Kamis, 16 Mei 2013

Bisnis Kreasi Nasi Sam


Meski kita memakannya tiap hari, tapi bisnis jualan nasi tetap saja menggiurkan. Syaratnya, nasi yang dijajakan itu harus unik dan nyantel di lidah.

Adalah Samsianata yang mencoba peruntungan dari bisnis makanan wajib orang Indonesia ini. Agar laku di pasaran, dia mengolah nasi menjadi santapan yang berbeda dari nasi yang biasa kita makan sehari-hari. "Saya menanak beras merah dengan campuran rempah sehingga aromanya harum dan teksturnya lembut," ujarnya.

Sam, panggilan akrabnya, menamakan menu kreasinya itu Nasi Jambronk. Tak hanya memproduksi Nasi Jambronk, Sam juga,menyajikan menu nasi di wadah di bumbung alias bambu, itu sebabnya makanan tersebut diberi nama Nasi Bumbung. Sam mengawali usaha restoran yang mengandalkan olahan nasi tersebut pada pertengahan 2008 di Yogyakarta. Sesuai harapannya, peminatnya membludak. Omzetnya mencapai Rp 3 juta per hari, atau Rp 90 juta per bulan

Melihat menu racikannya digemari banyak orang, Mei 2009 Sam menawarkan kemitraan restoran Nasi Jambronk dan Nasi Bumbung.

Lewat merek dagang itu, Sam menjajakan aneka makanan seperti Nasi Bumbung Komplit, Nasi Jambronk Babat, Karedok, dan sebagainya. Menu minumannya antara lain teh tarik, teh jaha (campuran jahe, teh dan rempah), dan teh sablenk (campuran mahkota dewa dan jamur). Harga menu di kedai Nasi Jambronk dan Nasi Bumbung berkisar Rp 20.000 - Rp 75.000 per porsi. Meski belum genap satu bulan melego kemitraan, Sam sudah punya satu mitra. "Satu mitra akan buka dalam waktu dekat di Gading Serpong, Tangerang," ujarnya. Kata Sam, mitra tersebut tertarik lantaran melihat keunikan Nasi Jambronk dan Nasi Bumbung.

Sam menanjkan bisnis ini bakal moncer. Dia menunjukkan contoh restoran miliknya di Kaliurang yang omzetnya Rp 3 juta sehari. Setelah dikurangi berbagai biaya, seperti bahan baku 50 persen, sewa tempat Rp 4,2 juta sebulan, dan gaji 14 pegawai, "Laba bersihnya Rp 500.000 per hari atau 15 persen dari omzet," ujarnya. Mulai dari Rp 50 juta Kepada yang berminat menjadi mitra, Sam mensyaratkan calon mitra harus memiliki modal awal Rp 50 juta. Ini untuk gerai dengan kapasitas 40 kursi. "Jika tempat usahanya mencapai 100 kursi,. tentu harganya berbeda," jelas Sam.

Dengan menyerahkan modal awal itu, si mitra akan terikat kerjasama selama lima tahun, mendapat resep, pelatihan karyawan, dan 10.000 lembar brosur. "Mitra juga mendapat ikan di media lokal selama tujuh kali tayang dalani bulan pertama pembukaan restoran," ajar Sam.

Biaya investasi tadi belum termasuk biaya sewa dan renovasi tempat. "Interior gerai harus seragam, mengikuti restoran yang saya punya," ujar Sam. Jika mitra tak ma repot mengurusi tetek bengek pendirian gerai, dia harus menyerahkan modal Rp 200 juta. 

Jika gerai sudah berdiri da usaha berjalan, Sam mewajil kan mitra membeli bumbu siap pakai darinya. Harga bumbu tersebut saat ini Rp 70.000 per kilogram. Bumbu sebanyak 1 kilogram cuku membuat 2.000 porsi nasi. Sam mewajibkan mitra membeli bumbu darinya dengan alasan untuk menjaga standar dan keseragaman citarasa di semua gerai yang bernaung di bawahnya. Jika usahanya sudah jalan si mitra juga harus membayar biaya royalti sebesar 2 persen dari omzet setiap bulannya. 

Soal balik modal, Sam menjanjikan mitra bisa balik modal dalam 1,5 tahun dengan asumsi pendapatan kotor si besar Rp 2.5 juta per hari.

Sumber : wirausahamodalkecilkita.blogspot.com

Senin, 13 Mei 2013

Pasarkan Jenang Kudus Hingga ke Cina


Untuk kembangkan usaha, diperlukan ketangguhan dan ketrampilan berbisnis yang tidak ala kadarnya. Apalagi jika sudah menjangkau pasar negara lain yang lebih kompetitif dan berkarakteristik lain dari pasar domestik. Inilah yang berhasil dilakukan oleh Muhammad Hilmy, seorang entrepreneur asal kota Kretek  Kudus yang menjadi Direktur Utama perusahaan produsen jenang terkemuka, PT Mubarokfood Cipta Delicia. 

