Rabu, 12 Juni 2013

Kisah Sukses si Raja Biodiesel

Martua Sitorus adalah pendiri Wilmar International Limited berasal dari Siantar, Sumatera Utara. Ia adalah lulusan di bidang ekonomi dari Universitas HKBP Nommensen, Medan, Sumatera Utara. 

Walaupun saat ini tinggal di negara tetangga, Singapura, namun lelaki yang lahir di daerah Pematang Siantar, mampu mengembangkan bisnisnya menjadi sangat besar. Upaya menjadi sangat besar sekarang ini dimulai dengan memulai bisnis sebagai seorang pedagang. Ia berusaha mendagangkan minyak sawitnya dan juga kelapa sawitnya di Indonesia dan Singapura. 

Martua memperdagangkan kelapa sawit dan minyak sawit kecil di Indonesia dan Singapura.. Dan, pada tahun 1991 Martua mampu memproduksi minyak sendiri lewat luas areal tanaman kelapa sawit 7100 hektar yang dimilikinya di Sumatera Utara.

Kegiatan tersebut dikerjakan dengan baik hingga ia mampu membeli kebun kelapa sawit yang sangat luas di daerah Sumetara Utara. Bersamaan dengan pembelian kebun tesebut, ia juga membangun perusahaan yang bergerak dalam bidang pengolahan minyak yang dikhususkan dalam pengolahan minyak kelapa sawitnya. 

Pada 1996 Martua berekspansi ke Malaysia untuk membangun pabrik pengolahan kelapa sawit di sana. Tidak puas dengan itu, Martua mulai melirik bisnis hilir (produk turunan) yang lebih berharga. Pada 1998 Martua untuk pertama kalinya membangun pabrik yang memproduksi lemak khusus. Kemudian pada tahun 2000 ia juga meluncurkan produk konsumen merek minyak goreng Sania.

Selanjutnya, tahun demi tahun bisnis Martua tumbuh menjadi salah satu perusahaan agribisnis terbesar di Asia yang terintegrasi dari hulu hingga hilir. Pada tanggal 31 Desember 2005, Wilmar memiliki total luas lahan perkebunan kelapa sawit 69.217 hektar, 65 pabrik, tujuh kapal tanker, dan 20.123 karyawan. Wilmar mengekspor produk-produknya ke lebih dari 30 negara. 

Puncaknya, Wilmar mencatat Martua di bursa saham Singapura pada bulan Agustus 2006 dengan kapitalisasi pasar mencapai US $ 2 miliar.

Awalnya, Martua Sitorus yang memiliki julukan Ahok, hanya dikenal sebagai pemasok kecil minyak kelapa sawit. Ia banyak membeli minyak dari negara-negara dan perusahaan untuk menjual lebih banyak di luar negeri. Namun, karena Martua yang juga bernama Thio Seng Hap ini lowprofil , tidak banyak orang yang mengetahui kemajuan usaha. 

Karena agresif, ia berhasil menangkap pembukaan peluang penjualan pada perusahaan produksi kelapa sawit sebelum negara, pada pada era Orde Baru hanya dikuasai oleh kelompok konglomerat di Indonesia. Sumber Warta Ekonomi menyebutkan jika perusahaan besar di Jakarta yang terkena dampak krisis karyawan rata-rata harus memotong pendapatan sebesar 2,5 persen, maka karyawan mendapatkan manfaat krisis Wilmar bukan 2,5 persen.

Martua Sitorus tidak sendirian dalam mengembangkan Wilmar Corporation. Pada akhir 1980-an, ia menjalin kemitraan dagang dengan Kuok Khoon Hong. pria 57 tahun adalah keponakan Robert Kuok, raja bisnis gula dan proferti Malaysia. Keduanya sepakat untuk mengembangkan bisnis bersama.

Wilmar nama disebutkan sendiri sebenarnya merupakan singkatan dari kedua nama mereka, yaitu William, nama panggilan Kuok Khoon Hong, dan Martua Sitorus. Mereka berdua adalah pemilik signifikan Wilmar Holdings Pte Ltd (sebuah perusahaan holding Wilmar International Ltd). Keduanya berbagi tugas, Kuok Khoon Hong sebagai chairman & CEO dan Martua sebagai chief operating officer (COO) Wilmar International Ltd.

Martua Sitorus keluarga besar juga memainkan peranan penting dalam mengembangkan Wilmar Corp. Istri (Rosa Taniasuri Ong), saudara (Dual Sitorus), saudara perempuan (Bertha, Mutiara, dan Thio Ida), dan ipar (Suheri Tanoto dan Hendri Saksti) Martua berbagai posisi kunci di Wilmar Corp. Bahkan, Hendri Saksti dipercayakan kepada kepala operasional bisnis Wilmar di Indonesia.

Hendri Saksti bukan hal baru untuk bisnis minyak. President Director of PT Cahaya Kalbar Tbk. Presiden Direktur PT Cahaya Kalbar Tbk. Ini mulai bergabung dengan Wilmar Corp. sebagai manajer cabang operasional bisnis minyak sawit Wilmar di Indonesia dan kemudian diangkat sebagai direktur keuangan operasional Wilmar di Indonesia pada tahun 1996. Darius Na, mantan direktur PT Cahaya Kalbar Tbk., mengungkapkan sebelumnya Hendri juga memiliki karir di PT Astra Agro Lestari Tbk. Darius menggambarkan sosok sebagai pengusaha Hendri cukup ketat dan memiliki visi bisnis untuk selalu berusaha untuk memperbesar kapasitas. "Dia menghitung jumlah orang yang memprioritaskan," katanya.

Kini, bisnis Martua dan Kuok Khoon Hong terus berkembang. Selama sembilan bulan pertama tahun 2006, pendapatan Wilmar Corp. naik 7,8% menjadi US $ 3,7 miliar dibandingkan periode yang sama tahun 2005 sebesar US $ 3,4 miliar. aba bersih selama sembilan bulan pertama tahun 2006 tumbuh 56,4% mencapai US $ 68.300.000 dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2005 sebesar US $ 43.600.000.

