelaki kelahiran Semarang, 24 Oktober 1985, itu harus bekerja ekstrakeras sebelum bisnisnya berkembang seperti sekarang. Dia mengawali usahanya saat kuliah di Program Studi Akuntansi Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta, pada 2006.

Ketika itu dia bikin lembaga bimbingan belajar (LBB) yang diberi nama Smart College. Asmui mengumpulkan kawan-kawannya di kampus untuk disalurkan menjadi guru les privat.

Sebelumnya dia pernah menjadi tentor di LBB Bintang Pelajar. Hasil dari bisnis itu sesungguhnya lumayan. Namun, usahanya tersebut bubar setelah berjalan dua tahun. Penyebabnya adalah bisnis itu mengganggu kuliah. Karena menjalankan usahanya itu, dia sering tidak masuk kelas. Nilainya pun banyak yang turun.

Meski begitu, naluri bisnis Asmui tidak mati. Dia harus melakukan itu untuk membantu biaya kuliah. Orang tuanya adalah petani sehingga secara finansial tidak bisa diandalkan sepenuhnya untuk membiayai kuliah Asmui. Berbisnis juga harus dilakukan Asmui sebagai upaya melunasi utang-utangnya yang menggunung.

Kali ini dia menjajal usaha minuman. Alasannya, pengelolaannya mudah dan untung yang didapat besar. "Kalau makanan, lebih merepotkan. Apalagi, makanan juga lebih mudah basi. Kalau tidak laku, malah bisa merugikan," urainya.

Awalnya dia menamai minumannya itu Josstea. Namun, Asmui gagal mendapat hak paten. Yang berhasil adalah nama Javapuccino. Dalam meracik berbagai minuman yang akan dijual, dia mengambil kursus barista kepada seorang kawannya yang bekerja sebagai bartender.

Lalu, pada 2 Februari 2008, dia memberanikan diri membuka kios minuman kopi dan teh di Ciputat. Dia bermodal Rp 3 juta untuk membuat gerobak dan menyewa tempat.

Tak disangka, minuman yang dijualnya laris manis. Dia pun bisa tetap masuk kuliah dan menggaji sang teman yang membantu berjualan. Seperti usaha jalanan lainnya, dia harus menghadapi premanisme yang meminta jatah uang keamanan. Gerobak yang dititipkan di sebuah tempat penitipan kerap dijarah. Suatu ketika, kotak penyimpanan es yang hilang. Di lain waktu blender yang raib.

Namun, Asmui tidak menyerah. Pada 2008, dia menyediakan ice blend coffee dan aneka teh. Setahun kemudian bertambah dengan bubble drink dan smoothies. Sebelum setahun berdagang, dia berhasil menyewa tempat di kantin UIN.

Kampus dan sekolah menjadi tempat utama Asmui membuka dagangan. Saat ini, selain di UIN, outlet Javapuccino berada di Universitas Indonesia, Universitas Trisakti, Universitas Tarumanegara, Universitas Padjadjaran, Universitas Sumatera Utara, dan sejumlah kampus lainnya.

Pengembangan ke sejumlah instansi pendidikan itu berhasil dilakukan setelah pada 2009 dia membuka kesempatan bagi pihak-pihak yang tertarik menjalankan bisnis itu dengan cara franchise. Selain di kampus-kampus, outlet Javapuccino dijumpai di sejumlah supermarket dan pusat perbelanjaan. Dia kemudian mendirikan PT Javapuccino Coffee untuk mewadahi usahanya itu.

Asmui menargetkan usahanya naik pangkat, dari gerobak menjadi kafe. Pilot project kafenya telah dibuka di UIN. Setelah ini, kafe-kafe serupa akan merambah ke gedung-gedung perkantoran.

"Hingga kini, belum banyak persaingan di gedung perkantoran. Biasanya di satu kantor hanya terdapat satu kafe," paparnya. "Sedangkan di Jakarta masih banyak gedung perkantoran yang belum punya kafe. Jadi, pasarnya masih sangat luas," sambung Asmui. 