Perlu diketahui bahwa perusahaan penghasil jenang yang masyur dengan merek “Sinar 33” itu awalnya hanyalah industri rumahan yang dikelola dengan manajemen tradisional. Hilmy adalah generasi ketiga yang mewarisi bisnis jenang ini dari kakek dan ayahnya. Hilmy mengangkat jenang “Sinar 33”, makanan lokal Kudus, menjadi makanan yang dikenal di banyak tempat bahkan mancanegara dengan konsistensi dan komitmen yang sudah teruji. 

Usaha pembuatan jenang yang menjadi cikal bakal PT Mubarokfood Cipta Delicia didirikan pada tahun 1910. Kakek dan nenek Hilmy, Mabruri dan Alawiyah, ialah pendirinya. Kegiatan produksi saat itu hanya dilaksanakan berdasarkan datang tidaknya pesanan dari konsumen.  Karena pembuatan jenang terus ditekuni dan menunjukkan hasil yang cukup bagus , akhirnya Alawaiyah memberanikan diri menjualnya. Pertama jenang buatannya dijual di pasar Bubar yang dulunya bekas terminal Menara yang ada dua pohon beringinnya. “Beliau merupakan generasi pertama yang membuat jenang Kudus,” kata Hilmy yang sehari-hari berkantor di Jalan Sunan Muria no 33 ini.

Saat itu, penjualan jenang mengalami kemunduruan karena dalam masa penjajahan. Sehingga keluarganya sulit mencari bahan baku dan sempat terhenti dalam proses produksi. Setelah kondisi membaik, akhirnya mereka kembali aktif. Setelah meninggalnya Mabruri tahun 1940, pembuatan jenang beralih ke generasi kedua, Ahmad Shohib yang juga ayah Hilmy. Shohib dengan penuh dedikasi juga mengembangkan usaha jenang ini. Shohib memunculkan visi pengembangan jenang ke depan. Di tahun 1946 ia melakukan upaya perlindungan merek dagang jenang “Sinar 33”. Pada saat itu, hanya segelintir orang yang berpikir demikian.

Generasi kedua berakhir karena faktor usia. Bulan Juli 1992, Hilmy putra Shohib mulai mengambil alih pengelolaan bisnis . Hilmy mulai menata usaha agar lebih modern dan mencari sumber daya manusia yang berkualitas untuk menjad motor penggerak usaha ini. Hilmy menyadari bahwa faktor SDM menjadi faktor kunci dalam memajukan usaha jenangnya. “ Untuk maju, kita membutuhkan SDM yang bisa diajak berlari untuk meraih target yang ditentukan namun karena SDM kurang, kita agak terkendala,” ungkap bapak 5 anak ini. Di tahun ke5 kepemimpinannya, Hilmy masih mempertahankan sisa SDM yang ada di generasi kedua. Menurutnya pergantian SDM secara drastis akan menimbulkan goncangan.

Setelah menapaki 5 tahun kedua, ia mulai mencari SDM yang lebih baik yang berasal dari kalangan akademisi dan memiliki ketrampilan yang dibutuhkan perusahaan untuk bisa berkompetisi di era modern ini. Saat itu, perusahaan lebih terbantu berkat dilakukannya rekrutmen SDM baru. Uniknya, meskipun mengakui membutuhkan SDM yang memiliki ketrampilan  akademis dan bisnis, Hilmy tak melupakan aspek sprititualitas dalam merekrut. Ia mementingkan isu kejujuran dalam rekrutmen.

Ternyata ini bukannya tanpa alasan. Hilmy mengakui memiliki pengalaman pahit dengan tenaga pemasaran dari salah satu perusahaan makanan bermerek. Sisi akademis dan skill maupun pengalaman sudah tak diragukan lagi tapi setelah dua tahun bekerja, Hilmy menemukan penyimpangan yang dilakukan oknum tersebut. Oknum tersebut kedapatan membuat kesepakatan di luar perusahaan di area pemasaran Jabodetabek. “Kita butuh karyawan yang tahu bahwa selain ia diawasi oleh pimpinan, ia juga diawasi oleh Sang Pencipta,” tekannya. Kini Hilmy tak berpangku tangan menikmati kesuksesan. Ia mulai berekspansi ke pasar luar negeri seperti Cina dan Hong Kong. Ia mengamati adanya perkembangan yang menjanjikan di sana setelah mengikuti pameran di sana. PT Mubarokfood Cipta Delicia bahkan akan menyewa satu mini mall di Cina.

Untuk target 2012, ia dan segenap jajarannya siap bekerja keras dalam menaikkan pamor perusahaan tersebut sehingga menjadi pemimpin pasar alias market leader di industri makanan lokal.

Sumber : ciputraentrepreneurship.com

Kamis, 09 Mei 2013

Bisnis Internet


Ada beberapa bisnis internet yang sedang marak di tahun ini. Tentunya bagi Anda yang ingin membuka usaha, Anda dapat mencoba salah satu dari peluang usaha yang ada di bawah ini:

1. Bisnis Toko Online

Tren belanja online yang semakin menjadi-jadi membuat bisnis toko online akan tumbuh lebih pesat lagi 2013 ini. Oleh karena itu, banyak pelaku bisnis online yang juga membuka toko online. Dengan beragam kepraktisan dan kemudahan belanja yang ditawarkan oleh toko online, membuat masyarakat lebih menyukai belanja di toko online.