Saat ini ada dua isu yang mencuat keluar dari Wilmar Corp. First, Pertama, rencana merger Wilmar dan lini bisnis Kuok Group, milik taipan Robert Kuok, di bidang agrobisnis (PPB Oil Palms Berhad, PGEO Group Sdn. Bhd, dan Kuok Oil & Grains Pte Ltd). Merger ini diharapkan membuat Wilmar sebagai salah satu dari 15 perusahaan terbesar di bursa efek Singapura berdasarkan nilai kapitalisasi pasar. Oleh karena itu, penggabungan ini akan memberikan potensi kapitalisasi pasar Wilmar diperkirakan sebesar US $ 7 miliar. Merger ini juga diharapkan untuk menghasilkan pendapatan gabungan US $ 10 milyar dan laba bersih sebesar US $ 300 juta selama sembilan bulan pertama tahun 2006.

Warta Ekonomi mengatakan merger tidak akan melangkah keluar dari situasi yang terjadi dalam keluarga taipan Robert Kuok. Konglomerat tumbuh lebih tua, tetapi ia tidak merasa nyaman menyerahkan lini agrobisnis Kuok Group untuk anak-anaknya, jadi dia berbalik kembali kepada Kuok Khoon Hong, keponakannya. Pada awalnya, sebenarnya Kuok Khoon Hong adalah juga mendorong orang agribisnis garis Kuok Group. "Namun, karena ada perbedaan visi, Kuok Kuok Khoon Hong memilih keluar dari Group dan merintis bisnis mereka sendiri dengan Martua Sitorus," katanya. Kuok Khoon Hong mendapatkan pasokan minyak kelapa sawit dari Martua dan ia kemudian diekspor ke berbagai negara. "Kombinasi dari embrio Wilmar muncul," jelasnya.

Kedua, rencana ekspansi Wilmar ke bisnis biodiesel. Tidak tanggung-tanggung, mereka langsung menggebrak dengan pembangunan tiga pabrik biodiesel dijadwalkan akan selesai tahun ini dibangun seluruhnya. Masing-masing memiliki kapasitas produksi sebesar 350.000 ton per tahun sehingga total kapasitas mencapai 1,050 juta ton per tahun. 

Sejauh ini, belum ada pabrik biodiesel yang dimiliki oleh perusahaan lain di dunia yang memiliki kapasitas produksi sebesar Wilmar. Selain itu, jika rencana merger direalisasikan, tanaman biodiesel milik PGEO Group Sdn. Bhd.business. dengan kapasitas 100.000 ton per tahun akan terus memperkuat bisnis biodiesel Wilmar.

Menurut Alex Umboh, kepala urusan hukum dan perusahaan Wilmar Corp di Indonesia, bisnis biodiesel Wilmar prospektif, karena permintaan yang banyak. Selain permintaan dalam negeri sendiri mereka juga datang dari Eropa, Cina, dan Amerika Serikat. Wilmar siap memasoknya. "Di kawasan industri Dumai (di mana tiga pabrik biodiesel Wilmar berada), kami juga telah dilengkapi dengan pelabuhan," kata Alex. Jadi sekarang tidak hanya Martua pantas nama "raja minyak sawit Asia", tetapi juga layak disebut "raja biodiesel dunia".

Tahun 2012, Martua Sitorus kembali masuk daftar orang terkaya di Indonesia ke 4 dengan total kekayaan  mencapai $3 milliar.

Umber : riauportal.com

Rusdi Kirana Sang ‘Salesman’ Mesin TIK Sekarang Sukses Borong Ratusan Airbus

SPC, Jakarta - Bos Lion Air, Rusdi Kirana yang baru saja meneken kontrak pembelian 234 pesawat Airbus senilai US$ 24 miliar yang disaksikan langsung Presiden Prancis ternyata dahulu hanya seorang sales.

Merintis karirnya sebagai salesman mesin tik bermerek ‘brother’, Rusdi Kirana hanya berpenghasilan US$ 10 atau Rp 95.000 per bulannya.

Sebelum membeli ratusan Airbus, Rusdi memulai membuat berita menggemparkan dengan membeli Boeing di depan Presiden AS Barrack Obama senilai US$ 21 miliar. Jika melihat harga fantastis kedua kontrak pembelian ini, maka seorang Rusdi Kirana mampu membailout negara yang tengah krisis Cyprus.

Meskipun menerima sambutan yang ramah di Prancis bahkan setara dengan sambutan seorang kepala negara, sang milyuner ini cukup pemalu rupanya. Dan ia lebih menyukai negara asalnya yakni Indonesia ketimbang berada di Paris, Prancis.

“Saya senang berada di sini tapi saya lebih tertarik di perumahan saya membangun untuk staf saya dan keluarga mereka,” kata Rusdi Kirana kepada Reuters setelah meneken kontrak dengan Airbu, seperti dikutip, Selasa (19/3/2013).

Pria berusia 49 tahun yang mencatatkan sejarah dengan rekor fantastis pembelian pesawat dari dua pabrikan raksasa ini tetap saja berbicara kesederhanaan. Gaya hidup sederhana dan pendidikan tetap menjadi fokus Rusdi. Bahkan ia tetap berupaya menerbangkan seluruh penumpangnya dengan kelas ekonomi.

Ia bersama dengan saudara kandungnya Kusnan Kirana telah mengembangkan Lion Air sejak 12 tahun lalu. Rusdi sempat menyesalkan ketika maskapai penerbangan Indonesia di-black list tak bisa terbang ke Eropa. Rusdi mengatakan ini tidak fair.

“Ini tidak ada bedanya ketika saya membeli pesawat Airbus. Saya harap kedepannya akan lebih baik,” jelas Rusdi.

Dengan tagline ‘We Make People Fly’, Rusdi memang cukup memperhatikan penuh nasib para karyawannya. Ia memberikan akomodasi penuh kepada para pegawainya yang mencapai 3.000 orang dan akan memberikan 1.000 rumah sederhana di dekat Airport di Jakarta. Rumah yang nantinya menampung 10.000 orang termasuk keluarga karyawannya tersebut kini pengerjaannya sudah 90%.