Cerita sukses Javapuccino membuat Asmui menuai banyak penghargaan. Di antaranya, Wirausaha Muda Sukses Terbaik 2011 dari menteri koperasi dan UKM RI, Indonesia Franchise Award 2011 kategori Fastest Growing Franchise, dan Juara Nasional Wirausaha Muda Mandiri 2010.

Tak puas hanya berhenti di satu bidang usaha, Asmui memperluas bisnisnya di bidang sepatu. Dia mengusung merek Della Luce. Pasarnya adalah kalangan menengah ke atas. Sepatu-sepatu itu diproduksi di Bogor dan dipasarkan ke seluruh Indonesia dengan sistem reseller.

Untuk menjalankan usaha sepatu, Asmui menggandeng istrinya, Wiwi Winarti. Sepatu-sepatu yang diproduksi lebih banyak adalah ragam sepatu yang digunakan kaum hawa. Pertimbangannya adalah perempuan lebih konsumtif untuk urusan alas kaki.

Sumber : jpmi.or.id

Bisnis Pempek


Pempek merupakan makanan tradisional khas Palembang yang sudah populer di seluruh Indonesia. Menggunakan bahan dasar ikan, makanan Wong Kito Galo ini terkenal akan citarasanya yang khas. 

Kudapan ini kian mantap disantap dengan kuah cuka yang nikmat. Berbisnis pempek agaknya juga senikmat rasanya. Terbukti, banyak penjual pempek sukses mengembangkan usahanya.

Hal itu terindikasi dari beberapa tawaran kemitraan pempek yang kami ulas dalam review kali ini. Mereka adalah Pempek 8 Ulu Cik Ning, Pempek Wongkito 19, dan Pempek Royal.

 

Seperti apa perkembangan usaha mereka saat ini, berikut ulasannya:

Usaha pempek milik Imron Casidy ini mulai berdiri tahun 2008 di Jakarta. Pada November 2009, ia resmi menawarkan kemitraan. Sejak diluncurkan, tawaran kemitraan ini tetap mendapat respons positif dari pasar. 

Saat KONTAN mengulas kemitraan pempek ini pada Januari 2010, Pempek Cik Ning baru memiliki 11 gerai. Perinciannya, delapan gerai milik mitra dan tiga sisanya milik sendiri. 

Saat itu, kemitraan pempek ini menawarkan tiga paket investasi. Yakni, tipe gerobak I senilai Rp 10 juta, gerobak II Rp 15 juta, dan resto senilai Rp 50 juta. Mitra bisa meraih omzet mulai Rp 300.000-Rp 700.000 per hari. 

Dengan omzet itu, mitra yang mengambil paket gerobak I dan II bisa balik modal dalam waktu lima bulan. Sementara balik modal paket resto sekitar 12 bulan. 

Saat ini, Pempek Cik Ning sukses melipatgandakan jumlah mitranya. Untuk mitra gerobak sudah mencapai 30 yang tersebar di berbagai wilayah seperti Aceh, Jakarta, dan Makassar. Sementara mitra restonya hanya ada satu. 

Lantaran mitra restonya masih minim, Imron kini menutup paket gerobak dan fokus menggenjot paket resto. Biaya investasi paket resto ini juga sudah dinaikkan dari Rp 50 juta menjadi Rp 139 juta-Rp 180 juta. “Kami sudah memulainya sejak akhir 2011 lalu,” jelas Imron. 

Ia menjanjikan, omzet paket resto ini mencapai Rp 2 juta per hari dan balik modal pada bulan kesembilan. Selain pempek, paket resto ini juga menyediakan menu pindang ikan patin, nasi goreng rempah, dan martabak kari. 

Harga jualnya juga lebih mahal dibanding gerobak. Contohnya, pempek yang dibanderol Rp 14.000 per porsi.

Pada September 2010, usaha pempek asal Bekasi, Jawa Barat ini sudah punya 24 gerai. Rinciannya, 20 milik mitra dan empat milik sendiri. 