Hadirnya beragam gadget dan teknologi baru saat ini menjadikan kegiatan e-commerce dan toko online menjadi primadona. Tak terhitung lagi berapa banyak toko online yang muncul di 2012 lalu, dan 2013 pasti pertumbuhan jumlah toko online akan semakin tinggi.

Bukan tak mungkin dalam waktu beberapa tahun lagi, toko online akan sanggup mengalahkan berbagai toko ritel yang ada di dunia nyata. Jadi, jika Anda adalah seorang pengusaha maka bisnis toko online tidak ada salahnya untuk Anda geluti. Belum punya toko online? Mari segera buat.

2. Bisnis Social Media Marketing

Pertumbuhan jumlah pengguna jejaring sosial di Indonesia saat ini begitu luar biasa, bahkan Jakarta disebut-sebut sebagai ibukota Twitter dunia.  Nah hal ini menjadikan peluang bisnis social media marketing menjadi tumbuh subur. Seperti apakah bisnis social media marketing itu?

Bisnis social media marketing yang saya maksud adalah segala kegiatan bisnis yang berkaitan dengan kegiatan pemasaran lewat jejaring sosial (social media). Trend ini menawarkan berbagai peluang bisnis online baru, seperti:

a. Jasa pengelolaan fans page (halaman) Facebook.

Banyak para pelaku bisnis yang memanfaatkan fans page di Facebook untuk kegiatan pemasaran mereka. Nah tak jarang para pelaku bisnis tadi siap menyewa atau membayar orang khusus yang mau mengelola fans page mereka, bahkan salah satu teman saya ada yang berprofesi sebagai penyedia jasa pengelolaan fans page ini. Dan profit yang beliau dapatkan juga cukup lumayan. Selain itu ada 3 profesi Facebook marketing lain yang juga perlu Anda lirik.

b. Jasa marketing twitter.

Penggunaan Twitter dalam bisnis juga sudah tak dapat dielakkan lagi. Tak pelak kondisi ini menjadikan para penyedia jasa Twitter marketing menjadi sangat dibutuhkan. Jika Anda sudah cukup berpengalaman berpromosi melalui social media, maka barangkali saja Anda berniat membuka bisnis di bidang pelayanan social media marketing.

c. Jasa pembuatan video untuk promosi di Youtube.

Seiring dengan semakin gencarnya pemanfaatan Youtube untuk berpromosi, menjadikan banyak para desainer video  dibutuhkan oleh para pebisnis. Jika Anda punya kemampuan di bidang membuat tampilan video, maka Anda bisa coba bisnis ini. Di tahun 2013 ini dijamin social media akan memegang pernanan yang sangat besar untuk bisnis Anda.

3. Bisnis Ebook dan Video Tutorial

Jika Anda berbisnis informasi lewat ebook dan atau video tutorial maka bisnis yang Anda tekuni ini akan semakin berkembang. Alasannya semakin hari, orang-orang semakin haus akan informasi. Jika Anda mampu menyajikan informasi tersebut dalam bentuk yang menarik dan punya nilai jual, maka orang pasti akan tertarik dan membeli.

Apapun keahlian, hobi atau kemampuan Anda itu bisa dijual dalam bentuk ebook dan atau video tutorial. Jika Anda pintar membuat kue, Anda pintar dalam hal pemasaran, Anda jago bisnis properti, Anda pandai main piano, atau apa saja dan Anda tertarik untuk menjual keahlian dan ilmu Anda itu maka media ebook dan video tutorial pasti sangat cocok.

Dan perlu diketahui, ada banyak topik ebook atau video tutorial yang diperkirakan akan laris manis di tahun 2013 ini. Topik tersebut seperti seputar:

- Percintaan dan membangun relasi.

- Seputar pemasaran dan bisnis.

- Seputar kantor dan managemen.

- Topik seputar makanan dan kesehatan.

4. Bisnis MLM dan Kaitannya dengan Pemasaran Jaringan

Bisnis MLM memang selalu saja sanggup menebar pesona nya di mana saja. Termasuk di internet. Di tahun 2012 saja saya sering mendapatkan permintaan bantuan dari beberapa klien untuk membantu mereka memasarkan jaringan MLM mereka. Nah apalagi di 2013, tren MLM online masih akan terus mencuat.

Apalagi saat ini sering bermunculan berbagai macam produk, baik itu produk kesehatan dan herbal, produk perawatan tubuh, dan berbagai produk lain yang mendukung sistem pemasaran MLM. Tentu saja, peluang bisnis ini kerap dilirik oleh rekan-rekan yang baru mau mencoba bisnis online.

Nah rekan pembaca, itulah 4 tren bisnis online yang diperkirakan akan tumbuh pesat sekali di 2013 ini. Saran kami, apapun bidang bisnis online yang Anda tekuni, lakukanlah itu sebaik mungkin dan penuh fokus. Jangan mudah goyah apalagi menyerah, sukses bisnis internet hanya bisa dicapai dengan kerja keras dan proses belajar.

