Senin, 29 April 2013

Meraup Untung Jual Grosir


Jangan heran jika Anda mendengar kisah sukses seseorang hanya karena ia berjualan celana dalam. Anda salah jika Anda menganggap remeh bisnis yang satu ini, karena dari bisnis grosir celana dalam saja seorang mahasiswa pun mampu untuk membayar biaya kuliahnya sendiri. Keuntungan yang didapat dari bisnis ini cukup signifikan asalkan Anda mampu mengelola dan mengembangkan menjadi bisnis yang ‘serius’.

Pembelian pakaian dalam khususnya untuk celana dalam dalam partai besar sudah tentu akan memperoleh harga yang bisa membuat Anda terkejut dengan perbedaan harga yang bisa menghasilkan profit hingga 200%, tergantung dari cara Anda mengelolanya. Pengelolaan di sini adalah perhitungan biaya produksi seperti pengemasan hingga perhitungan keuntungan. Misalnya, Anda membeli celana dalam Rp. 2000 per buah lalu Anda menjualnya dengan harga Rp. 10.000. Dan kenyataannya setiap konsumen minimal membeli 3 buah celana dalam dalam satu transaksi, silahkan Anda hitung sendiri keuntungan yang didapat hanya dari bisnis grosir celana dalam.

Jika Anda bersungguh-sungguh untuk bergelut dalam bidang penjualan produk seperti celana dalam. Anda cukup memikirkan bahwa barang yang Anda jual adalah sesuatu yang memang dibutuhkan oleh semua orang dan bukan merupakan hal tabu yang tidak layak untuk ditawarkan kepada orang lain. Saat ini kita semua sudah ada pada zaman keterbukaan, dengan adanya teknologi orang akan semakin memiliki pikiran yang terbuka dan tidak hanya berpikir bahwa celana dalam ada dalam lingkup pribadi. Jika sekeliling Anda masih tabu dengan hal seperti ini, jadikan hal ini sebagai ‘senjata’, dengan demikian Anda tidak akan memiliki banyak pesaing.

Tentukan target lokasi pemasaran Anda, Anda akan berjualan secara offline atau online (melalui sosial media, forum, e-commerce website). Misalnya, Anda memutuskan untuk berjualan secara offline. Carilah kawasan yang sekiranya bisa menerima apa yang Anda jual, tidak mencibir atau menolak keberadaan toko Anda. Masyarakat yang bersifat heterogen dan memiliki pola pikir terbuka akan lebih mudah bagi Anda untuk menawarkan produk celana dalam kepada mereka.

Jika Anda memilih untuk berjualan secara online, akan lebih menghemat biaya pengeluaran karena Anda tidak harus menyewa sebuah kios. Yang Anda perlukan hanyalah sebuah keeksisan di dunia maya seperti sosial media dan forum. Namun, aturlah waktu promosi Anda, terlalu sering berpromosi pada satu forum Anda bisa dianggap sebagai ‘spam’.

Buatlah nama toko yang bisa menarik perhatian, jangan menciptakan nama yang sulit diingat. Brand yang Anda ciptakan secara tidak langsung akan menentukan kesuksesan penjualan grosir celana dalam Anda.

Pemasaran bisnis Anda bisa dengan menggunakan beberapa brand celana dalam seperti Victoria Secret, Wacoal, atau La Senza yang paling sering diminati oleh para wanita saat memilih pakaian dalam. Perusahaan tidak akan menuntut atas pemakaian brand untuk promosi, karena secara tidak langsung promosi yang Anda lakukan pun turut menaikkan brand mereka dan Anda pun membelinya secara grosir. Pembeli celana dalam di Indonesia sebagian besar masih mementingkan brand, karena mereka percaya brand yang terkenal sudah pasti memiliki kualitas yang baik walau pun harga yang ditawarkan tergolong mahal.

Sumber : supplierbaju.net

Pengusaha Pia "Gemilang Jaya"


Keberaniannya membuka usaha didasari prinsip yang dipegang sampai saat ini yaitu : “Laku karena Mutu”. Artinya dalam menjalankan usaha yang harus dijaga terutama adalah kualitas. Biarpun harga bahan bakunya naik turun, tetapi yang penting adalah mutunya harus standar. Tidak ada kamus dalam dirinya untuk mengganti bahan baku kecuali menggunakan terigu produksi Bogasari.