Dua tahun berselang, jumlah gerai Wongkito 19 saat ini sudah bertambah hingga mencapai 88. Bila ditambah empat gerai milik sendiri, maka total gerai Wongkito 19 mencapai 92. Gerai sebanyak itu tersebar di berbagai daerah, seperti Kalimantan, Bandung dan Sukoharjo. 

Pemilik Wongkito 19, Kemas Firmansyah mengatakan, penambahan jumlah mitra ini sesuai dengan target yang dicanangkan dua tahun lalu. Berdasarkan catatan KONTAN, Kemas saat itu memang menargetkan jumlah mitra pada tahun 2012 mencapai 100. “Sampai akhir tahun kami optimistis menjadi 100 mitra,” ujar Kemas. 

Kemas mengklaim, kinerja mitra usahanya selama ini lumayan kinclong. Contohnya, dalam hal perolehan omzet. Ada mitra yang bisa meraup omzet hingga Rp 60 juta per bulan. Namun, sebagian ada yang berada di kisaran Rp 15 juta per bulan. “Tapi, masih ada juga yang omzetnya sekitar Rp 6 juta,” beber Kemas. 

Menurutnya, perolehan omzet itu sangat bergantung kepada wilayah dan kemampuan mitra menggaet pelanggan. Lantaran bisnis ini masih menjanjikan, Kemas yakin, bisnis mitra usahanya tetap akan tumbuh. 

Untuk meningkatkan kinerja usaha ini, ia terus mengimbau mitra usahanya untuk menjaga mutu dan kualitas produk. Untuk itu, Kemas kerap memberikan edukasi kepada calon mitra. “Edukasi itu seputar kualitas produk, pelayanan ke konsumen, dan juga bagaimana mengelola usaha. Kami terus pantau mitra dan memberikan edukasi yang memadai,” katanya. 

Ia menilai, edukasi itu penting di tengah persaingan bisnis pempek yang semakin ketat. Jangan sampai kualitas produk menurun, sehingga ditinggalkan pelanggan.

Terkait harga jual produk, sedikit sudah mengalami kenaikan. Jika sebelumnya harga pempek mulai Rp 3.500 per potong untuk ukuran kecil hingga Rp 8.000 per potong untuk ukuran besar, kini harganya menjadi Rp 9.000 per potong untuk ukuran kecil dan Rp 12.000 per potong untuk ukuran besar. 

Selain harga jual produk, biaya investasi kemitraan juga mengalami kenaikan. Sebelumnya, Kemas menawarkan paket investasi sebesar Rp 6 juta. Namun, sekarang naik menjadi Rp 9 juta. 

Biaya investasi itu dipakai buat membeli semua peralatan masak. Kemas juga menarik tambahan pembayaran sebesar Rp 1,5 juta sebagai deposit untuk menebus produk pempek, sehingga, total investasi awalnya Rp 10,5 juta.

Pempek Royal berdiri pada Agustus 2009. Kelebihan pempek yang satu ini adalah menawarkan pempek dengan varian isi. Di antaranya ada pempek isi kepiting, keju, udang, ikan, telur puyuh, daging sapi, dan sosis. 

Saat diulas KONTAN pada Januari 2011, Pempek Royal asal Surabaya ini sudah memiliki 15 gerai. Rinciannya 14 gerai milik mitra dan satu milik sendiri. 

Seluruh gerai tersebar di Surabaya, Malang, Kediri, Yogyakarta, dan Bandung. Namun, sayangnya sejak akhir 2011 Pempek Royal berhenti menawarkan kemitraan.

Pemilik Pempek Royal, Bobby Hendrawan Farizky mengaku, terpaksa menutup waralaba karena kesulitan mendapat pasokan ikan belida yang merupakan bahan dasar pembuatan pempeknya. Menurutnya, permintaan pasokan dari mitra sudah di atas kemampuannya untuk mencari bahan baku ikan belida. “Pasokan ikan belida dari nelayan sudah sulit, takutnya kalau kita menambah kemitraan terus tapi bahan baku tidak tercukupi bisa tidak enak,” ujar Bobby. 