Sumber : jpmi.or.id

Miniatur Beromzet Besar


Tidak semua hal kecil menghasilkan nilai yang kecil. Coba saja tengok barang tiruan yang diperkecil alias miniatur. Semua hal dalam bentuk miniatur rasanya memang terlihat menarik dan unik. Tilik saja, kereta api dalam bentuk mini, bajaj mini, atau bahkan kendaraan pengisi Bahan Bakar Minyak (BBM) dalam bentuk mini rasanya akan menarik bagi sebagian orang.

Pemandangan tersebut dapat dilihat kala kita melintas di sekitar Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta . Jika Anda berasal dari arah Pancoran mengarah ke Pasar Minggu, maka di sebelah kiri jalan akan banyak dijumpai barang-barang unik miniature, mulai dari aneka mobil, bajaj, truk, kereta api, yang memang sudah ada sejak 34 tahun silam.

Maklum saja, usaha dari pria bernama Marsa'ad atau lebih dikenal sebagai Umar (70) berlabel "UD Senang Anak" ini sudah ditekuni sejak 1977, setelah dirinya bangkrut dari usaha stempel miliknya. "Awalnya saya usaha pembuatan stempel pada 1972. Namun, karena bangkrut, akhirnya saya mencoba membuat kerajinan. Awalnya coba-coba, mungkin ini yang dimaksud orang-orang, saya bakat," kenang Umar. 

Setelah bangkrut, Umar mengisi waktunya dengan kegiatan iseng seperti membuat kincir angin dengan hiasan berbentuk manusia. Kincir tersebut akan bergoyang saat tertiup angin. Dari situlah usahanya berkembang. Diawali hanya membuat kincir, lambat laun pesanan pun mulai berdatangan. "Dulu modalnya kecil banget hanya Rp800, dan yang saya buat baru kincir angin. Dari modal segitu, Rp200-nya saya belikan triplek bekas, dan dapat satu becak penuh triplek," katanya seraya tertawa.

Tak hanya kincir angin, pelanggan Umar banyak yang memesan kendaraan berbentuk truk. Umar sendiri optimistis kemampuannya lebih dari cukup untuk memproduksi miniatur tersebut. Semakin hari, model yang dibuatnya semakin bertambah. Dari hanya membuat bentuk truk pengangkut pasir, saat ini sudah tidak terhitung lagi banyaknya bentuk yang dibuat. Truk, kereta api, bajaj, mobil, transportasi massa Jakarta "Trans Jakarta", dan becak.

Namun, seiring dilarangnya becak di Jakarta , maka keberadaan miniatur becak ini juga mulai tergerus peminatnya. Akhirnya, Umar memutuskan untuk tidak lagi membuat miniatur becak itu. "Yang paling laku bentuk truk ini. Harganya ada yang sampai Rp100 ribu-an," jelasnya.

Sejalan dengan bertambahnya miniatur ciptaannya, omzet penjualannya pun turut melambung seiring banyaknya peminat. "Per harinya memang tidak tentu, tapi rata-rata bisa menjual sampai 20 buah. Waktu paling ramai ya Sabtu dan Minggu. Per bulan ya bisa sampai 400-an yang terjual. Tapi beda dengan sekarang, sekarang ini kadang hanya laku lima buah," tuturnya. Lelaki asal Serang ini menuturkan, penjualannya saat ini memang tidak selaris sebelum krisis moneter melanda Indonesia 1998 silam. Saat itu, penjualannnya per hari bisa mencapai 40-100 buah per hari.  Tidak heran jika omzetnya waktu itu bisa menembus angka hingga Rp40 juta per bulannya.

Lebih jauh dirinya menjelaskan, saat ini selain pengrajin jumlahnya semakin sedikit, modal untuk membuat miniatur ini juga tidak mudah didapatkan. Beberapa tahun silam, dirinya sempat memperoleh pinjaman dari sebuah mitra binaan sejumlah Rp35 juta untuk modal. "Sekarang memang tidak semudah dulu. Yang penting sekarang bisa buat makan. Tapi yang penting, anak saya kelimanya sudah kuliah semuanya," imbuhnya. Untuk memperoleh pinjaman dari bank misalnya, dirinya harus mempunyai agunan yang bisa digunakan sebagai jaminan ke bank yang bersangkutan. "Waktu itu mau meminjam ke BRI, tapi karena saya tidak punya jaminan, tidak bisa. Ya tidak jadi," kata Umar.

Sehingga, saat ini modalnya diperoleh dari hasil penjualan. Berapa banyak miniatur yang dijual, barulah dirinya membeli bahan baku untuk membuat yang baru. berbeda dengan sebelum krisis moneter, modal melimpah, dirinya juga bisa mempekerjakan orang untuk membuat miniatur, dan ketersediaan barang juga terjamin banyaknya.

Harga yang ditawarkan per buah memang tidak bisa terbilang murah. Semua lantaran miniatur yang dihasilkan benar-benar buatan tangannya. "Kisaran hrganya paling murah Rp40 ribu lalu ada yang sampai Rp300 ribu," akunya.