Satiman, demikian nama pengusaha kue pia di daerah Comal, Kabupaten Pemalang inilah yang mempunyai prinsip tersebut. Pria kelahiran Pangkalpinang 38 tahun lalu ini mengelola usahanya sejak tahun 2000. Saat ini untuk membuat kue pianya, ia mampu melahap lebih dari 100 zak tepung terigu lencana merah dan segitiga biru setiap harinya, dibantu oleh 300 orang karyawan di bagian produksi dan ratusan orang yang memasarkan produknya selain di wilayah sekitar Comal juga sampai ke Semarang, Purwokerto, Cilacap bahkan sudah merambah sampai ke Bogor, Jombang, Surabaya, Bali hingga Samarinda. Itulah sebabnya bagi ayah tiga orang anak ini, soal mematok harga bukan merupakan hal yang rumit, boleh dibilang harga kue pianya sangat ekonomis berkisar antara Rp 300 hingga Rp 500 per buahnya. Ia juga punya pemikiran bahwa mengambil keuntungan tidak harus besar. Karena keuntungan itu tidak bisa dilihat secara harian, bulanan, atau tahunan saja, tetapi lebih luas dari itu. “Bisa saja tahun ini keuntungannya menurun, tetapi tahun lalu atau diharapkan tahun depan untungnya lebih besar” katanya menjelaskan. “Dari situlah kita bisa mengatur penggunaan keuntungan tersebut secara bijaksana”. Tambahnya.

Prinsi-prinsip itulah yang mengantarkan sukses Satiman, tidak hanya dari segi materi saja tetapi juga dalam hal sosial kemasyarakatan. Betapa tidak, di lingkungannya ia dikenal sebagai penyedia lapangan pekerjaan. Seluruh karyawannya adalah warga sekitar, yang bagi Satiman, karyawannya itu dianggap sebagai keluarga sendiri. “Ibaratnya kalau mereka makan pakai ikan asin saya juga makan sama seperti mereka”, katanya meyakinkan. “Bahkan kebutuhan mereka lebih didahulukan.” Lanjutnya. Sistem kekeluargaan inipun diterapkan juga pada bagian pemasaran, banyak diantara salesnya bermula juga sebagai karyawan, kepada mereka diberikan pinjaman modal. Setelah mapan, kemudian dilepas agar mereka dapat mengembangkan sendiri jangkauan pemasarannya. Sampai pada perkembangannya, melihat peluang yang cukup terbuka, kini banyak tenaga pemasaran yang justru dari kalangan karyawan, bahkan ada dari pegawai negeri, terutama guru, mereka kemudian mengajak para mantan muridnya untuk menjadi sub salesnya.

Mengawali usahanya, Satiman mulai merantau ketika usianya baru menginjak remaja. Terinspirasi akan keberhasilan orang, atas kemauan sendiri, begitu lulus SMP, ia berangkat menuju Jakarta dan menjadi sales di perusahaan roti. Alhasil sepuluh tahun pengalaman bekerja di perusahaan roti, membulatkan tekatnya untuk membuka usaha sendiri. Menurut pria yang berpenampilan riang ini, paling tidak ada tiga alasan ia memilih membuka usaha kue pia ini. Pengamatan terhadap peluang pasar menunjukkan bahwa ternyata pasar kue pia cukup terbuka, karena belum banyak yang mengusahakan, di samping itu sifat kue pia yang kering, bisa lebih tahan lama masa daluwarsanya serta pengalaman selama bekerja di perusahaan roti dan kue, menguatkan tekatnya untuk membuktikan bahwa dirinya mampu untuk mandiri. Ternyata dasar pertimbangan itu tidak sia-sia. Setelah ia membuka usaha dari 1 zak pada awal usahanya, kini bisa mencapai tidak kurang dari100 zak terigu lencana merah dan segitiga biru per hari.

Sumber : bogasari.com

Yana Hawiarifin Berbisnis Keripik Karuhun


Karena selalu memikirkan masa depan keluarganya yang tak jelas karena keterbatasan ekonomi, Yana Hawiarifin terpaksa putar otak untuk dapat membantu mereka. Sempat jaya dalam bisnis properti tahun 1994, omzet properti secara mendadak anjlok saat krisis ekonomi 1997-1999. Kejadian ini membuat Yana terpaksa meninggalkan bisnis properti.

Setelah diskusi dengan salah seorang keponakannya, lahirlah ide untuk menjual keripik pedas. "Tapi saya pikir harus ada pembeda karena yang jual keripik sudah banyak sekali. Setelah pikir sana-sini kami putuskan bahwa Keripik Karuhun identik dengan renyah dan aroma daun jeruk," jelas Yana saat menceritakan kisah lahirnya keripik Karuhun kepada mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta, Depok, Jawa Barat, kemarin.

Yana mengaku pada awalnya sulit untuk memperkenalkan Keripik karuhun kepada masyarakat luas. Awalnya Ia menggunakan sanak saudaranya untuk memperkenalkan produknya ke semua teman-teman.