Pempek Royal memang membuat sendiri bahan baku untuk mitranya. Ia sendiri tidak mau mengganti bahan baku pempek dengan ikan tenggiri yang sudah banyak dilakukan penjual pempek saat ini.

Menurutnya, rasa pempek asli ikan belida berbeda dengan pempek ikan tenggiri. Selain itu, sejak awal membuka kemitraan, ia sudah memperkenalkan brand Pempek Royal sebagai pempek ikan belida. “Kalau mau pakai ikan tenggiri saya harus buat brand baru, tidak boleh pakai brand Pempek Royal. Tapi saya belum ada rencana membuat brand baru,” tutur Bobby. 

Meski menutup paket kemitraan, ia tetap menjaga brand-nya. Seluruh mitranya yang berjumlah 14 belum ada yang tutup, bahkan rata-rata sudah kembali modal. 

Gerai Pempek Royal sendiri saat ini sudah ada 20 gerai. “Kami menambah gerai sendiri dari sebelumnya satu menjadi enam,” jelasnya. Bila nanti pasokan belida kian sulit, ia berjanji memilih menutup gerai milik sendiri. “Tapi, kami berusaha seluruh gerai tetap buka,” ujarnya.

Sumber : jpmi.or.id

Melia Laundry


Gaya hidup masyarakat perkotaan yang memiliki rutinitas harian cukup tinggi membuat kebutuhan akan jasa laundry semakin hari kian diminati. Budaya inilah yang telah dilihat Fen Saparati sejak tahun 1996. Ketika pelaku bisnis lainnya belum melirik jasa laundry sebagai ladang bisnis yang cukup menguntungkan, lelaki asli Yogyakarta ini memutuskan untuk keluar dari zona aman dengan mundur dari pekerjaannya saat itu (staff keuangan di pabrik Semen Gresik) beralih menjadi seorang pengusaha bisnis laundry. Meskipun keputusannya mundur dari pekerjaan tersebut tidak disetujui oleh keluarganya, namun tidak mengurungkan niat Fen untuk terjun di dunia usaha.

Dengan bermodalkan uang hasil penjualan rumahnya yang ada di Jakarta, Fen memulai suksesnya dengan mendirikan Melia Laundry & Dry Cleaning pada tanggal 9 Maret 1996 di kota Yogyakarta. Menempati lokasi usaha yang saat itu sangat sederhana, Fen sengaja memilih “Melia” sebagai brand bisnisnya karena kata tersebut memiliki arti mengalir. Harapan Fen kelak bisnisnya dapat mengalir tanpa hambatan apapun seperti halnya arti dari kata Melia yang dipilihnya.

Perjalanan Bisnis Melia Laundry & Dry Cleaning
Awalnya Fen cukup kesulitan dalam mengembangkan bisnisnya, mengingat pada waktu itu (tahun 1996) jasa laundry masih belum dikenal masyarakat Jogja. Bahkan setelah tiga bulan membuka usaha laundry, Fen belum juga mendapatkan konsumen. Sehingga Fen harus berusaha keras mengenalkan “apa itu jasa laundry” kepada para calon konsumennya. Kondisi ini ternyata tidak membuat Fen Saparati menyerah dalam mewujudkan mimpinya.

Untuk mengenalkan apa itu laundry, Ia sengaja menyewa lokasi usaha di depan supermarket Hero untuk membuka counter jasa laundry. Dari situ masyarakat lambat laun mulai mengerti manfaat jasa laundry yang sebenarnya. Dan perlahan bisnisnya pun mulai didatangi para konsumen yang membutuhkan jasa binatu untuk mencuci baju-baju kotor mereka.

Dengan membidik konsumen kelas atas, Melia Laundry berusaha memberikan pelayanan yang eksklusif bagi setiap konsumennya. Sehingga tidak heran bila persaingan bisnis laundry yang kini semakin padat, tidak begitu berpengaruh bagi bisnis Fen. Ia senantiasa berusaha membangun loyalitas konsumennya dengan memberikan pelayanan terbaik bagi mereka. Bahkan setelah permintaan pasar semakin tinggi, Fen memberanikan diri memperluas pasar dengan membuka kemitraan (franchise laundry) setelah 8 tahun melewati pasang surut perjalanan usaha.