Rusdi sendiri memiliki rumah di Indonesia, Singapura dan Malaysia. Rusdi telah memulai Lion Air ini sejak Juni tahun 2000.

Saat ini, Lion Air mengoperasikan lebih dari 100 pesawat. Di usia ke-12, mereka menguasai rute domestik. Tahun lalu, maskapai berlambang Singa merah ini mengangkut sekitar 32 juta penumpang.

Penandatanganan kontrak pemesanan 234 pesawat Lion Air ke Airbus dilakukan di Istana Kepresidenan Prancis Champ Elysee, Paris, Senin (18/3/2013). Pesawat yang terdiri dari yang terdiri dari 109 unit A320 neo, 65 unit A321 neo dan 60 unit A320 ceo itu masih diselesaikan pihak Airbus dan dijadwalkan dikirim ke Indonesia secara bertahap mulai Juli 2014.

Sumber : suarapengusaha.com

Sukses Heppy Trenggono

SPC, Jakarta – Wajah Heppy Trenggono pucat pasi melihat beberapa lelaki berbadan tegap hilir mudik di kantor PT Balimuda Persada. Silih berganti mereka mengecek lokasi kerja Heppy di bilangan Mampang, Jakarta Selatan.

Tujuan mereka satu, menagih utang perusahaan berupa alat berat senilai Rp 62 miliar. “Itu kejadian sekitar tahun 2005. Jumlah utang saya melebihi aset perusahaan,“ kenang lelaki kelahiran Batang, Jawa Tengah, ini.
Kondisinya kini berbalik 360 derajat. Bos Grup Balimuda itu sudah mampu menggawangi 12 anak perusahaan serta menafkahi sekitar 3.000 pegawai. Heppy pun kini dikenal piawai dalam memberikan advice kepada pengusaha yang sedang terpuruk untuk bangkit kembali.

“Kegagalan saya saat itu, berawal dari ambisi ingin kelihatan sukses,“ kata Heppy yang sudah mengenal bisnis berupa jualan permen sejak SD. Untuk mencapai mimpinya, pria kelahiran 20 April 1967 ini nekat melakukan sesuatu di luar kemampuan, dengan jalan ekspansi besarbesaran tanpa kalkulasi bisnis dan prospek yang matang.

Semula, Balimuda yang bergerak dalam bidang land clearing untuk kelapa sawit itu adalah bisnis sambilan ketika Heppy menjadi direktur Teknik Lativi. Tapi, ketika Heppy mengambil pilihan untuk makin membesarkan usahanya maka keluarlah dia dari Lativi. Jenis usaha pembersihan lahan itu mengunakan banyak peralatan berat. Pengalaman bekerja di United Tractor, perusahaan yang bergerak dalam penjualan alat berat, sangat berarti. Pembukaan lahan itu dimulai ketika menjadi subkontraktor dari perusahaan Malaysia. Usaha itu rupanya berkembang pesat sehingga Balimuda bukan lagi subkontraktor melainkan sudah kontraktor.

Proyek besar sebagai kontraktor yang digarap adalah proyek dari Gudang Garam yang ingin membuka lahan di Kalimantan Timur pada akhir 2002. Proyek itu didapat dengan susah payah. Intuisi bisnis diawali dengan penciuman bisnis yang tepat, Heppy melakukan jemput bola dengan mendatangi kantor Gudang Garam dari pagi hingga sore. Dan itu berhasil.

Bisnis kian berkembang, kebutuhan dana makin besar. Saat itu yang dilakukan Heppy adalah memutar uang dari berbagai kreditor. Dari bank, misalnya, dia mendapat pinjaman 80 persen dari nilai proyek. Kemudian, untuk pengadaan alat berat dia mencicil dari United Tractor, bahkan uang muka pun dia minta diangsur selama 12 bulan. “Di situlah agaknya awal kehancuran bisnis saya,“ katanya.

Ia mengakui, betul-betul terlena dengan pinjaman usaha dan tak mampu mengontrol diri. Ekspansinya kebablasan dengan menambah banyak alat berat, sehingga dia tidak mampu membayar utang. Bahkan, akhirnya semua hartanya terkuras habis.

Karyawan sebanyak 400 orang pun membubarkan diri sebelum dilakukan pemecatan. “Mereka (karyawan) pergi membawa aset perusahaan yang ada,“ ucap anak ketiga dari delapan bersaudara ini. Dia mengaku tidak bisa berbuat apa-apa lantaran tak mampu menggaji pegawainya. Yang bisa dia lakukan saat itu cuma memohon perpanjangan tempo pembayaran utang kepada para kreditur.

“Saya mulai sadar bahwa nafsu untuk kelihatan sukses justru akan membuat diri sendiri terpuruk,“ ungkap ayah empat anak ini. Kesadaran itu menimbulkan semangat untuk bangkit. Langkah pertama adalah mengubah haluan bisnis. Heppy tak lagi sebagai kontraktor, tapi menjadi broker bagi perusahaan yang akan terjun ke bisnis kelapa sawit. Dia merasa pekerjaan inilah yang paling memungkinkan dan risikonya kecil.

Beberapa lama kemudian, Heppy tak hanya jadi broker tapi sedikit demi sedikit juga mulai memiliki lahan kelapa sawit. Dan berkat keuletannya, kebun itu semakin besar. Bersamaan dengan itu utang yang segunung pun kemudian lunas dalam waktu tiga tahun.

Kini, bersama mitra bisnisnya, Heppy sudah memiliki 80 ribu hektare lahan kelapa sawit di beberapa daerah di Kalimantan Timur dan Sumatra. Tidak tanggung-tanggung, total investasinya sekitar Rp 4 triliun.