"Saya suruh keponakan-keponakan untuk bawa keripik ke sekolah, bagi-bagi saja ke teman mereka. Tujuannya untuk mengetes pasar," ungkapnya.

Setelah itu ia menggunakan mobilnya yang ditempeli stiker keripik Karuhun berputar-putar keliling Bandung tanpa arah. "Supir sampai bingung mau ngapain sebenarnya, tapi saya bilang jalan saja pokoknya," tambah Yana. 

Setelah seminggu berputar-putar tanpa arah akhirnya Yana menentukan titik-titik jualan di Bandung. Namun setelah dua minggu Keripik Karuhun dijajakan di titik-titik yang telah ditentukan, tim penjualan Yana stres. Dua minggu pertama rata-rata penjualan tiap orang hanya 5-6 bungkus. Jika digabungkan penjualan keseluruhan keripik Karuhun hanya 32 bungkus.

"Saat-saat kritis inilah mental seorang pengusaha diuji. Pilihannya hanya dua, mau lanjut atau alih haluan ke bisnis lain. Dan saya pilih lanjut, saya yakinkan mereka bahwa produk kita unik dan pasti akan besar," ujar pria yang memberdayakan semua keponakannya saat pertama kali menjual keripik Karuhun.

Dengan mental pemenang itu, akhirnya keripik Karuhun semakin kesohor di masyarakat. Saat ini penjualan per hari keripik Karuhun dapat mencapai 20 ribu bungkus dengan omzet per bulan mencapai puluhan juta rupiah.

Kesuksesan ini tak lepas dari kreatifitas strategi marketing Yana. Dengan sistem penjualan langsung yang mengadopsi sistem multilevel marketing, Yana memberdayakan mahasiswa dan kaum muda lainnya untuk ikut berjualan.

Dalam seminar "Entrepreneur In Action, Road to Success Entrepreneur" ini Yana juga menuturkan bahwa tiap pengusaha harus punya mimpi, ide-ide, dan aksi. Tanpa mimpi semuanya akan sia-sia karena kita tidak bisa berbuat apa-apa.

"Mengenai ide, tidak perlu repot mencari ide baru, lihat saja sekeliling kita. Nah masalahnya mampu tidak ide tersebut kita lakukan," ujar pria yang biasa dipanggil Abah ini.

Selain itu, Yana pun berpesan kepada para mahasiswa yang ingin serius di dunia entrepreneurship agar konsisten dalam tiap bisnis yang dijalankan. Kuncinya adalah evaluasi dan inovasi.

"Masa awal itu merupakan masa kritis, tapi jangan kemudian meninggalkan begitu saja usaha yang kita bangun. Yakinkan diri kita bahwa kita bisa sukses dengan bisnis ini," nasihat pria kelahiran 6 Agustus 1968 ini.

Sumber : ciputraentrepreneurship.com

Omzet Besar dari Pisang Goreng


Pisang adalah buah yang banyak kita jumpai dimana saja. Pisang bisa dibilang salah satu buah favorit yang biasa dinikmati oleh masyarakat pada umumnya, mulai dari kalangan bawah hingga kalangan atas. Pisang pun adalah salah satu bahan mentah yang dapat diolah menjadi aneka masakan yang lezat. Dan salah satunya adalah pisang goreng yang sudah menjamur penjualnya dimana-mana.

Namun ada hal yang berbeda dengan penjual pisang goreng yang satu ini. Namanya Robby Tjan. Ya pada dasarnya hanya pisang goreng biasa, Namun Robby melakukan yang hal sedikit berbeda dengan yang lain, pisang gorengnya ia kemas dengan baik, sehingga jajanan yang disukai oleh hampir semua masyarakat Indonesia ini akan menjadi bisnis yang besar. Robby Tjan telah membuktikannya dengan Pisang Pontia nya.Laris manis bak kacang goreng, bukan lagi ungkapan basa-basi, bagi Robby Tjan. Sebab, melalui empat gerai pisang gorengnya yang dinamai Pontia, pisang gorengnya menjadi menu favorit bagi penggila makanan instan di Jakarta dan sekitarnya. Dan yang lebih penting lagi dia bisa meraup omset sebesar Rp13,5 juta hingga Rp14 juta semalam! Dan, berdasarkan pengamatan, diperkirakan omset ini akan terus membumbung di waktu-waktu mendatang. Padahal, modal yang ditanamkan hanya Rp800 ribu, sedangkan produknya cuma pisang goreng tepung.