Kini dengan sistem kemitraan yang ditawarkan, Melia Laundry telah berkembang hingga 42 gerai yang tersebar hampir di seluruh Indonesia. Meliputi daerah Yogyakarta, Semarang, Jakarta, Cirebon, Makassar, Bireuen Aceh, Bengkalis Riau, Bali, Jambi, Medan, Padang, Surabaya, Samarinda, Bekasi, Banjarmasin, Kendari, Cepu, Bogor, Pasuruan, Pekanbaru, Balikpapan, Magelang, Palangkaraya, Ambon, dll.

Konsep franchise yang matang dan manajemen modern yang diterapkan Fen menjadi kunci sukses Melia Laundry & Dry Cleaning dalam menguasai pasar di bisnis binatu. Berkat kegigihannya dalam membangun usaha, kini tidak hanya puluhan workshop dan ratusan counter saja yang berhasil dimiliki Fen Saparati. Segudang prestasi dan penghargaan entrepreneur sukses juga pernah diterima lelaki paruh baya ini  dari bisnis franchise laundry yang dikembangkannya.

Sumber : mansaba.sch.id

Toko Online


Siapa bilang berbisnis online belum bisa memberikan hasil melimpah ?

Beberapa wirausaha muda dari Tanah Abang sudah membuktikan!

Walaupun secara umum masyarakat Indonesia belum siap melakukan transaksi online, mereka sukses menjalankan bisnis via Internet . Mereka berdagang barang grosiran lewat Internet. Kiprah mereka, misalnya, bisa kita temukan di situs-situs e-commerce milik wirausaha muda asal Tanah Abang itu, antara lain www.manetvision.com ,www.grosirtanahabang.com, www.tanah-abang.com.

Lihatlah kiprah Badroni Yuzirman, pemilik situs www.manetvision.com dan pengelola situs komunitas TDA (www.tangandiatas.com). Badroni yang menjual baju Muslimah dan perlengkapan interior — seperti taplak meja dan gorden — dulu sempat punya kios di Blok A Tanah Abang dan dipindahkan ke Blok F yang sepi. Omsetnya menurun dan ia berkesimpulan, bisnisnya tak bisa berkembang jika hanya mengandalkan kios. Akhirnya Maret 2004, Roni — panggilan akrabnya — memutuskan hengkang dari Pasar Tanah Abang dan serius di bisnis grosir online yang sebenarnya sempat ia buka setahun sebelumnya.

Awalnya, Badroni sempat ragu, bisa sukseskah bisnis e-commerce-nya ini mengingat yang dijualnya adalah baju Muslimah. Maklum, kebanyakan pengakses Internet di Indonesia adalah laki-laki. Ternyata, respons pasar cukup lumayan. Walau benar kebanyakan netter adalah lelaki, tetapi ada kecenderungan mereka memesankan baju buat istri atau kerabat. Ia mencatat, kota-kota di pedalaman yang punya akses Internet, seperti Bontang, Sangatta, Muara Enim dan Tembaga Pura (kawasan Freeport), merupakan asal pembeli barang dagangannya.

Kemudian, setelah awalnya situs online-nya hanya dianggap sebagai penunjang kios, lama-kelamaan omset toko online ini malah menyaingi omset kios. Tak mengherankan, ia pun makin menekuni dunia online-nya. “Dari satu kali transaksi saja sudah ketutup biaya hosting dan domain yang Rp 500 ribuan itu,” ujar Badroni. Menurutnya, ini berbeda jauh dari kiosnya yang harus sewa dua tahun ke depan dengan harga Rp 200 juta/tahun/kios – dan angka sebesar ini belum termasuk modal kerja, iuran dan stok barang.