Sukses di kelapa sawit, Balimuda merambah produk konsumer. Bisnis baru ini dipayungi Heppyfoods yang membawahkan PT Balimuda Food dan PT Industri Pangan Indonesia yang didirikan tahun 2006. Meski belum setenar perusahaan produk konsumer besar, produk Heppyfoods yang pabriknya berada di BSD City Tangerang mampu menyeruak di pasaran. Salah satu produknya adalah bubur instan berbahan kentang dengan merek Potayo.

Heppy mempekerjakan ribuan karyawan dengan sistem kekeluargaan. Ia cenderung ingin membangun karakter karyawan ketimbang menerapkan target yang muluk-muluk. Yang bisa menyulut kemarahan Heppy justru ketika karyawan tidak bisa menerapkan falsafah `inspiring and giving the world’. Perwujudannya membekas dari karakter karya-wannya yang berintegritas tinggi.

Gaya kepemimpinan Heppy adalah keteladanan. Ia ingin menunjukkan bagaimana hidup secara benar kepada bawahan. Misalnya, soal ke jujuran, dia selalu terbuka soal pengeluaran perusahaan. Ini dimaksudkan agar karyawan tidak berlaku culas ketika diberi tanggung jawab.

Kerajaan bisnis yang dibangunnya bukan hanya menimbun materi. Heppy juga ingin menginspirasi orang lain. Secara berkala dia melibatkan masyarakat sekitar kantornya untuk beraktivitas. Caranya dengan setiap hari memberikan sarapan kepada ratusan kaum dhuafa di sekitar rumahnya di Jl Mampang Prapatan X. “Kita jangan sejahtera sendirian, tapi juga lingkungan sekitar,“ ujar Heppy.

Nilai moral yang diajarkan Heppy dan sangat melekat di hati karyawan adalah tradisi untuk menyisihkan 10 persen penghasilan buat kegiatan amal. Heppy juga piawai memilih karyawan untuk menduduki posisi tertentu. Baginya, orang pintar itu banyak. Tapi orang yang mau dididik itu sedikit.

Seiring dengan semangat menginspirasi, Heppy juga membentuk komunitas Indonesian Islamic Business Forum. Ini merupakan komunitas yang beranggotakan pengusaha dan calon pengusaha. Tak sedikit anggota IIBF yang punya pengalaman seperti Heppy, yakni bangkrut karena ketidakhati-hatian. Di sinilah Heppy berperan membangkitkan moral mereka.

Belakangan, Heppy juga menggagas lahirnya gerakan Beli Indonesia yang dicetuskan pada 27 Februari 2011 bersama 504 pengusaha dari 42 kota di Indonesia. Beli Indonesia adalah gerakan membangun karakter bangsa yang membela bangsa sendiri, yaitu sikap untuk membeli produk bukan dengan alasan lebih baik atau lebih murah, tetapi karena milik bangsa sendiri.

Heppy prihatin pada kondisi perekonomian Indonesia yang justru banyak dijajah produk asing. “Indonesia seperti yang dikatakan Presiden Soekarno pada tahun 1930, akan bertumbuh menjadi bangsa besar. Hanya kita kurang menyadari bahwa kita telah menyerahkan hampir seluruh hidup kita ke pihak asing.” (SPC-20/republika).

Sumber : suarapengusaha.com

Sukses CEO PrimaJasa

Seperti seorang pilot yang bertanggung jawab terhadap keselamatan penumpangnya, seorang direktur utama juga bertanggung jawab terhadap keselamatan perusahaan dan seluruh karyawannya. Apalagi kalau direktur utama itu juga pendiri dan pemilik perusahaan, tentu beban di pundaknya akan lebih besar lagi. Karena selain harus menyelamatkan penumpang dan perusahaan, ia harus memikirkan investasi yang dibenamkannya.

Beban ini tentu akan terasa lebih berat kalau kondisi eksternal tidak kondusif. Dalam kondisi seperti inilah kepiawian seorang direktur utama atau CEO diuji. Tak terkecuali, Amir Mahpud, pemilik sekaligus direktur utama PT Primajasa.

Pada saat bahan bakar minyak (BBM) mengalami kenaikan 100 persen lebih, bisnis transportasi mungkin yang paling berat mendapat tekanan. Tetapi bagi Amir tantangan bukanlah suatu hal yang harus dihindari, melainkan harus diatasi. Dan sebisa mungkin dijadikan peluang. Tantangan bukanlah hal yang baru, bagi pria ramah ini. Ketika Primajasa berdiri pun sudah banyak kendala yang menghadang. “Bagaimana tidak, saat Primajasa berdiri dan memiliki konsep menyediakan transportasi antar kota, kondisi perusahaan induk (Mayasari Bakti)—yang bisnis intinya bus kota— tengah dalam posisi mapan-mapannya. Jelas pemikiran seperti ini terasa berbeda, bahkan bertolak belakang dengan perusahaan induk,” tutur Amir.

Amir mengaku untuk memulai suatu bisnis yang berbeda dengan perusahaan induknya dibutuhkan suatu kekuatan internal. Namun ia ingin membuktikan bahwa perbedaan pemahaman dengan perusahaan induk bisa menjadi jalan keluar atau solusi bisnis. “Dasar saya mendirikan Primajasa adalah menciptakan perbedaan yang riil dari bisnis induknya, sehingga timbul dimensi usaha baru yang terlepas dari fokus bisnis induk,” terang mantan pereli nasional ini.

Selain itu, Amir mengaku intuisi bisnisnya mengatakan bahwa pada suatu saat nanti transportasi bus kota akan mengalami kejenuhan. Intuisinya ini terbukti. Bisnis transportasi bus kota tidak segemerlap dulu lagi, setelah adanya sistem transportasi Bus Way. “Pada waktu itu saya sudah berpikir bahwa transportasi dalam kota suatu saat nanti akan mengalami titik jenuh,” ujar bapak tiga anak ini. Agaknya Amir dikaruniai pola pemahaman bisnis yang berbeda dengan kebanyakan pengusaha. Tetapi cara berpikir yang berbeda inilah yang justru menjadi kekuatan utama dari pertumbuhan Primajasa.