“Pada dasarnya, Pontia hanyalah pisang goreng biasa. Mungkin, bedanya dengan pisang goreng pada umumnya yaitu terbuat dari pisang kepok Pontianak (pisang jenis ini lebih manis daripada pisang kepok pada umumnya dan saat digoreng tidak terlalu menyerap minyak, red.) yang dibungkus rapat dengan tepung terigu ¯ sehingga pisangnya sama sekali tidak kelihatan ¯ sebelum pisang itu digoreng. Kala dimakan, akan terasa manis dan renyah,” kata Robby. Di sisi lain, pisang-pisang ini ditempatkan dalam kemasan yang terbuat dari kertas karton (kardus, red.) berlabel Pontia. Selain itu, outlet Pontia juga bukan gerobak biasa, dan para karyawan yang melayani pembeli mengenakan pakaian seragam. Lebih dari itu semua, mungkin harga per bijinya yang hanya Rp2000,-, padahal “tampangnya” terbilang keren. “Nggak malu-maluinlah kalau dipakai untuk ngoleh-ngolehin calon mertua,” tambahnya.

Setiap kemasan, berisi lima pisang goreng. Tapi, Robby tidak pernah memaksa konsumennya yang selalu (antri) mengular, agar membeli minimal satu kemasan seperti aturan yang diberlakukan Dunkin Donuts, misalnya. “Konsumen boleh membeli berapa pun mereka mau,” ucapnya. Untuk variasi, Pontia juga menyediakan kacang hijau dan sukun goreng. Pontia dibangun Robby yang awalnya hanya ingin menjalankan bisnis dengan modal kecil, setelah gagal dalam bisnis pelayaran yang modalnya miliaran rupiah. Tapi, saat itu dia belum tahu apa bentuk bisnisnya. Sampai kemudian, dia menyadari bahwa pisang goreng buatan istrinya yang selalu menjadi santapan sehari-hari keluarga ini, terasa makin lama makin enak. Lalu, terlintas dalam benaknya untuk membisniskan makanan kegemaran keluarganya ini. “Bagi saya yang biasa bermain di modal miliaran, modal berbisnis pisang goreng ini sangat kecil,” katanya, tanpa bermaksud sombong.

Melalui bantuan saudaranya, Robby yang memiliki apotik di kawasan Sunter, menggunakan ruangan yang tak terpakai di depan apotiknya sebagai tempat pertama berjualan Pontia, pada Agustus lalu. Hasilnya sangat menakjubkan. Karena, pada malam pertama pisang goreng yang dipasarkan dengan harga Rp1000,- per potong, omset sebesar Rp500 ribu bisa dia raup. Sekadar informasi, perbedaan harga Pontia di Sunter dengan cabang-cabang yang lain didasari daya beli masyarakat setempat dan Pontia di sini tidak ditempatkan dalam kemasan. Sebulan kemudian, Robby membuka cabang Pontia di kawasan Kosambi.”Di sini, belum selesai dagangan digelar, sudah diserbu habis oleh konsumen!” ujarnya. Kondisi ini membuatnya berani membuka satu gerai lagi di kawasan Bintaro pada Bulan Oktober. Dan, hasilnya juga luar biasa, sehingga akhir 2005 dia membuka satu gerai lagi di Cibubur. Dari, empat outlet ini, setiap malam (Pontia dibuka dari jam 14.00 hingga jam 23.00, red.) Robby meraup Rp13,5 juta hingga Rp14 juta! Itu artinya, 6.750 buah pisang digoreng setiap malam!

Sebuah kenekadan atau spekulasi? “Tidak! Animo pembelilah yang mendorong saya membuka outlet ini secara beruntun. Selain itu, juga bukan untung-untungan. Sebab, investasi, kalau boleh ini dibilang investasi, di bisnis ini sangat kecil. Menurut saya, investasi itu berkaitan dengan angka yang besar sekali, sedangkan di bisnis ini investasinya sangat kecil. Dan, kalau terjadi sesuatu, tidak ada risiko apa pun yang harus ditanggung. Jadi, harap maklum kalau banyak orang berjualan pisang goreng, bukan karena prospeknya cerah, melainkan karena kecilnya modal, “ ucapnya.

Untuk promosinya, Robby menggunakan rasa penasaran konsumen. “Sebenarnya, saya sendiri agak kaget. Kenapa hanya pisang goreng bisa antri sepanjang ini,” katanya. Untuk mengatasi rasa penasarannya, sekaligus mengetahui berapa transaksi per malam, dia melakukan survai di Bintaro. Hasil penelitian sederhana tersebut yaitu dalam semalam terjadi 200–230 transaksi (pembelian) dan sekitar 150 di antaranya repeat di Pontia cabang Bintaro. Sedangkan, di Cibubur per malam dibukukan 100 transaksi. Sekadar informasi, Pontia cabang Bintaro merupakan gerai yang paling besar, karena di sini tersedia 13 penggorengan. Gerai kedua terbesar adalah Pontia cabang Cibubur yang menyediakan tujuh penggorengan.  Ke depannya, Robby berencana membuka gerai di Blok M, Puri Kembangan, atau Depok. “Banyak tempat di Jakarta ini yang masih bisa dijelajahi,” katanya. Selain itu, dia juga akan menggunakan sistem delivery, serta penjualan per kemasan atau paket. 