Kini, situs e-commerce-nya, ManetVision.com, tetap fokus menjual busana Muslimah dan interior rumah. Busana Muslimah yang dijual antara lain gamis, setelan, blus, blus rajut dan jilbab, sementara bahan interior rumah yang dijual adalah sarung bantal kursi dan taplak meja. Saat awal diluncurkan Manetvision hanya berkapasitas konten 25 MB, sekarang diperbesar menjadi 100 MB. Cara order di ManetVision cukup mudah, yakni bisa lewat telepon, faksimile, SMS atau e-mail. Syarat minimum order pertama Rp 500 ribu — sesudah diskon — atau Rp 250 ribu untuk paket promo, dan ongkos kirim 100% ditanggung pembeli. “Saya cukup terbantu, hanya dengan melihat katalog di situs tersebut, saya bisa pesan sesuai dengan keinginan,” ujar Susi Neliyanti, Agen ManetVision di Palembang yang biasa mengorder barang secara online.

Tiap bulan, situs ManetVision.com dikunjungi 500-1.000 pengakses, dan rata-rata 20%-nya mengorder. Konsumen ManetVision kebanyakan justru bukan dari Pulau Jawa, melainkan dari Papua, Sumatera (Lampung), Kalimantan (Banjarmasin), dan lainnya. Perbandingan pembeli dari Jawa dan luar Jawa adalah 20:80. Pembeli dari luar negeri juga ada meski tak banyak, khususnya dari Singapura, Malaysia dan Brunei. Yang menarik, meski kini bisnisnya murni online, penjualannya bisa mengimbangi waktu masih punya kios. Sebulan terjual 5-10 ribu potong busana Muslimah dengan rentang harga Rp 40-500 ribu – barang yang terjual kebanyakan berharga Rp 100-200 ribu. Dan, yang pasti, kini biaya operasional Badroni jauh lebih murah karena ia tak harus sewa kios yang besarnya ratusan juta.

Tak hanya Badroni yang sukses di bisnis grosir online. Contoh lainnya, Hasan Basri (36 tahun), pemilik situs GrosirTanahAbang.com. Hasan sehari-hari sebenarnya bekerja sebagai Manajer Proyek Siemens, tetapi ia tertarik berwirausaha. Maka, ia berpikiran memiliki bisnis sendiri yang tak mengganggu pekerjaan tetapnya. Februari 2006, Hasan dan rekan-rekannya mendirikan GrosirTanahAbang.com. Sebelumnya, ia telah memiliki kios di Metro Tanah Abang (Lantai 4 Blok A/128). Kini tokonya dikelola salah seorang rekan bisnisnya, sedangkan ia dan seorang kawannya yang lain mengelola bisnis online-nya.

Tokonya, baik yang offline maupun online, membidik segmen pedagang grosir daerah. Barang yang dijual adalah jaket (75%), kaus dan kemeja. Semua untuk pria. Harganya bervariasi, dari Rp 24 hingga 85 ribu per potong. Untuk situs e-commerce-nya, ia memilih nama GrosirTanahAbang.com karena ingin mendompleng ketenaran Tanah Abang sebagai pusat grosir murah. Ternyata, bisnis Hasan dkk. berjalan baik dan kini ibarat tinggal memetik buah. Waktu awal berdiri situsnya hanya dikunjungi 20-40 orang per hari, kini minimal 50 orang per hari. “Dari jumlah itu, 15%-nya order. Mereka yang order adalah kalangan agen, jadi belinya partai besar,” kata Hasan. Per bulan, omset Hasan dkk. bisa mencapai 60 lusin. Berapa rupiah yang diperolehnya? Pokoknya, menurut Hasan, tiap bulan jatah bagi hasil bersih untuk masing-masing pengelola bisa di atas belasan juta rupiah.

Hasil itu tentu amat menarik karena modal awal untuk membuka toko online diakui Hasan hanya kecil. Untuk menyewa nama domain situs, cukup Rp 150 ribu/tahun. Adapun hosting-nya Rp 50 ribu/bulan untuk kapasitas 100 MB. Jauh selisihnya dari modal yang ditanam di toko offline-nya. Meski tidak membayar pegawai toko, rata-rata biaya operasional kios (listrik dan abonemen) per bulan Rp 550 ribu. Hanya saja, Hasan mengakui toko offline-nya tidak ia tutup untuk mengantisipasi pengunjung toko online yang tidak percaya pada kualitas barang.