Dalam dunia transportasi, jalur gemuk merupakan godaan bagi setiap pengusaha transportasi untuk berebut kue di jalur tersebut. Namun, Amir mengaku tidak tertarik untuk ikut terjun ke jalur gemuk. Justru Amir mencari dan merintis rute yang memang tidak diminati atau tidak disentuh oleh para pesaing.

Menurut Amir, 90 persen dari rute yang dilayani Primajasa merupakan rute baru yang dirintisnya, sedangkan 10 persen sisanya adalah rute yang dilayani bersama-sama dengan kompetitor. “Kami selalu mengevaluasi rute yang tidak dijalankan para pesaing, sehingga rute ini menjadi sebuah potensi bisnis,” sebut pria yang menimba ilmu di tiga universitas yang berbeda ini, Parahyangan, Pancasila dan Oakland College.

Cara berpikir yang tidak mengikuti mainstream ini juga menjadi dasar mengapa Primajasa tidak ikut-ikutan melayani jalur antar kota jarak jauh. Padahal, sebelum transportasi udara ramai seperti saat ini, transportasi bus jarak jauh juga mengalami masa keemasannya. “Pada waktu itu saya berpikir melayani rute jarak jauh memiliki risiko yang lebih besar. Pun suatu saat transportasi jarak jauh dengan menggunakan bus gampang tergeser dengan jenis transportasi lain. Sekarang ini sudah terbukti,” ucap Amir.

Rute bus antar kota jarak menengah, menurut Amir, posisinya lebih imun terhadap persaingan dengan moda transportasi jenis lain. “Cost pesawat yang tertinggi itu sebenarnya adalah ketika take off dan landing sehingga melayani rute jarak menengah akan membutuhkan biaya yang cukup tinggi, karena frekuensi take off dan landing akan jauh lebih sering dibandingkan ketika melayani jarak jauh,” tuturnya memberikan alasan.

Itu sebabnya bisnis Primajasa tidak terganggu ketika ienis transportasi lain seperti kereta api dan pesawat dengan masif masuk ke dunia transportasi Indonesia. Bahkan, dunia penerbangan yang ramai memberikan berkah tersendiri bagi Primajasa. Pada 10 Oktober 2006 lalu Primajasa membuka rute baru Bandara Soekarno Hatta-Bandung Super Mall.

Ini tak lepas dari kejelian Amir membaca peluang. Dengan adanya frekuensi penerbangan yang tinggi maka tingkat mobilitas warga juga semakin besar. Selama ini belum ada transportasi bus dari kota Bandung yang langsung melayani ke Bandara Soekarno-Hatta atau sebaliknya. Padahal antara Jakarta dan Bandung sudah terhubung jalan tol. Inilah kesempatan emas yang tidak disia-siakan Amir. “Kami tidak membidik penumpang bus antar kota Jakarta-Bandung atau sebaliknya. Tetapi kami membidik para penumpang yang selama ini menggunakan kendaraan pribadi dari Bandung ke Bandara Soekarno-Hatta atau sebaliknya. Jadi kami meng-create pasar baru,” ujar pengusaha yang juga Ketua Majelis Pertimbangan Partai (MPP) Partai Amanat Nasional (PAN) Wilayah Jawa Barat ini.

Kemampuan membaca peluang ini terbayar. Load factor pada awal Primajasa melayani rute ini sudah mencapai 60 persen dengan kecenderungan meningkat. Bahkan untuk perjalanan akhir pekan, reservasi tiket sudah full booked. “Kita jangan melihat load factor pada saat ini. Dua bulan yang akan datang baru kita bisa melihat load factor-nya,” ujar Amir optimistis.

Dengan adanya kecenderungan jumlah penumpang yang terus naik, Primajasa kembali menambah armadanya sehingga jarak pemberangkatan bisa diperpendek menjadi 45 menit sekali. Pemberangkatan dari Bandara Soekarno Hatta mulai pukul 08.00 hingga 22.00. Sedangkan dari Bandung Super Mall Primajasa melakukan pemberangkatan mulai pukul 01.00 hingga 15.00.

Dari sisi strategi, sebenarnya pembukaan rute Bandara Soekarno Hatta-Bandung Super Mall ini tidak mengikuti pakem yang ada. Biasanya, mal-mal atau tempat perbelanjaan yang justru berusaha mendekati terminal, bukan sebaliknya terminal yang mendekati mal. Ini terkait dengan pola pemikiran masyarakat kita yang menjadikan terminal sebagai titik keberangkatan dan titik kedatangan ketika melakukan perjalanan ke luar kota. Namun Amir yakin akan keberhasilan dari terobosannya ini.

Tak lama lagi Amir bakal merintis trayek baru Jababeka-Bandung Super Mall. Pakem yang selama ini digunakan: melayani dari suatu terminal ke terminal ia ubah menjadi melayani dari suatu tempat keramaian ke tempat keramaian. “Di Jababeka terdapat 1200 pabrik. Tentu ini pasar yang sangat potensial,” imbuh pria yang kini lebih giat berolah raga golf ini.

Strategi lain yang ia tempuh adalah sedikit demi sedikit menggeser pasar Primajasa ke arah menengah atas. Itu sebabnya, kepuasan pelanggan merupakan suatu komitmen, yang menurutnya, tidak bisa ditawar-tawar. Dan kebutuhan SDM yang berkualitas, menjadi sebuah keniscayaan.

“Untuk mendapatkan SDM yang berkualitas kami selalu mendidik dan melatih karyawan baik secara internal maupun eksternal. Kami juga bekerjasama dengan para produsen untuk pengembangan keahlian teknis bagi karyawan teknik. Selain itu, kami juga mendidik crew bus secara internal dua kali dalam kurun waktu satu bulan dan mengirimkan secara terbatas pengemudi untuk ikut serta dalam pendidikan yang diselenggarakan pemerintah,” paparnya.