Di sisi lain, berkaitan dengan Pontia yang mulai dilirik seorang pengusaha dari Singapura, Robby menawarkan kerja sama dengan ketentuan gerainya harus berpendingin ruangan serta dilengkapi dengan meja dan kursi, sehingga Pontia bisa dinikmati konsumen sambil kongko-kongko. Berbisnis dengan modal miliaran, tidak selalu memberi hasil yang sebanding. Sebaliknya, “berdagang” pisang goreng, yang oleh sebagian besar orang dipandang sebagai bisnis yang paling rendah,karena dilakukan oleh pengusaha kecil sekali, justru mampu menciptakan penjualan yang menakjubkan. Jadi jangan anggap enteng, biar hanya pisang goreng, tapi bisa menciptakan cash yang besar.

Sumber : http://forumsejahtera.blogspot.com

Wirausaha Nasi Goreng Kambing


Hadi, pemilik dan pengelola Nasi Goreng Kambing Kebon Sirih adalah generasi penerus kedua usaha kaki lima Nasi Goreng Kambing Kebon Sirih dan membagi kisahnya kepada okezone. Nasi goreng yang sudah dikenal sejak tahun 1958 ini didirikan Alm H Nein. Dengan menu andalannya adalah nasi goreng kambing, setiap hari usaha ini penuh dengan pelanggan. "Pada awalnya, hanya coba - coba membuat bumbu racikan nasi goreng dipadukan dengan daging kambing. Jahe, kunyit, lengkuas, daun jeruk, serta biji pala merupakan sebagian bahan dari nasi goreng tersebut. Namun dengan bergulirnya waktu, nasi goreng jualan Alm H Nein ini semakin diminati banyak orang," kata Hadi membuka percakapan.

Sesudah orangtuanya meninggal, Hadi meracik sendiri bumbu Nasi Goreng Kambing Kebon Sirih yang diambil dari resep leluhur. Dengan kombinasi serta ukuran yang tepat, Hadi mengklaim resep nasi goreng kambing nya ini tidak akan jatuh ke tangan orang lain. "Koki di sini tidak dapat membocorkan bumbu, karena racikannya memakai banyak bahan. Orang yang suka mencoba -coba meracik menu sekali pun susah menebak campuran bumbu bahan nasi goreng kita," papar Hadi.

Daging kambing dipilih sebagai menu utama nasi goreng yang dimasak sebanyak empat kuali besar. Untuk itu, Hadi menuturkan alasannya mengapa ia memakai daging binatang khas perayaan hari besar agama Islam ini. "Daging kambing itu enak. Lebih enak, lebih manis, dan lebih gurih dari daging lainnya," ungkap Hadi. Cara memasak di sini pun terbilang unik. Di dalam satu adonan, koki memasak untuk satu kuali atau sama dengan untuk 100 porsi. Meski identik dengan nasi goreng kambing, tapi di tempat ini pun Anda tetap bisa menikmati menu lainnya, yaitu sate kambing, sup kambing, nasi goreng ayam, serta sate ayam."Nasi goreng ayam kami ciptakan sebagai alternatif menu bagi pengunjung yang tidak mengonsumsi daging kambing," ucap wirausaha sukses ini.

Nasi goreng kambing berwarna kuning kecokelatan yang ditaburi bawang goreng dan dilengkapi emping ini tidak hanya digandrungi warga pribumi. Namun, warga asing pun seperti Arab, Afrika, dan Turki juga senang berkunjung ke tempat ini. Nasi goreng pinggir jalan yang lokasinya dekat dengan Monas dan Jalan Sabang ini memang selalu penuh dengan pengunjung. Mengenai omzet yang diperoleh per hari, dengan tersenyum Hadi menjawabnya dengan perumpaan. "Kalau sedang ramai pengunjung, omzet bersih dalam sehari bisa mencapai empat kuali. Tapi kalau kondisinya lagi biasa saja, hanya tiga kuali," ujarnya.