Nama lain yang juga sukses berdagang grosir via ranah Internet adalah Viriya Jo, pemilik situs Tanah-Abang.com. Situs ini menjual pakaian wanita dari jenis kaus, jaket, manset, rajut, jins, busana Muslim dan baju tidur.

Bila diamati, mereka yang sukses memang menjaga kualitas produk dan delivery-nya, sehingga order via online benar-benar dipenuhi dengan spesifikasi yang diminta. Termasuk, memberikan garansi bila barang kiriman cacat. Selain itu, mereka cukup rajin mempromosikan produk dan situsnya.

Baik Badroni maupun Hasan sering mempromosikan situsnya di milis-milis dan di iklan online gratis, seperti situs Google dan beberapa situs lokal. Pokoknya, setiap ada kesempatan di media online gratis yang menarik untuk beriklan, mereka akan memanfaatkannya. Hasan bahkan juga mempromosikan situsnya di situs berbayar. Dalam berpromosi, ia berprinsip: harus legal, gencar dan konsisten. Maksudnya, legal karena bukan berupa spam, gencar berpromosi di banyak tempat, dan dilakukan konsisten setiap hari. “Rata-rata toko online itu baru dikenal orang setelah kami dua bulan berpromosi. Itu pun belum tentu terjadi pemesanan,” kata Hasan yang kini juga mengembangkan situs Asmat.biz (menjual barang kerajinan suku Asmat) dan Seminar-support.com (jasa pendidikan dan seminar). Ke depan, Hasan berniat menambah lini bisnis online-nya dan akan mengambil grosir komoditas tertentu, seperti sepatu dan aksesori. “Saya sedang berencana membeli domainnya,” ujarnya lagi.

Sumber : amqanet.com

Sukses Andre Valentino


Produk sepatu asli Indonesia “Andre Valentino”, yang mampu memberikan kesan buatan Italia, kewalahan memenuhi permintaan pasar regional Asia dan dalam negeri.

“Perkembangan positif itu bukan hanya oleh faktor nama merek yang mampu memberikan kesan keitali-italian, tetapi lebih karena adanya jaminan kualitas dan model yang mampu memenuhi kebutuhan pasar,” kata General Manager PT Cipta Sumber Sejahtera Marga Singgih.

Produsen sepatu kasual dan resmi buatan tangan asal Tangerang dan kantor di Jakarta itu dihadapkan keterbatasan tenaga perajin yang memerlukan pelatihan bertahun-tahun sehingga tak bisa menaikkan produksi sesuai permintaan pasar.

Marga menjelaskan, usaha tersebut dirintis sejak 1993 dengan langsung mencoba pasar di Singapura. Kemudian merambah Malaysia pada 1995 dan baru dipasarkan untuk segmen kelas atas Indonesia pada 1996. “Awalnya kami hanya membuka toko di Sogo, Jakarta. Kini merambah berbagai kota di Jawa dan Bali hingga Banjarmasin, Balikpapan, Medan, Palembang, dan Bandar Lampung,” ujarnya.

Dia menyebutkan, banyak perusahaan di Indonesia mencoba strategi membangun pasar seperti yang diterapkan Andre Valentino, tetapi gagal karena persaingan pasar di Singapura sangat ketat.

Dengan jaminan kualitas dan model produk terkini, Andre Valentino dikenal dan diminati konsumen Singapura, kemudian Malaysia, dan kini merambahVietnam, Jepang, Kepulauan Mauritius, Korea, Filipina, hingga Hongkong.

Menurut Marga Singgih, perusahaannya mempekerjakan 300 perajin sepatu dengan produksi rata-rata satu pasang per orang atau 300 pasang per hari. Proporsi produknya 65 persen untuk wanita, 25 persen pria, dan hanya 10 persen segmen anak-anak.