Dengan kepiawian Amir mengemudikan roda Primajasa, maka perusahaan transportasi yang awalnya hanya memiliki 25 unit bus pariwisata ini telah berkembang menjadi sekitar 700 armada, yang dengan setia melayani rute di wilayah DKI, Provinsi Jawa Barat dan Provinsi Banten. Sedang armada taksinya kini berjumlah sekitar 500 unit.

Meski arah kemudi di tangan Amir, namun kontribusi karyawan tidak bisa diabaikan. Amir sangat menyadari hal itu. Oleh karena manajemen yang dibangun di dalamnya adalah manajemen kekeluargaan. Aktivitas yang ditempuh untuk saling mendekatkan sebagai sebuah keluarga adalah mengadakan pengajian rutin seminggu sekali untuk karyawan dan pengemudi, buka puasa dan tarawih bersama tiap bulan Ramadhan, mengarahkan minat olah raga dan memberikan fasilitasnya (badminton dan sepak bola), rekreasi bersama keluarga karyawan.

Selain itu, perusahaan juga memberikan program bea siswa bagi keluarga karyawan dan crew bus. Program bea siswa ini diberikan perusahaan sejak 2003. Perusahaan tercatat telah memberikan bea siswa kepada 356 putra-putri karyawan mulai dari tingkat SD hingga perguruan tinggi.

Sementara itu, untuk membangun spiritual dengan Sang Khalik, perusahaan memberikan jatah naik haji dan umroh. Program ini sudah digulirkan sejak perusahaan berdiri pada 1990. “Tiap tahun kami memberangkatkan 2-3 orang untuk menunaikan ibadah haji,” ujar Amir yang belum lama ini membangun sirkuit motorcross di Kota Tasikmalaya, tempat ia dilahirkan.

sumber : majalah pengusaha

Selasa, 11 Juni 2013

Modifikasi Martabak Untung Jutaan

Hampir semua orang mengenal makanan yang namanya martabak. Selintas ketika mendengar nama makanan ini, akan terbayang sebuah lingkaran besar, terpotong-potong dan memiliki isi. Pastinya bayangan itu akan buyar jika melihat martabak mavia. Muhammad Gufron adalah inisiatornya. Martabak dengan diameter 3,5 cm dilapisi rasa unik ini berhasil ia ciptakan 2011 silam. Bagaimana ceritanya? "Idenya dulu begini. Saya terinspirasi dari (es krim) Magnum, ini sebenarnya saya bikin kayak gini ikut Magnum. Magnum kan di luarnya keras karena coklat dalamnya lembut. Kalau itu kan es krim, kalau ini martabak yang lembut isinya," jawab Gufron.

Ia mengaku sebagai pengagum sejati martabak. Pantas saja, meski masih menempuh studi di jurusan Perikanan, Institut Pertanian Bogor (IPB), Gufron berani memulai usaha ini. "Jauh banget ya,tapi saya memang suka sama martabak," tandasnya. Modal yang disiapkan kala itu sebesar Rp 17,5 juta. Percobaan pertama, Ia memproduksi martabak yang ukuran diameternya 8,5 cm namun dengan posisi terbuka. "Tapi di situ teryata enggak sesuai dengan segmen pasar saya. Saya inginnya buat untuk anak muda, dan praktis. Akhirnya buat lebih kecil," ucap Gufron.

Menurutnya, anak muda sering membatalkan niat membeli martabak hanya karena kebesaran dan rasa yang cenderung monoton. Harga yang dipatokpun disesuaikan, yaitu Rp 7.000. Lokasi penjualan tersebar di kantin-kantin wilayah Bogor, seperti kantin kampus dan sekolah. 

"Kita sesuaikan produknya sama konsumennya. Jadi diselimuti coklat. Jadi ada campuran rasa juga. Rasanya ada original, cheese milk, sama double coklat," terang Gufron sambil memperlihatkan kreasinya.  Status sebagai mahasiswa memang menjadi sebuah kendala. Membagi waktu jadi alasan utama untuk memilih mana yang menjadi prioritas. Alhasil, pilihannya ternyata berbuah manis. Saat ini Ia bisa mengantongi uang Rp 30 juta per bulan.

Gufron juga menyebutkan kendalanya dalam mengelola karyawan. Setahun berjalan, masalah ini cukup membuatnya kewalahan. "Jadi sekarang ada tujuh (karyawan). Ini baru beberapa bulan sudah 2 karyawan yang berhenti. Jadi pas berhenti kan training lagi itu repot," jelasnya.

Tahun 2013, Ia sudah mematangkan beberapa strategi. Di antaranya dengan membuka kemitraan dengan tiga jenis. Pertama, jenis investasi dengan sistem bagi hasil dan pengembalian modal. Kedua adalah jenis distribusi di mana pembagian untuk penjual 10%. Ketiga adalah reseller dengan sistem jual putus.  "Saya targetkan untuk main di Jabodetabek yang sudah ada beberapa tempat yang kami tinggal deal. Kue Lapis Bogor, Javapucino terus di UI (Universitas Indonesia) sama ada beberapa tempat di Kampung Melayu," lanjutnya.

Gufron juga akan mengakhiri produknya di jual dari kantin-kantin dan mencoba masuk ke swalayan atau mal di Jabodetabek. Menurutnya ini penting untuk menjangkau konsumen kelas menengah ke atas. "Karena saya melihat kayak gini, kalau saya jual masih di tempat yang biasa, itu ngejatuhin produk saya. Akhirnya saya ingin naik ke segmen menengah ke atas," pungkasnya.

Sumber : pengusaha.co.id

Mislam Pengusaha Mie 99

Mislam lahir di Kebumen, 24 Agustus 1968. H.Mislam adalah pengusaha sukses “Mie 99”. H.Mislam mengabiskan masa kecilnya hingga remaja di Kebumen. Sejak kecil H.Mislam sudah merasakan kesulitan dan kepahitan hidup.