Nasi Goreng Kambing Kebon Sirih memang hidangan lezat yang menarik untuk dicicipi. Karena mulai dari rasa, keunggulan, dan bumbu berbeda dengan nasi goreng lainnya. Nasi goreng ini lebih banyak bermain rempah-rempah, sehingga menciptakan rasa kari yang sepintas mirip dengan nasi kebuli. Nah, jika Anda ingin menikmati nasi goreng khas Kebon Sirih ini, Anda dapat merogoh kocek Rp19.000 untuk nasi goreng ukuran biasa, Rp12.000 jika memesan setengah porsi, dan Rp31.000 untuk porsi jumbo. Buka setiap hari dari pukul 17.00-02.00 WIB, Anda dapat memilih waktu yang tepat untuk menyantap nasi goreng ini. "Biasanya weekdays banyak orang kantoran yang datang, sedangkan weekend banyak keluarga," tandas Hadi mengakhiri pembicaraan. Nah, sekarang anda tahu bahwa peluang usaha nasi goreng itu menggiurkan.

Sumber  : okezone.com

Sarjana Teknik Mesin Sukses Berbisnis Kuliner


Awal Juni petang itu, di sebuah toko yang terletak di jalan T. Iskandar, Lambhuk, Kota Banda Aceh, seorang lelaki muda terlihat sibuk melayani para pengunjung. Tujuh meja plastik yang di taruh di halaman toko dipenuhi puluhan gadis remaja. Dua perempuan yang duduk di meja paling pojok  terlihat serius mengamati buku kecil berisi deretan menu. Beberapa saat mereka memanggil pelayan. Menu pilihan kini siap dihidangkan. Begitulah suasana saban hari di tempat ini. Para warga kota Banda Aceh yang demen makanan enak dan unik, tentu Surabi Bantai jawabannya. Penganan tradisional yang dikemas dengan konsep modern ini pasti membuat anda ketagihan. Jangan khawatir soal harga, satu porsi anda cukup membayar enam ribu rupiah. Murahkan?

Surabi Bantai Rasa Saos dan Coklat
Bagi kebanyakan orang Aceh kue serabi sudah sangat familiar. Penganan berbahan baku tepung yang dimakan dengan kuah santan. Berbentuk bulat, dengan permukaan kenyal. Nah, Surabi yang ini lain. Tidak dimakan dengan santan, tidak bulat, tapi tetap empuk. Nama Surabi adalah gabungan antara Sunda dan Aceh. Su berarti Sunda dan Surabi berarti nama kue yaitu serabi. Bantai itu sendiri adalah bahasa Aceh yang berarti bantal. Nah, karena surabi makanan yang empuk sama halnya dengan bantal maka disebutlah Surabi Bantai. Jargonnya pun terkesan unik, Bantai surabinya rasakan empuknya.

Siapa sangka lezatnya Surabi Bantai itu ternyata lahir dari sentuhan tangan dingin pemuda lulusan Teknik Mesin. Alih-alih ingin membuat mesin, eh malah ia membuat kue. Pemuda itu bernama Rivai Fadli. Lahir di Aceh Jaya, tahun 1985. Ia adalah Sekolah Menengah Atas (SMA) N 1 Kota Banda Aceh. Setelah melepaskan seragam putih abu-abu,  ia melanjutkan pendidikan ke Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) dan mengambil jurusan Teknik Mesin.

Bagi Rivai kuliah hanya untuk membuka wawasan dan membentuk pola pikir. Bukan berarti ketika kuliah mengambil jurusan hukum anda harus menjadi seorang pengacara. Ia sendiri justru lebih tertarik bergelut di dunia bisnis, meskipun ia tak mengantongi ijazah ekonomi. “Tak ada yang salah kan kalau sarjana teknik tapi berbisnis,” ujar pria berkulit putih ini tersenyum. Sore itu ia bersedia berbagi cerita seputar usaha surabi bantai yang kini membuatnya bisa hidup mandiri. Omset yang didapat dari bisnis kuliner ini setiap bulan mencapai Rp. 90 juta. Bila dikurangi biaya produksi dan operasional lainnya, laba bersih yang masak ke kantongnya berkisar Rp. 35 juta sampai Rp.45 juta perbulan. Membangun usaha mandiri memang tak semudah membalik telapak tangan. Perlu perjuangan dan kesabaran. Jatuh, bangun, jatuh lagi dan bangkit lagi. Setidaknya itu dialami Rivai selama membuka usaha sendiri. Pria yang sudah menikah ini tiga kali mengalami kegagalan. Namun ia tak menyerah justru baginya gagal itu adalah pelajaran tambahan agar ia lebih siap menyambut kesuksesan.

Dan kini apa yang diucapkan terbukti sudah. Bisnis kuliner surabi bantai adalah satu-satunya eksperimen yang berakhir manis. “Saat itu saya jalan-jalan ke Bandung. Usaha ayam panggang baru saja saya tutup. Jadi saya refresing ke sana, siapa tahu dapat ide baru. Di kota Bandung saya melihat, mempelajari bagaimana orang di sana mengelola bisnis kuliner sederhana tapi laku. Saya lihat di Bandung banyak makanan-makanan tradisional yang konsep penjualannya secara modern,” jelas Rivai. Sesekali ia meminta izin karena harus melayani para pengunjung.