Produksi yang dipasarkan di dalam negeri terus meningkat, kini mencapai 8.000 pasang per bulan, dengan harga sekitar Rp 900.000 hingga Rp 1,7 juta per pasang.

Sepatu “Andre Valentino” Rayakan Keberhasilan Di Bali

Keluarga besar perusahaan sepatu Andre Valentino di Jakarta, merayakan keberhasilan merambah pasar berbagai negara atau “go global” dengan mengadakan pertemuan para staf di Bali.

“Staff gathering kami jadwalkan berlangsung tiga hari mulai Jumat (30/7), diikuti oleh sedikitnya 35 karyawan inti dengan mengusung tema We Can Do The Best. Kami ingin menyemangati sekaligus memanjakan mereka,” kata Marga Singgih, General Manager Andre Valentino, Selasa.

Dalam penjelasan yang disampaikan kepada ANTARA di Denpasar, disebutkan bahwa Andre Valentino dengan tagline “Chic & Comfortable” merupakan produk alas kaki Indonesia yang tumbuh dan berkembang pesat di ranah fashion Singapura sejak 1996.

Berkat kerja keras semua jajaran, yang dimotori oleh perintis sekaligus pemilik usaha tersebut, Aulia Singgih, perusahaan itu bisa terus menggurita hingga kini merambah negara-negara di kawasan Asia.

Sepatu dengan target market kelas sosial A itu bisa ditemukan pada lebih dari 60 outlets –butik & counter- yang ada di 13 kota besar di Indonesia. “Produk kami selalu menjadi ‘leader’ dalam disain maupun mutu material kulit nomor satu,” ucap Marga Singgih.

Bahan dasar 100 persen kulit sapi, kambing, biawak dan ular yang terkenal awet dan nyaman dipakai, dipadu dengan desain yang memperhatikan struktur kaki orang Asia. “Itu merupakan salah satu nilai yang tidak bisa ditolak oleh para penggemar Andre Valentino di Asia,” ujarnya.

Produk Indonesia asli itu selain melayani konsumen dalam negeri, di antaranya sudah merambah pasar Singapura, Malaysia, Vietnam, Jepang, Korea, Kepulauan Mauritius, Filipina dan Hongkong.

Menurut Marga Singgih, desain produknya selalu up-to date dengan menggunakan bahan impor berkualitas karena ditujukan untuk pribadi yang dinamis, atraktif, aktif dan berwawasan global.

Ia yang membawahi produk sepatu Andre Valentino, Studio Nine dan beberapa produk lisensi seperti Elle Paris dan Gunze Underwear, meyakinkan bahwa pihaknya tidak hanya memiliki produk yang bermutu dengan model terkini, tetapi juga menyediakan fasilitas layanan purna jual bagi semua “brand” di bawah PT Cipta Sumber Sejahtera.

William Jong, Product Executive Andre Valentino Men shoes, mengutarakan bahwa sepatunya telah menjadi “leader” yang sangat diperhitungkan di dunia alas kaki. “Terutama desain dan bahan sepatu untuk ‘moccasin’ (sepatu sandal) yang selalu menjadi unggulan di antara produk sejenis,” katanya menjelaskan.

Setelah melihat peluang pasar di segmen kelas B, Andre Valentino semakin gencar mengeluarkan desain-desain up-to-date untuk alas kaki wanita, pria dan anak-anak. “Peluangnya sangat positif dan kami antusias mengeluarkan produk Studio Nine untuk memenuhi kebutuhan pasar kelas sosial B sejak tahun 1997,” katanya.

Sementara Aulia Singgih, pemilik brand dan perusahaan yang sudah berkibar di kawasan Asia itu, mengaku sangat bangga karena hingga saat ini tetap mampu menjaga suasana yang menyenangkan di dalam perusahaannya di Jakarta maupun di Singapura.

Wanita yang dikenal gigih dalam berusaha ini melakukan berbagai acara agar tim perusahaannya semakin kompak untuk lebih meningkatkan kebersamaan dan kinerja guna mewujudkan slogan “We Can Do The Best”.

Sumber : wirasmada.wordpress.com