Desakan ekonomi dan sulitnya memperoleh pekerjaan membuat H.Mislam memutuskan untuk menjual kue di sekolah yang dibuat oleh sang ibu. H.Mislam menjual kue dengan berjalan kaki sekitar satu jam dari rumah hingga sekolahan. Pada tahun 1983 H.Mislam bertekat untuk mencari pekerjaan di kota dengan cara melamar pekerjaan di pabrik-pabrik, namun hasilnya tetap nihil. Tak ada satu pun pabrik yang menerima H.Mislam untuk bekerja.

Walau kegagalan telah menghampiri H.Mislam, namun ia tetap tabah, sabar, berdoa, berusaha, dan bekerja keras untuk mendapatkan pekerjaan. H. Mislam terus berusaha mencari pekerjaan hingga akhirnya ia mendapatkan pekerjaan menjadi seorang pembantu rumah tangga. Meskipun H.Mislam hanya menjadi seorang pembantu, tetapi ia tidak pernah mengeluh apa lagi malu dengan pekerjaan itu. H.Mislam bangga, karena pekerjaanya  itu menolong orang lain meskipun ia sering dimarahi oleh majikanya. H.Mislam juga disuruh memandikan anjing majikanya. Dengan rasa terpaksa H.Mislam memandikan anjing tersebut, karena haram hukumnya dalam islam. Namun jika ia tidak mau  majikannya akan marah dan memotong gajinya.

Setelah dua tahun kemudian H.Mislam memutuskan keluar dari pekerjaanya sebagai pembantu rumah tangga karena tidak puas dengan gaji yang didapat dan tidak cukup untuk menghidupi anak dan istrinya. Keluar dari pekerjaan sebagai pembantu H.Mislam akhirnya menjadi buruh pembuatan mie untuk mie ayam di Kebumen selama lima tahun. Kemudian H.Mislam dan anak istrinya keluar dan pindah ke Yogyakarta . Dengan keyakinan, tekat dan semangat yang kuat, dan dari pengalaman bekerja H.Mislam memutuskan untuk memulai usaha sendiri membuat mie, yang diberi nama “Mie 99”. Walaupun pada saat itu belum ada modal dan rencana yang matang untuk memulai usaha. Maka H.Mislam meminta bantuan saudara bagaimana solusi yang baik agar usaha saya bisa berjalan. Saudara H.Mislam meminjamkan modal untuk memulai usaha “Mie 99.”

Nama “Mie 99” merupakan angka kelahiran usaha ini, yaitu pada tahun 1989 bulan 09, sehingga Mislam mengambil angka belakang menjadi 99. “Mie 99” adalah mie yang digunakan untuk mie ayam. Modal yang diperlukan untuk membuka usaha ini sekitar Rp.10.000.000,00. Pada saat itu H.Mislam hanya memiliki uang Rp. 1.000.000,00. Akhirnya H.Mislam meminjam saudaranya sebesar Rp. 4.000.000,00 dan meminjam koperasi desa sebesar Rp. 5.000.000,00.

H.Mislam memulai usaha dengan cara memasang spanduk, menyebarkan brosur, memberi tahu dari mulut ke mulut, menyewakan gerobak dan memberi fasilitas kepada pelanggan penjual mie ayam. Pada awal usahanya, pelanggan H.Mislam hanya 5 orang, itu saja masih belum tentu membeli mie 99.

Dengan ketekunan dan kesabaran H.Mislam dalam menjalankan usaha tersebut, akhirnya ia menjadi pengusaha “Mie 99” yang terbilang sukses. H.Mislam mendistribusikan “Mie 99” Keberbagai tempat seperti di Kulon Progo, Celep, Sorobayan, Gumulan, Kuroboyo, Pasar Mangiran, Tegal layang, Sumber Agung, Manding, Bantul, Kretek, Parangtritis, Sewon, Sidomulyo, Kralas, Gajuran, Medelan, Pranti, Wonolopo, Srayu, Bakulan,  Suren Wetan, Pundong, hampir semua di daerah bantul adalah pelangganya, bahkan ada di Klaten dan daerah sekitar prambanan. Setiap pelanggan berbeda-beda dalam membeli mie ada yang 10-20 kg bahkan ada yang sampai 30-50 kg/hari.

Setiap hari H.Mislam dapat menghasilkan “Mie 99” sekitar 600 Kg. Harga 1 Kg “Mie 99” adalah Rp. 8.000,00. Penghasilan H.Mislam setiap hari sekitar Rp.5.000.000,00. Sedangkan pengeluaran sekitar Rp.2.000.000,00. H.Mislam kini memiliki 20 karyawan, 10 karyawan bekerja membuat “Mie 99” dan 10 karyawan bekerja sebagai pembuat grobak “Mie 99”, karena disamping menjual “Mie 99” H.Mislam juga menyewakan grobak “Mie 99”. Pelanggan H.Mislam pun bertambah menjadi 900 orang pelanggan tetap, dan 20 orang pelanggan yang tidak tetap.

Dibalik kesuksesan H.Mislam sebagai pengusaha “Mie 99” ada suka duka yang dialami. Suka dalam menjalankan usaha ini bila pelanggan membeli “Mie 99” dengan jumlah yang banyak dan kini H.Mislam menjadi pengusaha sukses dengan omset perbulan sekitar Rp.90.000.000,00. Namun duka yang dialami seperti jika harga tepung terigu naik, sehingga pengeluaran naik. Selain itu bila banyak para pembeli yang menghutang, banyaknya saingan, dan kendala dalam hal distribusi seperti harga BBM naik, supir sakit, mobil rusak, listrik mati yang dapat mengakibatkan pendistribusian tidak tepat waktu.

Sumber : 3andi.wordpress.com

Minggu, 09 Juni 2013

Ana Sukses Raup Omset Miliaran dari Obat Herbal

Nama topnya: Jeng Ana. Meski masih muda, 34 tahun, kehadirannya di dunia pengobatan herbal cukup fenomenal. Meski industri ini sudah lama disesaki banyak pemain, tapi klinik yang dikelola pemilik nama asli Ana Soviana ini tidak pernah sepi pengunjung. Jumlah pasiennya mencapai ribuan yang tersebar di 5 kota di cabang Klinik dan Salon Aura Jeng Ana dengan omset miliaran rupiah per bulan. Tidak heran bila kini dia dijuluki Si Ratu Herbal.