Dari hasil observasi itu maka timbullah ide untuk  membuat  kue tradisional Aceh dengan konsep madern. Dan pilihannya jatuh pada kue serabi. Kenapa serabi? “Serabi salah satu kue tradisional yang paling mudah ditemukan di Aceh,” jawab Rivai serius. Sejak pulang dari Bandung, Rivai giat belajar membuat kue serabi. Berbekal tips-tips dari buku dan internet ia terus mencoba. “Tiga bulan kerjaan saya hanya bikin kue serabi. Pertama buat rasanya aneh banget,” kata Rivai terbahak mengenang perjuangan tempo hari.

Bulan ke empat ia mengambil keputusan untuk membuka usaha serabi. Modal awal hanya Rp. 15 Juta. Dengan modal tergolong kecil itu ia membeli peralatan ; gerobak, peralatan masak, tepung dan beberapa buah meja serta kursi plastik. Ia memilih lokasi di depan pertokoan dekat dengan jalan utama Lambhuk. Biar lebih mudah diakses sama pelanggan, begitu alasannya. Awal berjualan orang-orang penasaran makanan jenis apa surabi bantai. Apalagi serabi made in Rivai ini tersedia dalam beragam rasa. Ada rasa coklat, rasa keju, saos, sosis dan telor. “Pertama buka orang pada ketawa, bingung, penasaran. Kok ada ya, serabi rasa sosis. Akhirnya mereka coba, dan ternyata enak, besoknya bahkan mereka minta ditambah rasa-rasa yang lain,” ujarnya.

Bagi Rivai masukan dari pelanggan menjadi ilmu yang berharga. Bahkan ia sangat senang kalau ada pelanggan yang cerewet. Dengan begitu ia bisa tahu apa kekurangan dari makanan yang ia sajikan. “Saya suka dikritik, kalau tidak dikritik saya tidak tahu apa kekurangan masakan saya. Misal hari ini ada pelanggan yang bilang ‘serabinya terlalu lembek’, ya besoknya saya buat jangan terlalu lembek,” katanya membuka konsep dalam berbisnis.

Satu tahun kemudian, Rivai memindahkan gerobaknya ke tempat yang lebih bagus. Kini ia menyewa satu unit toko dua lantai. Di tempat yang baru nama surabi bantai semakin meroket. Kini surabi bantai sudah punya langganan tetap. Dan satu hal lagi yang harus diberi apresiasi, kini ia memiliki 12 karyawan. Ke depan Rivai berniat untuk membuka outlet surabi bantai di Banda Aceh. Targetnya usai lebaran tahun ini. Mimpi besar lain yang ia tanam adalah menjadikan surabi bantai salah satu usaha berbasis franchise. Semoga mimpi itu terwujud.

Sumber : zulkarnainimasry.blogspot.com

Adi Kharisma Pencipta Olahan Ubi Ungu Pencegah Kanker


Inspirasi memang bisa datang dari mana-mana, tak terkecuali dari hal yang menyedihkan. Seperti inovasi olahan ubi ungu Adi Kharisma yang ternyata datang dari keprihatinannya terhadap tujuh kerabat Adi termasuk ibu, paman, mertua serta kakaknya yang terkena penyakit kanker. 

Adi tertantang mencari informasi sebanyak-banyaknya, terutama terkait penyakit kanker dan pencegahannya. ”Koleksi buku saya sekitar 100, semua bicara tentang kanker dan bagaimana mencegahnya,” ujarnya.

Dari pencarian yang amat panjang dan melelahkan, Adi akhirnya menyimpulkan, penyakit kanker lebih banyak disebabkan oleh faktor konsumsi makanan dan lingkungan. Pilihan paling mungkin adalah menjaga agar asupan makanan yang masuk ke tubuh bisa dikontrol. Dipilih yang benar-benar bermanfaat bagi kesehatan tubuh. Ubi ungu, dalam pengamatan Adi, merupakan salah satu bahan pangan yang mengandung antioksidan.

Hal itu, kata Adi, karena ubi ungu mengandung serat pangan alami yang tinggi, prebiotik, kadar Glycemic Index rendah, dan oligosakarida. Pigmen warna ungu pada ubi ungu bermanfaat sebagai antioksidan karena dapat menyerap polusi udara, racun, oksidasi dalam tubuh, dan menghambat penggumpalan sel-sel darah.