Pasar Eropa Umar menuturkan, kincir angin hasil buatannya tak hanya digemari oleh masyarakat sekitar. Kincir angin tersebut juga diminati oleh negara-negara lain. Dia mengatakan, dahulu tak jarang ada pesanan yang datang dari negara tetangga seperti Australia , bahkan ada yang memesan langsung dari Jerman dan Belanda. "Yang memesan dari Belanda itu ada. Orang itu minta per bulannya disiapkan 300 buah. Tapi saya tidak bisa menyanggupi. Karena semua dikerjakan sendiri dan hanya dibantu beberapa orang. Jadi, banyaknya 300 itu, kadang baru ada beberapa bulan. Biasanya orang Belanda itu datang langsung untuk mengambil pesanannya," tutur dia. Di Belanda, kerajinan buatannya itu kembali dijual dan lumayan diminati. Diceritakannya, jika per buahnya dijual dengan harga Rp75 ribu, namun sesampainya di negara Kincir Angin, harganya bisa melambung beberapa kali lipat menjadi Rp600 ribu hingga Rp700 ribu per buahnya.

Meski begitu, Umar menyesalkan minat para pemuda yang menyepelekan kerajinan miniatur ini. Dia mengungkapkan, pengrajin miniatur sudah semakin sedikit jumlahnya. Bahkan, kelima anaknya pun enggan meneruskan usahanya meskipun menjanjikan. Padahal, bahan baku pembuatan miniatur ini tidak susah didapat. Karena hanya berasal dari kayu, triplek, paku kecil, dan beberapa jenis plastik. "Bahan baku tidak sulit dicari. Yang sulit itu orang yang membuatnya. Waktu membuat satu miniatur memang tidak tentu. Ada yang sampai satu bulan baru selesai, dan ada yang satu hari bisa dibuat dua jenis miniatur," jelasnya. 

Sumber : okezone.com

Laba Anyaman Bahan Daun Pandan


Tak hanya menjadi penambah aroma pada makanan, daun pandan juga bisa jadi bahan baku kerajinan. Setelah dianyam, daun pandan bisa dibentuk aneka jenis kerajinan, seperti tikar, tas, dan keranjang. Kerajinan daun pandan ini juga berprospek cerah. Selain harga bahan baku murah dan mudah didapat, pasarnya sudah meluas hingga ke luar negeri. Daun pandan sudah lama dikenal sebagai penumbuh aroma pada produk makanan, produk kecantikan, hingga produk kesehatan. Namun, saat ini, daun pandan juga bisa digunakan sebagai bahan baku pembuatan tikar, tas, dan berbagai suvenir lainnya. Tentu saja, nilai ekonomis kerajinan pandan tni juga tinggi.

Ketersedian bahan baku untuk usaha ini pun tak susah. Lihat saja, daun pandan gampang dibudidayakan sehingga sangat mudah diperoleh di Indonesia Tak percaya? Inilah pengalaman Rianni Herlina, pemilik CV Karya Bunda, salah satu perajin daun pandan. Sejak lima tahun lalu, wanita asal Deli Serdang, Sumatera Utara ini aktif membuat dan menjual aneka kerajinan tangan berupa tikar, tas, keranjang, dompet, sandal, kotak pensil dan kotak tisu dari anyaman pandan. Dengan mengusung merek Karya Bunda, produk-produk anyaman pandan ini berhasil menembus pasar ekspor. Setiap bulan, Rianni mampu mengumpulkan omzet hingga Rp 40 juta.

Bagi wanita berusia 39 tahun ini, keahlian menganyam diperolehnya secara turun-temurun dari keluarga maupun lingkungan tempat tinggalnya Dari dulu, keluarga Rianni sudah terampil menganyam rotan. Selain itu, sebagian besar perempuan di kampungnya punya pekerjaan sampingan sebagai pengayam. Meski bukan pelopor kerajinan anyaman pandan, Rianni rajin menggerakkan perempuan di daerahnya untuk memanfaatkan daun pandan. "Saya melihat potensi pasar dengan banyaknya daun pandan di daerah kami." ujarnya

Membiakkan pandan memang mudah. Pandan bisa tumbuh di dataran rendah hingga dataran tinggi. Namun, tanaman pandan yang tumbuh di pinggir pantai memiliki karakteristikdaun lebih tebal untuk mengurangi penguapan. Nah, daun pandan yang tebal inilah yang baik dijadikan bahan baku anyaman. Saat ini, produk anyaman daun pandan yang menjadi andalan Rianni adalah tikar. Rianni menawarkan tiga jenis ukuran tikar, yakni tikar berukuran 1,5 meter x 2 meter dengan harga Rp 125.000. Kemudian tikar berukuran 2 meter x 2 meter yang dibanderol dengan harga Rp 150.000 dan tikar dengan ukuran 3 meter x 3,5 meter senilai Rp 350.000. Tikar pandan ini pun sudah dikirim ke Malaysia dan Singapura. Dalam sebulan, Rianni mampu mengekspor 250 gulung tikar. Tak hanya di dua negara itu. Mulai akhir 2011 ini, Rianni berencana memasok tikamya secara rutin ke Arab Saudi. Sementara, untuk pasar dalam negeri, biasanya Rianni melempar produknya ke Jakarta, Bandung, dan Semarang.