Jeng Ana tampaknya sosok yang mengerti diferensiasi. Penampilan dirinya dan kliniknya berbeda dengan klinik herbal kebanyakan. Dari sisi penampilan, dia selalu mengenakan jilbab, modis. Dia pun pandai bergaul, tutur katanya halus. Oh ya, satu lagi: suka mengendarai Toyota Alphard jika bepergian. Begitu juga kliniknya, jauh dari kesan magis, apalagi bau kemenyan yang memabukkan dan bernuansa klenik. Semua sudut ruangan didesain modern bak ruang praktik dokter: rapi, bersih, wangi, plus berbagai hiasan rak artistik untuk memajang aneka ramuan herbal.

Keahlian Jeng Ana dalam mengobati non kimiawi itu diwarisi dari sang kakek. Adalah Mbah Kaslam Sastraningrat (alm) yang dipercaya masyarakat Purwodadi (Ja-Teng) sebagai tabib yang mampu menyembuhkan berbagai penyakit dengan ramuan herbal kala itu. “Sejak kecil saya sering ikut mendampingi kakek mengobati pasien,” ujar wanita kelahiran Purwodadi, 15 Juli 1977, itu.

Setelah sang kakek meninggal dengan mewariskan tanah seluas 1,5 hektar untuk ditanami tanaman obat-obatan, Jeng Ana memberanikan diri hijrah ke Jakarta. Waktu itu, dia tidak langsung buka praktik, tapi sempat bekerja sebagai sales mobil dan menjadi asisten di usaha farmasi. Kerasnya hidup Jakarta dan berbekal pengalaman mengobati herbal di kampung, memotivasi Jeng Ana membanting setir: membuka usaha sendiri. Tahun 2004 dia buka klinik perdana di Kalibata Timur yang ukurannya masih kecil dan sederhana.

Di luar dugaan, pengunjung kliniknya datang bak air mengalir. Tidak hanya mereka yang menderita berbagai penyakit saja yang berkunjung ke kliniknya, melainkan juga orang-orang yang ingin tampil lebih cantik dan bugar. Alhasil, seiring berjalannya waktu, gedung klinik diperluas dan dilengkapi ruang penginapan pasien yang butuh waktu terapi lama. Tidak puas hanya praktik di Jakarta, kliniknya terus melebar. Saat ini jumlah cabang tersebar di Tangerang, Bandung, Bali dan Pekanbaru. “Untuk klinik yang di Kalibata saja omset mencapai em-em an (miliaran),” ucap pakar herbal yang rajin menyantuni anak yatim piatu tersebut.

Apa sih kelebihan pengobatan herbal Jeng Ana? Isteri dari Suprayitno ini mengklaim, ramuan herbal yang diraciknya terdiri dari ratusan jenis tanaman obat. Ini terobosan yang membedakan dengan pengobatan herbal umumnya yang cuma menggunakan 1-7 jenis tanaman obat. Dengan demikian, lanjut pelahap aneka literatur dunia herbal itu, pengobatan tidak setengah-setengah, tapi total.

Keunikan lain, calon pasien harus membawa hasil pemeriksaan medis rumah sakit atau dokter terlebih dahulu sebelum dia tangani. Tujuannya: memberikan solusi yang akurat dan obat herbal yang tepat. Tidak kalah pentingnya, teknik pengobatan herbal Jeng Ana dibantu dengan pendekatan religius melalui pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an.

“Saya mengobati pasien dengan keinginan untuk menyembuhkan dan keikhlasan,” kata Jeng Ana. Meski tidak mematok tarif khusus, diakuinya pasien memberikan kompensasi yang setimpal. Pasien berasal dari kelas bawah hingga pejabat dan artis. Beberapa selebritas pernah diobati, seperti Bang Haji Rhoma Irama, Gugun Gondrong, Epi Kusnandar, Rini S. Bon Bon, Ratna Listy, Misye Arsita, Merry Putrian, dan Opie Kumis.
Toh popularitas klinik Jeng Ana tak semata tuah word of mouth. Dia juga gencar berpromosi. Televisi, radio dan Internet menjadi medium beriklan. Sejak 7 tahun lalu, sejak awal berdiri, Jeng Ana bahkan sudah rajin muncul di layar kaca. Dia mengisi acara di stasiun Bali TV, TVRI Ja-Bar, TVRI Riau, MNC TV, O Channel, dan TVRI Pusat. Sementara di radio mengudara di Radio Kamajaya, Pop FM, Radio Safari yang semuanya ada di Jakarta. Kemajuan teknologi informasi juga dimanfaatkan dengan merilis.

Berapa biaya promosinya? Menurutnya, untuk membeli jam tayang televisi saja harus merogoh kocek Rp 30-50 juta tiap minggu. Itu belum termasuk biaya presenter kondang sekali syuting Rp 5 juta. Namun, saat ditanya berapa anggaran promosi seluruhnya, ibu dua anak ini ogah menyebutkan.

Kendati harus menggelontorkan banyak duit promosi, tampaknya strategi Jeng Ana tidak seperti menggarami laut. Prospek bisnis pengobatan herbal masih cerah seiring tren back to nature dan green medicine. “Bisnis ini masih akan menjanjkan hingga satu dekade mendatang,” jelas Kukuh Praworo, pengamat dan pakar pengobatan herbal. Tapi, dia mengingatkan bahwa tantangan industri ini adalah soal regulasi dan kontrol pemerintah terhadap peredaran obat-obatan herbal.

Berhasil mengembangkan bisnis klinik herbal, memacu Jeng Ana terus merentangkan sayapnya. Dalam waktu dekat, sejumlah cabang akan mendarat di beberapa kota. Dia bahkan berambisi mendirikan pabrik jamu. “Doakan ya, agar cita cita pabrik jamu saya segera terwujud,” dia memohon.

Sumber: swa.co.id