Memulai Bisnis Ubi Ungu

Mengalihkan bisnisnya ke pengolahan aneka umbi-umbian. Untuk memulai usaha ini, masalah yang pertama-tama ia hadapi adalah pasokan bahan baku. Untuk mengatasinya, Adi berencana bekerjasama dengan para petani di Yogyakarta. Ada alasan mengapa ia membidik petani-petani di Kota Gudeg itu. Menurut Adi, selama ini, produksi umbi-umbian dari Yogyakarta cukup besar. Misalnya saja umbi yang lazim dikenal dengan nama gembili. “Namun sayang, penanaman umbinya lama, bisa sampai delapan bulan,” kata Adi. Karena itu, akhirnya ia memilih mengolah ubi jalar. Sebab, selain sudah banyak ditanam, ubi ini  juga mudah dibudidayakan.

Namun, hingga sekarang ini, Adi masih mengandalkan pasokan ubi jalar dari beberapa petani lokal di Bali. Selain itu, ia juga memiliki kebun sendiri seluas 1,5 hektare. “Saat ini dalam sebulan saya butuh lebih dari tiga ton ubi jalar,” ujarnya. Sebelum memulai bisnisnya, Adi mengaku melakukan eksperimen sendiri selama enam bulan. “Selama itu, saya makan semua hasil eksperimen saya,” kenangnya sembari tertawa.

Bagi Adi, kreativitas untuk menghasilkan sebuah produk pangan sangat menentukan maju tidaknya sebuah usaha. Karena alasan itu pula, Adi tidak pernah berhenti menciptakan berbagai produk pangan, yang semula dicitrakan kampungan menjadi makanan berkelas Karena ubi ungu pula Adi mantap meninggalkan usahanya sebagai distributor makanan dan minuman di Bali. Begitu pula dengan gelar akademis yang dia peroleh dari San Francisco State University, Amerika Serikat, dia kesampingkan. Adi lebih tertarik menekuni usaha ubi ungu.

Usaha berbasis ubi ungu tidak dibangun Adi karena latah atau meniru orang lain. Adi mengutamakan orisinalitas gagasan untuk menghasilkan produk yang memiliki tempat tersendiri di hati konsumen. Omzet usaha dari mengolah ubi ungu itu, menurut Adi, relatif lumayan. Setidaknya, membuat Adi berani meninggalkan usaha lamanya yang telah mapan.

Konsep penjualan melalui sistem waralaba yang dikembangkannya pun kini mulai banyak peminat. Bahkan, dalam waktu dekat dia berencana membuka satu gerai lagi di Jakarta. Saat ini Adi mengelola dua gerai penjualan produk makanan dari ubi jalar di Bali dan di Jakarta dengan omzet sekitar Rp 50 juta sebulan.

Menu yang Variatif & Kualitas yang Terjaga.

Adi sadar, meski makanan berbahan baku ubi ungu banyak manfaatnya, tidak mudah bagi masyarakat perkotaan untuk mendapatkan bahan pangan ini. Kalaupun ada, biasanya tidak menarik untuk dikonsumsi karena hanya direbus. Padahal, masyarakat perkotaan umumnya senang yang serba praktis, termasuk dalam memilih makanan. Perilaku masyarakat inilah yang dijadikan Adi sebagai tantangan untuk meraih peluang usaha. Kini, dengan kreativitasnya, ubi ungu dapat menjadi makanan yang memenuhi selera masyarakat. Saat ini yang dibutuhkan Adi adalah menjaga konsistensi kualitas ubi ungu.

Variasi olahan ubi ungu Adi pun terus bertambah. Misalnya saja, ia membuat burger es krim ubi ungu dengan roti burger. Adi menjual burger es krim tersebut dengan harga Rp 12.000 per buah. “Roti burgernya juga dibuat dari ubi lho..” ujar Adi berpromosi. Ia juga membuat jus ubi ungu yang ia jual dengan harga Rp 11.000 hingga Rp 17.000 per gelas. Kreasi lainnya adalah brownies ubi ungu yang ia jual dengan harga Rp 35.000 per 250 gram, dan pia ubi ungu seharga Rp 17.000 per kotak isi enam buah. Untuk pesanan khusus, Adi juga membuat nasi ubi ungu. Harganya Rp 17.000 per kotak, sudah termasuk empat tusuk sate ayam lilit. “Dari harga jual ini, secara eceran saya mendapat margin sekitar 30%,” ujar Adi.

Demi menjaga kualitas, Adi turut terjun langsung ke ladang untuk menanam ubi. Varietas ubi ungu yang dikembangkan pun dipilih dari Jepang. Selain kualitas warna ungunya bagus, juga kualitas rasanya stabil bila teknik budidayanya diterapkan secara tepat. Perlahan tetapi pasti, usaha makanan dan minuman berbasis ubi ungu yang dibangun Adi semakin berkembang. Kunci dari perjalanan bisnis Adi adalah kreativitas dan kemampuannya menangkap peluang usaha.

 Sumber : kisahsukses.com