Karena ia mengambil nafas khas Melayu dalam kerajinan anyaman pandan ini, Rianni pun hanya menggunakan motif-motif Melayu. Bentuk motif Melayu ini antara lain, tiga dara, semut beriring, itikpulang petang dan sapu tangan. Bagi Rianni, usaha ini mendatangkan banyak keuntungan. Selain bisa menjadi mata pencaharian para tetangganya, mereka juga bisa melestarikan kebudayaan Melayu. Sejatinya, anyaman daun pandan tak hanya dari Deli Serdang saja Kerajinan anyaman berbahan baku daun pandan terlihat pula di Bogor. Dengan mendirikan CV Pandan Lestari, NuruJ Lestari pun terjun dalam usaha kerajinan anyaman pandan. Hanya saja, ia fokus pada dua produk, yakni tas perempuan dan keranjang.

Meski baru mulai berusaha sejak tiga tahun silam, namun Nurul sudah mampu menangguk omzet hingga Rp 20 juta per bulan. "Dari perolehan omzet itu. saya mendapatkan keuntungan bersih sekitar Rp 12 juta," tegasnya Ia bisa memperoleh margin keuntungan yang besar karena bahan baku daun pandan sangat murah. Nurul mendapatkan daun pandan dengan harga Rp 3.000 per kilogram.Hargajual produk CV Pandan Lestari ini berkisar antara Rp 25.000 hingga Rp 200.000. "Yang paling diminati adalah tas perempuan," tambah Nurul.

Tas perempuan dari daun pandang ini. lanjut Nurul. banyak diminati oleh perempuan di kota-kota besar. Terutama, mereka yang memiliki kepedulian terhadap bahan baku ramahlingkungan. Nurul pun memberi jaminan, produknya awet Bisa bertahan lebih dari tiga tahun lamanya.

Nah, untuk mendapatkan bahan pembuatan tas dan keranjang yang awet itu, sebelum dianyam, daun pandan harus diproses melalui beberapa tahapan. Setelah pandan dipanen kemudian dibersihkan dan dibuang duri-durinya. Kemudian, daun pandan dipotong sesuai ukuran anyaman, yakni mulai 1 sentimeter | nn i hingga 3 cm.

Potongan-potongan tersebut lantas direbus hingga 30 menit. Proses perebusan ini bertujuan untuk menghilangkan getah daunnya. Kemudian, daun pandan dikeringkan di tempat sejuk dan terhindar dari sinar matahari. "Jika tertimpa sinar, daun itu bisa menggulung," jelas Rianni. Setelah didiamkan srkinir enam jam. baru daun itu ditemaskan dan direndam dalam mr ii;ls;i selama empat jam. Baru kemudian dtyeinur di terik matahari hinggaberwarna keputihan. Setelah itu, daun pandan itu siap dmarnai. Setelah pn pewarnaan yang berlanjut pengeringan selesai, daun pandan siap dianyam. Bagi Rianni dan Nurul, bisnis pembuatan aneka kerajinan anyaman pandan memiliki prospek baik. Namun, perajin harus kreatif dalam pemasaran. Selain mengandalkan langganan dan pemesanan via dunia maya, mereka juga aktif mempromosikan lewat ajang pameran kerajinan.

Sumber : wirausaha.blogspot.com

Kerajinan Anyaman


Pengusaha kerajinan jarang tergusur oleh industri modern. Soalnya, pekerjaan tangan tidak bisa digantikan mesin, bahkan mesin yang canggih sekali pun. Berkah itulah yang sekarang dinikmati Martini. Ibu seorang putri ini sudah sembilan tahun berbisnis kerajinan. Ia membuat beragam barang anyaman dan mengekspor produknya ke Eropa dan Amerika. Kini, perusahaan bernama Martini Natural, yang ia dirikan dengan modal Rp 250.000, telah berkembang menjadi besar.

Setidaknya, Martini mempekerjakan 70 karyawan di rumahnya sendiri. Selain itu, ia merekrut 600 pekerja di Bantul dan Kulonprogo. Dari merekalah Martini mendapatkan pasokan anyaman. “Tenaga kerjanya tersebar di DIY, Klaten, dan Solo, Kutoarjo, Purworejo, dan Magelang,” kata Hari Santosa, Direktur PT Sarana Yogya Ventura (SYV), anak perusahaan PT Bahana Artha Ventura, pemberi kredit untuk Martini. Kebanyakan pekerja yang terlibat dalam usaha Martini adalah perempuan. Di antaranya banyak pula yang berusia lanjut (lansia). Menurut Martini, ada beberapa jenis produk yang memang bisa dikerjakan oleh lansia. “Daripada mereka enggak ada pekerjaan, saya beri nenek-nenek itu kegiatan seperti ini,” ujar wanita 36 tahun ini.

Kisah bisnis Martini cukup unik. Dunia anyam-menganyam sebenarnya bukan hal baru bagi anak ketiga dari empat bersaudara ini. Sejak masih SD, Martini sudah kerap menganyam, untuk tugas sekolah. Namun, begitu berangkat dewasa, Martini mengaku tidak pernah terpikir untuk memakai keahlian tersebut. Bahkan, ia bekerja sebagai pembantu rumahtangga. Menuruti mata pencahariannya itu, Martini sempat berkelana ke Padang dan Lampung.

Sehabis menikah, Martini memutuskan untuk pulang kampung. “Setelah menikah, saya bekerja pada orang lain untuk membuat anyaman,” ujar istri Nurhadi ini. Tak lama kemudian, perusahaan tempatnya bekerja tersebut tutup. Maka, Martini memberanikan diri untuk menjajal bisnis kerajinan miliknya sendiri. Mulai 1 Maret 1999, di Kulon-progo, Yogyakarta, Martini membuat anyaman dari eceng gondok. Perempuan yang juga pernah berdagang sayur di pasar tradisional ini menguras tabungan untuk modal.

Tanpa ragu, Martini menyerahkan produk anyaman, seperti tas dan karpet bikinannya, kepada pedagang kerajinan. Ia menggenjot sepeda tua peninggalan orangtuanya, sejauh sekitar 40 kilometer, demi mengantarkan dagangan. “Pesanan itu diantar minimal dua hari sekali,” sambung Martini. Ternyata, kerajinan bikinan Martini disukai. Permintaan dari pedagang makin banyak. “Modal Rp 250.000 itu terus berputar,” kenang Martini. Lama-lama, ia kewalahan memenuhi permintaan. Ia mulai merekrut saudara dan tetangga sekitar untuk menganyam. Adapun ia sendiri mengerjakan desain dan sampel produknya.

Berkat kegigihannya memenuhi tenggat waktu, order buat Martini pun meningkat. Nilainya mencapai ratusan juta rupiah. Padahal, Martini tidak punya sumber tambahan untuk modal. Alhasil, kalau terlalu banyak order, ia melemparnya ke pengusaha lain. Bisnis Martini berkembang pesat tahun 2003, setelah ia ikut pameran. Ia mendirikan agen di Jakarta dan memasok beberapa toko di Bali. Masa kejayaan bisnis Martini sudah berasa sejak tahun 2005.

Malang tak dapat ditolak. Tahun 2006, Yogyakarta diguncang gempa, demikian pula dengan Martini Natural. Rumah produksinya di Bantul luluh lantak, sehingga tidak dapat beroperasi. Ia terpaksa membatalkan beberapa pesanan akibat beragam masalah. Pembayaran dari para pembeli pun seret. “Ada pelanggan yang berutang sampai Rp 400 juta,” kata dia. Bisa diduga, aliran kas bisnis Martini terganggu. Kendati demikian, Martini tidak menyerah. Kali ini ia mencoba mendapatkan pinjaman dari bank. Bermodal tanah 3.000 meter, dia mengajukan kredit. “Tapi, saya hanya mendapat pinjaman Rp 70 juta, sementara modal yang saya perlukan Rp 600 juta,” ujar dia.

Martini pun jalan terus. Sampai suatu kali ia ikut pendidikan kerajinan di Jawa Timur. Rekan-rekan sesama pendidikan tersebut menganjurkan agar Martini menghubungi Bahana Artha Ventura. Alhasil, setelah kembali ke Jogja, ia pun menghubungi Sarana Yogya Ventura. Pucuk dicita ulam tiba. Sarana Yogya mengambil alih kredit Martini di bank. Mereka juga memberikan suntikan kredit Rp 50 juta. Martini menggunakan seluruh modal tersebut untuk mengerjakan order yang ada. “Order selesai, kemudian usaha saya stabil lagi secara bertahap,” tutur dia. Dari Sarana Yogya, Martini tidak hanya mendapatkan bantuan dana. Ia juga memperoleh konsultasi usaha gratis, di antaranya bimbingan untuk bertransaksi dengan pihak ketiga dan keterampilan menggunakan internet. “Kebutuhan usaha saya selalu direspons,” kata Martini yang pernah mendapatkan penghargaan UKM Terbaik III dari Dji Sam Soe Award ini.

Belakangan, batas geografis wilayah Yogyakarta ternyata tidak bisa membendung anyaman Martini. Hasil kerajinannya dibawa agen untuk diekspor. “Sejumlah 95 persen pasar Martini Natural adalah untuk ekspor, misalnya ke Prancis dan Italia,” ujar Hari. Untuk pasar lokal, Martini mendirikan gerai di Magelang dan Jakarta. Merangkak dari PRT dan pedagang sayur.

BISA DIDUGA, Martini tidak pernah menduga akan menjadi wanita pengusaha yang sukses seperti sekarang. Maklum saja, orangtua Martini dulu bercita-cita agar anaknya ini menjadi guru. Maka, mereka memasukkan Martini ke Sekolah Pendidikan Guru (SPG). Sayang, karena tidak mampu, sekolah Martini terpaksa putus di jalan. “Maklum, waktu itu keluarga kami ada keterbatasan ekonomi,” ujar dia.

Keterbatasan ekonomi keluarga selanjutnya justru menempa Martini menjadi pribadi yang sekarang. Pelan-pelan, Martini menjadi sosok yang memiliki keteguhan dan kesabaran dalam hidup. Ia pun rela menjalani hidup prihatin sebagai pembantu rumahtangga dan pedagang sayur, kendati sempat mengenyam bangku sekolah yang lumayan tinggi. Kini, bisa dibilang hidup Martini sudah berkecukupan. Nurhadi, suaminya yang dulu sering bekerja di proyek pembangunan, belakangan ikut terlibat mengelola Martini Natural. “Suami saya itu bekerja apa saja bisa,” kata Martini merendah. Jelas, tidak seperti keluarganya dulu, Martini tidak merasa kesulitan menyekolahkan putri semata wayangnya. Sekarang, putrinya itu kuliah di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

Sumber :  kontan.co.id

Desainer Indonesia yang Sukses Menaklukan Amerika


Menggambar dan membuat sketsa. Menggeluti fotografi dan mengikuti perkembangan mode sejak kecil. Kini Ardistia Dwiasari dikenal sebagai wanita di balik label Ardistia New York.

Ardistia salah satu ikon perancang muda berbakat yang memiliki basis industri mode di mancanegara. Wanita yang satu ini bahkan lebih dikenal di luar negeri ketimbang di negeri sendiri. Bagaimana bisnis modenya go international ?

Mode merupakan bagian dari kebutuhan industri dan tren, bukan lagi tergantung pada idealisme desainernya. Bagaimana wanita kelahiran Juli 1979 ini bisa menembus pasar dunia? Detail, konsep, dan kejelian membaca pasar menjadi kunci keberhasilan Ardistia.

"Setelah mengambil kuliah Teknik Industri (di Boston), saya bertemu teman saya yang mengambil studi di Parsons School of Design, New York. Dialah yang kemudian mendorong saya agar segera mewujudkan hasrat saya di dunia mode ," ungkap Ardistia.

Sejak kecil, ia memiliki ketertarikan khusus pada dunia mode. Menggambar, membuat sketsa, mengeksplorasi dunia fotografi menjadi bagian hidupnya sejak lama.

"Saya sangat menikmati menggambar, membuat ilustrasi, sketsa baju sejak kecil. Ini sudah seperti panggilan hidup buat saya." Maka selepas menyelesaikan studinya di Boston, 

Amerika Serikat, ia mengambil jalur pendidikan Fashion Design di Parsons School of Design, New York, pada tahun 2003.

Setelah mengantongi pendidikan formal di bidang mode, Ardistia magang sebagai asisten desainer untuk Diane Von Furstenberg (2003), freelancer di rumah mode Ann Taylor, Gap, dan menjadi technical designer untuk brand internasional Tommy Hilfiger (2004).

"Waktu kerja yang padat, pengalaman yang luar biasa. 

Karena kita harus mampu melakukan banyak tugas dalam satu waktu bersamaan. Bekerja dengan nama-nama besar ini dituntut ketelitian, detail, konsep yang selalu baru. Saya beruntung bisa mendapatkan banyak pelajaran sekaligus pengalaman dari mereka. 

Kita harus sangat hati-hati dalam memilih langkah, di bidang manapun, selama itu berkaitan dengan impian atau hasrat terbesar kita. Ini (mode) hasrat hidup saya. Untuk membangunnya, seperti mengasuh bayi sendiri. It is your baby! Tentu saja, kita menginginkannya menjadi sukses!" seru Ardistia. Untuk itu memang tak ada kata lain selain bekerja keras.

Bermimpi Besar dan Mewujudkannya Bekerja di bawah nama-nama besar di dunia mode sebuah pengalaman dan kesempatan luar biasa, yang belum tentu didapatkan semua orang. Namun Ardistia merasa belum puas. "Tidak ada batas, untuk menentukan Anda ingin menjadi siapa atau apa di hidup ini. 

Kita harus terus mengasah dan mengembangkan diri. Ambil tindakan dan melakukan transformasi besar menjadi siapapun yang kita inginkan. Saya memiliki mimpi besar untuk memiliki bisnis mode dengan label nama saya sendiri. Saya rasa setiap orang harus memiliki impian yang besar dan berusaha mewujudkannya," cetus Ardistia.

Perancang terkenal tentu saja sudah banyak di New York. Dibutuhkan keunikan, untuk bisa mendapat tempat dan bersaing di tengah nama-nama yang sudah begitu mendunia.

"Chic, timeless, modern" menjadi tagline rancangan Ardistia. Kecintaannya pada sejarah dan latar belakangnya yang kuat dalam elemen-elemen arsitektur memengaruhi rancangan busananya. Potongan-potongan yang berani dan modern, dipadu dengan kualitas bahan terbaik, dan beberapa jahitan tangan pada detail rancangannya melahirkan Ardistia New York.

"Label ini mulai berjalan tahun 2007 di New York. Kami mulai menjualnya di pertokoan tertentu dan butik di Amerika, kemudian diikuti dengan toko-toko dan butik di Eropa, Kanada, Timur Tengah, dan kini berekspansi ke Asia," jelasnya.

Sumber : eciputra.com